Under The Rain

Under The Rain
Bab 15—Menunggu


__ADS_3

Pintu Rafael diketuk sebelum Erin, Adji dan putri mereka yang sudah tertidur pulas dalam gendongan ibunya pulang ke kediaman mereka, yang sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh dari kompleks apartemen itu. Rafael yang masih terjaga untuk menyelesaikan coding-nya tampak sangat semrawut dengan rambut gondrong yang tak pernah disisir. Pria itu baru saja melewatkan pertemuan tiga orang teman baiknya. Eh, bukan ... bukan melewatkan, ia memang sengaja tak diundang dengan teganya. Namun Rafael mengerti alasannya. Ia tak mau mengambil pusing dan tetap fokus bekerja.


“Kita pulang, ya,” pamit Erin kepada Rafael. “Baik-baik kalian, hey, tetangga!” godanya sembari melirik ke arah Reva yang juga tengah berdiri di ambang pintunya untuk berpamitan.


“Ngobrol, napa, Rap ...” Adji tak mau kalah turut mengusili, “jangan diem-diem, bae!”


Jika memiliki energi berlebih, sudah tentu Rafael tak segan menjitak pucuk kepala sobatnya itu. Namun apa daya, pening sedang melanda dan ia merasa tak enak karena Reva masih memperhatikan.


Sosok Erin dan Adji sudah menghilang di ujung koridor saat Rafael menyadari bahwa Reva sudah menutup pintunya. Ia menghela napas dalam-dalam. Sekelibat keraguan menggelayuti pikirannya, tetapi sesungguhnya ia tak tahan lagi dengan perlakuan dingin teman masa kecilnya itu. Selama itu Rafael terus saja mencari cara untuk dapat terhubung lagi dengan sahabat perempuan kesayangannya itu.


Rafael sudah harus keluar rumah pukul tujuh pagi untuk mengantar Kaia ke sekolah, dan ia baru akan kembali dari kantornya saat petang tiba. Selama itu, sebisa mungkin ia mengamati pergerakan Reva. Kapan Reva keluar, kapan Reva datang, ia mencatatnya dengan baik dalam ingatan. Saat berada di rumah, ia selalu memasang telinga lebar-lebar pada dinding perbatasan unit mereka, berharap mendengar sesuatu dari wanita itu. Apa pun.


Akhirnya, Rafael menyerah pada kegalauannya. Ia tak kuasa membendung hasrat untuk mengetuk pintu itu. Ia pernah melakukan itu untuk Kaia. Dan ia akan melakukan itu juga untuk dirinya sendiri.


Tok! Tok!


Tanpa menunggu lama, pintu langsung terbuka. Ternyata Reva masih berada di balik pintu entah sedang memikirkan apa.


Namun, sepersekian detik kemudian pintu hendak ditutup kembali setelah Reva menyadari siapa yang baru saja mengetuknya. Tak mau tinggal diam, Rafael segera menjaga celah itu agar tetap terbuka.


“Aku mau ngomong, Yi ...”


“Nggak mau!”


“Please, Yi ... sebentar aja.”


“Aku nggak mau!”


“Please ... please ... tolong buka pintunya. Tolong ... sebentar aja kita ketemu.”

__ADS_1


“Aku bilang aku nggak mau!”


Tentu saja bagi Rafael sangat mudah untuk mempertahankan celah satu jengkal di antara pintu dan kusen kayu. Jelas tenaganya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan wanita kurus di balik pintu itu, yang sedang berusaha sekuat tenaga mendorongnya sampai tertutup rapat. Rafael bisa saja terus menekan sampai celah terbuka lebar. Namun, ia akhirnya mengalah. Ia tak mau memaksa apalagi sampai membuat Reva tak nyaman dengan perlakuannya.


Pintu ditutup dan langsung terdengar suara ceklek kunci. Rafael masih tak mau beranjak dari situ. Ia terus menatapnya, dan membayangkan jika saja ia memiliki kekuatan super yang bisa membuat dirinya menembus tembok, ia tentu akan menerobos masuk dan memeluk wanita yang berada di dalam situ itu erat-erat tanpa melepaskannya lagi. Selama belasan tahun bersahabat, Rafael memang selalu memeluknya. Hampir setiap hari. Memeluk dan mengacak-acak rambut tebalnya. Namun, itu hanyalah sebagai imbalan karena Reva sudah bersusah payah mengerjakan tugas sekolahnya. Dan kali itu ia benar-benar ingin memeluknya. Sebagai sahabat. Sebagai orang yang ia pedulikan. Sebagai orang yang selalu ia nantikan kehadirannya.


Rafael masih mematung di hadapan pintu seraya menatap jauh di balik plakat metal bernomor A07122 yang terpampang di garis pandangannya. Hari itu ia belum berhasil membuat si empunya pintu membukakan benda itu untuknya. Besok ia akan mencobanya lagi. Dan jika besok tak berhasil juga, besok lusa ia akan mencobanya lagi. Dan entah diperlukan berapa ‘besok’ kemudian sampai penghuni di dalam situ mengizinkannya masuk. Rafael akan terus menunggu sampai hari itu tiba. Terus mencoba dan terus menunggu.


“HEY! Ngapain di luar begini?” Suara cempreng khas Nadia yang baru saja tiba membuyarkan lamunan Rafael. “Kamu aneh banget, deh, keluyuran sendirian di luar!”


“Eh ... Nad, k-kamu udah pulang?” cakap Rafael terbata-bata karena ia begitu terkejut. Lalu ia mengikuti punggung Nadia dan Kaia yang sudah lunglai masuk ke dalam rumah.


“Iya, aku pulang. Terus kamu lagi ngapain?”


“Tadi, ‘kan, ada Adji, Nad. Baru aja dia pamit pulang.”


“Tadi nggak ketemu aku di lift.”


“Adji atau Reva?”


“Adji. Udah, deh.”


Nadia mengalah. Tampak wajahnya sumuk sekali karena ia sudah lelah malam itu, tetapi segera teringat bahwa ia harus segera membersihkan makeup-nya dan menyelesaikan skincare routine malam.


“Kirain kamu nginep di sana.”


“Kenapa? Biar bisa main ke tetangga?”


“Nggak gitu. Kenapa, sih, mikirnya ke situ terus?”

__ADS_1


“Iya, iya. Maunya, sih, nginep. Tapi Kaia minta pulang. Soalnya besok dia janji berenang bareng teman sekolahnya di bawah.”


“Udah larut, Nad. Kaia kamu paksa melek sampai jam segini?”


“Ya ampun, El. Kamu tahu, ‘kan, kita arisan keluarga di rumah Teh Diana. Kaia tidur siang tadi.”


Rafael melirik putrinya yang langsung merebahkan diri di atas sofa. “Kaia ngantuk? Udah tengah malam. Ayo, tidur. Sikat gigi dulu.”


“Yang ngantuk itu aku, El. Kamu selalu merhatiin Kaia doang, deh!” sambar Nadia sembari berjalan gontai ke kamar tidurnya, meninggalkan Rafael yang jadi merasa serba salah.


Tak mau ribut berkepanjangan, akhirnya Rafael mengikuti Nadia ke kamar sementara Kaia tengah beranjak ke kamar mandi untuk menggosok gigi. “Iya, maaf, Nad.”


“Udahlah, nggak perlu dibahas, aku capek banget!”


“Kamu nggak pakai skincare dulu? Ayo bangun, Nad. Semangat.”


***


Hampir pukul 02.00 dini hari saat Rafael akhirnya selesai dengan coding-nya. Terasa tungkaknya sangat nyeri karena ia duduk terlalu lama di hadapan laptop. Sebelum ia menyusul Nadia dan Kaia tidur, ia memutuskan untuk keluar menuju balkon hendak mencari angin segar seraya melakukan peregangan otot.


Siklus hujan di Bandung sedang tak menentu. Terkadang siang, terkadang juga malam. Namun, malam itu langit cerah dan udara tak terlalu dingin, sehingga Rafael bisa duduk santai sejenak di kursi balkon.


Sambil bermain online game, Rafael terus saja memandangi balkon di sebelah kanannya. Pemiliknya siapa lagi kalau bukan Reva. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mengintip suasana di sana. Sepertinya wanita itu juga belum tidur. Lampu di kamarnya masih menyala dan pintunya masih terbuka, entah apa yang sedang ia kerjakan saat dini hari seperti itu. Namun, Rafael tak heran. Reva memang memiliki insomnia akut sejak masih sekolah. Tak jarang ia baru terlelap lewat tengah malam dan terbangun sebelum subuh. Hebatnya, ia juga tak merasa mengantuk ketika di sekolah. Gaya hidup tak sehat itu sudah lama sekali dijalaninya, dan Rafael mulai khawatir karena wanita itu tak akan muda terus. Lama-lama ia akan sakit jika terus-menerus kurang tidur seperti itu.


Sudah tiga tahun Rafael tinggal di apartemen itu, tetapi baru kali itu ia menyadari bahwa jarak antara balkon ke balkon ternyata tak jauh. Dengan saksama ia mengamati struktur balkon-balkon di sana, kemudian ia mulai mengukur kedekatan balkonnya dengan balkon milik Reva.


Menurut kalkulasinya, Rafael bisa dengan mudah menjangkau balkon Reva dengan kedua kaki panjangnya. Mungkin sebagai pengamanan, ia akan membutuhkan tali, karena unitnya itu terletak di lantai tujuh. Namun itu sangat mungkin dilakukan. Sangat mungkin untuk melompat ke kamar Reva melalui balkon, jika wanita judes itu tak kunjung juga membuka pintu utama kamarnya. Rafael pikir suatu hari ia harus mencobanya, karena ia tahu bahwa Reva jarang sekali menutup pintu balkonnya. Wanita itu sangat menikmati embusan angin besar dengan bebas keluar-masuk.


Saat itu, mungkin hanya tinggal menunggu beberapa saat sampai akhirnya Rafael mulai berpikir untuk melakukan hal-hal nekad yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Demi Reva. Tidak ada titik untuk kembali. Reva sudah berada di hadapannya. Ia tidak mungkin membiarkan situasi penuh ketegangan di antara dirinya dan Reva berlangsung berlarut-larut.

__ADS_1


Ada banyak sekali hal yang ia rencanakan dini hari itu, semoga saja salah satunya berhasil. Semuanya hanya tinggal menunggu waktu.


__ADS_2