Under The Rain

Under The Rain
Bab 19—Antara Dia dan Dirinya


__ADS_3

Suasana sarapan yang selalu saja terasa hambar di meja makan Rafael tak lantas membuatnya pergi begitu saja dan memilih mengisi perut di luar. Bukan apa-apa, pria itu cukup perhitungan dengan pendapatannya yang tak banyak itu. Sehingga, sayang juga jika setiap hari ia harus merogoh dompet untuk membeli sarapan di luaran. Jadi, meskipun Nadia hanya menyediakan telur ceplok atau nugget, ia akan tetap melahapnya sampai habis.


Seperti pagi itu, Nadia bangun sangat terlambat dan hanya tersedia mie instan di dapur. Rafael tak protes. Ia menyeduhnya sendiri sementara istrinya entah sedang melakukan apa di kamar mandi. Daripada ngotot menyuruhnya bergegas dan berujung bertengkar, Rafael memilih turun sendiri ke dapur agar ia tak sampai terlambat mengantar Kaia.


Akhirnya, setelah huru-hara memasak dan membantu Kaia menyiapkan bekal di kotak makan siangnya, Rafael bisa menikmati sarapan paginya dengan tenang. Saat itu, barulah Nadia keluar dari kamar mandi dan bergabung di meja makan. Setiap pagi hari, wanita itu hanya akan meminum smoothie untuk menjaga bentuk tubuhnya.


“Nad, dulu waktu hamil Kaia, rasanya gimana?” Pertanyaan itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Rafael. Memecah keheningan yang sebelumnya tercipta di antara mereka bertiga.


“Tumben, nanya? Setelah delapan tahun, kamu baru tanya sekarang?” jawab Nadia dengan nada menyindir. “Ada apa, nih?”


Nadia mungkin akan mencecar dengan berbagai pertanyaan absurd jika saja Kaia tidak sedang makan bersama mereka. Mungkin ia akan melontarkan hal-hal kontroversial seperti apakah Rafael sedang menghamili orang lain pada saat itu. Untung saja, niatnya urung ketika ia melirik Kaia.


“Nggak apa-apa. Mau tahu aja.”


“Hamil itu berat, lho, selain masalah fisik kayak mual, muntah dan bengkak, ada perubahan hormon juga. Banyak yang depresi, tau! Makanya, aku manja banget sama kamu, ‘kan? Sama sekali nggak bisa ditinggal.”


Padahal, Nadia hanya memberikan jawaban normal tentang hal-hal yang wajar dialami oleh wanita yang sedang hamil. Namun, saat itu jawaban tersebut seperti menikam jantung Rafael, karena ia langsung teringat Reva.


Nadia yang sedang menyeruput smoothie-nya itu kemudian menceritakan dengan rinci tentang apa saja kondisi emosional yang ia alami saat mengandung Kaia. Tentang mood swing-nya, pinggulnya yang terasa tak nyaman sepanjang hari, heartburn, sampai akhirnya ia mengalami baby blues syndrome yang cukup parah sehingga Rafael terpaksa cuti kuliah saat itu.


“Gitu, El, berat banget pokoknya. Aku nggak kebayang kalau harus ngelewatin itu tanpa kamu, Mama, Papa sama Teteh. Nggak akan kuat pasti. Untung aku punya support system-nya bagus. Kasian, deh, cewek-cewek yang nggak punya siapa-siapa.”


“Beruntung kamu, Nad.”


“Apalagi, waktu itu kita baru dua puluh tahun. Masih bocah banget, 'kan? Masih serba emosional dan belum ngerti apa-apa. Aku aja sampai stress berat, walaupun orangtuaku sama orangtuamu selalu hadir.”


“Aku bersyukur banget, kamu sama Kaia nggak kenapa-napa, Nad.”

__ADS_1


“Bersyukur, sih, tapi kamu nggak pernah perhatian sama aku.”


“Nad, aku selalu di rumah, lho, selama kamu kasih Kaia ASI eksklusif. Aku sampai cuti satu smester, ‘kan?”


“Iya, tapi itu buat Kaia, bukan buat aku!”


“Ya, sama aja, Nad. Aku mau bantu kamu, makannya aku pegang Kaia.”


“Tapi kamu nggak pernah mau ngobrol sama aku! Sharing apa kek, gitu.”


“Setiap kali aku ngomong juga nggak pernah kamu ladenin, lho, Nad.”


“Heran, deh, perasaan kamu sahabatan sama Reva belasan tahun! Kamu ngapain selama itu? Saling curhat, ‘kan?”


“Kok, jadi bawa-bawa Reva? Nggak ada hubungannya sama dia, Nad.”


“Itu karena Reva nggak dikit-dikit nge-judge. Nggak dikit-dikit tantrum. Dia mau dengerin dan mau ngerti! Nggak kayak kamu!”


“Kamu bandingin aku sama dia, El? Nggak salah dengar aku? Serius kamu ngomong gitu?”


“Eh ... kamu, lho, yang awalnya bawa-bawa dia. Kamu yang mulai, ‘kan?”


“Bisa kamu, ya, belain dia di depan Kaia! Keterlaluan kamu, ih!”


Kaia yang tengah menunduk dalam-dalam menangkap perhatian Rafael. Akhirnya, ia buru-buru menghentikan dirinya untuk mendebat Nadia lebih lanjut, meskipun geram masih terasa di dada. Pertikaian yang bermula dari masalah kecil seperti itu sudah terlalu sering muncul dalam rumah tangga mereka. Dan semakin lama, itu semakin membuat hubungannya dengan Nadia menjadi renggang.


Kadang kala, Rafael sendiri merasa tak nyaman karena banyak dari perseteruannya dengan Nadia disaksikan secara langsung oleh Kaia. Ia tahu bahwa kondisi seperti itu sangat tak baik untuk dikonsumsi oleh anak seusia Kaia. Dan ia sadar jika itu akan mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Namun, setiap kali ia mengajak istrinya berbicara, selalu saja ada argumen yang tak terhindarkan. Di mana pun dan kapan pun, bahkan di depan Kaia sekalipun, selalu saja ada yang membuat istrinya itu marah. Sepertinya ia benar-benar tak boleh salah bicara. Maka dari itu, ia sangat membatasi interaksinya dengan Nadia. Ia menjadi jauh lebih pendiam dan banyak memendam masalahnya sendiri.

__ADS_1


Rafael tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan menjadi seperti itu. Dari anak-anak sampai remaja, secuil apa pun kegundahan di hatinya selalu ia limpahkan kepada Reva. Pernah suatu ketika, Rafael menelepon Reva pukul 02.00 dini hari. Mengganggu tidur malam gadis itu hanya karena ia merasa bahwa ia baru saja melihat sebuah meteor di angkasa! Katanya, benda itu tak seperti bintang. Ia bergerak dengan cepat, tetapi tak terlihat seperti pesawat juga. Rafael sangat yakin bahwa itu adalah sebuah meteor, dan dengan semangat menggebu-gebu, ia bercerita kepada Reva.


Reva tak pernah marah, separah apa pun Rafael mengganggu dan menyusahkannya. Ia juga tak pernah menghakimi saat Rafael berpikir di luar hal wajar. Ia dengan sabar mendengarkan pemuda itu bercerita di telepon meski harus sekuat tenaga menahan kantuk. Meteor? Benarkah? Reva tak yakin. Namun jika Rafael bersikeras seperti itu, ia akhirnya percaya saja.


“EL! Ngelamun lagi, ‘kan, kamu? Mikirin Reva, ‘kan?”


“Ah ... udah, udah. Selalu begini jadinya. Aku pergi dulu.”


“Tuh, ‘kan, menghindar!”


“Nanti Kaia terlambat.”


Rafael segera bangkit dan memastikan bahwa tak ada barang tertinggal dalam tas sequin milik Kaia, sebelum anak itu berangkat ke sekolah. Ia tak percaya kepada Nadia untuk urusan seperti itu, karena perihal topi dan dasi saja Nadia masih sering kali melupakannya.


***


Di sepanjang perjalanan menuju kantornya, Rafael benar-benar tak fokus mengemudi. Beberapa kali ia hampir menyerempet pengendara lain. Ia terlambat menarik gas saat lampu hijau, dan bahkan ia juga hampir saja menabrak penyebrang jalan. Semua itu disebabkan oleh pikirannya yang sedang tidak pada tempatnya, menjelejah ke setiap bingkai waktu di mana ia menghabiskan hari-harinya bersama Reva.


Tadi pagi saat Nadia bercerita tentang masalah-masalah pada kehamilannya, di benaknya yang ia lihat hanyalah Reva. Semakin Nadia bercerita, semakin sakit terasa baginya, karena ia terus membayangkan bagaimana dulu Reva harus menjalani kehamilannya tanpa dirinya.


Terbayang sekali wajah sendu yang memelas itu kala Reva datang menemuinya dan memberi kabar bahwa ia sedang hamil. Hanya saja, Rafael masih terlalu muda dan egois untuk benar-benar mengerti bahwa Reva sungguh merasa panik dan frustasi. Rafael tak mau mencoba merasakan perasaan wanita itu. Fokusnya saat itu sedang berada di tempat lain. Dan itu adalah Nadia, selingkuhannya.


Selama sembilan tahun, Rafael mati-matian menjauh menghindari masalah itu. Ia berlari sekencang mungkin agar rasa bersalah itu tak melulu menghantui dirinya. Namun, saat itu semua seolah terbentang kembali di hadapannya dengan begitu saja, tanpa ia bisa bersembunyi darinya lagi.


Bagi Rafael, saat itu tak ada yang lebih penting daripada memahami apa yang terjadi kepada Reva setelah dirinya pergi meninggalkannya.


Bagaimana kehamilan Reva berlangsung? Apakah ia menggugurkan kandungannya seperti permintaanku? Reva tak pernah terlihat bersama dengan anak kecil. Lalu, di mana keberadaan anak itu sekarang?

__ADS_1


Pertanyaan-pertanyaan tersebut seolah tak lelah menari-nari di benak Rafael. Sungguh, demi apa pun Rafael akan berhenti menjadi pengecut dan mulai menghadapi masalahnya dengan Reva secara jantan. Ia pasti akan menemuinya setelah wanita itu pulih.


__ADS_2