
Sebuah cafe semi-outdoor kembali dipilih oleh Krisna dan Rafael sebagai tempat diadakannya meeting ke-dua di siang hari yang mendung itu. Aroma kopi dan kue yang dipanggang bahkan sudah tercium sebelum mereka menjangkau meja makan. Di sekitar mereka sudah ada beberapa orang dengan mata-mata yang terkunci pada gadget masing-masing. Yah, maklum saja, cafe tersebut memang cukup populer di kalangan remote workers dan mahasiswa. Terlihat sekali dari para pengunjung yang datang rata-rata berusia 20-an.
Kris dan Adji datang pada saat yang bersamaan. Sementara, Rafael sudah berada di situ dengan empat buah potong cheesecake di atas meja yang ia tempati. Saat itu hari minggu, sehingga Rafael tak perlu datang ke kantor. Daripada pagi-pagi sudah harus meladeni omelan Nadia, pikirnya lebih baik jika ia segera datang saja ke cafe itu.
Mereka memulai pertemuan dengan bertegur sapa, meski samar kentara ada sesuatu yang berbeda di antara Rafael dan Krisna. Namun, sebagai dua pria dewasa yang harus bersikap profesional dalam bertugas, mereka tak segan untuk mengabaikan segala bentuk ketidaknyamanan yang berhamburan di udara, dan memilih untuk menunjukkan wajah ramah-tamah saja. Hari itu hanya akan ada cerita tentang kerja. Tidak lebih.
Menjelang jam makan siang, sepiring spaghetti carbonara, chicken wings dan burger berukuran jumbo sudah turut menyemarakkan meja, berebut tempat dengan gelas-gelas kaca, laptop dan ponsel. Untungnya, meja itu besar, tak seperti meja-meja coffee shop kekinian di mana untuk menaruh dua buah piring saja, mereka harus berimpitan.
Saat itu, Reva belum datang karena ia sedang menemani Erin pergi ke salon. Sejak melahirkan Ayesha, Erin hampir tak pernah lagi datang ke tempat-tempat yang biasa ia kunjungi untuk me-time seperti saat masih gadis dulu. Sekali saja ia mengunjungi sebuah klinik kecantikan, itu pun sembari direcoki panggilan telepon dari ibunya karena Ayesha yang sedang dititipkan mendadak rewel. Jadilah Erin selalu maju-mundur tatkala harus menitipkan balitanya untuk waktu yang cukup lama. Bersyukur sekali hari itu Reva mau datang memberikan bantuan untuk menjaga Ayesha sejenak.
Selang beberapa saat, Reva memberi pesan singkat kepada Kris bahwa sebentar lagi ia akan sampai untuk bergabung di cafe. Saat itu, seorang pelayan sedang mengantar semangkuk pangsit goreng ke meja mereka. Seketika Adji berpikir untuk sekalian saja memesan makan siang Reva, agar mereka bisa bersantap bersama.
“Mas, makanan berat ada apa lagi, ya? Tadi saya lupa daftar menunya,” tanya Adji kepada pelayan cafe.
“Bistik sapi ada, omelette juga ada, Kak,” jawab si pelayan.
“Buat Reva pesan apa, ya?” lirik Adji kepada dua orang di hadapannya.
“Omelette,” jawab Kris dan Rafael bersamaan, yang segera disusul oleh adegan saling menatap intens.
__ADS_1
Suasana menjadi mendadak canggung, dan Adji segera membuyarkan ketegangan dengan berkata ke si pelayan, “Ok, omelette satu, ya, Mas.”
“Ada tambahan lain, Kak?” tanya si pelayan.
“Omelette-nya setengah matang, jangan terlalu asin,” sambar Rafael tiba-tiba.
Kris kembali tercengang tak menyangka, meskipun ia tetap terlihat tenang tanpa merasa tertantang untuk mendamprat. Yang baru saja didengarnya itu memang sungguh terasa panas di dada.
Omelette setengah matang dengan sedikit garam. Bagi Kris, agaknya informasi tersebut cukup spesifik untuk diketahui oleh sebatas kenalan. Sepertinya Rafael sangat memahami selera Reva. Apakah informasi tersebut lumrah? Mungkin saja. Namun, karena Rafael yang mengatakannya, kecurigaan yang ia pendam sejak sebulan yang lalu itu semakin menguat.
Kemudian, Kris melirik ke beberapa benda yang secara sembarang terletak di meja itu. Ada satu potong cheesecake dalam piring kecil yang tersisa untuk Reva, dan Rafael yang memesannya.
Sesuatu yang janggal mulai terasa dalam nalar Kris. Saat pertemuan pertama mereka diadakan, Rafael juga memesan beberapa kudapan sebagai sambutan atas kerja sama yang baru saja terjalin. Cheesecake dan thai tea. Kris sangat mengingatnya. Kala itu, ia pikir bahwa itu hanyalah sebuah kebetulan semata yang tak ada artinya. Meskipun, ketika dipikir-pikir kembali, itu juga terasa terlalu spesifik, bukan? Cheesecake dan thai tea? Yang benar saja! Reva sampai berseri ketika melihat dua penganan itu sudah tersedia di hadapannya. Dan hal itu bisa-bisanya terulang lagi, bahkan diperparah dengan omong kosong tentang omelette.
Telur dadar yang asapnya masih mengepul di udara sudah mendarat di atas meja. Tak lama berselang, Reva yang perutnya sudah keroncongan pun datang. Sementara itu, Erin yang hanya mengantar Reva sampai ke pelataran cafe sudah kembali ke rumah bersama putrinya.
“Maaf telat, ya” sapa Reva dengan ramah sebelum ia benar-benar duduk.
Suara keruyukan dari lambung disambut baik oleh tampilan pada meja itu. Mereka duduk bersama. Tak banyak kata terlontar kala mulut sibuk mengunyah. Namun, saat itu, saat matahari akhirnya mengintip malu-malu dari balik awan tebal putih, Rafael menangkap sebuah kerlip kecil terpantul dari jari manis pada tangan kanan Reva.
__ADS_1
Sebuah cincin? Reva memakai sebuah cincin?
Tidak. Benda itu tidak berada di sana sebulan yang lalu. Benda itu tidak ada di jari manis Reva saat Rafael membantu membopongnya kala wanita itu pingsan di koridor di depan kamarnya sendiri. Rafael yakin sekali. Lantas, sejak kapan benda mengkilat itu tersemat di sana?
Kerlip samar itu bahkan jauh dari kata menyilaukan mata. Sangat lembut bermain-main dengan sinar mentari. Namun, bagi Rafael, tampilan sederhana itu seketika membuat hatinya terguncang.
Cincin itu tampak memancarkan aura yang tak biasa. Rafael pernah melihat cincin serupa tapi tak sama, kala Wina membelinya untuk melamar Nadia. Rafael mengerti bentuk cincin yang seperti itu. Ia sering melihatnya bertebaran di internet. Apakah Reva baru saja bertunangan? Atau yang lebih parah lagi, apakah wanita itu akan segera menikah?
Jauh di dalam lubuk hatinya, Rafael sangat berharap bahwa dugaannya salah. Itu tidak mungkin benar. Itu tidak boleh terjadi, terutama saat dirinya sudah tinggal begitu dekat dengan sahabat kecilnya itu. Rasanya, ia tak akan bisa membiarkan pria mana pun membawanya pergi lagi dari dirinya. Baru memikirkan tentang pernikahan itu saja, bisa-bisa Rafael menjadi tak waras, apalagi jika itu benar-benar terjadi. Ia harus segera memikirkan sebuah cara.
***
Bukan pertunangan. Bukan juga perhelatan yang melibatkan banyak orang. Itu hanyalah sebuah janji yang terucap dengan tulus untuk selalu membersamai satu sama lain, dalam keadaan suka dan duka. Bahkan, hal itu hanya berlangsung di antara Kris dan Reva. Tak ada keluarga, apalagi tamu undangan. Tak ada dekorasi maupun jamuan makan. Hanya ada mereka berdua, yang akhirnya saling sepakat untuk segera menikah.
Sebuah cincin menawan berwarna rose-gold dengan berlian kecil di tengahnya menjadi lambang atas sebuah kesungguhan. Pernikahan itu masih harus menunggu beberapa bulan lagi, karena Kris harus segera merantau ke luar pulau untuk membuat film tentang pesona Indonesia timur dengan segala keajaiban di dalamnya. Sementara itu, Kris menyerahkan semua pekerjaannya di Bandung ke tangan Reva.
Tak perlu heran, Kris dan Reva memang selalu bekerja sama seperti itu, saling mengisi dan menggantikan. Kris membuat desain dan Reva membuat naskah, atau bahkan sebaliknya. Dalam urusan pekerjaan, mereka memang tampak bisa memahami satu sama lain. Namun, hubungan pernikahan tentu tak akan seperti melukis berdua di atas kanvas.
Reva tak menolak kala cincin itu ditunjukkan kepadanya, dan tak sampai satu menit kemudian, dia sudah bersemayam di jari manisnya.
__ADS_1
Belum hilang semua beban di batinnya, tetapi Reva sungguh berharap bahwa sekeping logam mulia itu dapat melindunginya dari seutas kisah di masa lalu yang dapat mencekiknya sampai mati kapan saja. Atau dari lubang hitam yang kian menganga yang dapat menghisap dirinya hidup-hidup di mana pun ia berada. Reva hanya ingin pulih, dan ia hanya bisa memohon kepada semesta jika cincin itu dapat menjadi obat penyembuhnya.