Under The Rain

Under The Rain
Bab 25—Cerita dari Balkon


__ADS_3

Kotak kardus yang berisi sepuluh meter tali prusik sudah mendarat di kediaman Rafael pagi itu. Tali itu tak tebal, diameternya hanya tujuh milimeter, tetapi benda itu memiliki kekuatan menahan beban yang luar biasa. Rafael jelas memerlukannya jika ia benar-benar serius ingin melompat ke balkon milik Reva dari balkon di rumahnya. Sayangnya, si bodoh yang selalu malas mengikuti kegiatan pramuka saat di sekolah itu tak tahu cara membuat simpul yang baik. Akhirnya, satu jam sudah ia habiskan untuk mempelajari video tutorial membuat simpul yang mampu menahan beban ribuan kilogram itu.


Tali sudah terpasang lengkap dengan harness-nya. Helm sepedanya yang sudah sangat berdebu pun bertengger di kepalanya. Tinggal nyalinya saja yang perlu ia mantapkan untuk memerangi rasa cemas. Dalam hitungan menit, aksi gila melompat balkon itu akan dieksekusi.


Rafael sama sekali tidak memiliki acrophobia. Ketinggian dan kecepatan ekstrim hanya dipandangnya sebagai hambatan kecil saja. Ia sangat menggilai roller-coaster, dan sedikit pun tak gentar saat mencoba bungee jumping untuk pertama kalinya. Namun, ia tak mau disangka orang aneh atau kriminal jika aksinya itu sampai tertangkap mata-mata penghuni lain. Atau, yang lebih parah, bagaimana jika security langsung mengamankannya ke kantor polisi karena menerobos balkon milik tetangga sebelahnya?


Semua kemungkinan dan konsekuensi itu sudah dipikirkan Rafael matang-matang. Ia tak akan bertindak tanpa strategi. Untuk itu, seluruh perlengkapan pendukung aksi nekadnya itu berwarna hitam. Tali, harness, carabiner, dan helm, semuanya berwarna hitam. Kaos dan celana panjang yang ia kenakan juga berwarna hitam. Ia benar-benar berharap menjadi tak terlihat di kegelapan malam. Lampu balkonnya sendiri sudah dimatikan, dan ia berniat melakukan kesintingan itu pada dini hari saat hampir semua orang sudah terlelap.


Berminggu-minggu Rafael habiskan untuk mengintai dan mempelajari ritme kehidupan Reva. Kapan lampu balkonnya dimatikan, dan kapan pintu sliding dengan bingkai aluminium itu akhirnya tertutup kala pemiliknya hendak tidur. Rafael yakin sekali, pukul 02.00 malam Reva masih terjaga. Selalu seperti itu setiap malam. Wanita itu adalah makhluk nokturnal. Otaknya lebih encer kala bekerja di malam hari. Dan Rafael sangat memahami hal tersebut dengan baik.


Bola magnesium karbonat sudah di tangan, meski saat itu Bandung sama sekali tak panas. Angin dinginnya bahkan sampai menusuk tulang. Ia bukannya berkeringat karena suhu di sekitarnya, tetapi membayangkan bahwa ia akan menemui Reva dengan cara seperti itu sungguh membuatnya gugup. Akhirnya, untuk berjaga-jaga, serbuk kesat itu dibelinya juga. Mungkin, setelah hari itu, ia benar-benar siap untuk mendaki gunung.


Setelah persiapan mentalnya matang, Rafael segera melangkah ke teras balkon. Satu simpul dipasangkan ke harness, dan ujung simpul yang lain terkunci di pagar balkonnya dengan menggunakan double carabiner. Tak ketinggalan juga masker full-face menutupi seluruh wajahnya. Gila, ia merencanakan semuanya dengan rinci. Dan ia benar-benar akan disangka maling jika siapa pun menangkapnya saat beraksi.


Dengan penuh kemantapan jiwa, Rafael mulai menaiki pucuk pagar balkonnya. Kakinya yang panjang itu ternyata sungguh berguna. Terdapat aksen timbul pada dinding eksterior apartemen itu, letaknya tepat di garis lantai balkon. Dengan berjinjit tipis, ia bisa menapaki sepanjang garis timbul itu dan perlahan melangkah menyamping hingga lengannya mampu meraih pagar balkon Reva.


Suasana sedang benar-benar sepi. Hanya deru angin kencang dan gesekan daun dari pohon-pohon besar yang menjadi saksi bisu atas kelakuan Rafael malam itu. Dan pria itu sangat berhati-hati agar ia tak sampai memecah keheningan. Ia tak mau menarik perhatian. Oleh karena itu, ia tak bersuara sedikit pun dan bergerak sangat senyap, sehingga Reva sama sekali tak sadar saat pria itu sudah bercokol di atas pagarnya.


Saat itu Reva sedang memakai earphone, dan ia duduk membelakangi balkon. Sepertinya suara dari dalam benda mungil itu kencang sekali meresap jauh ke dalam kedua telinganya. Ia tengah duduk di lantai bersandar pada pinggiran tepat tidur, dengan kaki bersila yang menopang sebuah laptop di atasnya. Entah itu film apa yang muncul di layar. Kepalanya tertunduk, kala Rafael diam-diam sudah tiba di teras balkon dan dengan sangat perlahan mulai melepaskan tali-temali dan harness yang menempel di tubuhnya.


Benar saja, pintu menuju kamar Reva tak dikunci, bahkan terbuka lebar sampai full. Dingin kelebat angin malam Bandung sama sekali tak dihiraukannya. Justru, di dalam situ ia sedang mengenakan tank top dan celana yang pendek sekali. Pria yang tampak seperti begal itu masih mematung di ambang pintu teras, menatapnya dari kejauhan.


Rafael berada tak lebih dari tiga meter dari Reva. Sudah dekat sekali, tetapi wanita itu terasa sangat jauh dari jangkauannya. Selama beberapa saat ia hanya memikirkan cara untuk membuat keberadaannya diketahui. Bagaimana? Apakah ia harus mengejutkannya dengan riuh? Apakah hanya dengan tepukan kecil? Atau lebih baik malah diam di situ saja sampai Reva sendiri yang membalikan tubuhnya? Tak tahan menunggu, ia akhirnya memberanikan dirinya melangkah.

__ADS_1


Kaki yang berjinjit sangat tipis itu sama sekali tak membuat suara saat menapaki lantai parket kayu milik Reva. Hingga akhirnya, satu sentuhan kecil dari ujung jari telunjuk Rafael menyentuh bahu mulus milik Reva.


Demi apapun yang ada di bawah tanah sampai langit ke tujuh, Reva langsung terperanjat hingga laptop yang sedang dipangkunya tergelincir ke lantai. Untung saja benda itu tak jatuh terbentur keras dan rusak. Wanita itu juga tak sampai berteriak menggelegar yang menusuk telinga. Secepat kilat ia melesat ke dapur dan mengambil pisau daging yang sangat tajam. Ia mengambil posisi kuda-kuda dan sedikit membungkuk, dengan kedua tangan mengepal kencang memegangi gagang pisau. Perlahan ia melangkah mundur menuju pintu utama kamar, berharap bisa selamat dengan melarikan diri menuju koridor. Ia sangat gemetar melihat penampakan pria tinggi berpakaian serba hitam di hadapannya saat itu, tetapi seperti biasa, tak sanggup berkata-kata.


Astaga! Rafael lupa membuka topengnya!


Pantas saja Rafael bingung mengapa reaksi Reva seperti sedang melihat serial killer pada film-film action-thriller. Buru-buru dia membuka masker full-face itu dengan paksa, dan segera mengacungkan benda itu tinggi-tinggi ke udara sesaat setelah berhasil dilepas dari wajahnya. “Ini aku!” katanya dengan panik.


Reva seketika meluruh lemas dan pisau jagal itu terlepas begitu saja dari genggamannya, hingga ia terjatuh dan terpelanting di atas lantai. Rafael dengan tergesa menghampiri wanita itu, dan memungut benda tajam berbahaya itu untuk diletakkan kembali di tempat yang aman. “Ini aku,” ujarnya lagi di hadapan wajah Reva yang langsung disambut oleh sambaran kencang dari telapak tangan wanita itu di pipinya. “Aw!” jeritnya kesakitan, “Kok, ditampar?”


“Kamu gila!!!” Reva mendorong tubuh jangkung yang sudah berada terlalu dekat dengannya itu, kemudian berjalan melewatinya menuju balkon. Penasaran sekali dibuatnya mengapa pria menyebalkan itu bisa berada di kamarnya saat sudah sangat larut seperti itu.


Terbelalaklah kedua mata Reva saat ia menemukan seperangkat gear panjat tebing berserakan di teras balkonnya. Matanya mengikuti jalur tali prusik yang melintang ke sisi kiri balkon miliknya. Sedetik kemudian ia tersadar bahwa tali itu bersumber dari pagar balkon Rafael. Sungguh keterlaluan sekali pria itu, pikirnya. Dia pikir dinding apartemen itu adalah tebing gunung atau bagaimana, sih?


Saat Reva berbalik, Rafael sudah berada tepat di hadapannya. “Kamu gila, ya!!!” maki wanita itu sambil memelototi pria di depannya.


Raut wajah Reva langsung menjadi geram mendengar alasan absurd itu. “Aku? Sekarang jadi salah aku?” protesnya.


“Kamu tega soalnya. Berbulan-bulan aku ketuk-ketuk pintu, nggak pernah dibuka. Cuma Kaia doang yang kamu kasih izin masuk. Terus aku harus gimana, Yi?”


“Lho? Suka-suka aku dong pilih-pilih tamu!”


“Nggak bisa gitu, lah! Terus kalau aku mau ngobrol, gimana caranya?”

__ADS_1


“Ya, karena aku nggak mau ngobrol sama kamu, idiot!”


“Tapi aku, ‘kan, mau, Yi. Aku butuh banyak penjelasan dari kamu. Aku mau minta maaf. Aku perlu kita berdua bener-bener bicara.”


“Kamu ngerti nggak, sih, privacy itu apa? Kamu ngerti arti dari boundary, nggak? Kamu paham konsep basic human right, nggak?”


“Karena aku yakin kalau di sini, tuh, banyak salah paham. Aku mau kamu ngerti semuanya. Tolong, dong, Yi. Please ....”


“Nggak ada! Nggak ada salah paham! Pokoknya, kamu harus pergi sekarang. Aku ngantuk!”


“Hah? Ngantuk? Nggak mungkin kamu ngantuk! Matamu masih lembab gitu, lho, Neng. Masih bisa melotot tajam.”


“Oh, kamu cenayang sekarang?”


“Astaga, Yi, nggak butuh mukjizat buat ngenalin orang yang ngantuk. Dari fisiologi udah keliatan. Simple physics. Pupil matamu masih normal.”


“Kenapa jadi kamu yang nentuin kapan aku ngantuk atau nggak, sih? Kalau otak aku lelah dan pengen istirahat gimana? Kamu nggak bisa lihat, ‘kan?”


“Yi, kamu baru dapet adrenaline rush kayak tadi, sampai bawa-bawa pisau. Percaya, deh, efeknya bisa sampai pagi! Hormon kortisol kamu lagi tinggi. Kamu nggak akan tidur sampai pagi.”


“Dih, sok tahu banget, kamu! Udah pergi sana, atau aku teriak!”


“Nggak mungkin! Aku tahu kamu. Kamu nggak mungkin teriak-teriak. Kalau mau niat teriak juga tadi, waktu aku nerobos masuk.”

__ADS_1


“Astaga! Kenapa kamu selalu menyebalkan kayak gini? Dari dulu nggak pernah berubah! Aku lelah banget, lho, sama kamu. Capek banget!”


“Aku nggak mau berubah, Yi. Aku kangen banget sama kamu ....”


__ADS_2