
“Reva ....”
“Sayang ....”
“Ayo, bangun, Sayang ...."
"Bangun, Nak ...."
***
Suar cahaya dari neon berlapis beling yang terletak tepat di atas kasur Reva dengan tajam menusuk kedua netra gadis itu, tatkala kelopaknya perlahan terbuka selepas ia mengalami kehilangan kesadaran secara tiba-tiba. Lukisan siluet? Reva mengerti. Seseorang telah membaringkannya di atas kasurnya sendiri.
Suara tiga orang di sekitar Reva lebih terdengar seperti denging yang menyakitkan daripada panggilan gusar. Samar wajah kekasihnya tertangkap mata, yang sedang memegangi tangannya di sebelahnya. Lalu, ada Rafael yang berdiri tak jauh di pojok ruangan. Kemudian, Mama Ina?
Oh, ya. Ingatan tentang papasan singkat dengan wanita paruh baya itu menyeruak di benak Reva, sebelum akhirnya kesadaran mutlak mulai memudar dan menghilang ke lubang hitam di pusat sarafnya. Reva ingat sekujur tubuhnya gemetar memikirkan kemungkinan pertikaian Kris dan Rafael. Setelah itu, Reva pingsan.
“Va, ini diminum, ya.” Wina menyodorkan segelas teh manis hangat untuk membantu Reva memulihkan kondisinya.
Reva yang masih terbaring kemudian dibantu oleh Kris untuk duduk. Pria itu memegangi punggungnya agar ia tak terjungkal ke belakang. Beban berat di kepala Reva itu seolah bekerja sama dengan gravitasi untuk menariknya ke bawah. Sakit sekali untuk membuatnya tetap tegak dalam posisi duduk. Sehingga, Kris harus tetap menopangnya dengan bantal dan lengannya sendiri.
“Minum dulu, ya, Nak. Ayo, biar cepat pulih.” Wina tersenyum getir. Itu sama sekali bukan skenario yang ia bayangkan untuk bertemu lagi dengan gadis kecilnya. Semua yang terletak di antara rindu dan iba, haru dan tanda tanya, Wina bisa merasakan mereka terselip di secercah kebahagiaan dalam pertemuan kembalinya dengan Reva. Mengapa putri kecilnya bisa sampai terlihat seperti itu?
“Maaf, Bu. Kayaknya Reva perlu istirahat. Dia baru aja pulang dari rumah sakit.” Krisna mengingatkan dengan tegas. Ia tak paham dengan apa yang dilihatnya saat itu dan mulai mempertanyakan realita. Rafael. Rafael tinggal di sebelah Reva. Rafael dan ibunya sama-sama mengenal Reva dengan baik. Ia dapat merasakan sesuatu berkelit di ulu hatinya. Ada yang sangat salah dengan semua itu.
Wina dan Rafael saling bertatapan, lalu mengangguk kecil ke arah Kris, sebelum akhirnya memohon pamit kepada Reva yang terus tertunduk memegangi cangkir hangat berisi teh manis. Tidak. Wina sebenarnya tak mau segera beranjak dari situ. Jiwa keibuannya sungguh tergugah melihat kondisi Reva yang seperti itu. Namun, Rafael segera memberi kode bahwa saat itu bukanlah waktu yang tepat. Mereka harus segera pergi.
***
“Nanti El jelasin semuanya, Ma,” janji Rafael seraya ia berjalan mengantar Wina untuk mencari taxi.
“Kamu nggak bilang sama Mama? Reva tinggal dekat sekali sama kamu, dan kamu nggak bilang apa-apa sama Mama?”
__ADS_1
“Ma ... situasinya nggak kayak dulu. Tolong ngerti, ya, Ma.”
“Om Adi gimana? Bi Tita? Apa mereka tahu?”
“Kayaknya nggak. Mama juga jangan bilang Papa dulu. Masalah itu jangan diungkit dulu.”
Wina menyerah. Ia menangkap raut kebingungan itu ada pada putranya juga, yang membuatnya jadi berhenti bertanya-tanya. Pria itu pun sepertinya tak mengerti apa-apa, percuma saja menyidiknya untuk mencari jawaban.
“Ya, sudah. Pokoknya Mama tunggu di rumah, ya. Mama pamit dulu, Kak.”
“Iya, Ma. Hati-hati.”
***
“Jadi kamu sama Rafael cuma teman sekelas biasa?”
Setelah Reva mulai bisa beraktifitas normal di malam hari, akhirnya Kris tak kuasa juga untuk membendung rasa penasaran yang bergejolak di hatinya sejak siang. Ia tak bisa mengabaikan ekspresi visual Wina yang terus menggelayut di kepalanya. Bagi Kris, cara Wina menyentuh wajah Reva sungguh tak biasa. Seperti ada cerita lama yang luar biasa tersirat di ujung jarinya. Namun, Reva tak pernah sekali pun mau membahas apa-apa yang terjadi di masa lalunya.
“Kamu nggak pernah bilang kalau kalian tinggal bersebelahan?”
“Karena nggak penting.”
“Aneh aja. Menurutku, ibunya dia nggak memperlakukan kamu kayak teman biasa.”
“Fine,” Reva mendengus kasar, “kita bertetangga.” Semangkuk sup krim yang sedang dilahapnya segera ia taruh di atas nakas. Selera makannya hilang sudah.
“Oh ... statusnya mulai naik dari sekadar teman biasa. Sekarang, dia juga tetangga.” Kris mengangkat tangannya ke udara, duduk di tepian kasur sembari memandang kosong ke langit gelap tak berbintang.
“Sepenting itu, Kris? Sepenting itu siapa yang jadi teman atau tetangga?”
“Entahlah, Va ...” Kris menoleh ke arah Reva yang tengah bersandar pada divan kasur. “Kadang aku mikir, mau sampai kapan kamu menutup diri kayak gitu. Aku nggak pernah bener-bener tahu, mana yang penting dan mana yang nggak penting buat kamu.”
__ADS_1
“Kris ... aku masih capek. Tolonglah,” sela Reva dengan lirih sembari memijat keningnya. Entah mengapa titik nyeri di kepalanya menjadi berpindah-pindah. Dan itu terasa semakin menggila kala Kris terus saja berbicara tentang masa lalu.
“Ya, sudah.” Kris segera menepis perasaan curiganya dan mulai merangkak mendekati Reva di atas kasur itu. Sampai akhirnya wajah mereka berdekatan, Kris mendaratkan satu kecupan lembut di kening kekasihnya. “Maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud bikin kamu tertekan.”
Reva yang tak ingin memperburuk suasana segera mengalungkan lengannya di leher pria itu, hingga akhirnya mereka berpelukan dan Reva hanyut di dalamnya. Biasanya, Kris baru akan pulang setelah Reva benar-benar mengantuk dan hampir terlelap.
“Sayang ....” ujar Kris sembari terus memijat ringan kepala kekasihnya.
“Ya?” jawab Reva yang saat itu tubuhnya sudah terbenam seluruhnya dalam dekapan Kris.
“Aku pikir, kita nggak perlu nunggu lama lagi. Aku mau kita cepat menikah.”
Reva yang masih belum mau menjawab mendongakkan kepalanya untuk menatap Kris lebih jelas. Dalam posisi rebahan bersebelahan, mereka saling memandang cukup lama. Jari-jemari saling tertaut dan membelai wajah. Rasanya, baru kali itu Reva benar-benar menelisik jauh ke dalam jiwa Kris, meresapi kehadirannya dan merasakan cinta di dalam sana seutuhnya. Astaga ... pria itu sungguh telah melakukan segalanya untuknya.
Kris sangat baik. Entah apa yang Reva pikirkan sehingga ia menunda pernikahan sampai selama itu. Kris melakukan hal-hal yang sewajarnya dilakukan oleh para suami. Melindungi, mengayomi, mendengarkan seluruh keluh kesah dan menyelesaikan masalah bersama. Sembilan tahun dan mereka benar-benar melewatinya berdua. Kris milik Reva dan Reva milik Kris.
Yang kurang hanya percikan api cinta di hati Reva yang tak kunjung membesar, meski sesungguhnya itu terasa hangat. Reva hanya tak pernah menyadarinya karena dunia di sekitarnya terasa dingin sekali, sampai-sampai membuatnya mati rasa hingga ke relung dada. Ia tak sadar bahwa selama itu ia terselamatkan oleh pijar api kecil yang dipelihara oleh perasaannya kepada Kris.
“Sayang ... aku tahu menikah itu keputusan besar. Tapi, sungguh, aku selama ini hidup demi kamu. Bekerja dan bertanggung jawab, semuanya demi kamu.”
Tentu. Reva tahu itu. Ia sadar kesungguhan Kris memang tak ada duanya. Ia ingat bagaimana dulu pria itu mengorbankan segalanya untuk menjaganya tetap hidup. Depresi sempat membuat Reva memandang dunia hanya sebatas ruang kosong nan hampa. Namun, berkat Kris, hutan mati itu kembali berbunga. Dan tanpa Kris, mungkin Reva akan selamanya menggantungkan hidupnya kepada obat-obatan penenang.
Jauh sebelum celotehan tentang pernikahan itu terjadi, Kris sudah menjadi satu-satunya keluarga tempat Reva bersandar. Keluarga? Tunggu dulu.
Hari itu, Reva kembali bertemu dengan Wina. Wina yang bahkan lebih terasa seperti ibu jika dibandingkan dengan Tita, ibu kandungnya sendiri. Wina merawatnya dengan baik saat orangtuanya sendiri tak mampu hadir untuknya. Wina menjaganya saat Tita menjaga pria lain yang berselingkuh dengannya. Wina menemani malamnya saat Adi menghabiskan malam tersebut entah di mana. Apa yang Wina berikan kepada Rafael, ia berikan juga kepada Reva.
Wina adalah ibu peri di masa kecil Reva. Mama Ina-nya. Mama Ina yang sangat dicintainya.
Saat kasus penipuan yang dilakukan oleh Adi mencuat, Wina tak datang untuk memberikan Reva ketenangan. Tak datang untuk sekadar merangkulnya dan berkata bahwa Reva tak bersalah. Di situlah Reva merasa sudah kehilangan dirinya. Di situlah Reva merasa Mama Ina-nya sudah membencinya. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah Pak Pram jatuh sakit, dan Rafael tersandung kasus bersama Nadia. Saat Wina akhirnya datang untuk mencari Reva, semua sudah sangat terlambat. Gadis kecilnya itu sudah tiada, pergi sejauh mungkin dari rumah.
“I love you, Sayang. Would you marry me?”
__ADS_1
Andai Reva tak bertemu Wina pada hari itu, mungkin ia tak akan berpikir panjang lagi untuk menerima lamaran Kris. Namun, akhirnya Mama Ina-nya telah kembali, dan sungguh terlihat jelas bahwa ia masih sangat menyayangi Reva.