
Reva menyadari dirinya sedang berada di dalam bahaya saat Kris terus saja memandangnya intens dengan kedua mata merahnya. Lengannya masih dicengkeram hingga tapak merah gelap terlihat di sana, tetapi Reva sadar jika situasi akan semakin berbahaya jika ia melibatkan Rafael. Ia mencoba bersikap tenang dan menjelaskan semuanya.
“Kris ... a-aku memang baru sempat mandi.” Dengan gugup Reva berusaha memberikan alasan. “K-kamu tahu, ‘kan, aku perlu selesaikan beberapa artikel.”
Pria itu tak menanggapi apa-apa, tetapi ia mulai melonggarkan genggamannya lalu bangkit untuk duduk.
Reva yang panik segera mengambil segelas air putih karena Kris terlihat sangat kelelahan. “Ayo, minum dulu,” pintanya dengan lembut.
Wanita itu terus menatap suaminya dengan jantung berdebar. Sesungguhnya ia sendiri sudah sangat lelah dengan situasi seperti itu. Ia tak ingin terus-menerus merasa ketakutan menghadapi pasangan hidupnya sendiri, dan tak tahu kapan ledakan amarah pria itu akan membahayakan jiwanya. Selama bertahun-tahun saling mengenal, mereka belum juga bisa saling menebak apa isi kepala masing-masing.
“Kris ....” Reva berusaha memulai percakapan dengan hati-hati, berharap semua pekerjaannya baik-baik saja. “Gimana proses perizinannya? Udah selesai?”
Kris yang perlahan menguasai kesadarannya mulai kembali ke realita. Di hadapannya saat itu istrinya sedang terlihat sangat ketakutan karena melihatnya mabuk berat, dan ia menyadari hal itu. Dirinya mulai melunak dan membiarkan emosi menguap. Prasangka buruk yang sempat dirasakan segera dilupakan.
“Kita dapat tempat lain ... cuma harga sewanya jauh tinggi, dan biaya operasionalnya jauh lebih besar.”
“Jadi?”
“Mau nggak mau rugi besar, tapi shooting harus tetap jalan.”
“Dan itu alasan kamu mabuk?”
“Nggak, Va ... kita memang habis party.”
Party. Entah berapa kali Reva mendengar alasan itu terlontar. Kris memang hobi bersenang-senang hingga terkadang lupa akan segalanya, apalagi ia memiliki banyak teman. Ia tak pernah tahu kapan harus berhenti dengan botol-botol alkohol itu, yang terkadang bisa menyebabkan kehilangan akal sehatnya.
“Party? Apa kamu harus selalu party di luar sana?”
Sebenarnya sudah lelah sekali Reva mengingatkan suaminya atas kebiasaan buruknya itu, tetapi ia tak bisa hanya tinggal diam. Tidak untuk kali itu. “Nggak bisakah kamu berhenti minum? Pikirin kesehatan kamu, Kris.”
Wajah teler dan tubuh sempoyongan itu benar-benar sudah membuat Reva jengah, dan itu sering kali dilihatnya selama lebih dari empat tahun mereka menikah.
Kris tiba-tiba bangkit dari duduknya. Perutnya sejak tadi memang terasa sangat tak enak karena ia baru saja mencampur beberapa jenis liquor yang sampai menyebabkan kepalanya berputar. Kemudian, ia beranjak ke dapur untuk menuju sink di mana ia bisa memuntahkan isi lambung yang sudah membuatnya sangat mual.
Sadar bahwa suaminya tak kuat menahan muntahan, Reva sontak mengikutinya dan segera meraih kotak penyimpanan di mana sebotol besar minyak kayu putih berada. Kekesalan yang dirasakannya harus kembali dipendam, karena Kris terlihat sangat pucat dan membutuhkan pertolongan.
“Kamu lihat, Kris? Bertahun-tahun minuman keras itu terus merusak kesehatan kamu. Bikin kamu sakit parah sampai kayak gini.”
Reva membantunya untuk membersihkan cipratan isi perut yang mengotori tempat cuci piring, lalu memijat-mijat tungkak pria itu untuk membuatnya merasa lebih baik.
Kris hanya mengerang dan menggeram tanpa bisa menjawab. Sepertinya malam itu ia benar-benar sudah melewati batas, dan Reva menjadi sangat khawatir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
__ADS_1
“Aku pikir kita harus ke dokter. Kamu kelihatan pucat banget. Aku takut ada apa-apa dan nggak bisa nolong kamu. Tempat ini sepi.”
Tak disangka, Kris mengibaskan lengan Reva sampai wanita itu terkesiap, lalu mulai menunjuk-nunjuknya penuh emosi di tengah efek alkohol yang masih membuatnya tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
“Alkohol bikin aku tenang, Va! Aku bisa lupain semuanya gara-gara itu, terutama tentang kamu!”
Bentakan tadi membuat Reva gugup, meskipun itu bukan kali pertama terjadi padanya. Malam itu Reva sudah bertekad tak akan tinggal diam jika Kris sampai menganiaya dirinya lagi seperti sebelum-sebelumnya. Ia menarik napas panjang dan berusaha menguatkan dirinya. Tak bisa hanya menunduk saja setiap kali diperlakukan seperti itu.
“Aku, Kris? Kamu menyalahkan aku?” Dengan segenap keberanian, untuk pertama kalinya Reva berusaha membela diri.
“Kamu pikir aku nggak tahu apa isi hati kamu sebenarnya? Kamu bikin aku stress! Bahkan lebih dari urusan pekerjaan!” Kris yang tiba-tiba menjadi sangat emosional mengeluarkan amarahnya kembali.
“Aku bikin kamu stress? Begitu? Terus mau kamu apa sebenarnya?”
“Kapan kamu mau sepenuhnya ada buat aku, Va?”
“Maksud kamu apa? Aku selalu di rumah, selalu nurut sama kamu. Apa aku pernah telat bikin sarapan? Apa aku pernah lupa siapin semua kebutuhan kamu?”
“Bukan itu!!!” Kris berteriak berang, tak tahan untuk meluapkan segala rasa frustasi terhadap wanita di hadapannya itu. “Kamu tahu bukan itu maksud aku, Va!!! Kamu istri aku, bukan pembantu!”
“Kris ... aku ... aku udah berusaha ....”
“Kenapa harus selalu bahas soal ini, sih? Kemarin kamu baik-baik aja. Kita bicara sepanjang malam dan kamu peluk aku sampai tidur. Kenapa, Kris? Kenapa kamu selalu berubah-ubah?”
Di tengah serangan vertigo yang maha dahsyat, Kris mulai mendekati wanita itu dengan kedua mata membelalak. “Yang kenapa itu kamu!!!” Dengan kasar ia mendorong tubuh istrinya hingga tersungkur. “Kamu yang sejak awal berkhianat, Va! Bukan aku!!!”
Saat itu bibir Reva sudah mencium tanah karena sorongan dari suaminya sendiri, dan ia mulai menangis tanpa bisa berkata apa-apa.
“Jangan nangis, Va! Aku benci lihat kamu nangis!”
“Kris ... ini ... pasti gara-gara teman-teman kamu, ‘kan?” Meski tersedu-sedu, Reva masih berusaha bangkit dan melawan. “Aku tahu ... teman-teman kamu yang selalu bikin kamu kayak gini. Aku tahu liarnya pesta mereka sampai bikin kamu terjerumus!”
“Terjerumus? Justru karena mereka aku tetap waras!” Kali itu Kris benar-benar berteriak tepat di hadapan tatapan sendu istrinya. “Kamu tahu, Va, di antara kita semua, cuma aku yang kayak nggak punya istri!!!”
Mungkin hal itu memang benar adanya. Reva selalu menolak setiap kali diajak oleh suaminya untuk berkumpul dengan circle-nya. Hampir semua teman dekat Kris turut memproduksi film bersama-sama, meskipun mereka memiliki peran dan tugas yang berbeda. Biasanya, setiap selesai beraktifitas, mereka akan besua sejenak untuk melepas penat. Apalagi jika bukan dengan minuman keras dan rokok. Beberapa orang bahkan sepertinya mengonsumsi obat-obatan terlarang.
Reva sangat merasa tak nyaman berada di antara orang-orang itu. Sebenarnya, ia pernah satu kali menurut ketika Kris memintanya untuk ikut, tetapi kepulan asap rokok membuatnya sesak napas. Suara musik kencang dan obrolan lantang membuatnya sakit kepala. Di sana juga ada banyak wanita yang berpakaian sangat minim dan ketat. Reva sungguh tak betah melihatnya. Reva yang merupakan seorang introvert benar-benar tersiksa jika harus menjalani gaya hidup hura-hura tanpa batas seperti itu.
Kehidupan Reva yang tenang di antara buku-buku, angin malam dan hujan rintik-rintik sungguh jauh berbeda dengan dunia malam Kris yang hingar-bingar penuh dengan euforia. Setelah empat tahun berpacaran, ditambah empat tahun lagi menikah, mereka belum juga bisa saling beradaptasi.
“Andai kamu tahu, Kris ... aku ... selama bertahun-tahun aku udah berjuang untuk jadi yang kamu mau ... tapi ... aku nggak pernah bisa.”
__ADS_1
“Memang kamu, Va! Kamu penyebab semuanya dari awal!” geram Kris yang semakin lantang mengeluarkan kata-kata kasar di tengah kebingungannya sendiri. “Gara-gara kamu hidup aku terus kesiksa!”
“Kenapa kamu nyalahin aku? Kehidupan malam kamu yang berantakan udah ada bahkan sebelum kita ketemu!”
Tak terima dengan perlawanan istrinya, Kris menghardik dengan menyeret tubuh itu untuk membantingnya ke atas sofa. Seberapa pun Reva berusaha memberontak, raganya memang sudah tak sanggup. Namun, ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tak akan mengalah lagi. Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya, Reva berusaha berdiri kembali.
“Sejak ada kamu semuanya malah tambah berantakan, Va! Asal kamu tahu, sikap dingin kamu di rumah yang semakin bikin aku gencar cari kehidupan di luar!”
“Harusnya sejak awal kamu sadar seberapa jauh perbedaan kita berdua. Kamu nggak berhak selalu ngatur hidup aku! Kenapa kita nggak bisa saling menghormati? Kenapa harus kayak gini?”
“Jadi kamu nyesel? Setelah selama ini, kamu baru bilang kalau kamu nyesel? Kamu mau kebebasan, Va? Setelah semua yang aku kasih ke kamu?”
“Aku takut, Kris ... andai kamu mau coba buat ngerti ... sekali pun kamu nggak pernah tanya sama aku tentang apa yang aku mau, ‘kan?”
“Heh!!! Semua aku lakuin buat kamu! Aku kasih apa pun buat kamu! Apa pernah kepikiran kamu kasih imbalan?”
Reva memang sudah terlalu sering menerima pelecehan fisik dan verbal dari pria itu sampai rasanya sudah terbiasa, dan ujung-ujungnya semua bisa terlupakan oleh sebuah permintaan maaf. Kali itu nampaknya sudah cukup. Sepertinya sudah tak ada kata maaf lagi yang bisa mengobati hatinya. Sudah tak ada liburan ke luar negeri lagi, atau barang-barang branded yang bisa menutup lukanya.
“Kris, cukup! Aku nggak tahan lihat kamu kayak gini terus! Tolong ... aku tahu kita sama-sama lelah. Tolong izinin aku pergi dari sini ... tolong lepasin aku ....”
Akhirnya permohonan tersebut keluar juga dari mulut Reva setelah bertahun-tahun ia bertahan dari kekangan suaminya. Setelah bertahun-tahun terpenjara dalam rumahnya sendiri saat Kris merenggut kebebasannya. Bertahun-tahun pula Kris memanipulasinya dan menjauhkannya dari orang-orang yang ia sayangi. Akhirnya Reva benar-benar menginginkan sebuah perpisahan.
“Cerai, Va?” Kris meletakkan kedua tangannya di leher wanita itu dan mulai meremasnya, sembari terus menatap tajam. Tatapan yang sungguh mengerikan. “Kamu minta cerai? Apa aku nggak salah dengar?”
Kesulitan bernapas mulai dirasakan Reva sampai rasanya ia tak mampu berbicara. Dadanya mulai terasa sesak dan ia mulai panik meronta-ronta. “K-kris ... lepas ... t-tolong,” mohonnya lirih dengan napas tersengal.
“Kamu lupa, Va? Siapa yang tolong kamu saat kamu terpuruk? Siapa yang kasih kamu tempat tinggal saat kamu pergi dari rumah? Siapa yang beri kamu pekerjaan saat kamu nggak punya apa-apa?”
Melihat wajah istrinya yang mulai tampak pucat pasi tak lantas membuat Kris melepaskan cekikan tangannya di leher wanita itu. Sebaliknya, ia mencengkeram semakin erat dengan kedua mata yang tetap memelotot. Di hadapannya, Reva termegap-megap berusaha mendapatkan sedikit oksigen untuk bertahan hidup.
“Kamu ingat bayi itu, Va? Kamu ingat pendarahan yang hampir bikin kamu mati? Depresi yang bikin kamu pengen bunuh diri? Siapa yang selalu hadir bantu kamu buat ngelewatin itu semua?”
Napas Reva sudah berbunyi mengik karena saluran pernapasannya yang kian menyempit, dan ia mulai merasa pusing tiada tara sampai hampir pingsan. Sesak di dadanya membuat mulut menganga dan mata memerah. Usahanya untuk melepaskan cekikan Kris dengan mencakar-cakar lengan pria itu juga tak berhasil. Saat itu seluruh raganya sudah sangat lemas dan ia hampir tak bisa merasakan apa-apa lagi.
Ketika tubuh Reva hampir meluruh ke lantai, pagar rumah itu diketuk-ketuk dengan sangat kencang. Suara bariton beberapa pria terdengar dari sana, merusuh memanggil penghuni di dalam rumah untuk keluar.
“Keluar!!! Keluar!!! Kita lapor polisi kalau sampeyan ndak keluar!!!”
Teriakan demi teriakan terdengar dari halaman rumah Kris. Tak tanggung-tanggung, para pria paruh baya yang jumlahnya belasan juga mulai melompati pagar tinggi yang terbuat dari besi untuk menjangkau pintu rumah. Setelah berhasil, pintu kayu itu mulai digedor tanpa ampun sampai pemiliknya keluar.
Saat Kris melongok melalui jendela untuk melihat pergumulan apa yang sedang terjadi di halaman rumahnya, Rafael sudah berdiri di sana bersama dengan warga.
__ADS_1