
Sebuah mobil hatchback terparkir di bawah kokohnya pohon trembesi di salah satu sudut pasar di Sleman. Kedua pintu depan mobil itu terbuka, sepertinya mesinnya sengaja dimatikan. Dua orang pria terlihat sedang berbincang di dalam situ, saling bergurau dan bertukar kelakar.
Erin menggandeng lengan Reva berjalan menuju mobil itu. Sebuah kejutan, katanya, tetapi Reva sudah tahu apa yang akan sahabatnya itu tunjukkan, sehingga itu bukan merupakan kejutan lagi. Tak apa, ia sama sekali tak membutuhkan kejutan saat itu. Yang ia butuhkan adalah sebuah validasi rasa yang telah lama terpendam. Sebuah pengakuan dan penerimaan.
Meskipun kedua kakinya terasa gemetar, Reva berusaha melangkah tenang. Apa yang akan ia lihat sebentar lagi mungkin akan menyayat hatinya, tetapi Reva sudah sangat siap. Biar bagaimanapun, ada rindu yang sudah tak tertahankan. Ada asa yang tak bisa lagi dibendung. Bertahun-tahun ia memungkiri hal yang tak mungkin dihindari, tetapi cukup adalah cukup. Hari itu, akhirnya sebuah kesempatan istimewa datang kepadanya, dan ia tak akan menyia-nyiakan hal itu.
Sosok Reva yang sedang berjalan tertangkap oleh Rafael yang masih duduk di dalam jok penumpang di baris depan. Di sebelahnya, Adji duduk di balik kemudi, dan si kecil Ayesha sedang bermain puzzle di baris belakang. Ternyata saat keluarga Erin berangkat ke Yogyakarta untuk berlibur, Rafael juga ikut bersama mereka.
“Siap, Bro?” tanya Adji menggoda sobatnya.
Rafael hanya terus memandangi wanita yang tengah menghampirinya tanpa mau berkedip, lalu ia keluar dan berdiri untuk menyambutnya. Saat itu ia sudah terlihat jauh lebih segar. Gelak tawanya juga terdengar normal di sela-sela perbincangannya dengan Adji tadi.
Dua jiwa yang telah lama saling mengenal dan memahami akhirnya bertemu kembali. Mereka sudah berada dalam jarak yang cukup dekat untuk saling menatap satu sama lain dengan intens.
“Halo, Yi,” sapa Rafael saat wanita itu tepat berada di hadapannya. Untuk sekadar tersenyum pun ia tak mampu. Jantungnya berdebar sangat kencang ketika paras yang dirindukan itu berada tak lebih dari satu meter darinya.
“H-halo, El ... a-apa kabar?”
Erin dan Adji segera sadar bahwa mereka harus memberikan sedikit ruang untuk reuni emosional milik dua hati itu. Dengan inisiatif serta kesadaran dan pengertian, akhirnya mereka memohon izin untuk meninggalkan tempat itu, berjalan kaki ke sebuah sentra pengrajin tanah liat yang letaknya tak jauh dari pasar.
Tinggallah Reva dan Rafael berdua di antara desir angin yang membelai dedaunan rindang yang menaungi mereka. Pojok tempat mereka berada memang bukan tempat yang ramai. Letaknya jauh di belakang jalan utama dari pasar itu, meskipun tetap saja ada orang berlalu lalang. Untuk itu, mereka lebih memilih duduk berduaan di jok belakang.
“Aku ... aku mau minta maaf sama kamu, Yi. Perbuatan aku jauh dari kata jantan saat ninggalin kamu. Aku ... aku terlalu takut waktu itu.”
“Nadia udah jelasin semuanya. Mau gimana lagi. Kita masih anak-anak.”
“Sebenarnya itu nggak bisa jadi alasan atas kesalahan aku ke kamu. Harusnya aku bertanggung jawab, ha—”
“Udahlah, El. Semua udah berlalu.”
Rafael memandangi paras wanita itu lekat-lekat. Ada beberapa jejak luka di sana, entah itu luka bekas sobekan atau memar. Entah itu luka lama atau baru. Bukan hanya wajahnya, bahu dan di sekitaran tulang belikatnya juga tampak kebiruan.
__ADS_1
Dalam keheningan di pagi yang mendung, dua insan itu saling mencurahkan rindu di sebuah kendaraan roda empat yang jendelanya sedikit terbuka di keempat pintu agar angin tetap masuk. Rafael mulai membelai halus pipi wanita itu dengan jari-jemarinya, menatapnya penuh kasih.
“Aku masih boleh peluk kamu?”
“Tapi ... aku ... aku sudah menikah ... aku sekarang milik orang lain, El.”
Sudah pasti jawaban seperti itu terlontar dari mulut Reva. Wanita itu tak pernah main-main jika sudah berhadapan dengan komitmen, meskipun hatinya entah berada di mana.
“Kenapa kamu lakukan kesalahan itu? Kamu tahu akhirnya kayak gimana, ‘kan?"
Reva tak bisa menjawab. Ia tak pernah bisa menjawab pertanyaan itu dengan sederhana. Tidak untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. Pernikahan itu dilandasi oleh perpaduan dari hal-hal yang sangat rumit. Janji itu berada di antara benci, dendam, kekosongan jiwa dan keinginan berbalas budi. Ikrar itu ada di antara perasaan ingin melarikan diri sekaligus ingin mencari tempat berteduh. Hanya satu saja hal yang tak terdapat dalam janji itu, dan itu adalah cinta. Tak ada cinta sama sekali di sana.
“Kamu bahagia?”
Lagi-lagi pertanyaan sulit dari Rafael. Bagaimana wanita itu bisa menjelaskan bahwa di satu sisi hatinya terasa sangat hampa, dan di sisi lain, dadanya selalu sesak oleh berbagai emosi. Reva bisa merasakan semuanya kecuali satu hal; kebahagiaan.
“Apa kamu pikir, kamu akan hidup selamanya kayak gini?”
Reva menelungkupkan kedua tangannya di wajah yang sudah lebam di beberapa sudut. Sepertinya ia sudah tak kuat lagi menahan rasa. Rasa bertemu dengan cinta pertama dan satu-satunya setelah sekian purnama. Setiap kali Reva ingin menggenggam dan memeluk pria itu, janji suci dalam pernikahannya terngiang di telinga. Kemudian, bayi itu ... bayi berlumuran darah tak bernyawa yang berada di dalam dekapannya belasan tahun yang lalu. Reva sungguh belum bisa melupakan semuanya.
“Sayang ... aku nggak bisa lihat kamu terus-terusan begini. Tolong bilang, apa yang bisa aku lakukan biar kamu ngerasa lebih baik?”
“Andai kita nggak melakukan itu, andai kamu nggak pergi, andai keluarga kita nggak bertengkar ... andai Nadia nggak pernah hadir di antara kita ....”
Reva mulai tak bisa mengendalikan dirinya dan merasa sangat terguncang mengingat hal-hal di waktu silam. Lagi-lagi, ada terlalu banyak “andai” yang seharusnya tak terjadi, yang sampai membuat hidupnya menderita seperti itu. Memori di kepala Reva tak pernah berhenti mengekangnya dari jerat masa lalu. Ia mengalami Post Traumatic Stress Disorder yang masih menggelayuti, bahkan dengan tahunan terapi dan konsumsi obat-obatan.
“Andai kita nggak pernah ketemu, El ....”
Kata-kata terakhir Reva membuat Rafael tertegun. Tidak. Rafael tak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya jika wanita itu tak ada untuk menemaninya dalam setiap fase kehidupan. Sahabat masa kecilnya itu selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik, dan Rafael tahu bahwa tak ada yang dapat membuatnya utuh selain kehadiran wanita itu di sisinya.
Reva Riany Anandita. Rafael tak akan pernah sama tanpa adanya wanita istimewa itu di dalam hidupnya. Saat Rafael masih kecil, ia hanya bisa berceloteh menyebut nama “Yiyi”, di mana pun dan kapan pun. Nama panggilan kesayangannya itu tak berubah sampai ia dewasa. Ia bahkan marah ketika ada orang lain yang memanggilnya seperti itu, karena sapaan itu hanya miliknya seorang.
__ADS_1
“Aku bikin semuanya berantakan, Yi, maafin aku ....” Rafael meraih kedua tangan Reva yang masih menelungkup di wajah, lalu menggenggamnya dengan erat. “Hanya karena aku pengecut, aku sampai bikin kamu mengalami itu semua.”
“Aku nggak bisa ngomongin itu sekarang ... aku nggak kuat ....”
Rafael mengusap bulir-bulir air mata yang meluruh dari kedua sudut mata itu, yang mulai membasahi wajah pucat Reva. Mata itu sangat indah, tetapi kilatan ketakutan tak pernah pergi dari sana. Kedua maniknya selalu tampak berkaca-kaca, dan kelopak sayunya seperti tak sanggup menjaga mata-mata itu dari bayangan trauma yang selalu menghantui. Kantung matanya juga terlihat hitam, entah seberapa lama ia terjaga setiap malam karena suara-suara di kepalanya terus saja mengganggunya.
Rafael berjanji bahwa ia sendiri yang akan menyembuhkan luka batin itu. Ia sadar bahwa ia bertanggung jawab atas semuanya.
“Yi ... soal anak kita—”
“Please! Please ... nggak usah bahas itu ... tolong jangan pernah bahas itu lagi ....”
“Dia bantu aku jadi lebih baik, Yi. Hampir setiap hari aku datang ke sana. Latihan jalan kaki, dan aku terus bicara sama dia ....”
Saat itu giliran Rafael yang merasakan panas di dadanya. Semua kata-kata yang sudah tersusun rapi sejak kemarin mendadak buyar. Semua hal yang hendak disampaikan kepada wanita itu tercekat di tenggorokan. Suaranya mulai terdengar parau, dan ceruk mata dekat batang hidungnya menjadi terasa sangat nyeri. Ia benar-benar perlu mengatur nafas untuk tetap berbicara kepada Reva di tengah badai duka itu.
Beberapa minggu sebelum Rafael memutuskan untuk ikut bertandang ke Yogyakarta, akhirnya Wina mamberikan buku diary itu, karena putranya terus-terusan bertanya soal keberadaan Reva. Sungguh, isi di dalam buku catatan itu benar-benar membuat Rafael menjadi gila. Ia mengurung dirinya di kamar berhari-hari, tak mau makan apalagi berinteraksi dengan orang lain. Hingga akhirnya pria itu terpaksa dirawat kembali di rumah sakit sampai seminggu kemudian. Saat kondisinya membaik, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari makam mendiang putra sulungnya. Sejak saat itu, setiap hari ia berkunjung ke sana untuk sekadar menangis selama berjam-jam.
“Yi ....” Rafael melanjutkan curahan hatinya. “Kalau aku harus berandai-andai kayak kamu, ‘andai’ aku cuma ada satu," jelasnya. "Andai waktu bisa diputar kembali, nggak ada lagi yang aku mau selain hidup sama kalian berdua, kamu dan anak kita ....”
“Terlambat, El! Kamu datangnya terlambat sekali ....”
“Aku tahu, Yi ... makannya aku nggak suka berandai-andai, karena itu menyakitkan. Itu nggak akan pernah terjadi. Aku cuma mau memperbaiki semuanya.”
“Nggak bisa ....”
“Cara apa pun! Apa pun! Kamu pikir cuma Kris yang bisa ngelakuin itu? Aku nggak keberatan duel sama dia sekali lagi untuk buktiin semuanya ke kamu! Aku bisa, Yi ....”
Rafael benar-benar tak peduli jika pembuktian terakhir itu mungkin akan merenggut nyawanya. Ia sungguh bertekad tak akan pulang ke Bandung dengan tangan kosong. Kondisi Reva sudah sangat memprihatinkan. Wanita itu harus pulang bersamanya atau ia mati di kota kelahiran ayahnya itu.
Pramudya Darsono—ayahanda tercinta dari Rafael Arvian Darsono—merupakan putra daerah asli Yogyakarta, dan ia memiliki banyak koneksi. Rafael pasti bisa menemukan sebuah cara untuk melumpuhkan Kris di sana. Demi Reva. Apa pun akan ia lakukan untuk wanita itu.
__ADS_1