Under The Rain

Under The Rain
Bab 16—Kerja Sama


__ADS_3

“Satu jam lagi aku sampai,” ujar Kris di seberang telepon.


“Aku sudah hampir siap, kok,” balas Reva seraya mengeringkan rambut hitam tebalnya.


Sebuah proyek baru. Seminggu yang lalu Kris berkata kepada Reva bahwa ia tengah mengerjakan sesuatu yang berbeda. Kemampuan apiknya dalam bidang desain grafis mulai menarik perhatian para web-developer. Kris juga sering kali memenangkan kontes desain di sebuah platform yang cukup terkenal di kalangan para digital creator. Saat itu, ia mulai berpikir untuk bekerja di bidang IT yang kerap kali membutuhkan para desainer untuk membantu membuat tampilan user-interface. Tentu saja hal itu dilakukannya di sela-sela kesibukannya membuat film.


Beban pekerjaan dan tanggung jawab sebagai manusia dewasa membuat Reva dan Kris menjadi jarang bertemu. Padahal, selama sembilan tahun terakhir mereka tak pernah berpisah lama. Sudah pasti Kris setengah mati merindukan kekasihnya.


Sebelum berangkat ke Jakarta, sebenarnya Kris sudah berusaha meyakinkan Reva bahwa ia tak keberatan jika setiap hari harus bolak-balik Jakarta-Bandung agar mereka bisa tetap selalu bertemu. Namun, menurut Reva, ide tersebut sangatlah gila. Reva jelas tak mau kalau Kris sampai jatuh sakit hanya karena tak rela menjalani hubungan jarak jauh.


Hari itu mereka akhirnya bertemu setelah hampir sebulan lamanya. Kris berniat mengajak Reva untuk bertemu rekan barunya dalam proyek IT pertamanya. Sebenarnya, Reva yang merupakan seorang introvert sejati itu merasa sangat malas setiap kali harus bertemu dengan orang baru. Namun, karena ia juga sangat merindukan Kris, akhirnya ia berjanji untuk menemani pria itu ke mana saja ia mau, selama waktu berliburnya di Bandung berlangsung.


Motor besar jap-style milik Kris kembali menggilas jalanan Kota Bandung bersama dengan penumpang kesayangan dalam boncengannya. Reva yang berpakaian serba hitam dengan kacamata anti-uv itu terlihat sangat stylish menyatu dengan gaya motor Kris yang terkesan retro. Ia terlihat cantik dan menggoda sekali hari itu, memakai celana jeans ketat berwarna hitam yang dipadukan dengan ankle boots. Kaos super tipis yang dikenakannya dilapisi dengan cropped jacket berwarna senada. Ia mengepang sedikit rambutnya di dekat pelipis agar terlihat rapi, dan sisanya tergerai sempurna dengan indahnya. Makeup tipis juga tak luput menambah aura kesegaran di paras itu.


Kris sampai tak bisa berpaling kala melihat Reva saat itu. Saat ia mengetuk pintu dan wanita itu menyambutnya dengan ceria dan langsung memeluknya erat. Senyumnya sangat indah merekah. Lelah berkendara selama empat jam tak menghentikan Kris untuk segera menggendong kekasihnya dan menciumi seluruh wajahnya dengan penuh kerinduan. Mereka bersenda-gurau sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk berangkat dengan gegas karena calon rekan Kris sudah menunggu di sebuah cafe.


***


Perlahan, Reva menapaki jalan kecil menuju cafe yang di kanan-kirinya dihiasi oleh berbagai tanaman. Reva pikir, siapa pun yang memilih lokasi itu, seleranya sangat baik. Reva belum pernah berkunjung ke daerah sana, meskipun ia memiliki keinginan tersebut sejak dahulu.


Tempat itu terletak di balik rimbunnya pepohonan di perbukitan kawasan Dago Utara. Melihat tampilan eksteriornya, sudah pasti harga menu yang ditawarkan sangat mahal.


Nuansa semi-outdoor yang menyejukkan mata menyapa Reva dengan ramah saat wanita itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Namun, seri di wajahnya mendadak berubah menjadi penampakan pucat pasi yang tak asing, kala ia melihat ke salah satu sudut cafe dan menemukan pria itu di sana.

__ADS_1


Rafael?


Kris menggandeng tangan Reva dengan mesra untuk menghampiri sebuah meja di mana Rafael dan Adji tengah duduk di hadapan laptop masing-masing. Kris berjalan ke arah Rafael dan melambaikan tangan kanannya dengan santai di hadapan Reva.


Apa? Apa yang sedang terjadi? Apakah pria yang dimaksud Kris adalah Rafael? Apakah mereka benar-benar telah bekerja sama sebagai rekan? Reva benar-benar merasa panik setelah melihat bentangan kenyataan terbuka di hadapannya.


Reva sempat melangkah tertatih meski akhirnya ia menyadari bahwa ia tak boleh membuat Kris sampai menaruh rasa curiga kepadanya. Sekecil apa pun. Apa pun yang terjadi Reva tahu bahwa ia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri. Kemudian, ia mulai menarik napas dalam secara perlahan, menenangkan pikirannya. Dan ia mulai memantapkan langkahnya berjalan berdampingan dengan Kris menuju meja itu, di mana Rafael tengah intens menatapnya dari kejauhan.


Meja dengan empat kursi untuk empat orang pengunjung. Terletak di area luar di halaman belakang cafe, di mana angin pegunungan dan udara dingin Bandung Utara melebur jadi satu, membelai siapa pun yang datang. Mereka duduk di sana, Rafael berhadapan dengan Reva, saling menatap untuk waktu yang lama dengan gelagat yang sulit diartikan.


“Sayang, kenalin, rekan baru, nih,” ujar Kris dengan antusias sambil menepuk pundak Rafael dengan bangga. “Kita mau bikin proyek bareng, aplikasi desain untuk bikin cover buku.”


“Kris, a-aku—"


“Kris ....”


“Maaf sebelumnya aku nggak bilang kalau kerjaan ini melibatkan kamu juga. Surprise, no? Tapi aku yakin kamu akan tertarik.”


“T-tapi, Kris—”


“Ayo, kenalan dulu, dong. Biar kita lebih enak ngobrolnya.”


Reva sungguh tak percaya dengan situasi yang tengah menimpanya saat itu. Kerja sama? Dengan Rafael? Rafael dengan Kris? Ia hanya bisa menatap tiga pria di hadapannya dengan mulut menganga dan raut wajah bingung bertabur sejuta tanda tanya. Bagaimana bisa?

__ADS_1


“Hey, Sayang? Ngelamun?”


Nasi sudah menjadi bubur. Mau tak mau situasi seperti itu harus dihadapi juga oleh Reva. Di tengah-tengah gemuruh badai yang datang tak terduga itu, ia berusaha berpikir jernih.


“Kris ... aku cuma mau bilang kalau aku sudah kenal mereka berdua.”


Ya. Reva memilih untuk tak mau berbohong perihal pertemanan mereka, karena percuma saja. Kris akan tahu, meskipun ia tatap tak boleh tahu semuanya. Yang terpenting saat itu hanyalah menghindari aktivasi radar kecurigaannya.


“Wah, pantas kamu bengong. Udah kenal, toh. Kaget, ya?”


“Iya, kita teman satu sekolah.”


“Bagus, deh. Berarti aku nggak perlu repot ngenalin kalian, ya ....”


Sementara itu, sejak awal Rafael tak banyak bicara meski ia tak pernah melepaskan pandangannya dari Reva. Ia benar-benar mengamati setiap mimik dan ekspresinya dengan rinci. Demi mencari sebuah jawaban atas apa yang sebenarnya wanita itu tengah rasakan kepadanya, ia harus berani mengambil resiko. Rafael benar-benar membiarkan Reva menjawab semua pertanyaan Kris tanpa mencela. Ia ingin tahu ke arah mana Reva akan membawa permainan itu.


“Jadi gini, Sayang, awalnya itu Rafa kirim e-mail bahwa dia lagi butuh graphic designer,” Kris mulai bercerita. “Ternyata, masing-masing dari kita cocok sama bentuk kerja sama untuk proyek ini. Masalah pendapatan juga udah clear. Kita bisa langsung mulai.”


Astaga! Rafael yang menghubungi Kris? Reva melayangkan pandangannya ke arah Kris sembari berkerut dahi dan menyipitkan kedua matanya. Apa aku tak salah dengar?


Adji yang menyadari bahwa situasinya akan menjadi rumit segera meluncurkan beberapa leluconnya untuk mencairkan suasana, yang untung saja disambut dengan terbuka oleh Krisna. Ia merasa tak tega melihat Reva yang tampak linglung dilanda kegalauan seperti itu. Reva terlihat sangat tak nyaman dan tersiksa. Setiap wanita itu menarik napas panjang, Adji dapat mengamati bahunya yang bergetar meski tak jelas kentara.


Di sisi lain, Rafael dengan raut wajah menyelidiknya sama sekali tak membantu. Ia semakin gencar bersikap seperti predator yang hendak memburu mangsanya. Fokus mengintai tanpa jeda. Reva semakin tak betah dicermati dengan saksama bagai alien yang baru saja turun ke bumi. Ia ingin segera pulang saja untuk berlari menjauh dari kenyataan.

__ADS_1


Perbincangan siang menuju sore yang berakhir hingga malam. Reva betul-betul terjebak di sana selama berjam-jam tanpa bisa menghindar. Berdiri di antara dua sisi, kisah masa lalu dan masa depan. Saat itu ia hanya bisa berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Entah apa maksud dari semua hal yang terjadi hari itu. Reva tak pernah tahu apakah itu skenario yang disengaja, atau memang terjadi secara alami begitu saja. Kerja sama. Proyek baru. Jalinan pertemanan antara Rafael dan Krisna. Firasat Reva benar-benar buruk.


__ADS_2