
Di pekarangan rumah yang tak luas itu, terlihat beberapa mainan anak kecil yang berserakan di antara dua buah kendaraan roda dua yang terparkir. Di sudut kiri teras terdapat satu buah tenda mainan berwarna biru tua. Di ujung yang lain, tiga orang balita sedang asyik bermain air di dalam sebuah kolam kecil yang terbuat dari plastik yang dapat ditiup. Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa Erin dan Nadia sudah berdiri di balik pagar yang terkunci. Maklum saja, usia mereka mungkin tak lebih dari empat tahun.
“Anak-anak siapa ini, Rin?” bisik Nadia kepada Erin di tengah riuh sekumpulan balita yang sedang bermain.
“Enggak tahu, Nad. Tapi orangtua Reva memang cerai. Aku nggak tahu, yang masih tinggal di sini itu mamanya atau papanya,” jelas Erin tak kalah berbisik.
“Ya sudah, lah, kita coba ketuk aja pagarnya.”
Tak lama setelah suara ketukan pagar besi terdengar, keluarlah sosok wanita dari dalam rumah itu, yang anehnya, tak Erin kenali sebagai ibu dari Reva.
Wanita itu tak terlihat seperti apa yang Erin ingat dalam benaknya. Dahulu, sosok yang ia panggil Ibu Tita itu selalu tampak modis. Hampir seluruh bagian tubuhnya dihiasi oleh emas, entah itu di leher, lengan, jari-jemari atau telinganya. Ia juga selalu mengenakan pakaian glamor dengan makeup tebal setiap kali Erin berjumpa dengannya. Namun, kali itu semuanya tampak berbeda. Wanita yang baru saja keluar untuk membuka gembok pagar terlihat begitu kusam dan jauh dari kata stylish. Apakah Erin salah mengira?
“Cari siapa, ya?” tanya wanita itu tak ramah.
“Tante ingat aku?” balas Erin yang masih berdiri di luar pagar. “Aku Erin, Tante, temannya Reva.”
Wanita itu menggeleng dan mengerenyitkan dahi. Raut wajah sebal seketika tampak di sana, namun ia tetap membukakan pagar yang masih tergembok itu untuk mempersilakan tamu-tamunya masuk. “Ngobrol di dalam aja, tapi jangan berisik,” pintanya ketus.
Erin dan Nadia saling bertatapan sebelum akhirnya mereka masuk secara bersamaan. Sebenarnya, mereka tak kaget, karena sebelum sampai di situ, mereka sudah tahu bahwa si empunya rumah bukanlah sosok yang murah senyum. Namun, reaksi nyonya rumah saat itu memang terasa janggal. Ia seperti tak ingin ada tetangga yang mengetahui bahwa ia tengah menerima tamu.
Di ruang depan yang juga dihiasi tebaran mainan anak-anak, wanita itu mempersilakan dua orang yang tak diundangnya duduk. Tanpa mau berbasa-basi, ia langsung menanyakan apa tujuan mereka berkunjung.
“Tante tahu, sekarang Reva di mana?” Erin tak mau langsung menyampaikan tujuannya datang. Ia tak tahu seperti apa kondisi keluarga itu, dan ia ingin menggali informasi terlebih dahulu.
“Nggak tahu, saya nggak tahu Reva itu siapa. Mungkin anaknya yang punya rumah sebelum saya, ya?”
“Hah? Jadi ... Tante bukan Tante Tita?” Kedua mata Erin mengerling. Sungguh, ia pikir sosok yang sedang ia lihat di hadapannya itu adalah ibunya Reva yang sempat ia temui beberapa kali saat masih sekolah. Mereka terlihat mirip. “Maaf, Tante, saya pikir, Tante ini adalah ibunya teman saya.”
Wanita itu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya hingga ujung benda berbentuk silinder tipis itu terbakar. Tak peduli dengan dua wanita yang saat itu menatapnya seperti sedang menanti sebuah jawaban, ia mulai menghisap tembakau giling berlapis kertas itu perlahan.
“Ah ... sudahlah. Saya jujur aja sama kalian, ya ...,” tukas wanita itu sembari menarik napas. “Saya kenal Tita, tapi tolong jangan bahas dia di sini. Dan kalian jangan coba-coba bilang ke siapa pun tentang Reva.”
“Kenapa, Tante? Tante ini siapa? Kok, bisa tinggal di rumah ini?” sosor Nadia yang mulai merasa kesal.
“Aduh, kamu nggak usah banyak tanya. Saya kasih izin masuk juga udah untung.” Wanita itu membalas sembari mengepulkan asap rokok ke udara.
“Kita perlu informasi, Tante! Atau kita sebar ke semua orang kalau Tante tinggal di sini tanpa izin!” ancam Nadia kemudian, yang membuat Erin langsung mencubit gemas lengannya.
“Tanpa izin? Saya istrinya Adi! Dan ini rumah saya! Jangan sembarangan kalau ngomong!”
Sontak Nadia dan Erin ternganga. Mereka telah salah mengira dan akhirnya mulai mengerti situasinya. Erin lalu memperhatikan sekelilingnya dan menemukan sebuah foto pernikahan tergantung di dinding. Dan benar saja, ayah Reva memang telah menikah lagi dengan wanita yang sedang ditemuinya saat itu. Sementara, Nadia meminta maaf karena ia telah salah paham.
“Maaf, Tante, kita nggak tahu,” ujar Nadia. “Tapi, kalau boleh tahu, mama sama papanya Reva sekarang di mana, ya?”
__ADS_1
“Ada urusan apa kalian? Suami saya lagi ke luar kota,” jawab wanita itu sambil menepuk abu rokok ke dalam sebuah asbak. “Apa kalian tahu di mana anak itu?”
“Siapa? Reva?”
Erin masih tak mau menjawab gamblang. Kondisi Reva saat itu bukanlah perkara sederhana. Ia tak mau membuat situasi bertambah runyam dengan membeberkan cerita tentang Reva ke mana-mana. Ia tak mau mengambil resiko dengan salah bicara.
“Kita nggak tahu Reva di mana, justru kita datang ke sini mau cari dia.”
“Kenapa?”
“Temannya kecelakaan, Tante. Lagi kritis. Reva harus tahu.”
“Oh, cuma itu?”
“Tante, please, deh! Di mana Om Adi sama Tante Tita?” berang Nadia yang sudah tak tahan lagi menyaksikan sikap masa bodoh si nyonya rumah yang tak pantas.
“Dengar, ya, teman-temannya Reva, tolong jangan ganggu suami saya lagi dengan masa lalunya—”
“Masa lalu apa, Tante? Yang kita bahas ini anaknya! Anak satu-satunya! Anak semata wayangnya!” Nadia semakin geram dan mulai meninggikan nada suaranya.
“Heh! Jaga bicara kamu, ya! Kamu lihat anak-anak yang di depan situ? Mereka anak saya, anak-anaknya Adi!”
Erin menarik lengan Nadia untuk menenangkannya, dan seolah mengisyaratkan untuk segera pergi saja dari situ. Namun, Nadia yang masih merasa penasaran menolaknya.
Wanita itu menghela napas panjang seraya menyulut batang rokok yang ke dua di sore itu. Kali itu, dadanya terlihat mengembang dan mengempis lebih kuat.
“Nggak mungkin kalian dengan mudah ketemu si Tita sekarang. Dia itu istrinya pejabat, udah jadi kaum sosialita ....” racaunya sembari terus memainkan asap rokok dengan mulutnya. “Sial! Nasibnya mujur benar, sedangkan si Adi masih begitu-begitu aja dari dulu!”
Nadia dan Erin kembali saling melempar pandangan ke arah satu sama lain, seolah telah mengerti sesuatu.
“Awas kalian kalau sampai bawa Reva ke sini!” sungut wanita itu mengancam. “Rumah ini satu-satunya punya saya. Jangan sampai dia datang dan merampas hak saya!”
Dengan decak kesal dan gelengan kepala yang tiada henti, akhirnya kunjungan ke kediaman masa kecil Reva hari itu terpaksa berakhir. Hasilnya? Sudah jelas bahwa Erin dan Nadia gagal bertemu dengan orangtua Reva. Dan mungkin mereka tak akan pernah datang lagi ke sana, karena sejujurnya sejak awal itu memang ide yang buruk.
Terlihat sekali tak ada rasa peduli di rumah itu. Tak ada rasa cemas atau khawatir ketika seorang anak memutuskan pergi dari rumah. Tak ada yang mau tahu ke mana Reva pergi dan di mana wanita itu sedang berada. Sepertinya, keputusan Reva untuk meninggalkan tempat di mana ia dibesarkan sudah tepat. Benar-benar tak ada lagi yang tersisa untuknya di sana.
***
Sebelum kembali ke aktifitas masing-masing, Erin dan Nadia memutuskan untuk singgah sejenak ke rumah Rafael yang hanya berjarak lima puluh meter dari pagar luar rumah Reva. Biar bagaimanapun, Nadia tak ingin memutuskan hubungan silaturahmi dengan keluarga mantan suaminya begitu saja, mengingat Pak Pram juga sedang sakit dan masih membutuhkan bantuannya.
Memasuki teras rumah, terlihat Yarra sedang memberi makan anak-anak kucing yang jumlahnya tujuh ekor. “Kak Nadia,” sapanya ramah sembari melambaikan tangan.
“Hey, Dek. Baru pulang sekolah, ya?” Melihat Yarra yang masih memakai seragam putih abu-abu, Nadia langsung bisa menebak bahwa gadis itu baru saja tiba di rumah.
__ADS_1
“Iya, Kak. Baru aja sampai. Ayo masuk, Kak,” tawar Yarra sembari membungkuk. “Ayo, Kak Erin, silakan masuk.”
“Papa di mana, Dek?” tanya Nadia sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
“Di kamarnya, Kak. Baru selesai mandi. Mama di rumah sakit sama Thalia. Sheila kerja,” jawab Yarra yang hendak beranjak ke dapur.
Belum lama Nadia dan Erin duduk di kursi tamu, Zara datang dengan dua gelas besar coffee latte dingin yang tampak sangat menyegarkan tenggorokan. “Silakan diminum, kakak-kakak,” goda gadis itu dengan riang.
“Nah! Akhirnya minum juga kita, Rin! Nenek sihir tadi mana kepikiran kasih minum! Yang ada, sesak dada kita sama asap rokok!” pekik Nadia dengan girang.
Adik bungsu Rafael, Zara, sampai terheran melihat Nadia yang berbinar melihat es kopi. “Nenek sihir? Siapa itu, Kak?”
Nadia tak langsung menjawab karena mulutnya segera sibuk meneguk caffeine booster sore harinya, yang sudah ia damba-dambakan sejak siang. Tak tanggung-tanggung, es batu di dalamnya pun turut ditelannya juga.
“Dek, kamu tahu papanya Reva? Yang rumahnya di ujung?” lontar Nadia dengan dinding mulut yang seolah membeku.
“Tahu, dong, Kak. Kita, ‘kan, tetanggaan udah lama,” jawab Zara.
“Dia nikah lagi, ya?”
“Sebenarnya, rumah itu sempat kosong lama banget. Baru beberapa bulan terakhir aja Om Adi balik lagi, sama istri barunya itu. Dia bawa anak kecil tiga orang. Tapi tetangga di sini nggak ada yang tahu cerita jelasnya.”
“Oh, pantesan.”
“Kita kurang tahu, sih, Kak, soalnya udah nggak komunikasi lagi sama Om Adi. Dia juga pergi mulu. Istrinya juga nggak pernah keluar rumah.”
“Baguslah! Orang kayak dia itu mendingan di rumah aja. Kalau di luar, ngajak ribut orang lain mulu pasti.”
“Tapi, Kak ... sebenarnya, Papa maunya kita tetap bertetangga kayak biasa. Cuma Om Adi jaga jarak banget sekarang. Dulu sempat rumah itu mau dijual. Cuma kayaknya dia keburu nikah lagi dan nggak ada tempat tinggal.”
“Ya, malulah dia itu, Dek. Mau taruh di mana itu muka, udah nipu orang sampai segitunya. Tante Tita gimana?”
“Nggak pernah ada kabarnya lagi, Kak. Pokoknya sejak Kak Reva pergi, nggak lama kemudian mamanya juga pergi dan nggak pernah balik lagi. Nggak ada yang tahu juga dia di mana.”
“Duh, tragis banget hidupnya Reva, ya. Sampai tercerai-berai begitu keluarganya,” desis Nadia lesu, sembari mengaduk-aduk kopinya yang tinggal sedikit.
“Tapi, kata Papa, ‘kan, Rev ....” Zara tak mampu melanjutkan kata-katanya, begitu ia tersadar bahwa adalah Nadia yang sedang berbicara dengannya.
Nadia terkekeh melihat Zara yang langsung menunduk lugu karena merasa salah bicara. “Kata Papa apa, Dek? Nggak apa-apa, kok. Lanjutin aja, Papa bilang apa memangnya?”
Zara tampak ragu, meski jiwa polosnya tak tahan untuk bercerita bahwa sang ayah ingin putra sulungnya dan Reva segera menikah begitu kakaknya itu pulih. Namun, ia segera urung karena ia pikir mantan kakak iparnya itu akan tersakiti oleh ucapannya.
“Dek ....” Nadia segera menyambar sembari tersenyum. “Percaya, deh, kita semua juga maunya gitu, kok. Kita semua juga maunya suatu saat nanti Reva datang ke sini sebagai menantu.”
__ADS_1
Zara hanya membalas dengan anggukan kecil dengan wajah berseri. Lega sekali rasanya mengetahui bahwa Nadia yang selalu dianggapnya judes itu ternyata adalah pribadi yang menyenangkan, setelah ia tak terkekang oleh belenggu rumah tangganya sendiri.