
Pertemuan singkat dengan Erin beberapa hari yang lalu membuat hidup Reva menjadi semakin berwarna. Mereka tak putus saling bertukar kabar dan berbagi cerita dalam rentetan pesan singkat yang seolah tak berujung. Saat pertama kali Erin berkunjung, perbincangan di antara mereka berdua memang tak lama, karena pada saat itu mereka harus turut menjaga Ayesha dan Kaia yang tak henti membuat keributan selagi menciptakan karya seni yang menggemaskan. Akhirnya, mereka berjanji untuk saling bertemu kembali untuk bercerita lebih banyak.
Apartemen Reva yang memang nyaman dengan pemandangan hijau yang menyegarkan mata kembali menarik Erin untuk datang lagi. Saat itu Reva berjanji akan membuat satu loyang lasagna untuk disantap berdua. Jadilah sejak subuh ia sudah berkutat di dapur, menyiapkan jamuannya untuk Erin yang akan datang siang itu.
Aroma basil dan rosemary segar berterbangan terbawa partikel udara di dalam studio milik Reva. Tak luput juga ia siapkan camilan untuk Ayesha dengan resep cookie andalannya, sehingga wangi lelehan mentega semakin menambah semarak paduan aroma di ruangan itu. Hari itu akan menjadi hari yang penuh cerita.
Erin datang sesuai dengan kesepakatan, sebelum jam makan siang. Reva yang tengah menata garnish merasa lega karena ia selesai tepat waktu. Kemudian, mereka langsung bersambut peluk dan tawa.
Pada masa sekolah, jika Reva tak sedang menempel pada Rafael, ia pasti tengah bersama Erin. Entah mengapa teman sebangku berbeda watak itu sangat cocok disatukan berdua. Reva yang tenang, Erin yang cerewet. Reva yang canggung, Erin yang luwes. Reva yang sangat pintar, dan Erin yang sangat aktif. Sungguh, jika sedang bersama, mereka adalah tim yang tak terkalahkan.
Sangat disayangkan bahwa sembilan tahun terbuang percuma tanpa bersua, dan nyatanya mereka sangat saling merindukan satu sama lain.
“Kamu tahu, Va, aku murka kayak orang gila waktu tahu El mau nikah sama Nadia. Brengsek banget itu orang!”
Cerita semakin memanas kala Ayesha sudah terlelap sempurna di kasur milik Reva.
“Kok, bisa, sih?” Reva berusaha merespons dengan santai.
“Nadia hamil, Va!”
Bagai luka ditabur garam, ternyata alasan Rafael menikah adalah alasan yang sama yang dipakai pria itu untuk meninggalkan Reva. Hamil? Sungguh?
“Kenapa harus murka?”
“Va, gila aja dia! Beberapa hari setelah kalian putus, berita nikahan dia langsung di broadcast! Artinya apa, Va? Dia selingkuh!”
“Dia memang player, ‘kan? Harusnya, dari awal aku yang pinteran dikit.”
“Iya, sih, Va. Tapi nggak nyangka aja kalau itu pun bisa menimpa kamu! Aku pikir dia nggak akan begitu kalau ke kamu. Secara kalian kecilnya mandi bareng.”
“HEYYY!”
“Dan Nadia, Va? Seriusan?”
Benar. Reva juga sungguh tak kuasa menyimpan rasa ingin tahunya terhadap hal itu. Mengapa harus Nadia? Wanita itu jelas-jelas berselingkuh di hadapan Rafael saat mereka berpacaran di SMA. Sebelum mereka berkencan, Nadia mempermalukannya dengan menolaknya mentah-mentah di depan banyak orang, kemudian mengejainya sampai menjadi bahan lelucon.
Rafael sangat marah saat itu. Egonya tersakiti habis. Tak ada hari yang tak terlewati tanpa menggerutu kepada Reva. Iya, Nadia yang salah, Reva yang menjadi sasaran ledakannya. Reva yang terkena dampak amukannya. Untung saja si Reva itu bagai robot yang diberi nyawa. Entah dari mana ia memiliki kekuatan untuk bertahan melihat Rafael membabi-buta mengencani gadis-gadis sebagai pembuktian dominasinya terhadap Nadia. Padahal, siapa pula yang tak sakit melihat cintanya bermain-main dengan perempuan seperti itu?
__ADS_1
Si playboy itu tersandung karmanya sendiri berkat Nadia. Nadia mencatat sejarah sebagai wanita pertama yang membuat Rafael sakit hati. Saat itu Rafael bersumpah, jangankan untuk menyentuh Nadia, meliriknya pun ia tak sudi. Saat masih bersekolah, keberadaan Nadia benar-benar diabaikannya. Hanya mendengar namanya pun membuat Rafael seolah terserang alergi. Nadia dengan mudah masuk ke dalam daftar hitamnya. Namun pada kenyataannya mereka akhirnya menikah, yang artinya sumpah itu telah dilanggar.
“Nadia parah banget, Va. Nggak ada sopan-sopannya sama laki. Kerjanya party aja sama arisan.”
“Udah kaya, Rin. Mau gimana lagi.”
“Kamu tahu, Va, El sampai curhat sama aku. Bahkan dalam mimpi pun rasanya nggak mungkin. Berarti dia desperate banget, 'kan?”
“Curhat apa?”
“Dia ngerasa sendirian, Va. Ngerasa nggak berdaya karena cuma bisa numpang di tempat Nadia. Apartemen yang di sebelahmu itu warisannya Nadia.”
“Serius?”
“Pak Pram sakit keras, dan kamu tahu sendiri adiknya El ada empat. Sebagai anak pertama dan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya, dia ambil alih tugas Pak Pram jadi tulang punggung keluarga.”
“Pak Pram sakit apa?”
“Komplikasi, Va, semua ada. Ditambah, bisnis kuliner Bu Wina juga gulung tikar, rugi ratusan juta waktu itu.”
“Aku nggak tahu apa pun yang terjadi setelah kita putus."
"Jadi kalian masih satu circle?"
"Masih, Va, Adji sama El malah sering ngerjain proyek bareng."
Rafael, Reva, Erin dan Adji adalah sekumpulan mahkluk yang hampir selalu terlihat berkerumun bersama di berbagai kesempatan saat masih sekolah. Empat tahun yang lalu, Adji meminang Erin yang telah menjadi sahabatnya selama belasan tahun itu. Hubungan mereka sangat harmonis dan hampir tak pernah tercium bau pertikaian di dalamnya. Padahal, awalnya banyak pihak yang mencibir pernikahan mereka.
Bayangkan saja, Erin itu adalah sosok yang sangat populer di sekolah. Kemampuan berorganisasinya sangat baik dan ia juga berprestasi. Ia sangat lincah dan suaranya juga indah, sehingga ia sering diminta bernyanyi pada acara-acara sekolah.
Fisik Erin memang tak secetar-membahana Nadia and the gang, tetapi Erin terlihat manis dengan kulit sawo matangnya. Rambutnya sedikit ikal dan alisnya tebal. Sungguh, alisnya yang sudah berbentuk indah natural itu membuat teman-temannya iri. Membayangkan Erin tak perlu menggambar alis setiap pagi sungguh membuat dunia terasa tak adil bagi wanita tanpa alis. Princess Nadia saja sampai perlu sulam alis karena bagian itu tampak botak, meski fitur wajah yang lainnya sudah sempurna.
Di sisi lain, Adji adalah pemuda cupu yang bahkan awalnya tak tahu siapa itu Justin Bieber. Entah mengapa saat sekolah dulu juga pertumbuhan tubuhnya seolah tersendat, berbeda sekali dengan pertumbuhan alis Erin yang paripurna. Namun, tinggi badannya naik drastis saat ia mulai kuliah karena sepertinya ia terlambat puber. Rambutnya sampai memerah alami karena terbakar matahari. Ia tak pernah absen bermain bola setiap pulang sekolah. Satu-satunya hal yang membuatnya dikenal orang adalah karena ia pintar memodifikasi motor.
Tentu saja pernikahan Erin dan Adji menggemparkan dunia pertemanan mereka. Cibiran dan ledekan terdengar di sana-sini. Namun lihatlah, hubungan itu ternyata selalu penuh canda tawa dan keberkahan.
"Projek apa yang mereka kerjain bareng?"
__ADS_1
"Mereka, 'kan, basisnya sama-sama IT. Jadi, mulailah mereka buka jasa web-design mandiri. Kalau usaha ini sukses, kayaknya mereka bakal resign dari kantor masing-masing."
"Hebat sekali ...."
“El dewasa banget sekarang, Va. Kaget pasti kamu kalau tahu. Waktunya bener-bener fokus dipakai kerja buat biaya berobat dan sekolah.”
“Aku nggak lihat dia berubah sedikit pun.”
“Va, percaya, deh, sama aku. Sembilan tahun itu sungguh bikin dia bertekuk-lutut di hadapan realita. Dia nggak macam-macam kayak dulu lagi.”
“Kupikir dia bahagia.”
“Siapa yang bahagia diomelin setiap hari sama suara macam punya si Nadia itu? Satu jam pun aku nggak tahan. Itu cewek ngerasa punya segalanya kali.”
“Kenapa nggak pisah kalau gitu?”
“Pertama masalah Kaia. Belum lagi Pak Pram yang banyak dibantu buat pengobatan sama papanya Nadia. Kejepit, deh, dia. Ngerasa berhutang budi.”
“Sejak awal, itu pilihan dia.”
"Iya, Va, dia memilih dan pilihannya salah, dan dia terjebak di situ. Aku nggak bisa ngebayangin gimana rasanya jadi dia waktu ketemu kamu lagi."
"Nggak ada yang terjadi."
"Hati orang siapa yang tahu, Va? Lagian si El itu sembilan tahun terakhir beneran jadi pendiem. Kayak banyak nahan sesuatu tapi nggak bisa cerita. Karena kamunya juga nggak ada."
"Aku nggak bisa balik temenan sama dia."
Kalimat terakhir Reva membuat Erin benar-benar jengah terhadap situasi tersebut. Ada apa? Kenapa? Apa yang telah terjadi? Apa yang ia lewatkan? Mengapa ia tidak diberi tahu tentang apa pun?
Erin mengamati sosok Reva yang tetap berwajah dingin tak bersahabat. Mencari petunjuk dari setiap gestur dan reaksinya. Mencari celah untuk menemukan sesuatu di dalam sana. Astaga! Pertahanan wanita itu sungguh sulit ditembus! Namun Erin tak mau menyerah. Ia terus saja memancing di air keruh.
"Kalian putus kenapa, sih, Va? Apa yang nggak cocok gitu, lho?” Akhirnya, sebuah pertanyaan terang-terangan yang sudah bukan pancingan lagi.
“Aku udah bilang ka—”
“Aku nggak percaya!”
__ADS_1
Berat sekali bagi Reva untuk menguak sesuatu yang bahkan ia sendiri tak paham duduk perkaranya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Reva yakin sekali bahwa ada penjelasan yang dapat ia terima dari perlakuan Rafael kepadanya. Penjelasan atas sesuatu yang ia tak mengerti, atau yang bahkan Rafael sendiri tak mengerti. Pasti. Pasti Rafael memiliki alasan atas keputusannya saat itu, meskipun itu menghancurkan hidup Reva. Pasti, Reva yakin akan hal itu. Hanya saja, Reva sudah terlalu lelah dan putus asa untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaannya.
Sampai Reva memahami semuanya dengan baik, ia akan terus melindungi Rafael. Ia tak mau orang-orang turut menghakimi pria itu jika kisah masa lalunya sampai tersebar ke mana-mana. Sebesar itulah Reva masih mencintai Rafael, dan ia sendiri tak sadar akan hal itu.