
Belaian angin dingin di pagi hari membuat tubuh Kris dan Reva menggeliat. Mereka saling memeluk lebih erat kala suhu membekukan dari pegunungan menerobos dinding rumah dan membuat pemiliknya yang masih tertidur kalang kabut mencari selimut. Tak lama kemudian, bunyi nyaring alarm di ponsel Reva terdengar, berusaha membangkitkan jiwa-jiwa yang masih lelah di permulaan hari.
Kris dan Reva baru benar-benar pulas saat waktu hampir subuh, sehingga kedua pasang mata sayup-sayup itu berat sekali untuk dibuka. Padahal, pekak ringtone dari ponsel sudah beberapa kali muncul sebagai penanda bahwa Kris harus segera bersiap pagi itu.
“Bangun, Kris ....” Suara Reva yang baru saja bangun tidur masih terdengar parau. “Kamu harus berangkat.”
Kris yang masih meringkuk di balik selimut tebal malah semakin memeluk istrinya dengan erat seperti pegulat yang sedang mengunci posisi lawan bertanding, sampai-sampai wanita itu mengerang kesakitan.
“Aaaahh ....” Reva mengaduh nyeri kala dekapan itu mengenai bagian bahunya yang lebam.
Mungkin niat Kris hanya ingin bergurau saja di pagi hari itu, sama sekali tak ada maksud menyakiti. Namun, saat ia melihat istrinya meringis remai, barulah ia tersadar akan ulahnya beberapa hari yang lalu.
“Sayang, memar kamu masih belum sembuh?” tanya Kris merasa bersalah begitu tampilan jejak-jejak kebiruan di tubuh Reva terlihat jelas olehnya di pagi yang terang.
Saat itu mereka masih sama-sama berbaring, dan Kris mulai membuka atasan piyama Reva dengan jajaran kancing di bagian depan. “Biar aku lihat, ya—”
“Nggak perlu.”
Reva segera bangkit untuk duduk di pinggiran kasur, dan kembali memasukan kancing teratas ke lubangnya yang tadi sempat dibuka oleh Kris. “Ayo, kamu harus cepat mandi.” Lirikan singkat tertuju kepada suaminya untuk mengingatkan bahwa ia memiliki pekerjaan besar pagi itu.
Tak langsung menurut, Kris memeluk Reva dari belakang, dan mulai menelusuri ceruk leher bagian kiri dari wanita itu dengan hidung mancungnya sampai tubuh mungil itu menggelinjang geli. “Maafin aku, ya, Sayang ....” desisnya lembut.
Reva yang merasa tak enak segera menghindar dan bangkit dari duduk, lalu ia membuka tirai dari jendela besar di kamar itu sampai puncak merapi yang masih tertutup oleh kabut terlihat oleh Kris di atas tempat tidurnya. Kemudian, ia mengambil handuk dan menyiapkan segala kebutuhan suaminya. Memilihkan pakaian terbaik dan parfum favorit, lalu menyimpan semua gadget pada tempatnya untuk turut dibawa suaminya itu pergi. Entah itu ponsel, kamera, drone, laptop, serta kabel-kabel yang ujungnya berbeda-beda bentuk. Semua sudah Reva rapikan di situ.
“Aku bikin sarapan sama bekal dulu, dan kamu harus mandi sekarang, ya. Bisa-bisa terlambat nanti.”
Tanpa mau menoleh, Reva segera meninggalkan Kris yang masih termenung memandanginya untuk menuju dapur di mana ia kembali berkutat dengan bahan makanan. Sebenarnya, kari ayam yang ia masak kemarin sama sekali tak tersentuh, karena Kris tak pulang dan Reva malas makan. Selain itu, ia juga menyiapkan buah potong dan sandwich untuk bekal.
Selesai dengan dapur, Reva mengganti sepatu Kris yang tampak berlumuran lumpur dengan sepasang sepatu tak bernoda yang baru saja dicucinya. Sepertinya seharian kemarin pria itu benar-benar berpetualang ke pedesaan, sampai-sampai alas kakinya itu kotor sekali.
Hanya dalam waktu singkat saja, semua persiapan sudah diselesaikan oleh Reva. Backpack besar berisi kebutuhan Kris untuk seharian itu diletakkan olehnya di kursi ruang tengah, tak lupa kotak makan, botol minum serta aksesoris lainnya seperti topi dan kacamata. Segalanya sudah benar-benar lengkap.
__ADS_1
Sementara Kris masih berada di dalam kamar mandi, pikiran Reva melayang ke kejadian beberapa tahun yang lalu, saat wanita itu terpaksa harus dilarikan ke IGD tengah malam karena robekan di pelipisnya cukup parah sampai tak berhenti mengeluarkan darah.
Kali pertama Kris melukai istrinya, sebenarnya itu bukanlah tindakan yang disengaja. Saat itu ia tengah mabuk berat, dan Reva terus merengek meminta penjelasan kepadanya mengapa hasil penjualan apartemennya tidak jadi dipakai untuk modal bisnis agrikultur sesuai kesepakatan di awal. Uang itu malah digunakan untuk keperluan proyek pribadi Kris, meskipun ia segera menggantinya kembali beberapa bulan kemudian dari hasil pendapatan proyek tersebut.
Sayangnya, argumen sudah terlanjur melebar ke mana-mana. Saat itu Kris menuding Reva tak suportif karena mempermasalahkan penggunaan dana bebas yang mereka miliki. Ia sedang sangat membutuhkan dana itu, dan menurutnya tak ada salahnya jika ia memakainya terlebih dahulu untuk keperluan yang lebih mendesak. Toh, pada akhirnya itu semua akan dikembalikan.
Tentu saja Reva membalas tudingan tersebut. Tak suportif? Tak suportif dari mana? Reva selalu menurut bahkan ketika hati kecilnya berkata tak setuju. Ia tak pernah membantah ataupun membela dirinya sekalipun ia merasa benar.
Sebenarnya, bukan soal uang yang Reva permasalahkan, tetapi ia juga menuntut dukungan yang setara dari Kris. Ia juga ingin didengarkan seperti sang suami. Ingin diberi kebebasan melakukan berbagai hal dan keleluasaan beropini.
Reva menginginkan sebuah keadilan. Sayangnya, yang ia dapatkan hanyalah pertengkaran sepanjang malam yang membahayakan nyawanya.
Saat itu Kris sedang berada di puncak emosi, dan kadar alkohol yang terlampau tinggi benar-benar menumpulkan kewarasannya. Mereka bertengkar di halaman belakang. Hujan turun dengan sangat deras, dan teras belakang yang berkontur menurun itu menjadi sangat licin. Karena sebuah dorongan dari suaminya, Reva terpeleset sampai pelipisnya membentur batu runcing di pinggiran kolam ikan. Robekan yang menganga itu sangat parah, sehingga memerlukan jahitan medis untuk bisa menutup kembali.
Sejak saat itu Reva menjadi semakin pendiam. Ia hanya berbicara ketika ditanya, dan tak pernah mau memberikan pendapat karena ia merasa sangat takut mendengar reaksi suaminya. Namun, hal itu justru membuat Kris semakin geram sampai berbulan-bulan kemudian. Setiap kali dirinya pulang ke rumah selepas bekerja, yang ia dapati adalah sikap dingin istrinya yang terus menerus mengunci mulut. Tak pernah ada kata-kata lagi keluar dari sana, pertanyaan pun hanya dijawab seperlunya saja.
Kris yang tak pernah lepas dari pengaruh alkohol menjadi gampang terpancing emosi. Kala itu ia sangat berang karena Reva tak antusias menanggapi hari anniversary mereka. Berbulan-bulan yang ia dengar hanya kata ‘ya’, ‘tidak’, dan ‘tidak tahu’. Reva bahkan tetap bungkam saat Kris membeli sebuah kue cantik untuk dinikmati berdua, dan itu sangat menyulut amarah pria itu sampai berapi-api.
Dengan setumpuk kekesalan dan rasa frustasi, Kris melempar sebuah botol kaca bekas wine tepat ke arah kepala Reva ketika mereka kembali bertengkar di malam anniversary itu. Reva yang sedang bersandar ke dinding masih dapat menghindar dan langsung menutupi wajahnya, tetapi pecahan yang berserakan dari beling itu tetap melukainya hingga beberapa bagian tubuhnya tergores. Botol kaca itu sangat tebal dan berat, dan Kris benar-benar melemparnya sekuat tenaga.
Pertengkaran yang terakhir terjadi belum lama, dan itu seketika dicurigai oleh Erin sebagai tindakan kekerasan. Memar di bahu dekat tulang belikat itu sangat kentara bahkan dari jauh sekalipun. Hempasan kuat yang diterima Reva ke kabinet dapur meninggalkan tapak biru di sana. Tak cukup sampai di situ, pria itu juga menyeretnya dengan kasar dan hendak membantingnya ke kasur. Namun, sialnya Reva malah terhuyung ke bawah dan lengannya menarung divan kayu.
Tanpa Erin sadari, penyebab masalah itu mungkin adalah dirinya sendiri. Erin yang melihat Kris sedang berada di Bandung untuk mengajar kelas seni terus-menerus menghubungi Reva melalui e-mail, karena Reva mengganti nomor ponselnya.
Reva memang tak pernah membalas, tetapi ia begitu ceroboh dengan membiarkan surel-surel tersebut menumpuk hingga berhari-hari. Sampai akhirnya semua sudah terlambat karena Kris datang lebih cepat dari perkiraan.
Tanpa basa-basi, begitu sampai dari Bandung, pria itu langsung memeriksa ponsel istrinya dengan saksama. Reva yang berusaha mempertahankan hak dan privacy-nya jelas kalah jika harus beradu kekuatan. Tak peduli seberapa kuat pun ia ingin melindungi ponselnya dari investigasi sang suami, ia tetap tak sanggup melawan.
Akhirnya, karena perebutan itu ponsel Reva terpelanting ke lantai hingga layarnya pecah, dan Kris yang berang menjadi tak terkontrol, lalu mendorong wanita itu ke ujung kabinet dapur.
Satu hal yang tak pernah Reva mengerti dari Kris adalah fakta bahwa suaminya itu juga merasa sangat tersiksa setiap kali mereka bertengkar. Setelah melihat Reva tersungkur tak berdaya, Kris akan ikut menangis tersedu-sedu bersamanya. Ia akan melukai dirinya sendiri seperti orang dengan gangguan jiwa. Bahkan, ia bisa sampai membenturkan kepalanya sendiri berkali-kali ke dinding, atau meninju-ninju lemari kayu kokoh hingga buku-buku jarinya terluka sampai berdarah.
__ADS_1
Setelah semua gelombang emosi itu berlalu, Kris akan kembali menjadi pribadi yang Reva sukai. Ia akan bersikap manis dan romantis seperti biasa, tanpa mau sedikit pun membahas pertengkaran yang baru saja terjadi. Kemudian, Reva akan kembali memaafkannya dan berharap semua akan segera membaik. Begitu saja terus dari awal mereka menikah. Sayangnya, kejadian buruk itu selalu terulang lagi dan lagi, seperti Kris terjebak dalam dua kepribadian yang jauh berbeda.
Entah apa yang ada di dalam isi kepalanya, tetapi Reva selalu merasa bahwa ia mengerti Kris dengan baik. Semakin Reva menelisik ke dalam sikap pria itu, semakin ia memahami bahwa Kris tak jauh berbeda dengannya. Pria itu begitu banyak mengalami kehilangan di masa kecil. Ia diabaikan dan merasa dibuang oleh orang tuanya sendiri, dan Reva sangat mengerti ketakutan berlebihan Kris akan kehilangan seseorang. Ia juga pernah mengalami hal serupa bertahun-tahun yang lalu bersama Rafael.
Melihat Kris, Reva seperti bercermin kepada dirinya sendiri. Ia seperti menyelami ke dasar jurang depresi, dan selalu menemukan Kris berada di sana, terjebak bersamanya untuk mengarungi sisa waktu di kehidupan. Meski terlahir dari kelam yang serupa, mereka tetap memiliki cara merespons yang berbeda atas kejamnya dunia. Di saat Kris menjadi sangat temperamen, Reva menjadi sangat pendiam. Itu sama sekali tak adil.
“Sarapan sama-sama, yuk?”
Ajakan Kris tiba-tiba membuyarkan lamunan Reva di pagi hari itu. Ternyata pria itu sudah selesai mandi. Sudah sangat bersih, wangi dan tampan.
“Boleh,” jawab Reva singkat dan mengikuti suaminya duduk di meja makan.
Nasi hangat dengan butter chicken curry sudah tersaji di sana, dan mereka menyantapnya bersama-sama.
“Aku bisa pulang larut malam kayak kemarin,” keluh Kris di tengah momen sarapannya. “Kamu nggak perlu tunggu aku, ya.”
“Iya.”
“Apa persediaan makanan hari ini cukup?”
“Iya.”
“Kalau gitu kamu nggak boleh keluar rumah, dan tolong jangan ketemu siapa pun di luar sepengetahuan aku. Jangan ke mana-mana."
“Iya, baiklah ....”
Tak lama setelah sarapan usai, Kris segera pergi untuk menyelesaikan pekerjaan beratnya hari itu, dan Reva hanya bisa berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Seperti biasa, setiap hari Reva menyempatkan diri untuk berada di taman. Pagi itu, ia ingin memeriksa daun-daun tanaman hias yang berpenyakit di halaman belakang, tetapi, ia terus mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Samar memang. Itu bukanlah jenis penggilan yang memekik, melainkan sebuah desisan dengan intonasi yang kuat. Meski merasa ketakutan, Reva tetap tergerak untuk menemukan sumber suara tersebut.
“EL!!!”
__ADS_1
Reva terperanjat saat menemukan seorang pria sedang menengadah ke arahnya di balik dinding sudut kiri taman belakangnya. Pria itu tersenyum. Entah sudah berapa lama ia berada di sana. Di satu-satunya sudut yang tak terjangkau kamera CCTV yang Reva sebut sebagai blind spot.
“Kamu ngapain di situ, El?!”