
Suasana riuh pada jam makan siang di warung nasi milik Bi Uma mendadak menjadi senyap ketika semua mata pelanggan tertuju kepada dua orang pria berperawakan kekar. Mereka mengaku berasal dari pihak kepolisian, meskipun keduanya tak memakai seragam atau atribut khas polisi. Di belakang dua orang pria itu, berdiri Nadia dan Erin yang tampak sangat khawatir. Mereka telihat seperti sedang mencari sesuatu dengan terus menelisik dan melempar pandangan ke dalam rumah Bi Uma.
“Maaf, Ibu, kalau kedatangan kami mengganggu,” ujar salah satu dari pria itu, “tapi kami perlu bertemu dengan Ibu Reva.”
Bi Uma terperangah, tetapi tak sampai terkejut dengan kemunculan orang-orang asing yang datang untuk mencari Reva. Pasalnya, Kris sudah memperingatkan bahwa suatu saat nanti akan hadir tamu tak diundang, apalagi kalau bukan untuk bertemu dengan wanita yang sedang disembuyikannya itu.
“M-maaf, Pak, t-tapi ...,” risau Bi Uma gelagapan. Ia tahu bahwa tugas yang diberikan oleh Kris kepadanya tidaklah mudah. Menyembunyikan Reva? Terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sama sekali bukan perkara sepele. Bagaimana jika yang datang adalah orang-orang bertubuh bak petinju seperti itu? Yakinkah Bi Uma dapat menolaknya?
“Bu, kami membawa surat resmi,” tegas salah satu dari polisi, yang seketika langsung membuat pundak Bi Uma mengkerut. Ia ketakutan sekali saat itu. Di hadapannya ada empat pasang mata yang memelototinya seolah sedang mengancam. Dan jika ia tidak menurut, tentulah akibatnya ia akan berurusan dengan hukum.
“Tolong, ya, Bu. Tolong bekerja sama!” ketus Nadia yang sejak tadi diam saja memantau gerak-gerik Bu Uma. “Kami tahu kalau Reva ada di sini. Kami punya bukti-bukti.” Seminggu sudah mereka habiskan untuk melacak keberadaan Reva, dan semua petunjuk mengarah kepada kediaman Bi Uma saat itu.
“Nggak perlu takut, Ibu. Ini bukan penangkapan,” seloroh Erin yang sebenarnya merasa iba melihat Bi Uma yang begitu gemetar disambangi secara tiba-tiba seperti itu. Wanita keriput itu seperti tak kuasa ingin menangis, bagaikan merasa gagal untuk menjaga amanat yang telah diberikan oleh Kris. “Kami cuma perlu bicara,” imbuh Erin berusaha menenangkannya.
“Iya, Neng. Mangga, masuk aja ke dalam,” pasrah Bi Uma, sembari mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan mempersilakan empat orang tamunya duduk di sofa yang baru saja diberikan oleh Kris sebagai hadiah ulang tahunnya.
Kemudian, Bi Uma masuk lebih jauh ke dalam rumah di mana dapurnya berada. Tak lama berlalu, ia kembali dengan nampan yang berisi empat gelas kopi instan, dan Reva yang berjalan mengikutinya di belakang.
“Va!” pekik Nadia dan Erin bersamaan, saat melihat sosok wanita yang selama itu mereka cari tertangkap netra. Reva tampak lebih kurus dan kusam dari biasanya, dan rambut hitam panjangnya mulai terlihat tak terawat, tampak kering tak berkilau seperti biasanya.
Reva tak berekspresi, tetapi sama seperti Bi Uma, ia tak terkejut. Ia memang sudah yakin bahwa hari itu akan datang. Seminggu yang lalu, ia sendiri yang dengan sengaja meminta Kaia untuk menyerahkan buku diary-nya kepada Erin. Saat bertemu kembali, Reva yakin sekali bahwa Erin sudah membaca semua cerita yang ingin ia sampaikan sejak dahulu.
Bi Uma masih diam di situ memperhatikan, menitipkan warungnya sejenak kepada seseorang yang biasa membantunya merapikan pekerjaan rumah. Namun, Reva tak mau jika perbincangannya diperhatikan. Reva tahu bahwa segala yang sampai ke telinga Bi Uma, akan sampai ke telinga Kris juga. Mereka sangat dekat, dan Bi Uma secara spesifik memang diberi mandat untuk mengawasi setiap gerak-gerik Reva.
“Bi, Reva mau keluar dulu sebentar,” ujar Reva dengan dingin, bahkan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu untuk menyambut tamunya. Erin dan Nadia segera mengerti bahwa mereka memang harus keluar dari situ.
“Tapi, Neng, kata Kris—”
__ADS_1
“Sebentar aja, Bi. Nggak jauh, cuma di taman yang dekat belokan.” Sebenarnya, Reva tahu bahwa Bi Uma tak akan berani melarangnya. Tak akan mampu. Namun, yang ia takutkan adalah jika si bibi itu sampai mengadu yang bukan-bukan kepada Kris. Oleh karena itu, Reva harus tetap meminta izin baik-baik agar Bi Uma tetap berpihak kepadanya, meskipun tentu saja itu sangat sulit.
“Iya, Neng, boleh. Tapi jangan lama-lama, ya. Nanti Kris—”
“Iya, Bi, tenang aja. Reva nggak kabur.” Reva melirik tajam ke arah Bi Uma, seolah mengerti apa yang ada di benak wanita tua itu sejak tadi. Dan Reva tak suka terus-menerus mendapat peringatan seperti itu. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia mengerti apa yang Kris inginkan.
Di dampingi dua orang polisi tak berseragam, mereka berjalan menuju taman yang jaraknya tak lebih dari tiga ratus meter dari rumah Bi Uma. Sekilas sebelum meninggalkan rumah, Reva melirik ke arah Bi Uma yang saat itu terburu-buru mengambil ponsel pemberian Kris dari dalam saku celananya. Reva yakin sekali bahwa Bi Uma langsung membuat laporan kepada pria itu.
“Va! Aku sudah baca buku kamu, maaf karena aku nggak izin dulu,” seru Nadia yang sejak tadi sudah gatal untuk mengeluarkan unek-unek di kepalanya. Wanita itu kemudian meraih kedua tangan Reva dan menggenggamnya erat. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia segera tersenyum ketika Reva ternyata menerima uluran tangannya begitu saja. “Va, aku minta maaf buat semuanya.”
Nadia seolah bercermin kepada setiap perilakunya pada masa lalu ketika ia melihat Reva saat itu. Saat wanita itu seolah tak menyimpan sedikit pun dendam kepadanya. Siapa sangka, Reva yang semasa sekolah dahulu selalu membuatnya keki dan dongkol itu dapat mengubah pola pikirnya dengan benang kehidupan yang saling tertaut di antara mereka berdua.
Siang itu tak terik, bahkan awan keabu-abuan sudah mulai datang memayungi langit. Namun, justru cuaca syahdu di taman kecil yang dikelilingi pohon besar itu membuat mereka semakin betah berbincang lama. Tiga wanita duduk berdekatan di sebuah bangku taman. Tak jauh dari mereka, dua orang polisi yang ditugaskan untuk pengamanan terus mengawasi dari ancaman bahaya yang mungkin datang.
“Va, aku sadar kalau aku selalu berlaku buruk sama kamu,” sesal Nadia dengan penuh rasa bersalah, “dan tanpa sadar, aku tumbuh jadi bully yang menyebalkan buat kamu.” Nadia terus mengoceh tanpa melepaskan genggamannya kepada Reva.
“Udahlah, Nad. Aku nggak pernah mikirin itu. Bodo amatlah kamu mau jadi bully, kek. Atau apa, kek.”
“Nggak perlu dibahas, Nad ....”
“Perlu, Va, perlu banget! Kamu harus tahu kalau El mau nikah karena terpaksa. Dulu aku sampai ancam lapor polisi, karena aku ketakutan kalau dia nggak tanggung jawab. Aku juga langsung ngaduin dia ke keluarganya sampai dia nggak bisa berkutik. Bukan karena cinta!”
“Kalian menikah sembilan tahun, Nad. Nggak mungkin nggak ada cinta.”
“Va, kamu tahu, berapa yang papaku keluarkan buat biaya berobat papanya El? Ratusan juta. Waktu Pak Pram bangkrut, dia jual semua asetnya kecuali rumah. Serangan jantungnya waktu itu parah sekali, sampai operasi pasang ring dan segala macam. Mama Wina juga perlu modal buat usaha, dan semuanya kita bantu. El cuma balas budi buat semua itu.”
“Semua salah orangtuaku, Nad. Aku malu banget.”
__ADS_1
“Aku tahu kasusnya, dan El sempat marah sama kamu karena hal itu. Tapi, Va, itu nggak lama. Setelahnya, dia langsung sadar kalau kamu sama sekali nggak ada hubungannya. Sayangnya, kita lagi siap-siap wedding waktu itu. Kamu pergi entah ke mana. Tapi El selalu berusaha cari kamu, Va. Dia selalu berusaha. Setiap hari.”
“Aku nggak tahan lagi, Nad, sama situasi di rumah. Aku terpaksa pergi.”
“Dan El juga terpaksa menerima kalau kamu udah pergi dari kehidupan dia. Dia berusaha move on, dengan adanya Kaia. Tapi aku tahu dia selalu mikirin kamu. Dia sehari-hari jadi gila kerja, semua cuma pengalihan biar dia bisa lupain kamu. Padahal, kamu tahu, ‘kan, dia itu malasnya kayak apa?”
“Nad, dia bahkan nggak peduli waktu aku minta pertanggung jawaban.”
“Dia pun awalnya gitu sama aku! Tapi maaf, aku bukan kamu, Va. Aku nggak tinggal diam digituin. Enak aja! Aku sampai ngamuk di rumahnya, dan aku juga nggak takut buat sebar sikap pengecutnya andai dia berani kabur. Dan yang bikin aku sakit hati, aku tahu kalau kamu nggak bisa ngelakuin itu berkat ketololan orangtuamu, ‘kan?”
“Aku pikir dia lebih milih kamu, Nad. Dan aku sadar diri, kalau aku nggak mungkin saingan sama kamu.”
“Nggak! Karena aku lebih galak aja ! Dan aku lebih bisa stand up buat diri aku sendiri, nggak lari dari masalah kayak kamu. Ujung-ujungnya nyusahin diri sendiri, ‘kan? Kamu benar-benar udah salah paham sama dia, Va.”
“Ya udahlah, Nad. Toh, kita udah punya kehidupan masing-masing sekarang.”
“Aku pisah sama El. Nggak bisa lanjut lagi aku.”
“H-hah? K-kenapa?”
“Kenapa, Va? Harusnya dari dulu kali! Tapi aku nggak pernah bisa, Kaia dekat banget sama dia soalnya. Keluarganya El juga baik banget sama aku. Dan aku takut, karena perceraian belum pernah terjadi di keluarga besar kami berdua. Aku nggak mau dicap gagal, Va. Jadi, aku terpaksa bertahan selama itu.”
“Kamu melakukan semuanya demi image, Nad?”
“Udahlah, jangan nge-judge. Aku sadar kalau ini nggak worth it. Pokoknya, kamu harus balikan sama El. Aku nggak mau tahu, ya! Kamu ikut aku sekarang ke rumah sakit. Kamu harus lihat sendiri kondisi El gimana. Dia butuh kamu.”
Reva termenung sejenak, menerawang jauh ke langit putih yang mulai menggelap di atasnya. Banyak sekali informasi baru yang ia dengar hari itu. Salah paham, katanya? Tidak. Reva yakin sekali bahwa ketika itu Rafael jelas menolak janin mereka mentah-mentah. Pria itu bahkan tampak tak sudi untuk membalas pesan atau mengangkat panggilan telepon. Seolah api persahabatan yang telah berkobar selama belasan tahun melebur menjadi abu begitu saja. Reva yakin sekali bahwa itu bukan sekadar salah paham.
__ADS_1
“Nad, sampai kapan pun, aku nggak akan pernah bisa berhubungan lagi sama dia, karena beberapa bulan lagi, aku akan menikah. Dan aku nggak akan tinggal di sini. Aku akan pergi jauh. Jadi tolong, Nad, nggak perlu kamu datang lagi ke sini buat bahas dia.”
Nadia dan Erin saling bertatapan dan mimik wajah mereka mendadak berubah menjadi pancaran rasa tegang dan bingung. Pergi? Pergi ke mana?