Under The Rain

Under The Rain
Bab 46—Burung di Sangkar Emas


__ADS_3

Tak banyak yang dapat dilakukan oleh Reva meskipun Kris kerap kali meninggalkannya ke luar kota untuk bekerja. Saat itu saja ia harus berjalan tertatih karena nyeri di pergelangan kaki bawahnya tak kunjung hilang. Untung saja, di rumahnya ia memiliki segudang pekerjaan untuk dilakukan, seperti mengurus berbagai macam tanaman yang sungguh menyita waktu.


Reva juga sedang sangat suka memasak dan mencoba resep-resep baru, meskipun itu hanya untuk dirinya sendiri. Di daerah tempat tinggalnya itu banyak sekali produsen pangan, seperti sayur-mayur dan juga susu murni. Reva bahkan sudah bisa membuat keju sendiri dari susu sapi segar yang ia dapatkan langsung dari peternak. Entah sudah berapa cheesecake yang ia hasilkan dari keju home-made hasil kreasinya sendiri.


Reva mulai bisa menerima kenyataan bahwa hidupnya memang akan berjalan seperti itu. Ia lelah memberontak, apalagi lari dari kenyataan. Ia hanya bisa bersyukur atas apa yang telah suaminya itu berikan kepadanya, daripada terus mengeluh dan mencari yang tak mungkin ia dapatkan. Bagi Reva, yang penting ia masih bisa menulis, dan Kris memberikan hak itu kepadanya.


Pagi itu, seperti biasa Reva pergi ke pasar. Ia membutuhkan berbagai rempah untuk membuat kuah kari yang tak seberapa banyak. Jika masih ada sisa, Reva akan memberikannya kepada beberapa teman baru, baik pedagang yang ada di pasar ataupun tetangga yang ia kenal.


Salah satu tetangga terdekat Reva adalah sepasang sepuh di usia senja. Mereka menjual kayu bakar dan arang untuk bertahan hidup. Di Yogyakarta, kedua produk itu memang masih banyak dicari, terutama oleh para pedagang yang memasak menggunakan anglo untuk menjaga citarasa masakan mereka. Mbah Karmin dan mbah Janti, adalah teman pertama Reva semenjak ia pindah ke Sleman hampir empat tahun yang lalu, dan Reva rutin mengirim masakan buatannya ke rumah mereka.


Seseorang menarik lengan Reva saat wanita itu hendak pulang ke rumahnya dengan menggunakan jasa ojek online. Di salah satu sudut pasar yang tak terlalu ramai, Erin yang sebenarnya belum kembali ke Bandung sejak dua hari yang lalu sudah menunggu.


“Rin ... kamu—”


“Aku tahu Kris lagi nggak ada di rumah. Aku lewat depan rumahmu tadi. Dia keluar, ‘kan? Dan aku ikutin kamu sampai ke sini."


“Cuma ke pusat kota, ada perkerjaan. Kamu masih di sini?”


“Besok long weekend, Ayesha dan Adji aku pinta datang ke sini kemarin, sekalian kita mau liburan. Dan aku perlu ngobrol sama kamu, Va.”


“Dan Nadia?”


“Dia pulang sendiri, karena pernikahannya cuma tinggal hitungan minggu.”


“Di mana Ayesha? Pasti dia udah bes—”


“Aku ke sini bukan buat ngomongin Nadia atau anakku. Bisa kita duduk sama-sama? Kamu sudah sarapan?”


“Belum, Rin ....”


Erin segera menarik lengan Reva yang masih terlihat kebiruan dan membantu membawakan tas belanjanya yang terbuat dari anyaman bambu. Mereka menuju ke sebuah kedai bubur gerobakan sederhana yang terletak di bawah sebuah pohon besar. Pedagang bubur tersebut sedang disibukkan oleh beberapa pelanggan, sehingga Erin dan Reva memilih meja paling ujung yang relatif sepi untuk berbincang.


Semangkuk bubur panas yang terlihat begitu menggugah selera sudah tiba di sebuah meja kecil yang hanya ditempati oleh Reva dan Erin. Entah sudah berapa lama mereka tak makan bersama seperti itu. Terlalu banyak tragedi dan perpisahan di tahun-tahun terakhir sampai akhirnya mereka berjumpa kembali.


“Lebam kamu baikan, Va?” Tanpa basa-basi, Erin langsung saja menyinggung topik yang sudah membuatnya tak tenang sejak beberapa hari yang lalu. “Jadi aku benar, ‘kan, itu hasil KDRT? Apa yang udah dia lakukan ke kamu?”


Rasanya tak nyaman sekali. Hari masih terlalu pagi dan Reva sudah dipaksa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat mood-nya rusak. Bagaimana pula ia akan bercerita kepada sahabatnya bahwa suaminya sedang mabuk berat saat itu, dan mereka bertengkar hebat. Kris kehilangan kendali atas dirinya, dan ia mulai menjadi sangat kasar sampai melukai fisik. Namun, setelahnya pria itu terlihat sangat menyesal.

__ADS_1


“Rin ... itu nggak seperti yang kamu pikir. Itu cuma kecelakaan kecil,” kilah Reva meyakinkan sahabatnya.


“Kecelakaan kecil sampai menimbulkan banyak luka begitu? Ayolah, kita sama-sama tahu kalau Kris memang punya kecenderungan jadi kasar kayak gitu.”


“Terus aku harus gimana, Rin?”


“Jangan dibelain terus, lah! Lama-lama dia itu kayak kriminal. Kalau bukan karena kamu, harusnya sekarang dia udah ada di penjara!”


“Hah? M—maksud kamu?”


“Apa kamu tahu apa yang terjadi sama El di hari kamu pindah ke tempat Bi Uma?”


Dengan sangat terpaksa, Erin menceritakan kisah itu dalam versi lengkap, selengkap mungkin seperti pasal-pasal hukum dalam kasus kriminal seseorang. Tak peduli jika hal itu sampai membuat Reva menangis seketika. Saat wanita itu akhirnya mengetahui tentang koma yang hampir membuat Rafael-nya meregang nyawa, dan juga tentang bertahun-tahun terapi kemudian yang hampir membuat pria itu kehilangan seluruh kemampuan motoriknya.


“Tapi kamu nggak perlu merasa bersalah, Va ....” Erin menggenggam kedua tangan sahabatnya itu dengan erat, dan berusaha tetap menguatkannya di tengah pilu yang sedang ia rasakan. “Kamu tahu, Nadia bilang kalau saat itu El juga nggak melawan. Dia seperti udah siap. Dia mau menebus semua kesalahannya sama kamu.”


“Apa ... d-dia baik-baik aja, Rin?” Parau terdengar suara Reva di sela-sela isak tangisnya, berharap ia tak pernah meninggalkan pria itu saat Kris menariknya pergi ke luar dari apartemen.


“Kondisinya jauh lebih baik sekarang. Dia udah bisa komunikasi sama kita semua, meskipun terbata-bata dan masih sering lupa. Setidaknya, dia bisa jalan walau cuma beberapa langkah.”


“Astaga, Rin ... aku nggak nyangka banget. Ini semua salahku ....”


“Rin ... kayaknya semua udah terlambat. Aku udah terlanjur menikah, dan kamu tahu Kris itu aslinya kayak gimana.”


“Dan kamu bahagia sama pernikahan itu, Va?”


“Ini bukan masalah bahagia atau nggak. Tapi ada komitmen yang harus aku jaga, ‘kan? Aku udah janji.”


“Yang lebih penting dari komitmen itu adalah keselamatan diri kamu sendiri!”


“Tapi kamu nggak ngerti ... kalau nggak ada Kr—”


“Kamu terus-terusan menyakinkan diri kamu sendiri tentang itu, Va! Kalau nggak ada Kris begini, kalau nggak ada Kris begitu ....”


“Tapi itu memang benar, Rin. Dia kasih apa pun yang aku mau, dia memperjuangkan aku banget tanpa pernah berpaling satu kali pun. Di mana kamu bisa dapat laki-laki setia zaman sekarang?”


“Kamu tahu apa harga dari kesetiaan dan perjuangan Kris? Itu adalah kebebasan kamu sendiri! Ya, dia memang setia dan royal, tapi kamu benar-benar dikurung dan dikendalikan!”

__ADS_1


“Menurutku, itu harga yang pantas, Rin.”


“Harga yang pantas itu ketika kamu sama dia sama-sama bahagia, Reva! Pernikahan kalian itu penyiksaan. Dia tersiksa sama obsesinya sendiri, kamu tersiksa sama keterikatan buat balas budi. Menurut kamu itu sehat?”


“Nggak ada pernikahan yang bener-bener ideal sepertinya ....”


“Mungkin nggak ada, tapi apa kamu rela tukar hak asasi kamu sebagai manusia bebas, sama materi yang Kris kasih? Kamu itu kayak burung di sangkar emas! Kamu punya tempat enak buat tinggal, tapi nggak bisa terbang ke mana-mana!”


“Lagian ke mana aku harus terbang, Rin? Aku nggak punya siapa-siapa lagi. Di sini Kris bisa jaga ak—”


“Jaga kamu dengan mukulin kamu? Hey, Va, kamu itu benar-benar berhalusinasi soal hidup. Kamu udah nggak bisa bedain lagi mana kenyamanan yang sesungguhnya, mana ilusi. Itu karena Kris selalu bikin kamu mikir bahwa kamu nggak punya siapa-siapa lagi! Tapi dia salah, Va! Dia salah banget!”


“Aku nggak tahu, Rin ... a-aku—”


“Kamu punya Rafael dan seluruh keluarganya, kamu punya aku dan Adji. Bahkan, Nadia pun nggak segan untuk nerima kamu di rumahnya. Jadi, please, stop dengerin omong kosong Kris! Bertahun-tahun dia memanipulasi kamu sampai kamu jadi buta sama keadaan di sekitar!”


“Aku nggak mungkin ninggalin dia sekarang, Rin. Setelah semua kesusahan yang kita lewati sama-sama ....”


“Kita nggak akan ninggalin dia, kok. Dia itu butuh pertolongan, butuh terapi mental dari obsesi gilanya sama kamu. Percaya sama aku, ketika dia udah melayangkan pukulan-pukulannya ke seluruh badan kamu, itu bukan cinta lagi! Bagi dia, kamu cuma properti. Cuma barang kepemilikan!"


“Kamu nggak tahu Kris. Kamu nggak tahu apa yang akan terjadi kalau aku pergi begitu aja. Please, Rin, ini bahaya.”


“Lihat, ‘kan? Kamu itu bertahan hanya karena takut! Kenapa, sih, Va? Kenapa kamu selalu nggak bisa ngebela diri kamu sendiri? Dulu El ninggalin, kamu diam. Sekarang Kris bikin kamu babak belur, kamu diam juga! Gemes, deh, aku!”


“Karena aku nggak terbiasa, Rin .... Sejak kecil, aku selalu dipaksa nerima apa pun yang orangtuaku mau. Aku nggak pernah ngerasa didengerin, nggak pernah ngerasa mereka peduli sama masalahku. Aku bisa apa selain nerima semuanya dengan lapang dada? Dan ngelanjutin hidup tanpa bisa protes sedikit pun.”


“Astaga, Va ....”


“Aku nggak pernah tahu gimana rasanya punya opini, nggak pernah tahu rasanya menyampaikan perasaan aku sendiri. Dari kecil aku nggak pernah dapet hal-hal istimewa kayak gitu ... nggak sama sekali.”


Erin tertegun mendengarkan sahabatnya itu bercerita tentang masa kecilnya yang sama sekali ia tak pernah tahu. Reva sangat pendiam, dan akhirnya Erin mengerti mengapa wanita itu sangat pendiam. Ia selalu dikondisikan untuk diam, dari sejak ia lahir sampai dengan hari itu mereka bertemu.


Reva si robot, akhirnya Erin mengerti mengapa teman-teman sekolahnya dulu mengoloknya seperti itu. Wanita itu sudah merasa mati rasa sejak kecil. Erin juga mengerti mengapa Reva menjadi sangat suka menulis. Mungkin, hanya lewat novel-novelnya saja dia benar-benar bisa dengan bebas berpendapat dan mengutarakan rasa. Kata-kata di kamusnya tak terbatas, dan tak akan pernah bisa mengekang ide-idenya. Hari itu Erin belajar banyak sekali tentang sahabat masa kecilnya.


“Va ... aku punya kejutan buat kamu.”


“Apa?”

__ADS_1


“Seseorang. Seseorang yang kamu kenal dengan baik.”


__ADS_2