
Andini memutuskan untuk datang ke rumah sakit pagi itu, meskipun ia sedang tak memiliki jadwal praktek. Tentu saja tujuannya adalah untuk menemui sang mantan kekasih. Setelah banyak berbincang dengan Reva dan Rafael, Andini sudah mengerti apa saja yang terjadi kepada Kris selama sembilan belas tahun mereka berpisah.
Sudah dua minggu Kris dirawat di rumah sakit dan kondisinya berangsur pulih. Ia mendapatkan keringanan dari pihak kepolisian, tetapi proses hukumnya tetap berjalan selama ia terbaring di ruang inap. Polisi susah menggeledah seluruh isi rumah dan mobil pria itu. Hasilnya, memang ditemukan beberapa gram obat-obatan terlarang dan juga berbotol-botol alkohol. Namun, Andini tak tinggal diam saja. Ia mengajukan permohonan penangguhan penahanan dan membayar sejumlah denda karena wanita itu yakin bahwa Kris sangat memerlukan tes kesehatan mental sebelum dijatuhi putusan kurungan oleh hakim.
Pagi itu, Andini terlihat sangat cantik dengan rambut bergelombang tergerai indah dan makeup tipis yang tetap menawan. Ia memakai dress anggun berbahan sifon yang mengayun ketika tertiup angin. Dress berwarna merah muda itu menjuntai sampai ke lantai, dan Andini menutupi bagian atasnya dengan bolero mini. Dengan langkah gemetar ia berjalan menuju ruangan Kris. Sebetulnya mereka sudah saling bertemu, tetapi sebelumnya kondisi Kris sedang tak memungkinkan untuk diajak bicara. Namun kali itu berbeda. Kris sudah semakin segar dan ia mulai bisa berjalan.
“Hai, Kris,” sapa Andini ketika melihat pria itu sedang diperiksa tekanan darah seorang suster.
Kris tak langsung menjawab. Ia bahkan tak bisa berkedip. Tak jelas juga apa yang sedang dirasakannya. Sembilan belas tahun yang lalu wanita itu pergi meninggalkannya begitu saja dengan alasan ingin fokus menuntut ilmu. Andini adalah cinta pertamanya. Pacar pertama dan ciuman pertama. Kris sudah menyukainya sejak remaja, sampai-sampai alasannya semangat bersekolah adalah hanya untuk bertemu dengan gadis itu. Hubungan mereka juga sebetulnya baik-baik saja. Mereka selalu saling menjaga dan sekali pun tak pernah ada isu orang ketiga. Kris bukan playboy seperti Rafael saat masih bocah, tetapi ia adalah pemuda yang sangat posesif.
“Biar saya aja, sus,” pinta Andini berusaha menghentikan suster itu saat ia hendak memberikan obat untuk Kris. Andini mengambil pil-pil di dalam baki dan meminta suster tersebut meninggalkan mereka berdua.
Kris tak menolak, tetapi ia masih belum mengatakan apa pun. Matanya terus mengikuti Andini ke mana pun wanita itu bergerak.
“Ayo, minum obat dulu,” titah Andini dengan lembut seraya menggenggam segelas air di tangan.
Untuk beberapa saat mereka duduk berdua, saling memperhatikan. Andini dengan saksama mengamati pergerakan Kris. Mempelajari cara pria itu bersikap, dan gestur-gestur kecilnya yang sering kali diabaikan oleh orang awam. Profesinya sebagai seorang psikiater melatihnya untuk bisa membaca seseorang dengan mengamati polah tingkah dan tutur katanya. Sebetulnya selama dua minggu itu Andini selalu berupaya untuk memberikan diagnosa terbaiknya. Ia dengan aktif mencari informasi tentang Kris dan meneliti masa lalu pria itu dengan telaten. Ia bahkan mengirimkan seorang temannya ke Bandung khusus untuk menemui Bi Uma demi mendapatkan berbagai kisah. Dugaannya saat itu adalah Kris mengalami bipolar syndrome.
Berdasarkan hasil analisanya dari orang-orang yang pernah berhubungan dekat dengan Kris, Andini menemukan sebuah pola bahwa Kris sering kali mengalami perubahan suasana hati yang sangat tiba-tiba. Ia bisa menjadi malaikat, dan sedetik kemudian berubah menjadi monster yang sangat mengerikan. Ia bisa sangat bergembira sampai merasa dirinya terbang ke langit ke tujuh, dan sesaat kemudian bagai terjerumus ke dasar neraka yang paling dalam. Susunan kimia di dalam otaknya tak seperti orang normal, terkadang ia merasakan depresi dan ketakutan berlebihan akan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Namun, di saat yang lain ia juga bisa menjadi sangat produktif, sampai-sampai bisa membuat karya yang luar biasa.
Andini juga mengupas tuntas masa kecil Kris yang kelam, dan ia yakin bahwa gangguan mental yang dialami oleh pria itu adalah hasil dari perbuatan orang tuanya sendiri, sama seperti yang sedang dialami oleh Reva. Orang tua Kris juga meninggalkannya sejak dini, dan itu membuat situasi kejiwaannya menjadi tak terkendali.
Segalanya mulai terasa masuk akal bagi Andini. Mengapa Kris dan Reva merasa saling menemukan satu sama lain sampai akhirnya mereka menikah. Kesamaan problematika di masa lalu menyatukan mereka berdua, tetapi hubungan itu bahkan tak pernah berhasil sejak awal sekalipun. Mereka terikat oleh trauma, bukan cinta. Namun, Kris yang begitu terobsesi dan selalu menuruti egonya tak pernah menyadari hal itu.
“Kamu sudah bisa berdiri?” tanya Andini memecah keheningan. “Kalau sudah, aku mau ajak kamu jalan-jalan. Taman di belakang rumah sakit ini bagus, lho. Biar kamu bisa menghirup udara segar.”
Tak disangka Kris mengangguk setuju. Ia juga sudah jengah berbaring terus-menerus selama dua minggu itu. Tahap satu rehabilitasi sudah diselesaikannya dengan detoksifikasi dari narkotika, meskipun rasanya sulit sekali sampai-sampai ia mengalami kejang karena harus tiba-tiba berhenti mengonsumsi obat-obatan. Rasanya otot-ototnya menjadi sangat kaku, dan ia harus segera menggerakannya agar tak menjadi penyakit kronis.
Selang infus Kris juga baru saja dilepas oleh suster yang barusan memeriksanya, dan Andini segera mencegahnya memasang kantung infus yang baru agar ia bisa mengajak pria itu berkeliling dengan lebih leluasa.
“Kamu pegangan, ya,” pinta Andini seraya membantu Kris turun dari kasurnya. “Nanti kalau di tengah jalan nggak kuat, kita bisa pinjam kursi roda.”
“Aku kuat, kok.” Kris segera membantah sembari melingkarkan lengannya di leher Andini, sementara wanita itu merangkul pinggangnya.
Mereka berjalan berdampingan menuju taman sembari mulai berbasa-basi. Sembilan belas tahun adalah waktu yang sangat lama. Pasti banyak sekali kisah yang bisa diceritakan untuk mencairkan suasana.
Bagi Andini, pertemuan itu bukan hanya untuk melepas kerinduannya, tetapi ia juga harus mendapatkan data akurat mengenai kondisi psikologis Kris. Ia harus bisa menemukan sesuatu untuk bisa memenangkan pengadilan dan membebaskan pria itu dari jeratan hukum.
Tak terasa, lama juga mereka berbincang berdua, mengamati ikan-ikan di kolam dan burung-burung gereja yang bercuitan dari pohon ke pohon. Beberapa anak kucing menggemaskan juga menghampiri Kris dan Andini yang tengah duduk di sebuah bangku taman. Langit mendung dan angin sepoi-sepoi turut membuat mereka semakin betah menikmati suasana yang tak ramai di pagi hari itu.
__ADS_1
Kris yang semula masih terlihat canggung dan selalu menjaga jarak mulai terlihat nyaman berada dekat dengan wanita yang baru ditemuinya kembali setelah sekian lama. Andini masih sama seperti seseorang yang ia cintai puluhan tahun yang lalu. Ia masih merupakan sosok periang nan menyenangkan dengan wawasan yang luas. Selera humornya juga tak banyak berubah, dan lesung pipi yang pernah membuat Kris jatuh cinta masih tetap berada di sana.
“Kris ... mungkin nggak ada kata maaf yang bisa mewakili penyesalan aku sekarang,” ungkap Andini di tengah perbincangan hangat mereka. “Dulu aku hanya peduli sama pendidikan aku, tanpa mikirin perasaan kamu gimana.”
“Aku juga yang salah, An ...,” sesal Kris sembari menundukkan wajahnya. “Aku memang terlalu mengekang kamu, dan nggak mikirin kalau kamu butuh kebebasan.”
“Tetap aja, harusnya aku memperjuangkan hubungan kita. Waktu itu aku sangat egois dan mikir kuliah kedokteran itu segalanya. Aku fokus mengejar gelar, tapi aku malah kehilangan orang yang sangat peduli sama aku.”
“An ... aku boleh tanya sesuatu?” Dengan ragu-ragu Kris memberanikan diri menatap wanita itu.
“Apa pun, Kris. Silakan aja.”
“Apa ... kamu punya pacar selama tinggal di Yogya?”
“Enggak, Kris.” Andini menjawab dengan mantap. “Pacarku cuma kamu. Kamu satu-satunya. Aku nggak pernah berhubungan sama siapa pun lagi setelah kamu.”
“Serius?”
“Aku menepati janjiku sendiri. Aku bilang aku mau fokus kuliah, ‘kan? Setelah sarjana kedokteran, aku langsung co-***. Terus aku sempat jadi tenaga honorer sebelum ambil spesialis psikiatri. Setelah itu aku langsung mengabdi di panti rehabilitasi. Itu aja yang terjadi selama sembilan belas tahun kita pisah.”
“Kenapa ... sekali pun kamu nggak pulang ke Bandung?”
“Astaga, An ... maaf, aku nggak tahu.”
“Itu karena kita memang udah putus. Tapi, aku sempat ke Bandung, kok, waktu ada reuni. Aku susah payah izin sama Ibu biar bisa ketemu kamu lagi, sayangnya kamu nggak datang.”
“Itu karena ....”
“Reva, ‘kan?” Andini melirik tajam, tetapi ia segera tersenyum sebelum Kris merasa bersalah. “Aku udah ketemu sama dia. Aku tahu semua yang ada di antara kalian. Aku sempat sakit hati waktu tahu kamu akhirnya move on, tapi sekarang aku ngerti semuanya.”
“Reuni waktu itu tepat sama waktu dia melahirkan, aku nggak bisa ninggalin dia gitu aja.”
“Aku tahu, dan aku bangga sama kamu. Yang kamu lakukan itu menyelamatkan nyawa seseorang. Kamu sayang banget sama dia, ‘kan?”
Kris tak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia menoleh ke arah Andini dan menatapnya dengan intens. Reva sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupnya, lebih dari apa pun. Reva adalah semangat barunya, kesempatan keduanya, sosok yang selalu ada untuknya dalam berbagi duka. Wanita itu tak mungkin bisa tergantikan begitu saja.
“Iya, An ... aku sayang banget sama dia.”
Entah mengapa jawaban Kris barusan bisa menorehkan sebesit luka pada batin Andini, padahal mereka telah berpisah sangat lama. Saat kembali bertemu lagi dengan Kris, sesuatu tentang masa lalunya seketika menyeruak di relung hati. Andini bisa dengan rinci mengingat setiap momen kebersamaannya dengan pria itu. Mungkin, tanpa ia sadari, ia masih sangat mengharapkan kehadiran Kris kembali kepada dirinya.
__ADS_1
“Aku ngerti, Kris ... Reva wanita yang baik, dia juga cantik, d—”
“An ... aku bilang aku sayang sama dia. Tapi ... aku akan turutin kemauannya.”
Kemauan Reva adalah sebuah perceraian.
Beberapa hari yang lalu seorang pengacara datang menemui Kris untuk sebuah tanda tangan. Reva telah resmi melayangkan gugatan cerai kepada suaminya. Namun, trauma yang masih tersisa di dalam dirinya membuatnya enggan untuk menemui Kris secara langsung. Akhirnya, ia memilih untuk menunjuk seorang pengacara yang akan membantunya untuk menjadi penghubung di antara mereka berdua.
“Kamu ... yakin?”
Andini sebenarnya sedang merasa gundah karena ia melihat Kris menangis saat surat gugatan itu akhirnya sampai. Kris hanya bergeming tanpa mau membuka dan membaca isinya. Ia bahkan tak mau langsung menandatangani surat itu. Sebagian besar dari dirinya masih tak mau menerima sebuah perpisahan. Akhirnya, pengacara tersebut terpaksa pulang dengan tangan kosong.
Keesokan harinya, pengacara itu datang kembali, masih dengan tujuan yang sama yakni untuk mendapatkan persetujuan dari Kris. Namun, Kris juga menolak untuk memberikan respons di percobaan kedua. Pria yang hanya bisa terbaring lemas di atas kasur di ruang inapnya itu bahkan tak mau menatap si pengacara wanita dan segera memintanya pergi.
Kegagalan juga terjadi pada hari ketiga, saat Kris dengan tegas mengusirnya dan mengamuk bahkan dengan selang infus tersambung ke urat nadinya.
“Kris ... kamu sungguh-sungguh mau menuruti kemauan dia?”
Andini bertanya kembali karena ia merasa tak yakin dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut pria itu. Ia tak percaya bahwa Kris akhirnya berkata setuju.
“An ... aku mau dia bahagia karena aku sayang sama dia. Aku sadar kalau aku juga mengekang dia selama ini, sama kayak yang aku lakukan ke kamu dulu.”
“Jadi ... kamu udah rela kalau dia pergi?”
“Aku nggak bilang aku rela, An. Pasti butuh waktu yang sangat lama untuk bisa sembuh dari kehilangan dia.”
Lagi-lagi Andini merasakan sesuatu seolah membakar dirinya dari dalam, saat ia menyadari bahwa Kris ternyata lebih mencintai wanita itu jauh daripada pria itu mencintainya dulu. Namun, Andini berusaha memahami bahwa sembilan belas tahun memanglah waktu yang sangat lama untuk seseorang bisa berubah. Biar bagaimanapun, ternyata Kris masih menjadi sosok yang istimewa bagi dirinya.
“Kris ... kamu tahu, waktu mungkin bisa menyembuhkan semuanya.”
Usia Kris sudah 37 tahun saat itu, tetapi ia sudah tak peduli lagi tentang kapan waktu akan menyembuhkan luka atas kehilangan seseorang. Namun, ia tahu bahwa ia harus merelakan semuanya. Ia sadar bahwa cinta memang tak bisa dipaksakan.
Kris kembali menatap wanita berparas manis di hadapannya itu lekat-lekat di tengah keheningan yang tiba-tiba menyeruak. Kedatangan Andini ke kehidupannya tak serta merta mengembalikan ikatan yang sudah lama terputus, tetapi Kris yakin bahwa masih ada setitik rasa di antara mereka berdua yang masih bisa diselamatkan.
“An ... apakah kamu masih punya waktu buat nunggu aku? Mungkin agak lama sampai semuanya benar-benar selesai, tapi aku harap kamu nggak pergi lagi.”
Wanita itu hanya bisa tersenyum haru menahan air yang mulai menitik di sudut matanya, tetapi ia mengangguk dengan pasti, menyambut masa depan yang ada di hadapannya.
Andini masih punya waktu. Selama apa pun.
__ADS_1