
Hidup yang harus dijalani oleh Kris memang tak mudah. Saat itu saja ia harus menjalani dua sidang secara bersamaan. Sidang pidananya berhubungan dengan kekerasan dan kepemilikan obat-obatan terlarang. Sidang perdatanya bahkan lebih menyakitkan lagi, karena mau tak mau ia harus bersiap merelakan istri yang sangat dicintainya untuk pergi. Biar bagaimanapun, Kris selalu merasa rasa cinta itu begitu kuat, meskipun gangguan mentalnya kerap menyelinap di antara hubungan mereka berdua.
Dengan didampingi oleh petugas kepolisian, Kris yang masih menjalani rehabilitasi bertolak ke Bandung untuk menghadiri proses persidangan perceraiannya. Setelah beberapa minggu, akhirnya ia kembali bertemu dengan Reva, dalam keadaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tak ada sedikit pun dalam benak Kris bahwa suatu saat ia akan berpisah dengan wanita itu.
Reva sama sekali tak berani menatap Kris selama proses persidangan berlangsung. Ia benar-benar bersembunyi di balik badan pengacaranya, dan juga Rafael. Namun, saat itu Reva meyakini satu hal; jika ia bisa memaafkan Rafael atas segala perbuatannya dan menerima pria itu kembali, ia juga pasti akan bisa berdamai dengan Kris. Hanya saja, kala itu waktu seolah berjalan terlalu cepat. Retakan pada tulang belikatnya saja masih terasa ngilu. Reva masih bersikeras untuk menjaga jarak.
Andini juga berada di ruangan itu sebagai saksi ahli. Ia datang dengan membawa laporan kesehatan baik milik Kris maupun Reva. Dijelaskannya kepada seluruh pihak yang terlibat di dalam persidangan bahwa ada kondisi-kondisi mental tertentu yang menjadi penyebab keretakan rumah tangga itu. Andini benar-benar bersikap netral dengah hanya melihat dari sudut pandang medis.
Persidangan itu berlangsung lancar tanpa hambatan. Reva sudah sangat yakin dengan keputusannya kali itu, tak ada lagi keraguan dan rasa iba yang telah menjebaknya selama bertahun-tahun. Sementara itu, siapa pun tahu bahwa Kris dengan berat hati terpaksa menerima semuanya. Pria itu diam seribu bahasa dan hanya berbicara ketika keterangannya memang dibutuhkan.
Ada banyak sekali yang sepertinya tengah direnungkan pria itu selama sidang berlangsung. Sesekali ia menyeka bulir air yang sudah terbentuk di sudut mata. Sesekali juga ia memegangi kepalanya yang tampaknya terasa berat. Pandangannya terus tertunduk dan ia tak banyak bergerak. Andini yang duduk tak jauh darinya selalu bersiap dengan botol minum dan tissue, karena Kris kerap meminta dua benda tersebut kepadanya.
Selain karena sudah saling sepakat, Reva dan Kris juga tak memiliki keturunan. Tak ada permasalahan mengenai hak asuh anak atau semacamnya, tak ada juga drama pembagian harta gono-gini. Reva merelakan semuanya tanpa mau menuntut apa pun. Ia pergi meninggalkan rumah Kris di Yogyakarta, hanya dengan membawa baju dan buku.
Satu-satunya hal yang membuat langkah Reva berat adalah taman rindang yang selalu ia rawat setiap hari. Reva menatanya dengan cantik dan memperlakukan tanaman-tanaman itu seperti anak sendiri. Memberi makanan berupa pupuk dan rajin memeriksa kondisi mereka satu per satu. Mereka adalah teman berkeluh kesah dan tempat mengadu kala Kris sudah terlalu mabuk untuk diajak bicara. Namun, toh Reva masih memiliki sejumlah tabungan. Ia akan kembali memulai hidup baru, dan mungkin dengan sebuah taman baru.
Sidang tahap awal selesai tanpa kendala yang berarti, dan tahapan selanjutnya juga pasti akan terlewati dengan mudah. Semoga saja tetap seperti itu sampai akhirnya mereka resmi berpisah.
Kris harus segera kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan proses hukumnya di sana, dan ia tak lagi gentar menghadapi semua itu. Bagian yang tersulit telah ia lalui. Puncak kehancurannya terjadi saat tadi ia melihat Reva dan Rafael berjalan berdampingan keluar dari ruang sidang. Setelah itu, Kris mulai memikirkan kembali apa pun yang pernah terjadi di dalam hidupnya.
“Kris ... kita dapat jatah waktu buat makan siang.” Andini membuyarkan lamunan pria itu saat ia menunggu petugas lapas yang sedang berbincang dengan pengacaranya. “Mau makan bareng?”
Andini tahu pria itu sedang sangat terguncang. Momen terburuk dalam hidupnya baru saja terjadi. Namun, Andini tak mau menyerah dalam suasana seperti itu.
Setelah terdiam sejenak, Kris akhirnya menjawab, “Ayo ... tapi kayaknya kita nggak boleh keluar dari sini. Kamu nggak lupa, ‘kan, kalau aku masih jadi tahanan?”
“Memang nggak boleh keluar.” Andini tersenyum menilik wajah lesu pria di hadapannya itu. “Tapi di sini ada kantin, kok. Yang penting isi perut, deh. Makan apa pun nggak masalah.”
“Sayang banget, ya ....” Kris segera menghentikan kalimatnya, ragu-ragu dengan apa yang hendak ia katakan.
“Sayang kenapa emang?” Andini berusaha memancing.
“Belasan tahun kamu nggak ke Bandung, di sini banyak cafe seru sekarang.”
Tak menyangka, Andini terperangah mendengar ucapan Kris barusan. “Kamu ... mau ajak aku jalan maksudnya?” tanyanya menggoda.
Kris menengadah untuk menatap wanita itu lekat-lekat. Ia menghirup napas dalam-dalam lalu berkata dengan tegas, “An, aku mau selesaikan kewajibanku dulu. Aku nggak akan hidup tenang sebelum bisa nebus semuanya.”
Kewajiban yang Kris maksud tentu saja adalah kurungan penjara dan proses rehabilitasi sampai ia benar-benar dinyatakan bersih dari pengaruh obat-obatan dan alkohol.
Jika prediksi pengacaranya benar, Kris tak akan sampai mendapatkan kurungan yang menyentuh angka tahunan karena beberapa hal. Pertama, Reva tak pernah membuat tuntutan resmi atas segala kekerasan yang pernah diterimanya. Wanita itu menginginkan tak lebih dari sebuah perpisahan, sehingga laporan KDRT itu tak pernah ada. Kedua, kepemikikan obat-obatan Kris juga masih dibawah jumlah maksimum, dan setiap alkohol yang ia konsumsi diperoleh secala legal, merek-merek itu bahkan dijual di pasaran dan siapa pun bisa membelinya. Meskipun begitu, Andini tetap berjuang agar Kris mendapatkan vonis seringan mungkin.
“Kris, aku akan berusaha keras untuk dapat keadilan buat kamu. Setidaknya, aku bisa bantu dari sisi medis. Kamu bahkan cuma perlu rehab—”
“Nggak perlu, An. Aku akan jalani sesuai putusan. Nggak perlu banding atau apa pun itu. Buang-buang waktu dan tenaga.”
“Kris ....”
“Aku capek, An. Aku perlu istirahat dan ninggalin semua urusan di luar sini. Aku pengen sendiri buat sementara.”
“Kris ... aku tahu di dalam sana itu kayak gimana. Aku berhubungan sama mereka, sama pecandu dan pesakitan. Kamu tahu, yang namanya kebebasan nggak ada di dalam situ. Semuanya serba diatur.”
__ADS_1
“Kebebasan, An? Kebebasan ... bertahun-tahun aku merenggut kebebasan orang yang paling aku sayang. Mungkin sekarang saatnya aku ngerasain apa yang dia rasain selama itu.”
“T-tapi ... aku bisa bantu kamu ... kalau kamu mau.”
“Nggak perlu.”
Reaksi Kris sebenarnya tak terlalu mengherankan bagi Andini. Pria itu sedang rapuh. Perpaduan di antara rasa bersalah dan kehilangan membuatnya cenderung menyakiti diri sendiri. Dan mungkin hanya itu satu-satunya cara membuatnya lebih baik. Sebuah penebusan dosa yang akan membebaskan jiwanya kelak.
“Lagian ... aku juga perlu banyak waktu buat merenung, An. Buat move on ....”
“Move on?”
“Kamu tahu, belasan tahun Reva kejebak di masa lalunya, dan itu bikin dia sakit setiap hari.” Kris memberikan sebuah penjelasan yang sebenarnya sudah dipahami Andini. “Aku nggak akan ngelakuin apa yang dia lakuin.”
Setidaknya jawaban Kris membuat Andini lega. Mungkin, masih ada sedikit ruang di hati pria itu untuk dirinya kembali. Andini hanya butuh sedikit. Sedikit saja. Sampai waktu yang akan membuatnya terbuka semakin lebar. Perlahan-lahan, sembari pria itu menata hatinya kembali. Andini hanya perlu terus berada di sisinya sampai saat itu tiba. Ia memang sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tak pernah meninggalkan pria itu lagi.
Andini sudah tak bisa berkata-kata menyaksikan kegigihan pria itu untuk menebus segala kesalahannya. Namun, ia juga tak mau mengalah. Menurutnya, apa yang terjadi kepada Kris sejak awal memang tak adil. Tak ada orang yang layak dihukum kala sebenarnya ia hanyalah korban kekejaman dunia. Andini tahu orang-orang yang lebih jahat masih bebas berkeliaran di luar sana. Sementara Kris, pria itu sebenarnya membutuhan uluran tangan, bukan siksaan di balik jeruji besi.
“Kris ....” Andini menggenggam tengan Kris yang tengah duduk di hadapannya. “Kamu orang baik. Sampai kapan pun tolong jangan pernah lupa, ada banyak orang yang udah kamu bantu selama ini.”
Kris hanya tersenyum membalas genggaman tersebut dengan kedua tangannya. “Jadi ... masih mau makan sama calon narapidana?”
Tanpa menjawab, Andini segera menarik lengan pria itu dengan riang, untuk bergandengan menuju ke kantin di dekat gedung pengadilan.
***
“Kejutan!”
Dengan sisa tabungan yang dimiliki, tadinya Reva berniat untuk menyewa rumah, sementara ia memulai karir menulisnya kembali. Namun, tiba-tiba saja hari itu Rafael mengajaknya menuju ke sebuah tempat.
Di sepanjang perjalanan dengan motor naked-bike kesayangan Rafael itu, Reva merasa gugup karena setiap jalan yang dilewati adalah jalan yang sudah sangat ia hafal di dalam benaknya. Dan benar saja, Rafael memang berbelok ke sebuah area yang sudah Reva duga.
“Kejutan!” seru Rafael sekali lagi, kala mereka berdua sudah berada di depan sebuah pintu.
“Apa maksudnya, sih, El? Yang bener, ah!” Reva yang sedang merasa dipermainkan akhirnya protes.
“Ya udah, buka aja pintunya kalau nggak percaya.” Rafael meyerahkan sebuah kunci yang tampak tak asing.
Perlahan, Reva membuka pintu tersebut. Dan apa yang ia lihat di baliknya masih benar-benar sama seperti yang sudah terekam dengan sempurna di dalam ingatannya. Sama sekali tak ada yang berubah.
“Astaga ... El ....”
“Ayo masuk, Yi.” Tanpa ragu Rafael menuntun wanita itu melewati ambang pintu.
“Ini ... kok, bisa?”
Di hadapan Reva saat itu adalah memori masa lalunya. Kabinet di dapur itu masih sama. Rak buku itu masih sama. Bahkan, segala slime, play-dough, cat melukis beserta kanvasnya masih berada persis di tempatnya masing-masing. Lukisan yang dibuat oleh Kaia masih terpanjang di pintu lemari. Yang kurang hanyalah foto-fotonya bersama Kris.
“El ... maksudnya apa ini?”
Tak langsung menjawab, Rafael kembali menggandeng lengan wanita itu menuju ke balkon, tempat di mana ia pernah melakukan aksi gila bergelantungan di kegelapan pada dini hari. Saat pintu balkon dibuka, deru angin menggebu segera mendesak masuk ke ruangan di lantai tujuh tersebut.
__ADS_1
“Yi ... ini semua karena Nadia.” Rafael mulai memberikan sebuah penjelasan. “Waktu itu ada orang properti yang datang ke unit ini, buat foto-foto sebelum tempat ini dijual. Tapi, Nadia pikir dia harus ngelakuin sesuatu.”
“Jadi ... Nadia yang beli tempat ini?”
“Iya ... pakai nama sepupunya, karena dia nggak mau Kris curiga. Dia juga mau nebus kesalahannya ke kamu.”
“Jadi ... ini rumah Nadia sekarang?”
“Rumah kamu, dong ....” Lidah Rafael tiba-tiba terasa kelu sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya.
“Maksudnya? Aku, ‘kan, udah terima uang dari Nadia.”
“Yi ....”
“Apa, El?”
“Boleh nggak ....”
“Apaan?”
“B-boleh nggak ... aku ngelamar kamu pakai rumah ini? Karena aku baru aja beli tempat ini dari Nadia, buat kamu.”
Terperanjatnya Reva saat itu bersamaan dengan sambaran petir yang suaranya tak asing lagi. Gemuruh demi gemuruh kian terdengar dari balkon yang menghadap ke perbukitan utara Kota Bandung itu.
“I-iya ... aku tahu ini belum saatnya. Aku cuma ngerasa perlu segera bilang sama kamu aja, Yi.” Rafael yang sedang tersipu malu segera memberikan klarifikasi.
“Aku baru mau bilang gitu ... kamu masih harus nunggu, El. Sidangnya masih proses.”
“Nggak masalah! Kamu mau aku nunggu berapa lama? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Tiga—”
“Tiga bulan, El.”
Baik Reva maupun Rafael sontak berseri hingga pipi mereka merona, padahal udara sedang sangat dingin. Angin sejuk saja tak sanggup membawa pergi kehangatan yang tiba-tiba menyeruak di relung hati mereka berdua.
“Cuma tiga bulan, Yi? Setelah itu ....”
“Setelah itu apa, El?”
Tanpa menunggu lama, pekikan petir yang sudah bersahut-sahutan segera berubah menjadi bulir-bulir air hujan. Sesuatu yang memang sudah mereka tunggu-tunggu.
“Hujan-hujanan,” jawab Rafael dengan senyum lebar di kedua ujung bibirnya.
Reva turut tertawa saja menyaksikan keanehan pria di hadapannya itu, meskipun sebenarnya itu sudah menjadi hal biasa. “Sekarang?” tanyanya menggoda.
“Yuk! Ke taman sekarang?”
Hujan semakin menderas, tetapi dua insan itu malah terburu-buru menuju ke taman terpencil di samping apartemen. Taman itu dipagari oleh deretan pohon-pohon besar, dan mereka berdua segera berlarian mengitari pohon-pohon itu begitu sampai di sana. Tak ada siapa pun lagi di dekat situ, dan kalaupun ada, mereka pasti akan dibuat heran dengan pemandangan sepasang dewasa tanpa alas kaki bermain air di kubangan.
Gelak tawa mulai terdengar di antara desir air dan raungan petir. Saat itu memang tak ada dansa romantis seperti yang pernah terjadi beberapa waktu yang lalu, tetapi keceriaan masa kecil yang sempat terpendam dan hilang jelas terpancar lagi di sana. Kebebasan yang telah lama direnggut akhirnya kembali untuk membawa mereka terbang menyatu dengan angin.
Bagi mereka, selalu ada sesuatu yang istimewa di bawah rintik hujan.
__ADS_1