Under The Rain

Under The Rain
Bab 18—Melindungi dan Dilindungi


__ADS_3

Pukul 09.00 pagi merupakan sesi jam besuk yang pertama di sebuah rumah sakit swasta tempat Reva menjalani perawatan pasca operasi pada ovariumnya. Saat itu, dirinya masih terbaring lemah dengan selang infus terhubung ke urat nadinya. Perutnya terasa sangat kembung dan ia sama sekali tak berselera makan.


Erin dan Adji berjalan terburu-buru untuk menjenguk Reva, setelah menitipkan buah hati mereka sejenak di kediaman orangtua Erin. Tentu saja karena mereka tak mau membawa balita mungil tersebut ke rumah sakit di mana pasien-pasien dengan berbagai penyakit sedang dirawat inap.


Saat itu, asuransi yang dipilih oleh Reva mengizinkannya menempati sebuah ruangan Kelas 1 di mana dua orang pasien di rawat di dalamnya. Tak menunggu lama, Erin segera datang melongok setelah Reva memberinya kabar bahwa ia sedang sakit.


“Astaga, Va, aku nggak nyangka kamu bisa sakit begini. Dulu, kamu sama sekali nggak pernah bolos sekolah. Nggak pernah sakit. Kamu kuat banget,” ungkap Erin tak percaya melihat sahabatnya baru saja menjalani sebuah operasi yang menurutnya mengerikan itu.


Reva hanya tersenyum lemah karena bekas jahitan masih terasa sangat menyakitkan baginya.


“Jadi, kamu sejak kapan punya kista? Sebagai perempuan, aku jadi cemas, lho. Mungkin aku bisa belajar dari kamu.”


Sejak kapan? Untuk menjelaskan kepada Erin tentang hal itu, mau tak mau Reva harus menceritakan kisahnya bersama Rafael. Namun, ia masih saja enggan melakukan hal itu. Dirinya sedang merasa tak memiliki kekuatan, dan membahas masa lalunya hanya akan memperburuk keadaan. Ia akan menjadi sangat emosional dan itu malah akan membuat proses penyembuhannya menjadi semakin lamban.


“Pokoknya, Rin, kamu jaga kesehatan, ya. Istirahat yang cukup, makan sehat sama olahraga. Pola hidupku berantakan, makanya bisa begini.”


Hanya itu jawaban yang bisa Reva berikan, meskipun ia tahu bahwa Erin pasti merasa tak puas.


“Tapi, selama sekolah kamu nggak pernah mengalami menstruasi yang aneh-aneh, deh. Kista nggak muncul tiba-tiba, dong?”


Yah, Reva tahu bahwa Erin tak akan tahan tinggal diam dan terus menyelidiki. Suatu saat nanti mungkin ia akan kehabisan alasan untuk menghindar dari interogasi wanita cerewet di hadapannya itu.


“Rin, banyak, lho, yang gejalanya nggak terdeteksi. Coba kamu cek internet, deh. Bisa, kok, kista berkembang saat kamu udah dewasa.”


“Iya, aku tahu, Va. Masalahnya, aku itu khawatir. Aku mau tahu sebenarnya kamu sakit apa. Aku pengen lebih aware sama kondisi kamu, jadi aku bisa bantu.”


“Iya, Rin, makasih. Dokternya bilang, setelah operasi yang terakhir ini, mudah-mudahan dia nggak tumbuh lagi. Soalnya udah bener-bener bersih.”


“Iya, Va, semoga kamu sehat selalu, ya. Mulai sekarang, aku kirimnya makanan sehat, deh. Kurang-kurangin seblak sama baso aci, yes?”

__ADS_1


Begitulah, meskipun kepo-nya terkadang kelewat batas, Erin sebenarnya orang yang sangat perhatian dan peduli. Ia benar-benar tulus ingin membantu. Di sisi lain, Erin juga berpendapat bahwa orang seperti Reva itu memang perlu didesak untuk membuka mulut. Karena jika tidak, ia tak akan bisa mendapatkan informasi apa-apa untuk menolongnya.


Jam besuk di pagi itu benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal oleh Erin dan Adji. Mereka sampai berniat tak akan beranjak sebelum perawat datang dan mengusir keduanya. Saat itu, Kris kebetulan harus pergi untuk mengurusi bisnis posternya. Sehingga memang tepat sekali waktu kedatangan Erin ke sana.


Untuk beberapa saat, mereka hanya mengobrol santai dengan sesekali flashback ke berbagai kekonyolan di masa lalu. Adji yang sangat humoris memang tak pernah gagal membuat Reva tertawa. Selalu seperti itu sejak dahulu. Si komedian pelipur lara, begitulah Reva memandang Adji. Sampai akhirnya, obrolan mulai merembet ke masalah perkerjaan. Lalu, Reva tergelitik untuk memastikan sesuatu yang sudah mengganggu ketenangannya sampai membuatnya stress.


“Dji, aku mau tanya, deh ...” ujar Reva sebelum mereka berpisah di hari itu, “maksudnya apa, sih, kalian sampai bisa rekanan sama Kris?”


Reva memang tak tahan ingin bertanya tentang pekerjaan baru kekasihnya yang melibatkan Rafael sejak beberapa minggu yang lalu. Namun, ia urung karena kondisi kesehatannya yang kian menurun sejak saat itu. Karena kesibukan masing-masing, ia dan Adji juga baru kali itu bertemu kembali di rumah sakit.


“Va, jujur, ya, saya nggak tahu apa-apa, lho ....” jawab Adji dengan hati-hati. “Waktu itu si Arap tiba-tiba ngajak meeting. Saya juga nggak nyangka kalau ternyata yang datang itu kamu sama pacarmu.”


Hah? Reva pikir itu sangat aneh, jika Adji saja sampai tak tahu bagaimana awal mulanya kerja sama itu bisa terjalin. Artinya, bahkan Rafael bisa-bisanya menyembunyikan sesuatu dari orang yang sangat ia percayai.


“Aku pikir aneh aja, bisa kebetulan banget gitu.”


“Santai aja, Va. Mereka itu dua orang profesional yang udah dewasa, nggak ada salahnya kerja bareng, ‘kan? Apa yang kamu takutin?”


Reva jadi merasa gemas sekaligus sangat khawatir. Rafael tak tahu apa yang akan menimpanya jika masa lalunya itu sampai terbongkar oleh Kris. Ia tak tahu seberapa besar bahaya yang tengah mengintainya karena kecerobohannya itu. Kerja sama? Itu lebih terdengar seperti Rafael sedang menggali kuburannya sendiri!


Setelah dipikir-pikir, perilaku Rafael pada meeting pertama itu memang aneh. Pertama, ia memilih sebuah cafe di Dago Utara, yang selalu Reva ingin kunjungi sejak dahulu. Kemudian, ia memesan spot di area outdoor, yang tentu saja sangat Reva sukai. Ia juga mentraktir semuanya dengan cheesecake dan thai tea, dan ia tahu persis bahwa itu merupakan favorit Reva. Astaga! Reva baru saja menyadari hal-hal itu. Bahwa setiap hal kecil yang Rafael lakukan saat itu berhubungan dengan dirinya.


***


“Jadi Reva sakit apa, Rin?” tanya Rafael di ujung telepon sesaat setelah Erin meninggalkan rumah sakit.


Erin yang tengah berada di sebuah city car sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya dan terjebak dalam kemacetan Kota Bandung. “Kista. Habis operasi.”


“Hah? Parah, nggak? Apa sebabnya? Gimana keadaannya sekarang? Apa dia bisa jalan? Masih pucat, ya? Siapa yang nungguin dia di situ? Apa kata dokternya? Bukan kanker, ‘kan, Rin!!!”

__ADS_1


“WOY!!! Yang bener aja, dong! Satu-satu pertanyaannya.”


“JAWAB, RIN!!!”


“Panik kamu, ya?”


“JAWAB, RIN!!! Jangan bertele-tele!”


Kemudian Erin menjelaskan panjang lebar tentang kondisi Reva yang baru saja ditemuinya. Meskipun ia sudah berusaha untuk meyakinkan Rafael bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pria itu tetap merasa perlu berpanik-ria.


"Kamu jangan ngajak dia jajan mulu, Rin! Kamu masih yoga sama pilates, 'kan? Ajakin dia juga, biar dia lebih rajin olahraga. Terus, ingetin dia jangan begadang mulu! Kadang-kadang, dini hari lampunya masih nyala. Suruh dia tidur!"


“Heh!!! Elo punya mulut, ‘kan? Ngomong sendiri apa susahnya, sih?!”


***


Kista? Kista? Dari mana itu berasal?


Rafael adalah seorang pria yang belum benar-benar memahami tentang asal-usul bagaimana sebuah kista dapat muncul di dalam ovarium wanita. Ia hanya pernah mendengar selentingan bahwa kista dapat menyebabkan kanker jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, tadi ia merasa sangat cemas dan panik setengah mati. Akhirnya, setelah Erin jelaskan, ia mengerti bahwa tak semua kista akan berakhir menjadi kanker ganas yang mematikan.


Seperti biasa, Kaia dan Nadia sudah jauh terbawa ke alam mimpi saat itu. Sedangkan, Rafael jadi merasa lebih suka tidur di sofa karena Kaia sudah mulai beranjak besar, sehingga kasur mereka terasa sempit. Rafael sungguh tak bisa tidur nyenyak saat mendengar kabar bahwa Reva telah dilarikan ke rumah sakit. Sesaat kemudian, ia segera mempelajari berbagai artikel di internet tentang penyakit yang baru saja membuat Reva sampai harus menjalani pembedahan di bagian perut bawahnya.


Lama berselancar dari satu halaman ke halaman lain, Rafael mulai memahami seluk-beluk rahim wanita dan segala bentuk permasalahan di dalamnya. Di situ disebutkan bahwa kista dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Dan Rafael benar-benar mempelajarinya satu per satu.


Siklus menstruasi yang bermasalah. Pertumbuhan sel yang abnormal. Konsumsi obat penekan hormon. Infeksi pada panggul. Faktor genetik. Kehamilan ...


Kehamilan?


Tunggu dulu ...

__ADS_1


Kehamilan?


Astaga!


__ADS_2