
Satu buah koper berukuran besar dan satu buah tas ransel sudah berebut tempat di atas lantai kamar Reva yang luasnya tak seberapa. Reva baru saja selesai mengemas barang-barang yang akan di bawa oleh Kris ke Nusa Tenggara sampai Papua, memastikan bahwa tak ada satu pun yang tertinggal.
Rencananya, Kris akan pergi selama tiga sampai empat bulan karena mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Selain membuat film, Kris juga diajak bekerja sama oleh sebuah perusahaan pelayaran untuk membuat demo dan ulasan pada rute perjalanan laut dari Sumba menuju Papua Barat. Waktu tempuh perjalanan itu sendiri saja bisa berminggu-minggu lamanya. Apalagi jika ditambah shooting dari frame ke frame di berbagai tempat.
Reva membantu Kris untuk mengurusi semua barang yang hendak dibawanya. Jika Kris melakukannya sendiri, sudah tentu itu tak akan berakhir baik. Pria itu selalu saja asal-asalan membawa perlengkapannya sendiri. Entah itu charger yang tertinggal atau ia tak membawa pakaian dalam yang cukup. Kris akan mengarungi perjalanan panjang dan melelahkan, dan Reva tak mau jika dia sampai mengabaikan hal-hal penting yang akan menyusahkannya di tempat nan jauh di sana.
“Aku iri, deh, sama kamu,” keluh Reva saat ia baru saja selesai merapikan dan memeriksa ulang kebutuhan Kris selama di perjalanan, “karena aku juga mau banget ikut ke Labuan Bajo.”
“Setelah kita menikah, aku pasti ajak kamu ke sana, Sayang. Atau ke mana pun kamu mau,” balas Kris yang segera menarik Reva yang kelelahan ke pangkuannya di atas sofa.
Reva yang sudah terduduk di atas kedua paha kekasihnya itu segera menyeringai jail dan menggoda, “ke mana pun aku mau, ‘kan?”
Sadar jika ucapannya akan menjadi boomerang, Kris segera meralatnya sambil terkekeh, “kalau kamu minta ke Antartika, jelas aku nggak sanggup, Beb.”
“Yah, tapi aku mau lihat aurora borealis, Sayang,” rengek Reva dengan manja.
Aurora borealis? Wah, tabungan Kris bisa-bisa ludes tak bersisa kalau permintaannya sampai ke Kutub Utara. Kemudian, ia pun mulai menggelitik perut kekasihnya itu dengan gemas. “Auroranya lihat di internet dulu, ya, Sayang,” candanya.
Respons yang mengundang protes tentunya, karena Reva sangat sensitif oleh sentuhan. Ia tak bisa digelitik seperti itu. Tubuhnya akan menggelinjang seperti cacing kepanasan dan ia tak akan bisa berhenti tertawa.
“Kris! Stop!” pinta Reva sembari terus terpingkal-pingkal. “Geli, Kris!”
“Bercanda, sih, kamu mintanya. Aku hukum, ya!”
“Aaah! Jangan! Jangan di telapak kaki!”
Pria itu tentu tak mau berhenti begitu saja. Ia bahkan menggendongnya sampai ke atas kasur dan membaringkan tubuh mungil itu di sana. Kemudian ia malah semakin menjadi-jadi dengan sepuluh jemarinya mengitik-ngitik setiap bagian sensitif dari tubuh wanita itu, hingga akhirnya dia sudah terlalu lemas karena lama terbahak-bahak.
“Kris! Stop! Aku capek, tahu!” rengek Reva dengan tubuh yang kian menggelinjang karena geli. “Udah, dong, cukup ... lemes, nih, aku!”
Akhirnya Kris berbelas kasih kepada wanita yang sudah terkulai tak bertenaga itu. Ia menghentikan aksi jailnya, dan hanya membiarkan Reva berbaring dalam posisi tiduran dengan dia di atasnya. Jari-jemari iseng yang sejak tadi menggelatak itu kemudian membelai rambut halus sang kekasih, dengan kedua pasang mata yang saling menatap intens. Mereka saling tersenyum. Saling tertawa-tawa kecil seraya memandang satu sama lain.
“Aku sayang banget sama kamu,” bisik Kris dengan mesra di telinga Reva.
“Aku juga,” sambut Reva tak kalah mesra.
“Aku mau cepat-cepat menikah sama kamu,” desis pria itu kemudian, tepat di moncong hidung kekasihnya.
“Aku juga.”
__ADS_1
Gelak tawa pasangan yang sedang bermesraan itu ternyata terdengar sampai ke tetangga sebelah, karena pintu teras balkon mereka sama-sama sedang terbuka lebar. Membiarkan cahaya mentari yang sedang langka bersinar itu masuk sejenak. Sebentar lagi sore akan tiba, dan biasanya gerimis mulai kembali.
Saat itu hari sabtu dan Rafael sedang libur bekerja. Waktu ia menjemur handuk, riuh suara cekikikan dari wanita yang beberapa hari lalu menangis dalam pelukannya terdengar olehnya. Sayang sekali. Padahal Rafael rela melakukan apa pun untuk membuatnya tertawa seperti itu kembali. Ia akan melakukan apa pun agar persahabatan mereka kembali. Namun, ternyata pria lain lebih sanggup melakukannya.
Untung saja, saat itu Rafael sedang sibuk berjibaku di hadapan laptopnya. Kalau tidak, bisa-bisa ia menjadi gila jika terus-menerus mendengar tetangga sebelahnya bermesraan seperti itu. Di hadapan laptopnya, otaknya itu akan sibuk menembus kode-kode dalam dunia digital. Gemuruh di benaknya akan terpusat kepada bahasa pemrograman yang rumitnya sering kali membuatnya sakit kepala. Tak apa. Lebih baik sakit kepala oleh sistem kompleks di balik layar komputer dari pada sakit hati kehilangan seseorang.
***
Lama tak memeriksa persediaan gula putih, akhirnya Reva kelabakan saat dirinya hendak membuat chocolate molten cake dan tak menemukan sedikit pun benda itu di tempatnya. Malam itu sangat dingin dan besok Kris akan berangkat untuk waktu yang cukup lama, sehingga Reva memutuskan untuk membuat beberapa dessert favoritnya. Berhubung kedua tangan Reva sedang belepotan oleh bahan-bahan kue, akhirnya Kris menawarkan bantuan untuk membeli gula di minimarket yang terletak di dekat lobby.
Baru beberapa langkah dijejakkan, Kris melihat Nadia juga keluar dari unitnya. Dan tanpa disengaja mereka berjalan beriringan. Kris baru pernah melihat Nadia satu kali, sehingga ia merasa canggung untuk menyapa. Untung saja wanita itu tak keberatan untuk menegur terlebih dahulu.
“Kamu Kris, ‘kan?” tanya Nadia selagi berjalan di sebelah pria itu.
“Iya. Aku lagi kerja bareng suamimu.”
“Aku tahu. Namaku Nadia.”
“Ya, aku tahu. Reva pernah bilang.”
“Oh, bilang apa dia?”
“Reva juga berteman sama suami aku.”
“Ya, itu juga aku tahu. Mereka teman sekelas, ‘kan?”
“Woy! Mereka sahabatan banget kali, ah! Semua alumni sekolah kita tahu banget mereka dekatnya kayak apa selama bertahun-tahun!”
Kris terdiam. Sahabat dekat? Reva sama sekali tak pernah mengatakan apa pun tentang itu kepadanya. Katanya, Rafael hanya sebatas teman satu kelas yang juga merupakan tetangganya. Jika mereka memang bersahabat, sudah pasti Rafael orang yang sangat penting baginya, bukan? Mengapa hal itu disembunyikan? Kris mengenal Reva dengan sangat baik. Wanita itu sangat sulit didekati, apalagi dijadikan sahabat.
Ah, tetapi bisa saja Nadia hanya mengarang, pikir Kris, dan entah apa maksudnya ia mengatakan itu semua. Namun, jujur saja firasatnya memang tak baik sejak ia melihat Reva bertemu dengan Wina. Ada kedekatan ghaib yang tak terlihat olehnya, tetapi ia bisa sangat merasakannya.
Nadia sedang berada di satu lift yang sama dengan Kris, karena ia juga memiliki tujuan yang sama untuk membeli beberapa camilan sebagai teman movie marathon-nya di malam minggu itu. Kebetulan sekali, Kris keluar di waktu yang bertepatan, dan kesempatan mengobrol itu jelas tak dilewatkan oleh Nadia. Lalu, ia menatap pria skinny dengan tindik telinga dan tato di hadapannya dan mengerenyit heran.
“Jadi, kamu memang beneran nggak tahu apa-apa tentang Reva sama Rafael?” tanya Nadia penasaran, bersandar di dinding lift sambil melipat kedua lengannya di dada. Si biang gosip itu terkadang memang tak tahu adab. Sesekali seseorang harus menutup rapat mulutnya dengan lem besi.
“Memang apa yang perlu diketahui?”
“Astaga, Kris. Ternyata nasib kamu sama mengenaskannya kayak nasib aku. Aku ngerti, kok, rasanya punya pasangan yang nggak terbuka.”
__ADS_1
“Maksud kamu apa, sih?”
“Ah, sudahlah, mending kamu tanya sendiri ke pacarmu yang misterius itu. Eeeh, tunggu ... dia nggak akan jawab juga, sih.”
“Jawab apa? Apa yang perlu ditanya?”
“Kamu sayang banget sama Reva, ‘kan?”
“Iya, lah, kita menikah beberapa bulan lagi.”
“Wah! Selamat kalau gitu! Sekarang kamu lagi sibuk persiapan wedding pasti, ya?”
“Besok aku harus pergi ke Papua buat urusan pekerjaan.”
“Lho, gimana, sih? Mau menikah malah pergi jauh."
“Kita nggak ada pesta. Cukup di KUA aja, kok.”
“Ya, maklum, sih, kalau si Reva maunya nikah begitu. Typical introvert ngirit memang dia itu. Tapi, kamu bukannya lagi kerja bareng suami aku? Kenapa pergi?”
“Ya, karena ada tawaran pekerjaan. Aku serahin ke Reva semua bisnis di Bandung.”
“Hah? Kamu mau ngebiarin Reva sama Rafael kerja bareng, maksudnya?”
“Memang kenapa, sih? Kamu kenapa, sih, dari tadi? Apa yang sebenarnya mau kamu bilang? Nggak usah banyak basa-basi.”
“Kalau aku jadi kamu, Kris, aku nggak akan biarin Reva dekat-dekat suami aku. Itu pun kalau kamu nggak mau mereka CLBK, ya.”
“Hah?!”
“Mereka pernah pacaran, Kris, gila aja kalau si Reva sampai nggak pernah bilang apa-apa sama kamu!”
“Hah?!”
“Mereka putus karena Rafael terpaksa nikah sama aku. Ya, kamu tahu, lah. Pergaulan anak muda kayak kita dulu.”
“Hah?!”
“Astaga! Sekaget itu, kamu? Kalian pacaran berapa lama, sih? Kayaknya banyak yang harus dibenerin dari hubungan kalian, deh. Sebelum terlanjur nikah.”
__ADS_1
“Hah?!”