Under The Rain

Under The Rain
Bab 28—Emosi


__ADS_3

Semuanya mulai terasa masuk akal, ketika Kris perlahan menghubungkan titik-titik petunjuk yang bersumber dari rasa curiganya. Bagaimana Rafael dan Reva saling menatap. Bagaimana mereka saling menghindari bertemu pandang. Cara mereka berbicara dan bergelagat saat tengah berada di dekat satu sama lain. Dan Rafael, pria itu bahkan tak menahan dirinya kala ia menunjukkan perhatiannya dengan sepotong cheesecake. Lalu, ada juga Wina. Astaga, entah koneksi apa yang mereka miliki sampai mereka bisa sedekat itu, tetapi Kris pasti akan menyelidikinya.


Kris kembali dengan sekejap dan langsung membanting pintu ketika ia masuk. Satu kilogram gula putih di tangannya ia lempar begitu saja ke atas meja dapur. Reva yang sedang fokus mengayak cokelat bubuk di sampingnya sontak terperanjat hingga mulutnya menganga, bingung sekali dibuatnya atas apa yang sedang terjadi.


Kris berdiri di situ, diam tak bersuara. Ia memegangi tepian meja erat-erat, dengan kepala tertunduk sempurna dan urat-urat di lehernya kian terlihat menonjol.


“Sayang, ada apa?” tanya Reva dengan sangat hati-hati. Ia segera mengelus lembut punggung kekasihnya yang sedang membungkuk menekan meja karena menahan amarah. “Kamu kenapa?”


Terdengar dengusan keras dari Kris, lalu pria itu menegapkan tubuhnya dan berdiri menghadap wanita yang sedang tampak sangat terkejut itu.


“Soal Rafael,” geram Kris kala menyebut nama itu, “jadi kalian pernah pacaran?”


Reva menatap tak percaya dan refleks menggelang pelan. Pertanyaan sederhana yang terasa seperti sambaran kejut listrik yang dialirkan oleh kawat perantara langsung ke saraf di otaknya. Ia langsung menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam masalah besar. Instingnya memaksanya untuk mengambil satu langkah mundur. Aura Kris sudah terasa sangat mengerikan baginya, hanya karena satu pertanyaan itu.


Sebelum Reva menapak mundur satu kali lagi, Kris segera mencengkram kedua bahunya. Untuk beberapa jenak mereka hanya saling menatap. Kris sudah bisa langsung menebak jawaban kekasihnya dan ke mana arah pertengkaran mereka malam itu. Sedangkan, intuisi Reva mengatakan bahwa dirinya sedang dalam bahaya. Sorot mata Kris tak seperti biasanya. Sungguh, ia benar-benar baru melihat raut wajah Kris yang seperti itu selama mereka saling mengenal.


“Benar, ‘kan, Va? Aku bahkan nggak perlu nunggu jawaban kata-kata. Ekspresi wajah kamu itu udah jelas.”


Reva sudah tak peduli lagi dengan semangkuk cokelat bubuk yang sedang dipegangnya. Ia buru-buru meletakkan benda itu dan memastikan bahwa pintu rumahnya tak terkunci. Ia sangat ketakutan, dan mungkin saja harus sampai meminta pertolongan orang lain.


“Va, lihat aku!” Kris semakin mendekat dan mulai memegang erat paras ayu wanita itu di kedua pipi kanan dan kirinya.


Reva tak berani membalas tatapannya. Ia memejamkan mata dan mengunci mulutnya rapat-rapat. Dan wajah itu kian berkeringat saat Kris mulai mencengkeram rahangnya dengan sepuluh jarinya. Lama-kelamaan, tekanan pada wajahnya itu membuatnya kesulitan bernafas hingga ia merintih, “sakit, Kris ... sakit ....”


“Lihat aku, Va!” Tanpa mau melepaskan cengkeramannya, Kris malah semakin menggeram karena wanita itu mulai menangis, tanpa mau menuruti perintahnya. “Jadi kamu ngaku, kalau selama ini kamu bohong?”


“K-kris ... tolong ....”

__ADS_1


“Jawab, Va!” Kris mulai mengguncang tubuh mungil wanita itu dengan keras. Tubuh Reva sudah mulai melemas karena shock yang dialaminya. Ia sama sekali tak bisa melawan ketika Kris mulai melakukan kontak fisik kasar. “Jawab, Va! Kenapa kamu harus bohong?”


Ketakutan yang dialami Reva membuatnya sungguh tak bisa berkata-kata. Bagaimana mau menjawab, kalimat yang sedang berusaha ia susun tak bisa keluar dan hanya menggantung di dinding tenggorokannya. Reva tahu, jawaban apa pun akan membuat Kris semakin murka. Dan gejolak di hatinya sudah bagai badai yang seolah sedang melahap kemampuannya berbicara. Trauma yang lama ia derita perlahan muncul kembali, yang membuatnya kian tergagu.


Gemas dengan sikap Reva yang tetap diam seribu bahasa, Kris mulai menyeret paksa tubuh kecil itu dan membantingnya ke kasur hingga ia terpelanting. Reva langsung meringkuk di sana dan terisak semakin kencang. Kedua tanggannya menelungkup menutupi wajahnya yang semakin berurai air mata.


Lalu pria itu merangkak untuk mendekatkan wajahnya, dan memaksa dengan kuat untuk membuka telungkup tangan itu. “Jangan kayak gini, Va! Jangan menghindar! Lihat sini kalau aku lagi ngomong!”


Paras jelita yang siang tadi sempat terlihat secerah matahari itu sudah kembali pucat pasi. Tak ada rona sama sekali di sana, selain kombinasi air mata dan keringat yang menghiasi wajah. “Va! Berhenti nangis! Pernah punya hubungan apa kamu sama laki-laki itu?” Bentakan demi bentakan mulai terdengar dari mulut berang pria itu.


Dalam posisi berbaring, kedua lengan Reva diangkat ke atas kepalanya, dan dijeramah kuat-kuat oleh Kris sampai menekan kasur. Untuk sementara, Kris hanya membiarkan wanita itu menangis seraya ia menenangkan dirinya sendiri. Kris sadar bahwa ia sudah melakukan kekerasan fisik yang sangat membuat kekasihnya terguncang. Dan ia pun mulai menarik beberapa nafas panjang dalam-dalam, sembari terus menatap tajam wajah kekasihnya yang sudah terkulai di bawahnya.


Akhirnya, Kris mulai mencoba meredam amarahnya yang berapi-api. “Sayang ... aku minta maaf,” desisnya perlahan. Ia melepaskan genggaman kencang yang sampai membuat jari-jari Reva membiru, ketika ia sadar bahwa kondisi Reva sudah mulai mengkhawatirkan. “Aku minta maaf.” Lalu, ia segera bangkit dari posisi yang hampir menindih wanita itu sejak tadi.


Kris membangunkan tubuh Reva yang sedang meringkuk, dan memegangi bahunya agar ia dapat duduk dengan tegak, sementara wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Aku cuma butuh jawaban dari kamu, Va,” akunya lirih. “Aku nggak berniat nyakitin kamu.”


Perlahan, Kris mulai menyeka bulir-bulir air di pipi Reva. Ia merapikan kembali rambut panjang itu dengan jari-jemarinya, dan mulai menciumi seluruh wajahnya ketika ia melihat kilatan trauma di kedua mata itu telah kembali. Kondisi Reva saat itu tak jauh berbeda dari saat Kris melihatnya sembilan tahun yang lalu. Raut yang penuh tekanan batin dan tak tahu harus berbuat apa. Kris menjadi turut prihatin dibuatnya, dan ia menyesal telah membiarkan emosi menguasai dirinya tadi.


“Aku cuma berharap kamu jujur sama aku, Va. Siapa Rafael sebenarnya? Apa yang lagi kamu berusaha tutupin dari aku?”


“K-kris ... t-tolong,” rintih Reva dengan terbata-bata, “t-tolong jangan diperpanjang lagi.”


Kris menjauhi Reva sejenak untuk duduk di kursi yang terletak di sebelah meja kerja. Meninggalkan wanita itu termenung dalam pilu di pojokan kasurnya seorang diri. Ia kemudian mulai memijat pelipisnya perlahan sembari terus menarik nafas dengan kasar. Tangannya mengepal kencang seolah ingin meninju sesuatu untuk menyalurkan amarahnya.


Reva masih saja tak mau terbuka, dan itu semakin menyulut api dalam jiwanya. Kris mulai menerawang jauh, ke masa di mana Reva mulai berhubungan dekat dengannya. Ia berusaha mengingat apa saja yang pernah dikatakan oleh wanita itu tentang masa lalunya.


Apa? Apakah itu? Sebuah petunjuk, apa pun itu!

__ADS_1


Kris terus bergumam dalam hati. Ia tak tahu mengapa fakta bahwa Rafael adalah mantan pacar kekasihnya sungguh terasa meresahkan. Ia terus membuka lembar-lembar ingatan di kepalanya dengan cepat dan membaca mereka satu per satu. Sedetik kemudian, ia tercekat, dan luapan emosi itu kembali datang membanjirinya.


Dengan kedua mata yang membelalak, Kris kembali menghampiri Reva yang masih duduk membungkuk di tepi kasur, sembari memegangi perutnya yang terasa sakit karena ia terus terisak. Kemudian, Kris belutut tak jauh dari wanita itu, dengan perasaan tak menentu seolah dadanya nyaris meledak.


“Kamu masih belum mau bilang apa-apa tentang laki-laki itu, Va?” Kris mengerang dengan begar. Wajahnya merah padam menahan nafsu.


“A-apa? Apa yang harus aku bilang?” Reva menjawab dengan parau, hampir tak terdengar.


“Semuanya, Va! Semuanya! Mending kamu ngaku sekarang!” Raungan pria itu kembali menggelegar ke seluruh sudut ruangan.


“K-kris ... udah, cukup ....”


“Laki-laki itu pelakunya, ‘kan?!” berangnya tanpa ampun. Ia mulai berdiri dan menunjuk-nunjuk ke arah dinding perbatasan dengan kediaman Rafael. “Laki-laki itu, ‘kan, Va?!” Jawab!!!”


“Tolong, jangan teriak. Tolong, Kris ....” Reva memohon seraya menutupi kedua telinganya. Erangan Kris barusan sungguh terdengar mengerikan baginya. Ia tak tahan lagi.


“Diam, Va!!! Kita ke sana sekarang!” Tak kuasa lagi mengendalikan dirinya, Kris mulai kembali menyeret Reva ke arah pintu. Kali itu ia sudah mulai membuat perhitungan, dan akan menyelesaikan semua yang telah menjadi ganjalan di hatinya.


“Kris, lepas! Sakit ... sakit banget, tolong ....” Reva yang sudah tak bertenaga dengan mudah tertarik oleh Kris yang tersulut emosi gila. Namun, ia tetap tak berhenti meronta-ronta untuk melepaskan dirinya dari jeratan pria itu.


Sebelum pintu dibuka, Kris menatap tajam ke arah Reva sekali lagi, tanpa melepaskan genggamannya. “Kamu tahu kenapa kita harus ke sana?” Pertanyaan dingin yang terdengar seperti sebuah ancaman besar. “Karena aku tahu, mantan pacar kamu cuma satu, Va. Cuma itu informasi yang pernah kamu bilang, dan aku ingat itu.”


Reva terperangah tak percaya bahwa ia pernah berkata demikian. Ia juga tak percaya bahwa hari itu telah datang. Hari di mana Kris akhirnya mengetahui semua yang telah ia sembunyikan rekat-rekat. Ia benar-benar sudah tak bisa menghindar lagi, dan mulai mengutuk dirinya sendiri karena merasa telah menyebabkan situasi buruk seperti itu.


“Jadi, Va, pelakunya pasti dia! Yang bikin kamu depresi adalah orang itu. Nggak mungkin salah.”


Kelebatan kengerian jelas terpampang pada raut wajah Reva, ketika ia menyadari bahwa Rafael sedang berada dalam bahaya besar. Seluruh tubuhnya gemetar hebat saat Kris terus saja memberentangnya dengan paksa untuk menemui pria yang tinggal di sebelahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2