
Telepon yang sudah ditunggu-tunggu Reva akhirnya muncul juga. Sebuah berita sebagai jawaban dari penantiannya selama sebulan. Seorang broker properti baru saja memberi kabar bahwa apartemen milik Reva telah berhasil terjual tanpa kendala. Entahlah. Reva tak tahu apakah itu berita baik atau buruk. Ratusan juta uang yang sebentar lagi akan masuk ke rekening pribadinya tak membuatnya terlalu senang. Rumah pertamanya akan berpindah kepemilikan, dan itu membuatnya muram. Namun, Reva sendiri yang menyetujui saat Kris memintanya untuk menjual apartemen itu.
Kris tak mau berurusan lagi dengan Bandung, apalagi dengan masa lalu Reva yang selalu saja membuatnya geram. Kris tak mau Reva masih memiliki tempat bernaung di Kota Kembang itu. Beruntungnya, pekerjaan Reva sebagai penulis tak terbatas jarak dan waktu. Cukup gadget dan koneksi internet, serta akses untuk mendalami riset, Reva akan mampu membuat sebuah buku. Maka dari itu, wanita itu akhirnya setuju untuk menetap di mana pun suaminya memintanya.
Apa pun yang terjadi, bahkan untuk kunjungan singkat sekali pun, Kris melarang Reva pergi ke Bandung. Pria itu sampai rela mengakomodasi agen properti untuk datang ke Yogyakarya demi mengurusi transaksi penjualan. Reva tak boleh lagi menginjakkan kaki di kota itu sama sekali. Titik. Dan tak hanya sampai di situ, setelah Kris kembali dari Jakarta, ia juga akan memasang beberapa kamera CCTV untuk memantau pergerakan istrinya sendiri. Ia tampaknya benar-benar paranoid, memikirkan kemungkinan dirinya akan sering pergi dari rumah karena urusan pekerjaan.
Sebenarnya, salah satu alasan mengapa Kris memilih lokasi yang agak terpelosok adalah karena tempat itu sama sekali tak memiliki akses angkutan umum. Dan Reva juga tak diizinkan untuk memiliki kendaraan bermotor. Dengan begitu, setidaknya Kris dapat merasa sedikit tenang karena istrinya tak akan pergi ke mana pun tanpa pendampingan darinya. Tentu saja Reva masih dibolehkan untuk pergi ke pasar yang letaknya dekat rumah, dan itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Pagi itu, para tukang pembuat taman kembali lagi. Reva betul-betul mengubah total taman minimalis super rapi yang sudah jadi, dengan taman tropis yang tampak semerawut dengan banyak layer. Ia membeli lebih banyak tanaman dengan daun-daun lebar, tak peduli seberapa banyak pun uang yang keluar, yang penting tak ada lagi jejak taman a la Pram di pekarangan rumahnya.
Sementara taman gaya Pram dipartisi oleh jalan-jalan setapak kecil penuh batu alam dengan lampu-lampu taman cantik yang tersebar di berbagai sisi, taman tropis baru milik Reva itu sudah seperti semak belukar di hutan belantara. Tak ada ruang berjalan lagi, semua tempat akan tertutup sempurna oleh daun-daun besar.
***
CCTV wireless yang terhubung dengan internet dipilih Kris untuk dipasang di rumahnya, karena ia dengan mudah dapat mengaksesnya melalui ponsel. Beberapa kamera mini tersebar di tempat-tempat yang strategis, di mana Kris dapat selalu memantau aktifitas Reva sehari-hari.
Sebenarnya, Reva sudah berkali-kali melakukan protes terhadap ide yang menurutnya aneh itu. Ia merasa tak nyaman gerak-geriknya diawasi dengan saksama, meskipun oleh suaminya sendiri. Namun, lagi-lagi Reva tak bisa menolak permintaan Kris. Menurutnya, pria itu sudah melakukan begitu banyak hal untuknya. Hal-hal yang tak akan pernah bisa dilakukan oleh orang lain selain dirinya.
“Kamu nggak perlu pasang di kamar tidur kita, Sayang. Aku malu, karena di situ tempatku ganti baju,” protes Reva saat pria itu mulai membuat lubang di pojok atas dinding kamar mereka.
__ADS_1
“Nggak masalah, ‘kan? Karena aku suami kamu sekarang. Lagipula, footage dari kamera itu cuma bisa diakses dari ponsel aku doang, kok,” balas Kris cuek.
“Duh ....” Reva menghempaskan dirinya ke atas kasur dengan pasrah. “Iya, deh, terserah kamu aja. Nanti paling aku cuma bakal buka baju di kamar mandi,” gerutunya kesal.
“Mau ku pasang kamera juga di kamar mandi?” goda Kris jail.
“JANGAN!”
“Sayang, kamu harus tahu, kalau aku ngelakuin ini semua buat kamu. Aku khawatir. Aku pengen jaga kamu meskipun aku lagi nggak di rumah.”
“Iya. Aku ngerti, kok.”
Menerobos. Satu-satunya orang pernah menerobos kediaman Reva adalah Rafael, saat pria itu nekad bergelantungan di pagar balkon hanya untuk menyapa. Ah, pria itu. Apa kabar dirinya sekarang? Reva tak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi kepadanya, dan ia tak berani mencari tahu. Dan Kris, dengan segala daya yang ia miliki, selalu berusaha menyembunyikan hal itu dari istrinya.
Selagi Kris bergumul dengan CCTV-nya, Reva berjalan ke teras belakang. Ia baru sadar, bahwa ternyata bagian situ memang tampak lebih berantakan dari kondisi di depan. Baru saja ia hendak berbalik untuk mengambil sapu, tiba-tiba ia terkesiap saat netranya menangkap pot kecil dengan bunga anggrek bertengger di salah satu sudut terasnya.
Reva tak ingat pernah membeli bunga anggrek, tetapi ia segera teringat bahwa sang penjual tanaman langganannya memang berjanji untuk memberi bonus jika nominal transaski Reva mencapai angka tertentu. Jikalau bunga dalam pot itu betul-betul diberikan kepadanya secara cuma-cuma, tentu saja Reva sangat bersyukur. Bunga anggrek memang sudah menjadi salah satu favorit-nya sejak ia keci.
***
__ADS_1
Sudah beberapa hari itu, Rafael berlatih berdiri dan perlahan mulai melangkah kecil. Lima bulan terbaring tak berdaya di atas kasur, ditambah dua bulan lagi hanya bisa duduk terkulai di atas kursi roda, akhirnya membuatnya mengalami sakit pinggang kronis yang tak tertahankan. Bagian tulang belakang tepat di atas bokongnya itu bahkan terlihat menonjol, karena ketika ia berbaring selama koma, bagian itu terus-menerus menumpu berat tubuhnya.
Kedua kaki Rafael yang lama tak digerakkan juga menjadi sangat kurus, dan hampir tak mampu menopang tubuhnya sendiri ketika ia mulai berdiri. Di sisi kanan dan kirinya, Sheila dan Thalia sudah sigap memegangi kakak mereka untuk sesi latihan berjalan yang akan dipandu oleh Coach Indra, bersama dengan satu rekan fisioterapis lainnya. Selama lima hari dalam seminggu, mereka datang ke kediaman Rafael untuk melalukan sesi terapi. Biaya yang dikeluarkan untuk program itu memang sama sekali tak murah. Namun, Nadia bersikeras agar Rafael mendapatkan perawatan yang terbaik sebagai bentuk tanggung jawabnya atas peristiwa nahas itu.
Langkah pertama tercipta di pagi hari itu, tepat di hari ke-222 pasca Rafael dihajar habis-habisan di sekujur tubuhnya. Tujuh bulan dua belas hari sejak insiden perkelahian di apartemen milik Nadia itu terjadi. Total ada tiga langkah yang berhasil dilakukannya, sebelum akhirnya ia ambruk dan harus dibopong kembali ke kursi rodanya. Tak apa. Besok dan hari-hari selanjutnya, mereka akan terus mencoba lagi dan lagi.
Di sisi lain, kata pertamanya masih belum terucap juga. Rafael masih amat tergagu. Ia tak bisa mengucapkan satu bunyi suara pun dengan benar. Ia mulai mengingat banyak kata beserta maknanya, tetapi itu hanya ada di kepalanya saja. Semua kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokan. Otaknya selalu gagal setiap kali mencoba untuk memberi instruksi kepada mulutnya untuk bergerak dan membuat bunyi. Oleh karena itu, bahasa isyarat mulai diajarkan kepada Rafael oleh Coach Indra. Ia mulai belajar berkomunikasi dengan kedua tangan dan jari-jemarinya. Setidaknya, hal itu sangat berguna untuk menjembatani komunikasi dua arah antara Rafael dan keluarganya.
Berhari-hari mempelajari bahasa isyarat, Rafael baru bisa menekuk jari-jarinya dengan benar. Tak hanya otot indra pengecapnya saja yang kaku, otot-otot di tangan itu juga perlu dilatih lebih intensif. Apraxia itu membuatnya selalu bergetar tanpa mampu ia kendalikan. Jangankan untuk mengisyaratkan sebuah tanda, memegang sendok pun ia tak mampu. Tremor hebat membuatnya sendok dalam genggamannya tak pernah bertahan lebih dari dua detik, dan sama sekali tak ada kekuatan dalam pegangannya. Tubuhnya benar-benar menjadi lemah.
Selesai terapi, telunjuk Rafael menunjuk ke arah taman meski dengan bergetar. Thalia yang mengerti bahasa isyarat itu segera mendorong kursi roda sang kakak untuk menuju taman.
Di tempat itu, di teras yang tak jauh dari kolam ikan, Rafael terpaku menatap kosong ke hadapannya. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, tapi ia bergeming saat Thalia menawarkan bantuan untuk mendorongnya kembali menuju ke dalam rumah. Namun, pria itu seperti memberontak. Seperti ingin tinggal di situ lebih lama.
Tak lama kemudian, Rafael menunjuk ke arah pot bunga anggrek yang terletak di pinggiran kolam, dan Thalia langsung membawakan pot kecil yang terbuat dari tanah liat itu.
“Pot ini, Kak? Kakak mau apa dengan bunga ini?” tanya Thalia heran melihat kakaknya memegangi pot itu, dan terus memandangi kelopak-kelopak indah berwarna ungu tersebut.
Tentu saja Rafael tak bisa menjawab. Ia hanya bisa mendekap pot tersebut meski ia harus berusaha meredam getaran di lengannya. Ia memejamkan matanya, dan sepertinya telah hanyut terbawa entah apa.
__ADS_1