Under The Rain

Under The Rain
Bab 45—Pengintaian III


__ADS_3

Nadia menepuk pundak Erin lalu mengarahkan telunjuknya ke arah kanan, dan mata Erin mengikuti ke mana jari itu mengarah.


“Tengok situ, deh, Rin. Maaf, ya, tapi rumah itu terlalu aesthetic buat warga asli kampung sini. Kelihatannya itu dibangun sama arsitek. Penempatan semen dan bata ekpose-nya rapi banget.”


“Aku nggak bisa lihat jelas, fasadnya ketutup sama tanaman. Mana pohonnya tinggi-tinggi! Siapa, sih, yang bikin taman kayak gini? Aneh banget!”


“Kelihatan, kok, Rin. Dari bagian atasnya juga jelas banget, ini rumah dirancangnya nggak asal templok bata doang. At least dari pintu garasi juga vibe-nya industrial, beda sama rumah-rumah yang lain.”


“Iya, sih ... dan dia letaknya sendirian pula. Si Reva, ‘kan, paling malas punya tetangga kanan-kiri.”


“Jadi gimana? Kita masuk? Kalau Kris di dalam gimana?”


“Lu bisa berantem, nggak?”


“Ngaco!!! Lu kalau digebukin sama dia bisa-bisa keguguran, Rin. Amit-amit! Bahaya banget! Itu orang nggak pandang bulu soalnya kalau lagi ngamuk. Dan aku dua minggu lagi nikah, woy! Nggak lucu kalau mati konyol di sini!”


“Yaaah ... bikin parno. Jadi gimana, dong?”


“Lapor polisi?”


“Polisi lagi!!! Elo itu pihak yang mau masuk ke rumah orang tanpa izin, kenapa jadi elo yang lapor polisi? Situ waras?”


“Tapi, kamu yakin nggak, Reva di sini?”


“Seratus persen! Tapi kamu lihat di dinding atas situ ada CCTV? Mungkin kita lagi di awasi, Nad. Lihat aja pagar sama dindingnya tinggi gitu, dia pasti nggak pengen ada tamu.”


“Ya udah, kita menjauh dulu dari sini, deh. Aku perlu telepon beberapa orang untuk minta pendapat, mungkin mereka bisa bantu.”


“Apa yang mau kamu bilang?”


“Bahwa Reva udah ketemu? Rumahnya creepy? Apa pun, lah! Aku bingung soalnya harus gimana! Harusnya El yang di sini, bukan aku!”


“Apa El perlu dikasih tahu?”


Mereka bertanya bersamaan. Namun, saat itu juga mereka segera tersadar bahwa rumah yang akan mereka datangi itu milik pasangan yang sudah resmi menikah. Tak mungkin membawa pria lain masuk ke dalam situ secara sembarangan. Bisa-bisa keributan besar terjadi dan sampai melibatkan warga sekitar.

__ADS_1


Dengan terpaksa, Nadia melaju menjauh dari tempat itu untuk sesaat. Saat itu, mungkin nomor plat mobilnya sudah terekam oleh kamera CCTV, dan itu membuatnya sedikit khawatir. Apalagi setelah Erin mengirim teh boba ke rumah Bi Uma, Nadia selalu merasa dirinya sedang diincar, meskipun itu hanyalah ketakutan berlebihan belaka di dalam benaknya.


“Rin! Apa kita pakai trik delivery lagi? Buat mancing siapa yang keluar dari situ?”


“Kayaknya nggak, Nad. Di tempat ini kayaknya nggak umum, deh, orang pesan makanan online. Jauh dari mana-mana soalnya, bakal langsung ketahuan kalau pakai trik yang sama.”


“Sejujurnya, ya, aku pikir kita masuk aja, sih. Kita ketuk pintu baik-baik aja. Namanya juga bertamu. Pura-pura polos aja gitu.”


“Kayaknya nggak juga, Nad. Kris pasti langsung sadar kalau dia semalaman diikutin sama mobil kuning lu sampai ke sini. Reaksinya pasti nggak bagus.”


“Duh ... tauk, ah! Pusing!!! Balik ke villa, yuk!”


“Wong edan, koe!”


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Nadia yang sedang berada di dalam mobilnya yang terparkir di bahu jalan di balik rindangnya pepohonan melihat mobil hitam Kris keluar dari halaman rumah itu. Tak hanya itu, ia juga melihat sosok wanita menutup kembali pagarnya dan masuk ke dalam rumah. Tentu saja wanita itu adalah Reva!


Setelah memastikan mobil pria itu menghilang di kejauhan dan tak kembali untuk beberapa jenak, Erin dan Nadia memutuskan untuk turun dan berjalan kaki menuju rumah itu. Jaraknya memang tak jauh, tetapi rimbunnya pohon-pohon besar dapat menutupi mobil itu dengan sempurna. Nadia bahkan mengganti pakaiannya kembali ke setelan serba hitam seperti semula, dengan kacamata dan topi, setidaknya agar tak terlalu jelas tertangkap CCTV.


Mereka sudah berada di dinding samping rumah bergaya industrial itu, mengendap-endap bagai pencuri di siang bolong. Untung saja daerah di sekitar situ sangat sepi, kalau tidak, mereka bisa diarak warga berkeliling kampung karena disangka sepasang kriminal. Saat itu, tiba-tiba sebuah suara berbisik mengagetkan mereka berdua. “Erin! Erin!” desisnya.


“Reva!!!”


Sentak Erin dan Nadia bersamaan.


“Kamu ngapain di atas situ! Awas jatuh!” pekik Erin saat melihat kepala sahabatnya melongok di ketinggian.


“Jangan berisik, Rin. Kamu bisa nggak, jalan ke belakang? Aku temuin kamu di situ,” pinta Reva dengan lirih sembari berpegangan kuat ke dinding pembatas.


“Tapi jalanan ke arah belakang rumahmu merosok ke dalam, Va. Kamu yakin aman? Kalau kita tergelincir ke jurang gimana?” protes Nadia.


“Aman, Nad, aku udah coba. Asalkan kamu pegangan ke pohon-pohon. Jalan hati-hati, cuma itu cara satu-satunya.”


Menuruti permintaan Reva, kedua wanita itu mulai menekuk lutut sembari terus merunduk berjalan menyusuri dinding samping rumah itu untuk menuju ke belakang. Sebenarnya panjangnya tak lebih dari dua puluh meter, tetapi menjangkaunya cukup sulit karena letak rumah itu berada di kemiringan.


Bagian belakang rumah Reva ternyata lebih indah dari bagian depannya. Kontur halaman belakang itu mengikuti kemiringan lahan, dan view-nya langsung menghadap ke arah Gunung Merapi. Rumah itu juga tak bertingkat, sehingga letaknya benar-benar bisa disembunyikan pohon-pohon besar. Membuatnya kian terkesan misterius dan magical.

__ADS_1


Di situlah mereka bertemu, di sebuah titik yang Reva sebut dengan blind spot. Setelah berbulan-bulan mempelajari jangkauan CCTVnya, Reva menemukan hanya titik itu yang tak terjangkau oleh kamera pengintai. Letaknya di dinding samping taman belakang bagian kiri, di balik pohon ketapang yang batang utamanya dikelilingi oleh pot-pot tanaman kuping gajah yang daunnya sangat lebar. Pagar di halaman belakang itu juga tak terlalu tinggi, sehingga Reva bisa melompatinya dengan sedikit usaha, dan tanpa tertangkap kamera.


“Kenapa kita harus ketemu di sini?” protes Nadia setelah ia beberapa kali hampir tersungkur dan mencium tanah.


“Di tempat lain kena CCTV,” jawab Reva singkat dengan wajah pucat pasi yang sangat familiar.


“Reva ....” Erin yang mengamati wajah panik sahabatnya itu langsung terperangah ketika ia menemukan sesuatu yang tak beres di sana. “Kamu ... penuh luka lebam? Kamu kenapa?”


Reva tak mau menjawab. Ia justru terburu-buru meminta mereka untuk segera pergi saja dari situ sebelum semuanya terlambat.


"Aku tadi lihat mobil kuning kamu, Nad. Aku yakin itu kamu. Makanya, aku segera naik ke atas buat ngintip. Dan ternyata kalian beneran jalan ke sini."


"Maaf, Va. Kita nggak berani masuk—"


“Please ... Kris perginya nggak akan lama,” mohonnya dengan gelisah. “Dia nggak boleh tahu kalau kalian lagi di sini.”


“Jawab aku dulu, kenapa bahu dan lengan kamu penuh lebam? Dan yang di pelipis kamu itu apa? Kayaknya bekas jahitan, ya?” Erin memaksa dengan ngotot. Ia merasakan sesuatu yang buruk sedang terjadi di rumah tangga Reva, dan mulai khawatir. Ia mengenali luka-luka lebam yang terlihat seperti itu pasti bekas kekerasan yang disengaja.


“Rin, aku nggak—”


“Jangan ngeles, Va! Kalau itu tindakan KDRT, kita bisa bantu. Tapi kamunya juga harus terbuka, kita laporin bareng-bareng kelakuan laki-laki itu!” Dugaan Erin tak mungkin salah. Itu pasti hasil tindakan KDRT. Sepertinya wanita itu telah dipukuli atau membentur sesuatu karena didorong sangat kencang, dan ia juga terlihat sangat gemetar dan ketakutan.


“Iya, Va. Kalau ini kekerasan, aku sama Erin nggak mungkin tinggal diam,” ujar Nadia sembari menepuk wanita itu di pundaknya, tetapi, Reva bereaksi seperti sangat merasa kesakitan oleh tepukan halus itu.


Nadia refleks mengangkat lengannya setelah melihat Reva meringis, lalu memandangi wanita itu dengan penuh rasa iba. Entah seberapa parah lagi luka-luka tak terlihat yang tersembunyi di balik bajunya saat itu, Nadia tak mau membayangkannya. Ia yakin itu sangatlah parah, mungkin sekujur tubuh di balik kain itu sudah membiru.


“Kamu mau ikut sama kita, Va? Please. Aku tahu kamu tersiksa di dalam sini ....” mohon Erin dengan menggenggam kedua tangannya sembari menahan tangis. “Please, Va. Cukup sudah kamu ngerasa berhutang budi sama laki-laki itu. Dia berbahaya.”


“Aku nggak bisa, Rin ... maaf, aku nggak bisa ....” rintih Reva seraya melepaskan genggamannya. “Tolong, ya, kalian cepat pergi dari sini. Dia akan datang sebentar lagi. Tolong ...." Reva mulai mendesis panik tak terkendali.


“Va, kalau kamu ketakutan kayak gini sama suami sendiri, ngapain nikah? Udahlah, tinggalin si psycho itu! Demi kebaikan kamu sendiri juga!”


“Nad, aku harus masuk sekarang. Maaf, ya ... tapi kamu harus pulang. Please ... aku nggak mau ada masalah lagi. Makasih udah datang ke sini, Nad. Salam buat Kaia.”


Tanpa menghiraukan kekhawatiran kedua temannya, Reva segera melompat kembali ke dalam rumahnya melalui dinding pembatas. Kedua wanita itu ditinggalkannya begitu saja, seperti ia sedang menyembunyikan sesuatu yang besar. Begitu pun dengan Erin dan Nadia. Tanpa punya banyak pilihan, mereka kembali lagi ke mobil untuk beranjak pulang. Namun, mereka sudah bertekad akan kembali. Mereka pasti kembali lagi.

__ADS_1


__ADS_2