Under The Rain

Under The Rain
Bab 48—Cinta Lama


__ADS_3

Demi privacy yang lebih terjaga, Rafael memutuskan untuk mengemudikan mobil Adji menuju pelosok. Masih terlalu banyak hal yang harus ia sampaikan kepada Reva, dan tempat sepi di belakang pasar itu tak benar-benar sepi. Mereka harus mencari ruang yang lebih terpencil, lebih rindang. Untuk itu, Rafael sampai perlu menelepon Adji dan memintanya kembali ke hotel dengan menggunakan taxi online, dan sobatnya yang memang pengertian itu menyetujui begitu saja.


“Aku pikir kita harus pulang aja, rumahku nggak jauh dari sini. Kris nggak lama lagi pasti datang,” saran Reva sembari menggenggam erat sabuk pengaman yang melintang di dadanya. Ia sungguh tak tahu ke mana Rafael akan membawanya pergi.


“Aku tahu daerah ini, tenang aja. Kris nggak akan nemuin kita,” jawab Rafael seraya memperhatikan setiap sudut jalan berbukit sepi yang ditumbuhi pepohonan besar di kanan dan kirinya.


“Bukan gitu, El. Tapi di rumah ada CCTV, dia akan tahu aku pulang jam berapa. Aku cuma izin ke pasar tadi.”


“Kamu takut? Aku akan antar kamu ke sampai masuk ke dalam rumah kalau perlu.”


“Nggak! Aku nggak mau cari masalah ... tolong ....”


“Kamu bener-bener nikah sama dia buat menghindari masalah?”


“Kamu sama Nadia bukannya mau menghindari masalah juga?”


Rafael segera menoleh ke arah wanita yang sedang duduk di kursi penumpang depan itu, menerawang ke sisi kiri jalanan yang hanya dipenuhi oleh semak belukar.


“Sayang ... kamu masih cemburu sama Nadia?” goda Rafael sembari mengemudi.


Reva langsung melirik tajam ke arah pria itu. Bisa-bisanya ia bergurau di saat dirinya sedang ketakutan menghadapi amukan Kris. “Nggak,” ketusnya singkat.


Sadar jika dirinya telah membuat Reva jengkel, Rafael segera meyakinkan sahabatnya itu.


“Kamu tahu, ‘kan, Yi ... gimana hubungan aku sama cewek-cewek itu? Nggak pernah ada yang bisa melebihi kedekatan aku sama kamu.”


“Terus ke mana kamu saat aku benar-benar lagi butuh?”


“Aku sama Mama hampir setiap hari cari kamu saat kita tahu kalau kamu pergi dari rumah. Tapi kamu nggak ada di mana pun. Mama sampai saranin buat lapor polisi ... sayangnya, pernikahan sama Nadia udah tinggal itungan hari.”


Akhirnya Rafael menemukan sebuah tempat yang cocok untuk memarkirkan mobilnya sejenak. Sepertinya saat itu ia sudah menanjak terlalu jauh, karena puncak merapi terlihat jelas sekali dari sana. “Kita di sini dulu, ya,” ujarnya seraya mematikan mesin mobil, lalu menengok ke kiri di mana wanita itu masih termenung memandangi awan gelap.


Untuk sementara hanya suara orkestra alam yang dinyanyikan penunggu pohon saja yang terdengar. Entah ada berapa tonggeret jantan yang bertengger di pohon-pohon besar itu, tetapi tempat itu terdengar riuh khas pegunungan.


Rafael merebahkan kepalanya ke sandaran jok, sembari terus menengok ke samping kiri untuk memandangi wanita itu. Di sebelahnya, akhirnya Reva juga melakukan hal sama, sehingga saat itu mereka bertatapan.


Tak cukup dengan temu tatap, Rafael meraih jari-jemari Reva untuk disisipkan di antara sela-sela jarinya hingga tak tersisa ruang lagi. Genggaman yang terasa sungguh erat, dan Reva tak menolak kali itu.


“Sekali lagi aku minta maaf. Harusnya ... aku datang ke kamu jauh lebih cepat. Aku nggak nyangka butuh empat tahun buat pulih dari koma. Maaf, ya.”

__ADS_1


“Mungkin ... harusnya malah dari sebelum kamu melamar Nadia.”


“Kamu bener. Tapi, harusnya kamu juga nggak nyerah saat itu, Yi. Aku memang bodoh dan nggak tahu diri ... tapi kamu nggak boleh nyerah.”


Merasa kesal, Reva segera bangkit dari posisi bersandar, dan ia melepaskan tautan jemari Rafael untuk melipat kedua tangannya di dada.


“Jadi, di mata kamu tetap aku yang salah, El? Ini semua terjadi gara-gara aku menyerah?”


Rafael menyusul Reva bangkit, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah wanita itu.


“Iya ... aku harap saat itu kamu terus telepon atau kirim sms, kalau perlu kamu tampar aku, atau laporin apa yang udah terjadi ke orang tua kita. Aku harap kamu yang ancam bawa polisi, bukan Nadia. Aku harap kamu yang datang ke rumah, marah-marah sampai aku sadar ....”


“El ....”


“Aku memang khilaf, Yi, tapi aku nggak pernah rela ngelepas kamu pergi. Waktu itu aku cuma takut dan bingung, dan aku terpengaruh sama yang orang-orang bilang tentang papa kamu. Tapi itu nggak lama, setelahnya aku sampai cari kamu ke mana-mana ....”


Reva kembali meluluh setelah mendengarkan penjelasan pria itu. Ia mengakui bahwa saat itu dirinya memang tergesa-gesa pergi dari rumah. Ia sudah terlanjur kecewa berat kepada orang-orang di sekitarnya. Ayahnya yang menipu sampai ratusan juta, ibunya yang terang-terangan berselingkuh di hadapan para tetangga, Wina yang tak kunjung datang menemuinya dan membiarkannya sendirian, dan Rafael ... pria itu jelas-jelas berselingkuh dengan wanita yang sudah menjadi obsesinya sejak SMA. Kala itu, bagi Reva sepertinya tak ada opsi lain selain pergi sejauh mungkin dari semua orang.


Andai saja Reva bersabar dan bertahan lebih lama di rumah itu, kelanjutan jalan hidupnya mungkin tak akan parah seperti yang akhirnya harus ia jalani. Namun, saat itu Reva masih delapan belas tahun, masih sangat muda, dan tak ada orang yang mau membimbingnya untuk membuat keputusan. Ia benar-benar tak memiliki siapa-siapa lagi.


“Aku terpaksa pergi, El, aku nggak tahu harus ngapain lagi di saat nggak ada yang mau peduli.”


Reva kembali menyandarkan kepalanya ke jok, berkali-kali menarik nafas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Memikirkan kemungkinan bahwa bisa saja saat itu ia menikahi Rafael membuatnya tersayat sampai ingin menangis. Hanya pria itu satu-satunya yang ia inginkan, tak pernah ada yang lain lagi. Prince charming-nya, sang pujaan hati dan belahan jiwa.


“Udahlah ... Lagian, sama Nadia kamu punya Kaia. Sedangkan aku nggak punya apa-apa. Belum sempat dikasih nama pun, anakku udah harus pergi lagi ....”


Saat mengingat tentang putranya, tenggorokan Reva kembali mengering sampai terasa sakit sekali. Ribuan partikel air mata mulai datang lagi untuk menitik di sudut matanya, dan Rafael bisa melihat hal itu. “Kita pindah ke kursi belakang,” ajaknya.


Reva menurut, meski langkahnya gontai, ia mengikuti Rafael berpindah. Tanpa menunggu lama, pria itu langsung bertanya, “jadi aku boleh peluk kamu, ‘kan, sekarang?”


“Aku nggak tahu.”


“Aku udah kehilangan anak pertama bahkan sebelum kita ketemu, Yi ... aku nggak bisa dan nggak mau kehilangan kamu juga.”


“Aku udah bilang, 'kan ... semuanya udah terlambat. Keadaan udah beda jauh sejak aku menikah.”


“Dengar aku, Yi, semuanya belum terlambat. Please, kasih aku kesempatan satu kali lagi.”


“Apa maksud kamu?”

__ADS_1


“Aku cinta sama kamu. Aku melakukan kesalahan dan aku mau memperbaiki semuanya. Aku sayang sama kamu ....”


“Nggak bis—”


“Bisa! Kamu lihat semua luka yang ada di wajah dan tubuh kamu? Kamu bisa menggugat itu semua di pengadilan. Ada hukum tersendiri untuk kekerasan. Apa dia selalu kayak gitu?”


“Cuma ... kalau lagi mabuk ... dia memang sering mabuk ....”


“Sering? Aku tahu amarahnya itu kayak gimana. Aku pernah di posisi itu, dan efeknya bisa sampai bertahun-tahun kemudian. Aku nggak bisa biarin kamu dalam bahaya di tangan dia!”


“Tapi, El—”


“Kamu cinta sama aku?”


Reva tercekat sesaat memandangi pria itu, lalu menghela nafas panjang melalui bibirnya yang kian bergetar menahan pilu.


Hening terasa di antara semilir udara di pagi menuju siang itu, lalu Reva mulai membalas untuk membelai lembut Rafael di wajah tampannya. Wajah yang tak pernah gagal membuatnya jatuh cinta entah sejak berapa puluh tahun yang lalu.


“Aku ... aku nggak pernah nggak cinta sama kamu, El ...,” jawab Reva di sela-sela isak tangis, “dari dulu sampai sekarang ... dan entah mau berapa lama lagi.”


Seketika Rafael terenyuh mendengarkan kejujuran itu, dan hatinya sampai terasa hampir meledak. Sebenarnya, ia yakin bahwa Reva masih memiliki perasaan yang sama, tetapi wanita pendiam itu selalu berusaha menutupinya dan itu membuat Rafael merasa sangat frustasi. Mendengarkannya mengucap kata cinta seperti itu berhasil membuat Rafael kehilangan kewarasannya untuk sesaat.


Dalam syahdunya suasana di atas bukit, Rafael memberanikan diri untuk merengkuh wanita yang sangat dicintainya, dan tanpa disangka, Reva membalas pelukan itu. Entah sudah berapa kecupan mendarat di kening Reva, di sela-sela belaian pada rambut hitam panjangnya.


Semakin lama mereka berpelukan semakin erat, meluapkan sejuta rindu yang selama itu tertahan di hati.


Tanpa bisa ditahan lagi, Reva menangis haru dalam dekapan itu, sampai ia membanjiri kaos hitamnya dengan air mata yang terus berurai deras.


Rafael membiarkan Reva menangis sampai puas di dadanya. Sudah terlalu banyak penderitaan yang ia alami seorang diri, dan Rafael tahu kebiasaan wanita itu memendam segalanya. Namun, kali itu Reva harus menangis. Menangislah sampai semua duka lara itu mengalir melewati jejak air mata di pipinya. Semua beban beratnya harus ikut terhempas bersamaan dengan embusan nafas kasar yang keluar dari paru-parunya.


“Aku harus pulang, El.” Parau terdengar suara Reva dari dalam pelukan hangat Rafael. “Aku takut Kris kumat kalau tahu aku baru balik jam segini.”


“Aku akan antar kamu pulang dan nemuin dia.”


“Enggak! Jangan sekarang! Aku perlu bicara sama dia berdua. Aku mau semuanya selesai baik-baik kalau memang harus selesai. Please ....”


“Ya udah, Sayang. Tapi aku bakal tetap di sini sampai aku yakin kamu baik-baik aja. Aku pasti jaga kamu dari kejauhan. Aku akan cari cara.”


Hari itu Rafael terpaksa harus merelakan Reva pulang sebelum ia benar-benar bisa membawanya pergi. Meskipun begitu, tekadnya sudah tak tergoyahkan lagi. Ia akan mempertaruhkan segalanya untuk membuat Reva kembali kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2