
Seorang dokter cantik di pertengahan usia 30-an terlihat memasuki ruang IGD saat siang hampir menjelang. Dokter tersebut merupakan seorang spesialis adiksi yang sudah tiga tahun mengabdikan dirinya untuk membantu pasien-pasien dengan konsumsi obat-obatan terlarang. Andini, namanya. Ia terlihat begitu ramah dan murah senyum serta berpenampilan menarik. Kulit kuning langsatnya berpadu indah dengan paras manis khas wanita Jawa. Sebenarnya ia adalah seorang psikiater yang baru saja mendapatkan gelarnya, tetapi ia sangat tertarik untuk menekuni kasus-kasus pasien overdosis.
Berdasarkan hasil skrining narkotika, telah diketahui bahwa Kris memang mengonsumsi metamfetamin. Penggunaan yang berlebihan membuatnya mengalami masalah detak jantung yang tak berarturan sampai kejang. Alasan pekerjaan yang menumpuk dan beban stress di dalam rumah tangganya mungkin menjadi dorongan terbesar mengapa ia sampai membutuhkan obat-obatan untuk membantunya tetap fokus dan menekan kegelisahan. Dan hari itu akhirnya ia sudah mencapai batasannya sehingga harus dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan mengkhawatirkan.
Siang itu Andini mengunjungi IGD setelah diberi tahu oleh pihak rumah sakit bahwa ada seseorang yang sedang membutuhkan pertolongannya dengan segera. Saat dirinya tiba di pintu ruangan tersebut, seorang perawat datang menghampirinya untuk menyerahkan sebuah berkas.
“Selamat siang, Dokter,” sapa sang perawat. Kemudian ia mempersilakan Andini untuk memeriksa data-data di layar komputer yang terletak di atas meja dekat pintu masuk IGD. “Pasien ini baru masuk tadi pagi, Dok. Ini hasil pemeriksaan sementara,” tunjuk perawat itu ke sebuah laman yang memuat informasi dasar tentang kondisi setiap pasien di IGD, seperti kondisi tekanan darah, detak jantuk dan yang lainnya.
Andini membaca semua data-data tersebut dengan cepat di balik kacamatanya. Di situ juga terdapat hasil tes darah dan urin. Setelah memahami semua hasil skrining, betapa tersentak dirinya saat ia melihat sebuah nama terpampang di sana.
Krisna? Krisna Satria?
Krisna Satria. Usia 37 tahun. Golongan darah O.
Firasat Andini mengatakan bahwa ia sangat mengenal pria itu. Jika dilihat dari nama, usia dan berbagai informasi lain tentang dirinya yang terpampang di layar, Andini yakin bahwa pria itu adalah orang yang telah lama dikenalnya, meskipun saat itu mereka belum bertemu tatap. Jantungnya seketika berdebar kencang dan napasnya mulai memburu. Ia mendadak menjadi sangat khawatir dan kalut.
“Kasur nomor berapa, Sus?” tanya Andini dengan terburu-buru meninggalkan meja itu untuk mencari sosok sang pria.
“Nomor tiga, Dok.” Perawat tersebut terpaksa sedikit berteriak karena Andini udah melesat meninggalkannya.
Kasur nomor tiga sedang ditunggui oleh dua orang yang berada di sisi kanan dan kirinya. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Rafael dan Reva.
Secepat kilat sosok Andini sudah berada di belakang Reva, sehingga wanita itu terperanjat saat merasakan kehadiran sang dokter. Akhirnya, ia berpindah ke sebelah Rafael untuk memberikan Andini ruang.
“Siang,” sapa Andini singkat, tetapi kedua netranya tertuju kepada pria yang sedang berbaring di atas kasur itu.
“Siang, Dokter,” balas Rafael dan Reva bersamaan.
Untuk sesaat Andini berdiri terpaku di sana. Di hadapannya saat itu benar-benar sosok yang telah ia duga sebelumnya. Firasatnya tepat.
Krisna, mantan pacarnya, tengah terbaring lemas sampai harus menghirup oksigen melalui selang udara.
__ADS_1
Andini tak menunjukkan reaksi yang berlebihan meskipun dirinya sangat terkejut. Sembilan belas tahun telah terlewati sejak dia dan Kris terakhir melihat satu sama lain. Sayang sekali mereka harus bertemu kembali di situasi yang sangat tidak menyenangkan seperti itu.
Kris yang tengah memejamkan matanya karena kepalanya terasa sangat berat belum menyadari perihal keberadaan wanita di hadapannya. Namun, ketika tangan Andini menyentuh pergelangan tangannya untuk memeriksa detak jantung, kelopak mata Kris mulai naik secara perlahan.
Akhirnya mereka bertemu tatap. Keduanya hening membisu, tetapi sorot mata yang saling berbalas dengan intens itu jelas bercerita banyak.
“Sus, dipindah ke ruang inap aja sekarang!” titah Andini kepada seorang petugas medis yang sejak tadi mengikutinya.
“Maaf, Dok, kita harus nunggu sampai lewat tengah hari. Soalnya kamar penuh,” jelas wanita itu dengan risau. “Mungkin satu atau dua jam lagi.”
“Astaga ... begitukah?” Andini menggeleng frustasi. Kemudian ia melirik ke arah Rafael dan Reva yang sedang berdiri berdampingan di sisi kasur yang lain. “Ibu sama Bapak dari pihak keluarga kah?”
Reva mengangguk perlahan, “saya istrinya, Dok.”
Informasi tersebut cukup membuat Andini tercekat, dan ia segera mengerenyitkan dahi ketika melihat dua orang yang sedang berdiri di hadapannya itu menempel sangat dekat dengan satu sama lain. Namun, biarlah ... toh, ia juga paham bahwa itu bukanlah urusannya.
“Ibu sabar dulu, ya. Sebentar lagi suami Ibu kita pindahkan ke ruang inap,” pungkas Andini sembari mencoba tersenyum ramah.
Andini menatap Kris sekali lagi sebelum ia pergi meninggalkan IGD untuk menuju ke ruang prakteknya. Padahal sejak pagi mood-nya sedang sangat baik, tetapi pertemuan tak terduga dengan Kris membuat suasana hatinya sontak berubah menjadi gundah gulana. Hari itu juga sebenarnya ia tidak memiliki banyak janji. Mungkin sebagian besar waktunya akan digunakan untuk mempelajari laporan kesehatan Kris.
Baru beberapa langkah Andini menjauhi kasur itu, ia kembali berbalik badan saat tiba-tiba terpikirkan sesuatu. “Ibu silakan ke ruangan saya untuk konsultasi, ya,” pintanya kepada Reva setelah ia meyakini bahwa tak ada pasien urgent selain Kris yang perlu ia tangani hari itu.
Sebelum Reva mengangguk sejutu, ia melirik Rafael untuk meminta pendapat. Mengingat Kris adalah pasien khusus, ia sadar bahwa ia tak bisa membuat keputusan sendiri.
“Maaf, Dok, apakah konsultasinya harus didampingi sama petugas dari rutan?” Reva bertanya dengan waswas.
Andini mengerlingkan matanya. “Rutan?”
Perawat wanita yang mendampingi Andini segera menyambar untuk menjelaskan situasi tersebut. “Oh, ya, Dok. Tadi di pesan singkat saya lupa beri tahu kalau pasien ini datang kemari berdasarkan rujukan dari poliklinik rutan kota.”
Tentu saja lagi-lagi Andini terkesiap dan mulai bertanya-tanya dalam hati mengapa ia harus menerima banyak kejutan besar pada hari itu. Namun, pengalamannya selama tiga tahun menangani orang-orang yang kecanduan terhadap zat adiktif membuatnya selalu dapat bersikap tenang. Ia hanya tak menyangka bahwa Kris akan menjadi salah satu pasien yang ia tangani.
__ADS_1
“Untuk tahap ini saya cuma mau konsultasi sama pihak keluarga dulu. Setelah itu saya koordinasikan dengan pihak kepolisian,” tegas Andini sembari menatap Reva. “Ruangan saya di lantai dua, ya. Mari, Bu ... saya pamit dulu.”
Antrian pasien Andini dapat dengan mudah diperiksanya melalui sebuah aplikasi di ponsel. Era digitalisasi memang menyebabkan hampir semua pendaftaran bisa dilakakukan secara online. Berhubung hari itu baru ada dua orang saja yang sudah memiliki nomor antrian, Andini segera memberi gestur bahwa sebaiknya Reva mengikuti langkahnya. Memeriksa dua orang tak akan lama, dan ia sudah mengambil antrian nomor tiga untuk Reva.
***
Reva memasuki ruangan Andini dengan gugup. Pengalamannya dengan seorang psikiater saat dirinya mengalami depresi beberapa tahun yang lalu bukanlah hal menyenangkan. Namun, kali itu prasangkanya salah. Andini benar-benar menyambutnya dengan sangat ramah seperti kepada seorang teman lama. Psikiater yang pernah menangani Reva jauh lebih kolot dan kaku. Alih-alih berbicara dari hati ke hati, pak tua itu malah meresepkan banyak obat anti-depresi.
Rafael juga turut mendampingi Reva masuk ke ruang praktek Andini, karena wanita itu tak mau dibiarkan seorang diri. Sedangkan dua orang petugas rutan mengambil alih peran menjaga Kris di lantai bawah.
Percakapan mereka diawali dengan kisah-kisah hangat untuk membuat suasana lebih cair dan akrab. Sekali melihat Reva, Andini langsung bisa menebak bahwa wanita itu juga sedang bermasalah. Reva sangat kaku dan sering kali tatapannya terlihat kosong. Ia juga terus menunduk ketika tak sedang berbicara, seperti ada banyak beban yang menggelayuti pikiran dan memberatkan hatinya. Andini bisa merasakan hal itu. Ia tahu bahwa ia harus membuat wanita itu nyaman agar bisa memberikan keterangan lengkap.
Ruangan psikiater itu sendiri sebenarnya tampak menyenangkan. Suasananya terasa seperti tempat praktek seorang Dokter Spesialis Anak yang penuh dengan warna dan buku-buku menarik.
Setelah berbasa-basi sesaat dengan topik-topik ringan dan seru, akhirnya Andini mulai menjurus ke arah kisah-kisah pribadi.
“Jadi ... sudah berapa lama menikah?” tanya Andini sembari menggoda.
“Empat tahun, Dok.” Reva menjawab singkat.
“Sudah ada momongan?”
“Belum, Dok.” Rasanya saat itu Reva belum bisa menjelaskan bahwa ia telah divonis tak bisa memiliki keturunan karena kista yang selalu muncul di ovariumnya. Dokter itu masih terasa sangat asing baginya.
Sebagai seorang dokter ahli merangkap psikiater, tentu Andini tak akan menyerah saat menghadapi situasi-situasi seperti itu. Para pecandu yang pernah ditanganinya juga rata-rata sangat tertutup dan enggan membuka diri. Namun, pada akhirnya Andini selalu bisa membuat mereka bersuara dengan nyaman.
Andini terus saja memancing dengan berbagai pertanyaan untuk membuat Reva rileks dan siap membagi ceritanya. Ia sangat yakin bahwa ada hal besar tersimpan di dalam benak pasien barunya itu. Terlihat sekali dari gerak-geriknya yang tak biasa. Dan ia paham bahwa hal itu mungkin terlalu menyakitkan untuk diungkapkan.
Rafael yang sejak tadi hanya menyimak juga tak mau memaksa. Ia membiarkan semuanya mengalir begitu saja sampai keterangan itu meluncur sendiri dari mulut Reva, meskipun rasanya ia gemas sekali untuk bercerita tentang aksi KDRT yang baru saja diterima oleh wanita itu. Namun, semua memang ada saatnya. Biarlah itu semua terkuak pada waktu yang tepat, ketika Reva benar-benar siap.
Kala itu Rafael dan Reva tak sadar bahwa Andini sedang mengorek banyak informasi tentang Kris dengan memakai kedok konsultasi. Ia ingin mengungkap apa saja yang sudah terjadi selama sembilan belas tahun ketika mereka berpisah, dan apa saja hal yang tak ia ketahui sampai Kris berakhir seperti itu. Sesungguhnya, wanita itu masih sangat merindukan mantan pacarnya.
__ADS_1