Under The Rain

Under The Rain
Bab 51—Blind Spot


__ADS_3

Semak belukar dan dedaunan dari pohon ketapang hampir bisa menyembunyikan seluruh tubuh Rafael, tetapi Reva masih bisa melihat pucuk kepalanya dengan jelas ketika ia mengintip dari balik tembok pembatas. Pria itu berdiri di sana, melambaikan tangannya dan tersenyum jail, dan Reva yang panik segera menoleh ke sana kemari, memastikan bahwa suaminya telah benar-benar pergi.


“Kamu ngapain di situ, El?”


“Bisa kita ngobrol? Aku tahu Kris udah pergi.”


“Udah gila kamu, ya!”


“Ayolah, sebentar aja. Please ....”


“Kamu tahu dari mana?”


“Soal blind spot? Dari Erin. Ayolah ... aku boleh manjat, ya?”


Bujukan pria yang diselingi lengkungan manis di bibirnya itu membuat Reva tak tahan, akhirnya ia memberi kode pertanda bahwa tamu tak diundangnya itu diizinkan masuk.


“Ayo, naik!” titah Reva dengan sebuah anggukan kecil, yang segera disambut Rafael dengan semangat menaiki pagar.


Begitulah, akhirnya Rafael berhasil mendarat di halaman rumah Reva dan ia berdecak kagum. “Taman kamu keren, deh!”


Reva yang semakin gusar karena ia baru saja memasukkan pria lain ke rumahnya langsung mendengus kasar. “Bukan saatnya ngomongin taman! Kamu mau ngapain ke sini?”


Rafael tak peduli, bahkan ia mulai melangkah untuk berkeliling melihat-lihat sekitar.


“JANGAN BERGERAK!” pekik Reva seraya memegangi lengan laki-laki itu dengan erat. “Aku pernah bilang, ‘kan, kalau di sini ada CCTV? Jangan bergerak dari spot ini! Nanti kita tertangkap kamera!”


Rafael hanya tertawa geli sembari memandangi wanita yang sedang membelalakkan mata di hadapannya itu. “Gimana kalau aku kasih tau kamu sesuatu?”


Reva masih tak mengerti mengapa pria itu merespons dengan santai sekali. “Kasih tahu apa?” selidiknya.


“Bahwa semua CCTV di rumah ini nggak berfungsi secara semestinya, lho.”


Demi semesta! Apa yang baru saja pria itu katakan? CCTV-nya mati? Bagaimana bisa? Reva hanya menatapnya penuh tanda tanya.


“Kamu lupa, ya, kalau aku itu amazing? Aku bisa manipulasi jaringan CCTV, jadi kamu aman dari pantauan suamimu sekarang.”


“Maksud kamu? Apakah Kris nggak bisa live streaming dari ponselnya?”


“Iya.”

__ADS_1


“Bukankah itu bahaya? Dia akan panik dan buru-buru pulang ketika tahu CCTV-nya mati!”


“Kris bisa lihat kamu di sana, Yi. Cuma yang akan dia tonton itu rekaman-rekaman hari-hari kemarin yang diputar ulang. Kamu bisa atur sendiri mau menampilkan yang mana.”


Awalnya Reva tak percaya bahwa Rafael sampai bisa melakukan hal seperti itu, tetapi ia segera tersadar bahwa pria itu memang jenius di bidang IT.


“Maksudnya, kamu jadi hacker sekarang?” seloroh Reva dengan terkejut.


“Eh? Memangnya gitu, ya?” Rafael tak mau terlalu menanggapi, ia hanya berkelakar sembari melangkah keluar dari spot sempit di balik pohon kencana yang dikelilingi dedaunan kuping gajah itu yang tak terjangkau pantauan kamera itu.


Yah, mau bagaimana lagi. Reva sudah tak bisa berkata-kata, meskipun sejujurnya ia merasa lega jika Rafael memang bisa melakukan hal-hal keren seperti membajak sistem keamanan CCTV di rumahnya sendiri.


“Ya sudah, mau gimana lagi,” pasrah Reva yang juga mulai melangkah masuk ke dalam rumah. “Di luar dingin banget, masuk aja.”


Rafael mengikuti langkah kaki wanita itu menuju ke dalam bangunan kecil bergaya industrial dengan sentuhan natural yang minimalis, dan Reva segera pergi ke dapur yang terletak tepat di dekat pintu belakang untuk membuatkan tamu barunya segelas minuman sambutan.


Rafael memuji rumah itu dalam hati. Melihat letak dan layout-nya, ia yakin sekali bahwa itu memang sejenis rumah idaman Reva. Sayang sekali, ia tak yakin apakah sang nyonya rumah benar-benar bahagia berada di dalam situ atau tidak.


Tak lama kemudian, Reva kembali dengan dua buah gelas beling yang berisi es selasih yang tampak menyegarkan, meski hari itu sedang terasa sangat dingin.


“Minum dulu, nih. Kebetulan kemarin aku bikin es ini waktu pulang dari pasar.”


“Kamu bikin perpusatakaan baru juga di sini?” tanya Rafael sembari mengambil salah satu buku yang berada di dalam rak itu. Buku itu berjudul To Kill A Mockingbird karya Harper Lee.


“Iya, hasil ngumpulin buku lagi selama empat tahun,” jawab Reva mengikuti Rafael ke arah rak buku.


“Kenapa kamu memutuskan buat jadi penulis? Kamu, ‘kan, anak teknik?”


“Memangnya kenapa?”


“Nggak apa-apa, sih. Cuma tanya doang.”


Reva kesal sekali setiap ada orang yang mempertanyakan komitmen dan kredibilitasnya sebagai penulis. Ya, dulu dirinya itu memang mengambil jurusan teknik. Ia sangat tergila-gila pada fisika, tetapi kecintaannya terhadal dunia sastra juga sudah tumbuh sejak kecil. Reva tak pernah absen menyambangi perpustakaan bahkan sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.


Andai saja semua orang mengerti bahwa penulis-penulis keren seantero dunia pun datang dari berbagai latar belakang. Agatha Christie misalnya, yang berprofesi sebagai perawat sebelum melahirkan berbagai karya jenius. George Orwell yang merupakan seorang polisi juga bisa menjadi penulis legendaris. Belum lagi ilmuan kondang Arthur Conan Doyle dengan seri Sherlock Holmes-nya yang mendunia. Menurut Reva, siapa pun bisa menjadi penulis asalkan benar-benar mau belajar.


Sudahlah. Yang penting, selama belasan tahun sejak dirinya terpaksa hengkang dari kampus, Reva bisa membiayai hidupnya sendiri. Ia masih bisa mengungkapkan kecintaannya kepada fisika melalui buku-bukunya.


Hari itu terasa sangat istimewa, bahkan tanpa Reva sadari sekalipun. Setelah berdebat konyol soal penulis, mereka mulai membaca buku bersama dan membahas hal-hal absurd dari mulai invasi alien sampai dengan opini nanas sebagai topping pizza. Ada juga penjelasan psikologis mengenai bubur diaduk dan bubur tak diaduk, serta tak ketinggalan teori-teori tentang dari mana nafas api naga berasal.

__ADS_1


Tak puas hanya dengan buku, mereka mulai terjun ke dapur dan menguras isi kulkas Reva untuk menemukan bahan masakan. Lama berdebat membuat perut keduanya turut keroncongan tak kalah heboh dengan suara-suara yang bersahut-sahutan. Saat itu mereka menemukan berbagai jenis sayuran dan lauk di lemari pendingin, lalu segera tercetus ide untuk membuat sukiyaki hangat di tengah udara yang membekukan telapak kaki. Tak butuh waktu lama hingga kuah suki tersedia, lengkap dengan chili oil dan pangsit kuah yang terlihat menggiurkan. Dapur yang selama empat tahun terasa hening dan kaku itu mendadak menjadi ramai sekali karena keduanya terus berbicara dan bercanda tawa.


Pada momen itu, untuk pertama kalinya setelah ribuan purnama terlewati, Reva akhirnya tertawa kembali. Rafael-nya yang konyol sekaligus jenius telah kembali. Teman berbicara hal-hal random sejak dirinya kecil itu telah kembali kepadanya. Reva tak sadar bahwa sejak tadi ia terkekeh dan terbahak-bahak di hadapan pria itu. Segala hal receh nan tak penting saja terdengar lucu sampai mengocok perut keduanya.


Ironisnya, hal itu sama sekali tak pernah Reva rasakan bahkan saat bersama dengan suaminya sendiri. Tawa riang penuh kebahagiaan yang hakiki itu sama sekali tak pernah muncul bahkan saat ia berada di hadapan suaminya sendiri. Reva sangat berbunga-bunga hari itu. Hari di mana Rafael berada di sisinya sejauh mata memandang.


Saat sore hari menjelang, gerimis kecil turun membersamai kabut tebal abu-abu yang mulai menyelimuti puncak Merapi. Perut kosong sudah terisi penuh, dan perdebatan berpindah ke teras belakang di mana mereka bisa menikmati hujan deras yang tak lama lagi akan datang. Dua mahkluk itu duduk bersebelahan di sebuah ayunan kayu dengan bangku yang cukup lebar.


Atap teras yang tak seberapa luas membuat mereka tetap terciprat hujan yang kian menderas. Namun, tak ada yang peduli. Mereka terus berbincang seolah rindu itu tak tertahan lagi. Seolah tak ada lagi hari esok, dan semua rasa harus dihabiskan saat itu juga. Saat itu semua mengalir begitu saja, luruh bersama air hujan yang turun dari angkasa menuju ke lembah gunung.


Baju sudah terlanjur basah kuyup, dan Rafael segera terpikir untuk melontarkan ide gila yang sudah sejak lama ingin ia utarakan.


“Hujan-hujanan lagi, yuk?” ajak pria itu dengan mata berbinar penuh pengharapan.


Tentu saja Reva tak bisa menjawab ketika ditatap seperti itu. Ketika jemari Rafael mulai membelai wajahnya, menyingkap rambut tebalnya yang basah untuk disisipkan ke belakang daun telinga. Tatapan pria itu benar-benar membuatnya hangat, bahkan ketika udara di sekitarnya terasa sangat dingin, dan Reva dengan sukarela hanyut tenggelam di dalamnya.


“Ayo, Yi. Kita hujan-hujanan kayak biasa!”


Kali itu Rafael mengajak dengan lebih antusias, ketika bujukan pertamanya hanya dibalas oleh lamunan tanpa kedipan di paras ayu wanita yang sedang duduk di hadapannya. Tanpa menunggu lama, ia segera menarik pergelangan tangan Reva dan mereka melangkah ke bagian terluar hari halaman belakang rumah itu.


Taman itu berbentuk persegi. Di bagian selatan adalah teras rumah berlantai tegel di mana ayunan kayu berada, sedangkan di bagian utara adalah pagar sepinggang yang membatasinya dengan kebun milik entah siapa. Di sana hanya terdapat tanaman-tanaman liar dengan sungai kecil yang mengalir. Kemudian, sisi kiri dan kanan halaman ditata dengan cantik oleh pepohonan tropis, lengkap dengan kolam ikan beserta air mancurnya.


Sebenarnya, tempat itu benar-benar sempit jika digunakan untuk menari dramatis a la film-film Bollywood. Ruangan yang tersisa untuk berdiri hanyalah sebuah spot kecil di tengah-tengah taman, karena area yang lain sudah sesak oleh pot dan batang pohon. Namun, Rafael tak peduli. Ia tetap merengkuh pinggang Reva dan menggiringnya ke tengah halaman, dan di situlah mereka berdiri berhadap-hadapan.


Dress hitam Reva sudah sepenuhnya basah hingga siluet tubuhnya terjiplak jelas. Hujan tak malu lagi untuk mengucur hebat, dan langit gelap menjadi benderang karena untaian kilat yang berpendar. Rafael mulai menarik pinggang Reva untuk berdiri mendekatinya. Satu lengan pria itu berada di punggung belakangnya, dan satunya lagi saling menggenggam tangan, bertautan dari jari ke jari. Jarak antara wajah mereka tak lebih dari satu jengkal, meskipun Reva harus menengadah sementara Rafael menunduk karena perbedaan tinggi badan.


Gelegar petir yang memekakkan bagi sebagian banyak orang justru terdengar seperti iringan musik yang membersamai dua pasang kaki yang berdansa di bawah rintik hujan. Kaki-kaki itu melangkah-langkah kecil. Maju dua langkah, lalu kembali mundur tiga langkah. Bergerak ke samping kiri, lalu berputar ke kanan. Sebuah tarian lamban yang intim dan penuh kehangatan, yang bahkan bisa membuat mereka sejenak melupakan angin dingin Merapi yang menusuk tulang.


Meski tirai hujan terus menyela di antara mereka berdua, tatapan intens itu terus saling bertemu. Tak ada yang mau melepaskan pandangannya dari paras satu sama lain. Rafael sesekali menyesapi pucuk kepala wanita yang sejajar dengan lehernya itu, dan mendaratkan kecupan di sana sini. Bibir Reva yang pucat bahkan membuat pria itu hampir gila. Tidak, bibir itu tidak tebal sexy ataupun merah menggoda seperti bibir public figure yang ada di televisi. Namun, dari bibir itu selalu keluar kata-kata yang membuatnya bersemangat. Dari bibir itu keluar suara halus yang selalu membuatnya rindu. Sayangnya, si pemilik bibir selalu menghindar saat objek itu hendak didekati.


Hari sudah hampir gelap, tetapi Reva belum rela tarian lambat dalam dekapan pria itu berakhir, meskipun ia dihantui rasa bersalah yang konstan menerjangnya tanpa mau beristirahat. Reva paham bahwa mungkin Kris sedang berjuang habis-habisan di luar sana untuk melindungi para kru dan proyeknya. Reva tahu bahwa suaminya sedang mengalami masa sulit. Itu membuatnya sangat tertekan karena di sisi lain, ia sudah tak tahu lagi bagaimana cara melepaskan kedua tangannya yang sedang melingkar di tubuh pria di hadapannya itu.


“El ... kamu nggak mau pulang?” desisnya di sela-sela gemericik bulir hujan yang terpelanting di atas tanah.


“Nggak mau, Yi,” jawab Rafael sembari mengelus rambut wanita itu.


“Tapi, El ... kamu tahu kalau kamu nggak bisa ada di sini terlalu lama.”


“Aku tahu, Yi. Aku cuma nggak tahu lagi harus kayak gimana.”

__ADS_1


Reva sangat mengerti perasaan Rafael. Ia juga sungguh tak ingin berpisah malam itu. Malam yang telah ditunggunya selama hampir lima belas tahun akhirnya datang menghampiri. Malam yang telah hadir sebagai jawaban dari jeritan hati yang selalu memanggil kenangan itu untuk kembali. Malam itu membuktikan bahwa cinta di antara keduanya tak pernah pergi, bahkan semakin tumbuh menguat seiring dengan berjalannya waktu. Bagaimana pula Reva bisa melepaskan semua itu begitu saja hanya karena jarum jam terus berdetak ke kanan dan hari hampir berganti?


__ADS_2