
Pancuran deras air hangat dari kran shower bukan hanya meluruhkan keringat dan bau badan Rafael, namun juga seolah turut membawa seluruh energi negatif dari dalam tubuh yang sudah empat hari itu tak terkena air. Hanyut sudah rasa gerah, lengket dan sumuk yang telah memeluknya berhari-hari.
Sekujur luka yang tersebar di berbagai titik permukaan kulit Rafael sudah mengering, pertanda bahwa ia tak akan tercium lagi seperti kambing di pinggir sawah. Lama juga ia menikmati bulir-bulir air itu membasuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aroma mint dan citrus yang meresap ke dalam indra penciumannya membuatnya semakin betah saja berada di dalam kamar mandi yang tak luas itu.
Di satu waktu, Rafael bersiul-siul dan bersenandung pelan terhadap lagu-lagu favoritnya. Di waktu yang lain, ia benar-benar berteriak sehingga vokal sumbangnya itu berebut resonansi dengan suara kucuran air dan menggema bersama. Sepertinya, girang sekali dirinya menjalani sesi mandi kali itu. Sampai-sampai, lengkingan sopran Nadia yang biasanya terdengar menjengkelkan pun tak mampu menembus gaung gembiranya. Padahal, sejak tadi wanita itu sudah geram mengetuk pintu.
“EL!!!” erang Nadia yang sudah habis kesabarannya. “Cepetan, dong! Aku mau pipis!” Entah sudah berapa kali gedoran itu terdengar.
“Iya, bentar,” sahut Rafael dengan ringan saja dari dalam kamar mandi.
“CEPETAN! Ini Mama udah dateng!”
Sudah tiga hari berturut-turut Wina datang ke apartemen Nadia untuk menjenguk putranya yang baru saja mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. Kali itu, Wina membawa sepanci soto ayam kesukaan Rafael, setelah dua hari sebelumnya pria itu hanya memakan bubur. Mulutnya yang sempat bengkak karena membentur batas trotoar memang terasa ngilu ketika dipaksakan mengunyah makanan keras.
Sesaat kemudian, tak terdengar lagi suara air mengucur. Dan Rafael dengan senyum sumringahnya melangkah ke luar dari kamar mandi, meskipun Nadia segera menabraknya dan menyerobot masuk ke dalam situ.
“Eh ... Mama?”
“Kamu itu, masih aja kalau mandi lama banget!”
“El udah empat hari nggak mandi, Ma.”
“Nadia kebelet, itu, Nak. Jadi teriak, ‘kan, dia.”
__ADS_1
“Udah biasalah, itu. Nggak usah dipikirin.”
Rafael duduk di samping Wina di sofa kebanggaan. Kaia masih belum pulang sekolah, karena Wina memang memutuskan untuk datang lebih awal dari biasanya. Kebetulan hari itu ia harus mengurusi pesanan catering yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal Rafael.
“Udah baikan, Kak?” tanya Wina ketika putranya itu menyandarkan kepalanya di bahunya yang mulai renta. “Kakak mikirin apa, sih, bisa-bisanya nabrak begitu?”
“Banyak, Ma ....”
Belum sempat Rafael berbincang serius dengan sang ibu, Nadia sudah keluar dari kamar mandi sambil mengibaskan kedua tangannya yang basah. “Aku jemput Kaia jadinya, Ma. Soalnya mau ketemu temenku buat ngomongin bisnis,” ujar Nadia dengan lantangnya. Sepertinya pengaturan volume pada pita suara wanita itu memang sudah rusak sejak lama.
Sebenarnya, itu hanya kilah Nadia saja karena ia memang agaknya risih setiap kali Wina bertandang ke rumahnya. Alasannya, Nadia merasa bahwa terkadang mertuanya itu terlalu banyak bertanya dan berpendapat. Demi menghindari konflik, Nadia memilih untuk tak sering-sering terlibat percakapan dengannya.
Di sisi lain, bagi Rafael, Wina adalah cinta pertamanya. Wina adalah pahlawan super sekaligus sahabatnya. Juru masak sekaligus mentor belajarnya. Pelindung dan juga pendengarnya. Sungguh, Rafael benar-benar menganggap bahwa ibunda tercintanya itu sangatlah keren. Bagaimana tidak, Wina mengurus lima orang anaknya seorang diri sejak lahir dengan penuh kasih sayang. Meskipun, sebenarnya kondisi finansial saat itu sangat layak baginya untuk menyewa dua atau tiga babysitter sekaligus. Namun, Wina tak pernah melakukannya. Ia menemukan kedamaian kala berada dekat dengan anak-anaknya.
Sakit sekali hati Wina saat menyelami wajah asli pernikahan Rafael dan Nadia. Putranya tak bahagia. Dan itu turut membuatnya tak bahagia. Namun, tak banyak yang dapat ia lakukan saat itu selain memanjatkan doa-doa baik yang tulus. Dengan harapan bahwa suatu saat nanti semesta akan mendengar dan berbaik hati untuk mengangkat beban di pundak putranya, serta menuntunnya ke kehidupan yang lebih baik.
“Kak, Mama tahu kalau masalah rumah tangga itu memang berat buat diceritakan ke orang. Mama ngerti. Tapi, Mama mohon sama Kakak, jangan pernah pendam semuanya sendiri. Mama nggak mau Kakak ngerasa sendiri. Nanti Kakak sakit, ngebatin.”
Meskipun Rafael memang lebih banyak mengunci mulutnya kalau sudah menyangkut masalah pernikahan, Wina tetap tahu apa-apa saja yang terjadi kepada putranya. Bagaimana ia diperlakukan oleh istrinya. Dan apa saja yang sudah ia korbankan demi pernikahan itu. Wina merasa bersalah. Ia merasa bertanggung jawab. Andai saja ia tak memaksakan kehendaknya sembilan tahun yang lalu, semuanya mungkin tak akan berakhir seperti itu.
“Ma, tenang aja. Yang penting adik-adik lulus dulu. Biar mereka dapat pendidikan dan pekerjaan yang layak. Biar Mama sama Papa nggak khawatir, nggak ada beban. Nggak perlu mikirin rumah tangga El, Ma. Semua baik-baik aja.”
Selalu begitu katanya. Semua baik-baik saja.
__ADS_1
Rafael mungkin memang bukan pasangan yang baik, tetapi ia adalah anak yang sangat baik. Setelah menikah, ia benar-benar memutuskan berhenti untuk menjadi playboy secara total. Total. Benar-benar lurus tanpa pernah mau berbelok sedikit pun. Ia tak melirik wanita lain selain istrinya. Dan justru bukanlah Nadia alasan utamanya. Namun, adik-adiknya yang mulai beranjak remaja. Sedikit pun ia tak mau mereka disakiti, seperti saat ia menyakiti para mantan pacarnya dahulu, karena itu pasti akan menyakiti hati orangtuanya juga.
Sangat sulit bagi Rafael untuk mengerti mengapa kebersamaan bertahun-tahun bersama Nadia tak mampu juga menjadikannya sebagai bagian dari ‘keluarga’. Seburuk itukah koneksi di antara mereka berdua? Sampai-sampai setelah hampir satu dekade pun, Nadia masih terasa sangat asing baginya.
“Ya sudah, Mama pulang dulu ya, Kak. Cepat sembuh, Nak, semoga kamu selalu dilindungi. Buat Mama, yang penting Kakak bahagia.”
Sebait doa sederhana terselip pada perpisahan di hari itu. Rafael membukakan pintu untuk ibunya setelah memeluknya dan menciumi kedua tangannya yang sudah mulai keriput dengan penuh rasa hormat. Hari sudah siang, Wina harus segera kembali untuk mengurus suaminya dan pekerjaan rumah yang lain.
“Hati-hati, Ma.”
“Lusa main ke rumah, ya? Mama masakin rendang. Papa juga pengen tahu kondisi kamu. Ngga mungkin dia yang ke sini.”
Sebelum Wina benar-benar melangkah ke luar batas ambang pintu, sosok Reva yang tengah berjalan sembari meringis nyeri terlihat memasuki koridor. Reva baru saja kembali dari rumah sakit setelah dirawat selama empat hari, mengayun langkah demi langkah dengan pelan didampingi oleh Kris di sebelahnya.
“Reva?” tanya Wina nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, begitu sosok Reva berjalan tertatih melewatinya.
“Mama Ina ....” Reva menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman Kris. Wajah pucat pasi itu kian terlihat mengkhawatirkan karena Reva begitu tercengang oleh kejutan besar yang baru saja ia terima.
“Reva? Astaga ....” Wina berjalan mendekati sosok yang sudah ia anggap sebagai buah hatinya sendiri, menyentuh wajahnya perlahan dengan jari jemarinya. “Ini kamu, Nak?”
Reva tak tahu harus bersikap bagaimana pada saat itu. Di sebelahnya, Kris sedang meneliti dengan saksama tentang apa yang tengah terjadi, dan itu sangat berbahaya. Di hadapannya, Rafael seperti hendak menangis kala memperhatikan reaksi ibunya saat melihat Reva kembali.
Kepala Reva mendadak sangat pusing seperti baru saja diletakkan di tepian komedi putar. Nafasnya semakin berat memburu, sehingga lama-kelamaan terasa sangat sesak. Sesaat kemudian yang ia lihat hanyalah kegelapan yang menyelimuti pandangannya. Lalu, ia tak ingat apa-apa lagi.
__ADS_1