
“Yiyi? Ayo bangun! Ayo bangun, Sayang ....”
Tanpa henti Rafael terus mengguncang badan wanita itu, yang telihat sangat lemas terkulai di atas lantai. Meski kemampuan motorik Rafael sendiri belum sepenuhnya kembali, ia tetap berusaha menggendong tubuh mungil itu ke atas sofa.
“El ....” Suara lirih terdengar dari bibir pucat yang bergumam, meskipun kedua mata belum dapat membuka.
“Iya, Sayang ... aku di sini.”
Rafael yang baru saja selesai membuat secangkir teh manis segera membantu Reva untuk duduk bersandar di atas bantal jumbo super empuk yang berada di sofa. “Minum yang banyak, ya ... biar cepat baikan.”
Dengan telaten dan penuh kesabaran, Rafael mulai memijat-mijat tungkak sampai punggung Reva sembari menyuapinya oatmeal cokelat. Sementara, wanita itu masih terus menunduk lesu.
“Gimana kondisi kamu sekarang?” tanya Rafael penuh perhatian.
“Aku nggak apa-apa, El ....”
“Nggak apa-apa gimana? Kamu jelas-jelas pingsan.”
“Tadi rasanya sesak dan pusing banget ... sekarang udah mendingan."
"Syukurlah kalau kayak gitu."
Astaga!
Reva yang mulai teringat sesuatu mulai membelalakkan matanya dan menengok ke sana kemari dengan gelisah.
“Astaga!!! Kris!!! Di mana Kris? Kenapa kamu di sini, El?” pekik Reva dengan gemetar. Suaranya menggema di sunyinya sepertiga malam saat ia menyadari bahwa suaminya tak terlihat dalam jangkauan pandangannya. Kemudian, ia mulai mengalami serangan panik.
“Tenang, Yi, Kris nggak ada di sini.”
Raut kebingungan dan paranoid sontak terpatri di paras ayu itu. Ia berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi kepadanya sampai ia tak sadarkan diri, lalu pertengkarannya dengan Kris bagai diputar ulang di kepalanya dengan secepat kilat. Suara-suara argumen dirinya saat berhadapan dengan pria itu kembali terngiang. Reva ingat bahwa mereka baru saja bertengkar hebat, dan ia segera memegangi lehernya yang tegang sembari mendengus gusar.
Dengan memperhatikan gerak-geriknya secara saksama, Rafael langsung menyadari bahwa wanita di hadapannya itu sedang dihampiri oleh mimpi buruk dari trauma yang baru saja dialaminya. Kemudian, ia segera merangkulnya untuk memberinya sedikit ketenangan.
“Hei, sudah nggak ada apa-apa sekarang. Kamu tenang, y—”
“Kris di mana?!”
__ADS_1
Reva menoleh ke arah Rafael dan berusaha mencari jawaban di kedua bola mata berwarna kecokelatan itu, tetapi sang pemilik manik mata tampak sangat ragu-ragu untuk memberikan sebuah penjelasan.
“Dia ... diarak warga ke kantor polisi.”
“Apa? Serius?”
“Maaf, Yi, tapi tindakan dia barusan bahaya banget. Kalau kita telat sedikit aja ....” Rafael menghentikan kalimatnya sendiri saat ia melihat Reva tampak terpukul mendengar berita tersebut. “Kamu ... kamu nggak apa-apa?”
Kejadian tersebut berlangsung sangat cepat dan bertubi-tubi. Reva memerlukan waktu untuk dapat mencerna semuanya dengan baik. Ditariknya napas dalam nan panjang berkali-kali, sembari kembali mengenang rupa pertengkaran terakhirnya yang benar-benar membahayakan. Dirinya jelas sedang tak baik-baik saja, tetapi ia langsung mengangguk kecil saat melihat wajah Rafael yang tampak begitu merasa bersalah.
“Aku baik-baik aja, El. Kamu tenang aja, ya,” ujarnya meyakinkan pria itu. Ia tak mau menyalahkan Rafael atas tindakan yang terpaksa dilakukannya kepada suaminya sendiri. “Kenapa kamu masih di sini?”
Rafael menjelaskan kepadanya bahwa ia tak benar-benar pergi saat mereka menyudahi pertemuan itu. Ia masih menunggu di belakang rumah untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Ia masih bersembunyi di balik dinding untuk mendengarkan jika ada sesuatu yang salah.
Firasat Rafael tak enak kala Reva berkata bahwa suaminya selalu pulang dalam keadaan mabuk, jadilah ia bersikeras untuk menunggu sesaat, berjaga-jaga jika kekerasan itu kembali terjadi. Kemudian, pertengkaran demi pertengkaran terdengar olehnya dari balik dinding, dan ia pun segera mencari pertolongan saat situasi dirasa sudah terlalu berbahaya. Rafael tak mau bertindak sendiri, tak mungkin sanggup dengan kondisinya yang masih seperti itu. Ia juga membutuhkan bukti dan saksi jika ingin membuat pria itu jera.
“Maaf, Yi ... semoga kamu ngerti kalau tindakanku cuma buat melindungi kamu. Aku terpaksa minta pertolongan orang lain, padahal harusnya ini jadi masalah pribadi.”
“Aku ngerti, El. Makasih banyak. Kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Aku pun nggak bisa nolong diri aku sendiri. Aku memang butuh kamu dan yang lainnya.”
Astaga ... pelukan itu sangat lembut dan menenangkan. Tubuh Reva yang terasa kaku dan tegang meleleh seketika dibuatnya. Dingin yang sedang merasukinya berubah menjadi kenyamanan hangat. Perasaan kalut dan segala sakit yang dideritanya juga berangsur membaik. Sejenak ia bisa melupakan keluh kesah tentang dunia di dalam dekapan itu. Semuanya begitu terasa damai dan tenang untuk sesaat.
“Makasih, El. Kamu sampai mau ngelakuin semua ini buat aku.” Reva bergumam perlahan di antara rengkuhan dua lengan pria itu, dengan wajah terbaring sempurna di dadanya.
“Harusnya sejak awal pun aku nggak ninggalin kamu. Semuanya pasti nggak akan kayak gini!”
“Udahlah, yang lalu biar aja berlalu. Aku akan mulai urus perceraian minggu ini.”
"Berarti kamu ikut aku pulang, ya?"
“Aku mau banget pulang ke Bandung, El ... tapi ... nggak ada siapa-siapa lagi di sana.”
“Pokoknya aku pasti bawa kamu pulang, Yi. Pasti!!! Dan kamu nggak perlu khawatir soal tempat tinggal.”
***
Dengan langkah terburu-buru, Rafael dan Reva sudah berada di lobi utama sebuah rumah sakit dan segera mencari ruang IGD. Kepanikan terasa saat tadi pagi sebuah panggilan dari rumah tahanan masuk ke ponsel Rafael. Seorang wanita berbicara di seberang sana, memberi kabar bahwa Kris mengalami kolaps dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
Rafael yang sedang membantu Reva mengemasi barang-barangnya dengan gegas bersiap menuju ke Rumah Sakit Umum Daerah yang dimaksud oleh seorang wanita dari divisi humas. Rafael memang bersedia menjadi penjamin jika sesuatu terjadi kepada Kris. Meskipun ia sangat mengutuk perbuatannya, ia tetap mau bertanggung jawab karena kondisi kesehatan Kris memang tak stabil.
Tanpa banyak basa-basi mereka segera meninggalkan rumah untuk mengurusi pria pesakitan yang sudah tidak memiliki siapa-siapa itu. Tak butuh waktu lama juga untuk tiba di sana, dan Reva mulai gemetar karena ia harus kembali bertemu dengan orang yang hampir saja merenggut nyawanya.
“Ayo cepat, Yi. Kasihan dia nggak ada yang jaga. Katanya kritis.”
Rafael tahu bahwa ia berperan dalam nahas yang tengah dialami oleh Kris, tetapi pria itu sama sekali tak membencinya. Sama sekali tidak. Rafael hanya melakukan apa yang menurutnya harus ia lakukan, dan ia melakukannya untuk menyelamatkan nyawa Reva. Namun, sebagai laki-laki jantan, ia tak mungkin membiarkan Kris terkapar begitu saja. Ia juga memiliki sebuah dosa besar di masa lalu dan sedang berusaha memperbaiki semuanya.
Di situ tubuh Kris terbaring, di atas sebuah kasur IGD dengan seprai berwarna hijau. Ruangan itu sangat besar, dan terdapat sekitar dua belas kasur di dalamnya. Sepertinya sedang banyak kejadian tak menyenangkan karena tempat itu penuh sesak. Kasur-kasur terisi semua.
Kris berada di deretan bagian kiri, kasur nomor tiga. Pria itu sudah memakai alat bantu pernapasan yang terhubung dengan tabung oksigen. Entah sudah berapa kali ia muntah sampai membuatnya lemas tak berdaya. Ia juga mengalami kejang-kejang dan kesulitan bernapas, serta detak jatungnya kian melemah. Diagnosa awalnya adalah Kris mengalami overdosis dari konsumsi alkohol, tetapi pemeriksaan lebih lanjut masih sangat dibutuhkan.
Keberadaan Reva dan Rafael di kedua sisinya tak lantas membuat Kris merespons. Ia menyadari bahwa keduanya telah datang untuk menjenguk, tetapi jelas tak dapat memberikan sambutan apa pun. Untuk sekadar membuka matanya saja sudah sangat berat, sehingga ia lebih memilih fokus menghirup oksigen segar yang keluar dari selang yang masuk ke kedua lubang hidungnya untuk bertahan hidup. Namun, Kris masih bisa mendengar obrolan orang-orang di dekatnya itu.
Di sana juga sudah ada petugas kesehatan resmi dari Rumah Tahanan Kota serta seorang sipir muda yang baru bertugas. Mereka ditunjuk untuk mendampingi Kris selama transfer ke rumah sakit yang lebih besar, karena saat itu poliklinik di rutan sudah kurang memadai untuk masalah kesehatan yang sedang dialami olehnya.
“Kami masih menunggu tes urin,” terang sipir muda tersebut di tengah obrolan. Rafael dan Reva wajib dihadirkan pagi itu sebagai perwakilan dari pihak keluarga. “Ada dugaan Pak Kris ini pecandu narkotika,” sambungnya.
Entah mengapa Reva tak terlalu terkejut mendengar kabar tersebut. Sikap Kris semakin lama memang semakin aneh. Ia terkadang bisa meledak-ledak seperti orang gila, tetapi keesokan harinya terlihat biasa saja dan bersemangat kembali. Kris juga sering terlihat murung sekaligus emosional sampai bisa menangis, tetapi sedetik kemudian ia kembali ke sikap temperamen yang terasa sangat menakutkan bagi Reva.
“Apakah ada barang bukti, Pak? Gimana dengan sanksi pidananya?” Dengan penuh kekhawatiran Rafael bertanya. Sungguh, ia sama sekali tak berniat menjebloskan Kris ke penjara dengan tuduhan berat seperti itu. Ia benar-benar hanya ingin menolong Reva dan memberikan efek jera kepada pria kasar yang suka bermain tangan.
Saat itu kondisi Rafael sendiri belum pulih benar. Dirinya saja masih berjalan tertatih dan nyeri pinggangnya belum juga hilang akibat benturan otak yang menyebabkannya terkapar berbulan-bulan di ruang ICU. Rafael yakin sekali bahwa ia pasti akan mati konyol jika sampai nekad menerobos rumah Kris seorang diri. Oleh karena itu, ia berusaha mencari sebuah bantuan. Untung saja, dua orang pria paruh baya terlihat di sebuah pos pada dini hari itu, dan ia segera melaporkan tindak kekerasan yang dengan jelas didengarnya kepada mereka.
Siapa sangka, Kris memiliki catatan kriminal yang sama sekali tak diketahui balik oleh Rafael maupun istrinya sendiri. Saat itu mereka berdua hanya berharap bahwa pria itu tak sampai terjerat hukuman berat.
“Sementara belum ada barang bukti, jadi ini masih dugaan,” jelas petugas medis rutan. “Tapi nanti kita akan keluarkan surat perintah menggeledah kalau hasil tes urin memang positif.”
“Nanti Ibu sama Bapak juga pasti akan kami mintai keterangan,” sambung sipir gagah itu. “Kami perlu data-data tentang pekerjaannya, kegiatan sehari-hari dan juga kondisi lingkungannya seperti apa.”
Sadar bahwa masalah akan menjadi semakin runyam, Rafael dan Reva saling melirik satu sama lain dengan gugup tanpa tahu harus bersikap bagaimana.
Dini hari menjelang subuh, ketua RT di lingkungan kediaman Kris membuat laporan tentang penganiayaan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga di kantor polisi terdekat. Beliau bertandang ke sana didampingi oleh beberapa warga dan seorang hansip yang mengawal Kris dengan ketat. Pemeriksaan awal dilakukan dengan cepat, dan pagi-paginya Kris sudah dipindahkan ke rumah tahanan.
Saat itu penahanan sementara harus dijalani oleh Kris, dan rencananya pemanggilan pihak-pihak terkait baru akan dilakukan siang hari. Reva sendiri sudah bersiap untuk memberikan keterangan sebagai korban, tetapi siapa sangka Kris malah mengalami kejang dan kehilangan kesadaran sesaat.
Tak lama berselang dari status penahanannya, mulut Kris berbusa dan ia jatuh membentur lantai dengan kerasnya. Karena hal itu, proses pemeriksaan lebih lanjut terpaksa ditunda.
__ADS_1