Under The Rain

Under The Rain
Bab 8—Kotak Kenangan


__ADS_3

Lukisan menggemaskan karya Kaia mengingatkan Reva kepada sebuah kotak penyimpanan plastik bemotif catur yang diberikan oleh Rafael kepadanya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-15. Menurut Reva, kotak itu sangat indah, dengan meterial plastik tebal yang sangat berkualitas, serta terdapat fitur gembok mini di luarnya. Ukurannya juga cukup besar, sehingga Reva bisa menyimpan berbagai benda di sana. Benda-benda yang sudah diberikan oleh Rafael kepada Reva masih berada di kotak itu. Semuanya.


Jam tangan, puzzle, gelang dan kalung aksesoris, kacamata, dompet, buku diary, bingkai foto ... hanyalah beberapa contoh benda yang masih tersimpan dengan rapi di sana. Itu semua pemberian Rafael setiap kali Reva berulang tahun. Kris tidak pernah mengetahui hal itu, karena Reva benar-benar menyimpan kotak itu dengan aman, di dalam sebuah koper yang juga memiliki kunci. Dan koper tersebut selalu berada di bawah kasurnya.


Sembilan tahun. Selama itu Reva menganggap kotak bermotif catur itu tiada, hingga akhirnya baru saat itu ia memiliki keberanian untuk membukanya kembali. Saat Reva sudah bisa berdamai dengan kenyataan bahwa Rafael sudah pergi meninggalkannya dan tak akan pernah kembali untuknya. Ia sudah memiliki buah hati yang sangat cantik bersama wanita lain. Reva berusaha ikhlas.


Perlahan Reva membuka kotak itu. Sentuhan pertamanya saja sudah mampu membuat ingatan tentang persahabatan bertahun-tahun itu seketika menyemburat di udara. Dan saat kotak itu terbuka, Reva dapat membaui wangi parfum khas Rafael yang segera menyerbu indra penciumannya. Dahulu, Reva memang rutin menyemprotkan parfum yang biasa dipakai oleh Rafael ke dalam kotak itu, agar ia selalu bisa merasa dekat dengannya. Reva tak menyangka jika setelah sembilan tahun, aroma bergamot yang berpadu dengan cedar-wood itu masih menempel meski sangat samar.


Jari-jemari Reva mulai menjelajah ke dalam isi kotak itu. Ia mengeluarkan benda-benda di dalamnya satu per satu, yang semuanya masih dalam kondisi sangat baik seperti baru. Sejak dahulu, ia memang selalu enggan memakai barang-barang pemberian Rafael karena ia takut merusaknya. Hal itu terkadang membuat pria itu kesal, karena ia merasa sia-sia saja memberi hadiah untuk Reva. Namun setelah Reva menjelaskan alasannya, ia akhirnya mengerti.


Dibutuhkan kekuatan yang luar biasa bagi Reva untuk menelusuri jalan suram menuju masa lalunya, yang selama bertahun-tahun ia hindari setengah mati. Tak jelas apa yang ia rasakan saat itu. Sedih, marah, kecewa, putus asa dan tak berdaya berpadu jadi satu. Sebulir air mata mulai menitik di sudut matanya. Sebulir yang menjadi dua bulir, lalu menjadi tiga, hingga akhirnya basah sudah kedua pipinya. Ia perlu menarik napas panjang berkali-kali untuk meredam getaran pada pundaknya karena luapan emosi yang ia rasakan dari dalam hatinya.


Baru sebentar Reva bernapas panjang, ia kembali tercekat saat jemarinya membuka sebuah album mini. Album yang berisi puluhan fotonya dan Rafael. Puluhan foto yang diambil dalam kurun waktu belasan tahun, dari sejak ia lahir sampai ia berpisah dengan pria itu. Ya, usia Reva baru delapan belas tahun saat mereka berpisah sembilan tahun yang lalu.


Reva membuka lembar demi lembar foto di dalam album tersebut. Rafael yang sedang makan, tersenyum, cemberut. Rafael yang sedang merangkulnya, menggendongnya, memegang tangannya. Rafael yang bertelanjang dada, memakai kemeja, hoodie. Reva bahkan tak melihat dirinya sendiri dalam foto-foto itu. Hanya Rafael dan Rafael seorang.

__ADS_1


***


Reva sudah menyukai Rafael sejak kecil, bahkan jauh sebelum ia mengerti arti cinta. Entah kapan persisnya itu dimulai, yang pasti, Reva melewati masa-masa sekolahnya dengan memendam rasa kepada laki-laki itu. Rafael hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tak pernah lebih. Ia selalu baik kepada Reva karena orangtuanya selalu mengajarkan seperti itu. Hanya sebatas itu. Sedangkan, di sisi lain, Reva sungguh tergila-gila kepada pemuda itu sampai-sampai ia tidak pernah berpacaran dengan orang lain.


Reva dan Rafael sama-sama pintar. Mereka sangat menonjol dalam bidang akademik. Bedanya, Reva sangat rajin sedangkan sahabatnya itu pemalas total. Oleh karena itu, Reva selalu menulis catatan untuknya, mengerjakan tugasnya, membantunya merangkum, membuat prakarya, di saat pemuda itu terus saja asyik dengan video games-nya. Reva tak pernah mengeluh sedikit pun, bahkan sebaliknya, ia sangat senang karena setiap pulang sekolah Rafael selalu mengajaknya berkunjung ke rumahnya. Mereka setiap hari duduk berdampingan. Yang satu serius mengerjakan tugas, Yang satu sibuk berkutan dengan games sambil terus berbuat jail kepada orang di sebelahnya.


Kecintaan terhadap berbagai hal yang sama mempererat persahabat Reva dan Rafael. Mereka sama-sama menyukai genre musik rock dan metal, serta film-film action-thriller. Mereka sama-sama tergila-gila terhadap sejarah dunia, peperangan dan teori konspirasi. Rafael jarang sekali menemukan kecocokan tersebut di dalam diri perempuan lain, sehingga ia suka sekali berbincang dan bercanda dengan Reva untuk membahas hal-hal konyol dan random.


Satu hal yang sangat membuat Reva bahagia adalah Rafael tak malu mengakui bahwa mereka bersahabat dekat. Rafael tak segan berjalan di sampingnya, berbagi makanan bersamanya, dan ia juga tak keberatan mencurahkan isi hatinya. Jadi, walaupun Rafael terkenal playboy, Reva tak khawatir karena pemuda itu tetap selalu memperhatikannya.


Menjadi sahabat Rafael adalah sesuatu yang sangat tidak mudah bagi Reva. Bayangkan saja, setiap kali Rafael memiliki gebetan baru, ia langsung menceritakannya kepada Reva dan memintanya untuk mencari informasi tentang gadis incarannya itu. Ia juga meminta Reva untuk memilihkan hadiah, memilihkan tempat kencan, memilih parfum, memilih foto mana yang terbaik untuk dipajang di social media. Rafael bahkan meminta saran kepada Reva setiap kali pacar-pacarnya ngambek. Sialan! Reva mana mengerti! Ia sendiri sama sekali belum pernah berpacaran.


Reva jadi merasa dirundung dilema, antara senang mendengar Rafael sangat terbuka kepadanya, dan sakit hati setiap kali laki-laki itu menyanjung tinggi perempuan lain.


Butuh waktu belasan tahun untuk Rafael menyadari bahwa Reva diam-diam menyukainya. Namun, sejujurnya itu bukan sepenuhnya salah dia.

__ADS_1


Reva sangat pendiam dan selalu terlihat dingin. Ia memiliki pribadi yang tenang dan bisa menjaga emosinya dengan baik di depan orang lain. Reva tak pernah terlihat menangis dan bersedih, hanya ekspresi datarnya saja yang terpampang meski ia sedang memendam gejolak cinta dan cemburu yang dahsyat. Sikapnya tak pernah berubah meski Rafael tanpa sadar berkali-kali menyakitinya. Reva seperti robot yang kaku. Bagaimana pula Rafael dapat mengetahui bahwa gadis itu sedang memendam rasa?


Selain itu, Rafael juga sama sekali tak melihat ketertarikan Reva kepada laki-laki, karena gadis itu terus saja membicarakan novel dan serial animasi. Bahkan, Rafael sempat berpikir bahwa Reva itu perempuan tidak normal nan ambisius yang hanya peduli terhadap nilai-nilai di sekolahnya.


Reva memang tak pernah mengizinkan Rafael mengetahui perasaannya, karena ia takut merusak persahabatan mereka. Reva sadar bahwa setiap laki-laki itu berpacaran, paling hanya bertahan dua atau tiga bulan, sedangkan Reva sudah mendampinginya selama belasan tahun sejak mereka masih balita. Reva tahu bahwa Rafael bukan laki-laki yang perhatian nan romantis, dan hanya berpacaran untuk bersenang-senang serta memenuhi egonya sebagai pria cool.


***


Tak akan cukup waktu seratus hari bagi Reva untuk menceritakan seluruh kisahnya bersama Rafael. Maka dari itu, ia gemar sekali mengumpulkan foto-foto bersama pria itu, untuk membantunya bercerita dan menyampaikan rasa.


Lama juga Reva terhanyut dalam foto-foto itu karena ia terus saja membolak-balik halamannya dan mengulang setiap adegan dalam foto itu di kepalanya. Sampai akhirnya, Reva tiba di halaman terakhir album itu dan dadanya kian terasa sangat sesak.


Sebuah foto ultrasonography berwarna hitam putih terselip di sana. Usia kandungan tujuh minggu. Buah hati Reva bersama Rafael yang meninggal sesaat setelah ia dilahirkan.


Burai tangis Reva tak terbendung lagi kala itu. Kala ia memegang foto janinnya dan mendekapnya erat di dadanya. Untuk sementara waktu ia membiarkan emosi besar itu membanjiri dirinya. Reva tak mau melawan lagi. Ia ingin bebas. Ia ingin melupakan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2