Under The Rain

Under The Rain
Bab 26—Jeritan dari Hati


__ADS_3

Kegaduhan yang sempat tercipta mendadak menjadi hening seketika, saat kata itu terlontar dari mulut Rafael. Kangen. Rindu. Apa yang ia rindukan dari sebuah hubungan yang mungkin tidak pernah ia inginkan? Apa yang ia rindukan dari wanita yang dahulu ditinggalkannya begitu saja? Dengan mudahnya kata itu diucapkan, tetapi mungkin maknanya tertinggal entah di mana.


Reva terdiam di pojokan dapur. Bersandar di balik pintu menuju ke luar. Ia tertunduk lesu, entah kelebatan apa yang tiba-tiba merasuki pikirannya. Trauma yang bertahun-tahun dialaminya kerap kali membuat kepingan pil-pil pahit di masa lalu itu berseliweran hingga tertelan dan menguasai nalarnya. Setiap kali ia mencoba keras untuk berdamai dan memaafkan, visual bayi berlumuran darah itu kembali ke alam bawah sadarnya.


“Sekarang, aku minta kamu pergi!” pinta Reva dengan tegas.


“Yi—,”


“Tolong, aku mohon, kamu harus pergi!” desak Reva lagi, kali itu setengah memohon.


“Yi, aku juga mohon sama kamu. Please ... izinin aku bicara.” Rafael mulai merasa resah melihat wanita di hadapannya mendadak menjadi gusar.


“Nggak. Aku nggak bisa.”


“Kamu nggak bisa kayak gini terus, Yi. Kita harus bicara!”


“Aku nggak mau terlibat apa-apa lagi sama kamu! Hubungan kita udah lama selesai!”


“Belum! Kita sama sekali belum selesai! Kamu harus kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya! Aku nggak bisa hidup kayak gini terus. Aku nggak mau, Yi.”


“Hidup kamu? Apa yang salah dari hidup kamu? Kamu dari dulu selalu mikirin hidup kamu sendiri, tanpa pernah mau peduli sama hidup orang lain!”


“Iya, fine! Aku sadar kalau aku selalu bikin kamu susah. Aku sadar kalau yang aku berikan ke kamu nggak pernah sebanding sama pemberian kamu ke aku. Tapi, salahkah kalau aku mau memperjuangkan kesempatan ke dua?”


“Kesempatan ke dua? Aku udah beri kamu kesempatan berkali-kali! Kamu selalu bikin kesalahan, dan aku selalu terima kamu kembali. Berkali-kali! Sampai nggak ada lagi yang tersisa sekarang. Nggak ada!”


Di situlah Rafael betul-betul menyadari bahwa keadaan di antara dirinya dan Reva sudah sangat sulit diperbaiki. Ia terduduk lunglai di pinggiran kasur, menatap penuh pengharapan kepada wanita yang berdiri bersandar ke pintu tak jauh darinya. Wanita itu juga sedang tertunduk murung dengan kedua tangan menyilang di dada. Mendekap erat tubuhnya sendiri.


Masa lalu. Rafael mulai mendata apa saja kesalahannya sehingga sahabat terbaiknya di masa kecil itu bahkan tak mau membalas menatapnya lagi. Wanita itu selalu bersikap sangat baik kepadanya. Selalu menuruti segala keinginannya. Dan ia melakukan itu tanpa meminta balasan apa pun. Benar-benar tanpa pamrih. Setelah sembilan tahun tak bertemu, barulah Rafael menyadari betapa ia merasa sangat kehilangan dirinya.


Astaga! Situasi tersebut membuat Rafael sangat frustasi. Bahkan, usahanya menerobos balkon juga sia-sia karena itu sama sekali tak mengobati luka apa pun. Kini di hadapannya hanya ada sosok wanita yang terlihat begitu takut kepada dirinya, dengan kesedihan yang mendalam terpampang nyata di raut wajahnya. Wanita yang dahulu selalu bersamanya ke mana pun ia pergi, saat itu bahkan sudah tak mau berada di dalam satu ruangan yang sama lagi dengannya.


Tak tahan, Rafael mulai berjalan menghampiri Reva dengan perlahan. Ia sungguh ingin memeluk tubuh gemetar wanita itu.


“Jangan ke sini!” usir Reva begitu ia melihat langkah kaki itu beranjak untuk mendekatinya.

__ADS_1


“Yi, aku mohon—,”


“Pergi! Tolong, aku nggak mau!” Reva semakin bergidik menarik dirinya mundur, padahal saat itu ia sudah sangat terpojok di sudut pintu. Namun, rasa panik membuat tubuhnya terus saja menekan tembok, seolah berharap ia bisa menembus dinding tebal itu dan melarikan diri.


Tak mau menurut, Rafael tetap berusaha menjangkaunya untuk memberinya sedikit ketenangan, tetapi jelas itu tak berhasil. Reva malah semakin meronta-ronta untuk menjauhinya dengan mengibaskan kedua tangannya.


“Yi, please, jangan kayak gini terus.” Rafael terus memelas sembari berusaha merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. “Please, Sayang ... kamu tenang dulu, ya ....”


Jauh dari kata tenang, Reva mulai berteriak tak terkendali seiring dengan batang hidung Rafael yang mulai terasa menyentuh batang hidungnya. Ia semakin histeris menjadi-jadi, tak peduli jika itu mengganggu tetangga. “Aku nggak mau kamu di sini! Tolong menjauh ... please, jangan ganggu aku lagi!”


Rafael tak mau menyerah, ia bahkan mulai mengeluarkan tenaganya untuk menghentikan tubuh Reva yang terus menggeliat panik, dengan kedua cengkraman tangannya di kedua lengan atas Reva, hingga akhirnya tubuh wanita itu mulai melemas.


Jeritan yang tadi sempat bergema segera berubah menjadi isak tangis yang tak tertahankan. Riuh ketakutan di dada Reva perlahan menjadi pilu yang membuat tubuhnya bergetar hingga tersedu-sedu, kala Rafael berhasil melingkarkan kedua lengannya ke tubuhnya. Reva masih memberontak dan berusaha melepaskan diri, tetapi Rafael bergeming. Pria itu bersikukuh dengan mendekap tubuh itu semakin erat bagai tak rela kehilangan dirinya lagi.


“Tenang, ya, Sayang ....” desis Rafael dengan halus di telinga kanan Reva, dengan tangan kiri melintang di punggung wanita itu, dan tangan kanan terus membelai rambutnya. Semakin lama, Rafael memeluknya semakin kencang sembari terus berkata “tenang, ya ... jangan berontak lagi. Aku di sini buat kamu."


Isak tangis Reva mulai mereda kala ia bersandar pada dada pria itu, meskipun ia masih tak mau membalas pelukan darinya. Saat itu ia bisa mendengar debar jantung Rafael, yang entah mengapa ternyata dapat memberinya sedikit kedamaian. Ia hanya berdiri di sana untuk beberapa jenak, menjatuhkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat dari kedua lengan laki-laki yang pernah sangat dicintainya itu. Reva sudah terlalu merasa lemas bahkan untuk sekadar berdiri, tetapi Rafael terus menopang tubuh mungilnya, yang kulitnya terasa sangat lembut ketika disentuh.


Selama sekian menit keheningan mencuat. Rafael benar-benar meresapi saat-saat itu, ketika akhirnya ia dapat berdiri sedekat itu dengan salah satu wanita terpenting di dalam hidupnya. Sekali, dua kali, ia mengecup mesra pucuk kepala wanita yang tingginya sejajar dengan dadanya itu. Sungguh, bagi Rafael, rasanya sudah terlalu lama waktu yang terlewati, tanpa ia membaui aroma tubuh yang sedang berada dalam rangkulannya saat itu. Sejak dahulu, menurut Rafael wangi tubuh Reva memang khas. Selalu tercium sedikit aroma vanila di situ, meskipun wanita itu tidak sedang memakai parfum.


Meskipun terasa hati tak rela, akhirnya Rafael pasrah. Dengan berat ia mulai melonggarkan rangkulan eratnya yang sampai membuat tubuh mungil itu terbenam. Sebelum benar-benar melepaskannya, jari-jemari Rafael mengusap wajah Reva yang penuh jejak air mata. Lama juga kesepuluh jari tangan itu membelai pipi kanan dan kiri Reva, menjelajahi setiap sudut parasnya yang ayu. Sementara, wanita itu terus tertunduk lemah.


“Ya, sudah, tapi aku pasti akan datang lagi, ya,” jawab Rafael lirih seraya mulai melangkah mundur menjauhinya. “Aku pasti datang lagi. Dan kamu harus tunggu aku.”


Reva tak menjawab. Ia terus memalingkan wajahnya dan melesit hidungnya yang terasa mampat. Dan akhirnya ia membuka pintu yang masih terkunci, lalu mempersilakan Rafael untuk keluar dari kamarnya saat itu juga.


Dengan langkah gontai, Rafael melewati ambang pintu, bersambut koridor sepi yang terasa mengerikan pada dini hari itu. Tanpa berbasa-basi sepatah kata pun, Reva segera menutup pintunya kembali. Dan membiarkan dirinya menangis lebih lama lagi dalam kesendirian.


Astaga!


Pintu rumah Rafael terkunci dari dalam!


Gara-gara drama yang menguras emosi itu, Rafael jadi tak ingat bahwa ia datang dari balkon. Ia baru saja tersadar akan hal itu setelah gagal membuka gagang pintunya sendiri, dan ia tak merasa membawa kunci di sakunya.


Tanpa pikir panjang, Rafael segera mengetuk kembali pintu kamar Reva, meskipun ia tak yakin bahwa wanita itu mau mendengarkan kebodohannya untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


Buku-buku jari itu mulai mengepal dan mengayun pelan untuk memberi ketukan demi ketukan di pintu. Lama juga ia harus berdiri seorang diri di lorong itu.


“Yiyi, buka pintunya, dong,” desak Rafael yang mulai resah karena wanita keras kepala itu tak juga menggubris panggilannya. Rafael sangat yakin bahwa ia pasti belum tidur. “Please, Yi ....”


Sekian waktu berselang, akhirnya sebuah sahutan terdengar dari dalam kamar, meskipun suara itu terdengar sangat parau seperti sedang menangis. “Ada apa lagi, sih?! Aku capek, mau istirahat!”


“Yi, aku kekunci di luar,” jawab Rafael memelas. Ia terus memohon dengan suara sepelan mungkin, dengan mulut yang ia dekatkan tepat ke celah pintu agar tak mengganggu para tetangganya. “Tolong buka pintu, ya, please ....”


“Nggak mau!”


“Yi, aku udah bilang, ‘kan, kalau aku akan datang lagi.”


“Kamu gila!”


“Aku nggak gila, Yi. Inilah waktu yang tepat buat aku datang lagi. Please, izinin aku masuk sekali lagi.”


“Nggak bisa!”


“Aduh, Yi, nggak enak, lah, aku buat gaduh di luaran begini, please, nanti semua orang bangun.”


“Aku nggak peduli!”


“Oke, berarti aku akan terus di sini, ya. Aku terus ketuk-ketuk pokoknya. Mau gimana lagi, 'kan? Aku nggak punya pilihan lain.”


Saat itu, Nadia harus kembali ke Jakarta bersama Kaia. Bulan itu ia begitu banyak menerima undangan pernikahan dari sahabat-sahabatnya, sehingga hampir setiap akhir pekan ia harus bertandang ke tempat lain. Tentu saja Rafael sangat malas diajak ke acara-acara heboh penuh sesak seperti pernikahan atau reuni. Apalagi, Nadia juga pasti akan menghabiskan banyak waktu dengan circle-nya dan mengabaikan keberadaan suaminya begitu saja.


“Yi, please, aku mau pipis. Nggak tahan lagi ini.”


Kemudian pintu itu dibuka dengan kasar. Pemiliknya langsung mendengus kesal kala melihat pria itu lagi yang muncul di hadapannya.


“Makasih, Yiyi!!!” seru Rafael seraya menyerbu masuk ke dalam. Tak tahu malu, ia juga segera menyambar gagang pintu kamar mandi dan menuntaskan keinginannya.


Reva hanya mampu menatap geram tingkah pria menyebalkan itu. Selalu begitu sejak dahulu. Selalu seenaknya. Selalu saja pada akhirnya Reva luluh dibuatnya. Hidup Reva mungkin akan selalu seperti itu, selalu menuruti kemauannya tanpa ia sadari sekalipun.


Kemudian Rafael mulai mengenakan lagi seperangkat gear panjat tebing untuk kembali ke teras balkonnya, masih dengan mengendap-endap seperti maling.

__ADS_1


Bagi Reva, entah mengapa pemandangan itu begitu menggelitik sanubari. Melihat Rafael dengan serius melakukan aksi berbahaya seperti itu hanya untuk menemuinya. Ia hanya bisa menggeleng tak percaya. Dan tanpa sengaja, simpul senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.


__ADS_2