Under The Rain

Under The Rain
Bab 52—Semua Tak Sama


__ADS_3

Telapak yang terlihat membiru dan berkerut, serta gemelugut hebat di sekujur tubuh sudah pasti menjadi alasan Reva dan Rafael terpaksa menghentikan dansa mereka malam itu. Dua kamar mandi di rumah itu segera terisi, dan masing-masing dari mereka mulai membersihkan diri di bawah kucuran air hangat dari keran shower. Tak butuh waktu lama sampai keduanya kembali ke ruang tengah untuk menikmati secangkir cokelat hangat, dan setelah itu mereka harus segera mengucapkan selamat tinggal.


“Aku yakin Kris pulang sebentar lagi.” Sembari menggenggam secangkir cokelat cair untuk menghangatkan tangannya, Reva duduk menyandarkan kepalanya ke pundak Rafael. “Kamu harus cepat pulang, El.”


Rafael membalas merangkul bahu wanita itu dan memainkan jari-jarinya di rambut panjangnya yang masih basah. “Aku tahu, tapi besok aku akan datang lagi.” Sekali lagi kecupannya melandai di kening itu.


Reva menegakkan duduknya, kemudian menatap pria itu lekat-lekat. “Jangan, El. Udahlah, cukup satu kali aja kita begini. Aku sadar kita sama sekali nggak pantas ngelakuin ini.”


Dengan selimut tebal yang membalut tubuh-tubuh kedinginan di atas sofa empuk, mereka mulai bersiap untuk merelakan kebersamaan hangat berakhir untuk malam itu.


“Bahumu masih sakit? Apa dia pernah bawa kamu ke dokter?”


Tak mau pulang, Rafael segera mengalihkan pembicaraan. Manik hitam dari kedua matanya terus memandangi wanita itu di sela-sela tegukan cokelat panas.


“El ... aku udah bilang kalau aku akan baik-baik aja di sini, ‘kan? Kamu nggak perlu khawatir berlebihan.”


“Masa, sih? Berlebihan gimana? Berapa kali kamu meringis kesakitan hanya karena aku peluk? Kesenggol sedikit aja kamu teriak.”


Reva tak bisa berkata-kata. Memang lebam kali itu terasa menyiksa sekali. Sepertinya ada keretakan di tulang belikatnya, tetapi Reva tak tahu pasti. Ia memang belum memeriksakan dirinya ke dokter karena Kris sangat sibuk, dan dirinya tak dizinkan pergi seorang diri.


“Aku bawa kamu ke dokter, ya? Kalau dia nggak mau bertanggung jawab, biar aku aja. Aku nggak mau kalau kamu sampai kenapa-napa.”


“El—”


“Dulu aku pernah di posisi itu. Aku ngerti. Aku lari dari tanggung jawab dan dia bawa kamu pergi jauh. Aku cuma mau melakukan hal yang sama biar kamu mau balik lagi sama aku, Yi.”


“Balik sama kamu? Tapi masalahnya nggak sesederhana itu, El. Aku nggak bisa pergi begitu aja, kamu tahu itu.”

__ADS_1


“Terus mau sampai berapa memar dan jahitan lagi? Berapa lemparan botol wine lagi yang bisa kamu hindari? Berapa lama lagi kamu dikurung dirumah tanpa punya siapa-siapa?”


Desakan demi desakan memang akhirnya membuat Reva menceritakan semua perihal rumah tangganya kepada sahabat sejak kecilnya itu, terutama tentang bagaimana luka-luka itu bisa terpatri di sebuah paras cantik yang tak pernah menuntut macam-macam. Semakin Reva bercerita, semakin wajah Rafael memerah padam menahan amarah yang bergejolak. Ia tak habis pikir bagaimana seorang pria yang bertubuh jauh lebih besar dan kekar bisa-bisanya menyakiti seorang wanita sampai seperti itu. Apalagi, wanita mungil tersebut adalah istrinya sendiri.


Di sisi lain, hal itu membuat Rafael semakin tersadar bahwa ia telah terkena karma. Murka yang dirasakannya pasti sama seperti murka yang Kris rasakan kepada dirinya, kala lima belas tahun yang lalu ia meninggalkan wanita itu dan melarikan diri dari tanggung jawab. Rafael sadar bahwa ia juga telah menorehkan luka dan trauma yang sama. Ia akhirnya mengerti bahwa dirinya dan Kris tidaklah jauh berbeda.


Hal itulah yang membuat Rafael tak melawan saat Kris menghajarnya habis-habisan sampai membuatnya koma, karena ia mengerti arti dari setiap pukulan itu. Roda telah berputar. Rafael sudah berubah menjadi pihak yang ingin membalasnya berduel setiap ia melihat jejak lebam di tubuh dan wajah wanita yang sangat dicintainya.


Saat Rafael sibuk dengan lamunannya, Reva menyentuh pelipisnya sendiri. Di situ, luka memanjang bekas jahitan itu memang terlihat menonjol tipis. Letaknya di dekat garis rambut. Reva bisa menutupinya dengan poni, tetapi siapa pun dapat segera melihatnya ketika rambut itu tersibak.


“Kerasa, ‘kan? Dia sampai ninggalin luka berbekas di wajah kamu, Yi ....” Rafael menghentikan kalimatnya saat ia kembali teringat masa lalu, lalu menunduk dalam-dalam dan matanya mulai memerah. “Gara-gara aku ning—”


“Nggak usah dibahas lagi soal itu!” Reva segera memotong karena ia tak mau pria itu terus menerus merasa bersalah. “Tolong, El ... aku juga udah salah paham soal semuanya.”


“Makanya kamu pulang, ikut aku sekarang!” Rafael menggenggam kedua tangan itu dan meremasnya dengan kuat. “Aku benar-benar khawatir ninggalin kamu di sini. Kamu nggak punya siapa-siapa. Gimana kalau dia mabuk lagi dan terjadi sesuatu yang buruk sama kamu?”


Koneksi batin di antara mereka kadang membuat Rafael lupa bahwa wanita di hadapannya saat itu sudah sah menjadi milik orang lain. Lupa bahwa kenangan di memorinya hanya sebatas masa lalu, dan semuanya sudah berubah. Seberapa pun Rafael ingin memeluknya saat itu, ingin mendekapnya erat dan terlelap bersama sampai mentari datang esok pagi, ia tak bisa melakukannya.


Banyak hal yang telah terjadi selama lima belas tahun mereka berpisah, dan yang pernah menjadi milik Rafael sudah bukan miliknya lagi. Yang pernah menjadi bagian darinya sudah menjadi bagian dari orang lain juga. Namun, bagaimana pria itu bisa merelakannya pergi, saat ia tahu bahwa pujaan hatinya sedang sangat tersiksa dan sama sekali tak bahagia?


“Aku bisa pergi malam ini ...,” desis Rafael pasrah. Tak mungkin juga ia memaksakan kehendaknya. “Tapi, aku akan tunggu di balik dinding belakang sampai suami kamu datang. Aku harus yakin kalau dia datang dalam keadaan waras.”


Reva membelalak tak percaya atas apa yang baru saja pria itu katakan. Menurutnya itu sangatlah tidak waras dan membahayakan. “Kamu mau nunggu di kebon? Tengah malam begini?” protesnya tak setuju.


“Memang kenapa?”


“Kamu ... nggak takut hantu?”

__ADS_1


“Aku lebih takut suamimu mabuk-mabukan dan bikin istrinya dalam bahaya.”


“Terus, apa yang mau kamu lakuin di sana? Banyak nyamuk, lho! Dingin ... gelap ....”


“Gini deh, Yi ....” Rafael menyerahkan dua buah benda berbentuk silinder yang ukurannya kira-kira sebesar satu batang rokok. “Pegang ini,” titahnya kepada Reva.


“Apa ini? Laser?” Wanita itu bisa menebak dengan tepat. “Buat apa laser?”


“Kalau memang nggak ada apa-apa, tembakin laser yang hijau ke udara, dan aku bakal pulang dengan tenang,” jelas Rafael sembari menekan tombol laser hijau sampai benda itu mengeluarkan sebuah garis cahaya yang sangat terang.


“Iya, ak—”


“Tapi, kalau sampai kamu kenapa-kenapa, tembak laser yang merah, dan aku akan panjat pagar lagi buat masuk ke sini.”


Reva hanya menggeleng tak menyangka bahwa pria aneh itu benar-benar melakukan hal yang akan membuat mereka dalam bahaya. Namun, akhirnya ia menurut juga dengan mengambil dua benda silinder kecil itu dan segera mengamankannya di dalam saku celana.


Hanya berselang beberapa menit sejak Rafael berhasil melompat pagar belakang, Kris tiba di rumah. Jantung Reva mulai berdegup sangat kencang saat melihat sosok itu turun dari mobil. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reva merasa telah berkhianat sangat fatal. Rasa bersalah membuat nafasnya kian memburu, dan lengannya bergetar hebat dengan keringat dingin yang mulai membasahi pori-pori.


Kris melangkah masuk ke dalam rumah dan memperhatikan istrinya seperti habis melihat hantu. “Kamu kenapa?”


"Ng-nggak ... nggak ada apa-apa," jawab Reva yang segera menjaga sikapnya. "Kamu ... baru pulang jam segini lagi? Gimana tadi?"


Sebelum bisa menjawab pertanyaan istrinya, tubuh Kris sudah terhuyung lemas dan ia menghempaskan diri ke atas sofa. Bau alkohol yang menyengat kembali terkuar dari mulutnya saat Reva membantunya untuk berbaring. Matanya tampak memerah dengan wajah pucat.


"Kamu mabuknya parah sekali, Kris. Ada apa?" Dengan susah payah Reva berusaha merebahkan tubuh lemas suami pemabuknya itu. Perlahan membantu membukakan sepatu dan jaket kulitnya yang tebal. "Kenapa kamu selalu seperti ini sama alkohol? Apa kamu akan hidup kayak gini terus?"


Kris tak menjawab, tetapi ia mulai mencengkeram lengan Reva dengan sangat erat. Sorot matanya berubah tajam ketika ia merasakan sesuatu yang janggal. "Rambut kamu basah, Va?" racaunya sedikit membentak. "Kenapa rambut kamu basah? Apa kamu baru mandi jam segini?"

__ADS_1


Reva terkesiap menahan sakit pada cengkeraman di lengannya, tetapi ia hanya bisa bungkam seribu bahasa. Perlahan, satu tangannya yang terbebas dari genggaman kencang Kris mulai merogoh saku celana. Laser merah ... Laser merah ....


__ADS_2