
Sembilan tahun yang lalu.
Rafael mendadak tak bisa dihubungi setelah ia mengetahui bahwa Reva tengah mengandung janin miliknya. Ia menghilang. Tak membalas pesan maupun mengangkat telepon dari Reva, juga jarang sekali berada di rumahnya ketika Reva berkunjung. Reva yang sangat panik dan frustasi sampai tak bisa makan dan tidur, dan ia mulai mengalami serangan kecemasan. Namun, Reva tetap merahasiakan hal tersebut dari siapa pun, karena ia merasa sangat malu dan takut.
Kehamilan Reva bisa dikatakan sangat menyiksa. Wanita yang mempunyai tekanan darah rendah itu sering merasa pusing tak tertahankan. Ia sepanjang hari mengalami mual dan muntah yang membuatnya tak bernafsu makan sama sekali. Tak banyak nutrisi yang masuk pada trimester pertama kehamilannya, yang tentu saja kian membuat wajahnya terlihat pucat.
Berkali-kali Reva meminta izin dari kantornya untuk beristirahat karena ia tak kuat berdiri lama. Berkali-kali pula ia melewatkan kelas-kelas mata kuliah yang penting, yang akhirnya membuatnya tak lulus penilaian ujian smester. Reva tetap bergeming. Ia tetap tak mau membagi masalahnya kepada siapa pun, karena ia sungguh merasa bersalah atas kebodohan yang sudah dilakukannya.
Reva benar-benar berusaha melewati kenahasan itu seorang diri. Rafael melarikan diri dari masalah itu tanpa menoleh kembali sedikit pun. Ia meringis sepanjang siang dan malam dalam kebingungan harus berbuat apa. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Rafael dapat berbuat setega itu kepadanya, dan juga tak mengira akan dicampakkan dengan cara sekejam itu.
Butuh waktu yang sangat lama bagi Reva untuk membuat Rafael merasakan lebih dari sekedar persahabatan kepadanya. Reva bahagia bukan kepalang saat akhirnya pria itu menyatakan cinta, setelah bertahun-tahun perasaannya bertepuk sebelah tangan. Saat itu mereka sama-sama baru lulus SMA, saat Rafael menggenggam erat tangan Reva dan mengajaknya berkencan dengan mengitari Kota Bandung dengan motor kesayangannya sepanjang malam. Mereka sesekali berhenti untuk membeli camilan serta berjalan-jalan santai, dan Rafael tak pernah melepaskan genggamannya. Ciuman pertama mereka bahkan terjadi pada malam itu, yang membuat Reva sampai tersedu karena merasa penantiannya tak sia-sia.
Sayangnya, hubungan romansa tak semulus persahabatan. Mereka menjadi lebih sering bertengkar, karena Rafael merasa Reva menjadi sering menuntut, sedangkan Reva mulai meragukan perasaan Rafael dan menjadi tak percaya kepadanya. Namun, Reva memang memiliki alasannya sendiri, karena bahkan setelah mereka berpacaran pun Rafael masih saja tak meninggalkan tabiat playboy-nya.
Seharusnya Reva tahu itu. Seharusnya Reva sadar bahwa Rafael kesayangannya memang bukan pasangan yang baik. Seharusnya Reva sudah memahami bahwa wataknya memang seperti itu sejak dahulu. Namun cinta itu buta, bukan? Reva bahkan mendengar kisah playboy Rafael dari mulutnya sendiri, ketika pria itu dengan seenaknya berkata bahwa mendapatkan wanita itu mudah baginya. Dulu Reva hanya tertawa saja, menganggap korban-korban Rafael hanyalah sekumpulan wanita bodoh. Dan ternyata, ia sama bodohnya dengan mereka semua. Reva pikir ia akan bertahan, ternyata ia tak kuat ketika benar-benar menjalaninya sendiri.
__ADS_1
Rafael tak ragu membahas soal aborsi saat Reva menyampaikan berita kehamilannya. Aborsi. Tega sekali. Tega sekali ia mengatakan kata itu tepat di wajah Reva, yang seketika membuat perempuan itu sangat terpukul. Reva tidak mau. Ia tak mau menambah daftar panjang kesalahannya dengan melenyapkan janin itu. Ia tak bisa. Ia tak tega.
Selain itu, Rafael juga terus mencari pembelaan. Ia bahkan mempunyai keraguan jika janin itu adalah miliknya. Perkataan yang terasa tuduhan yang sangat keji bagi Reva. Lebih keji daripada pembahasan aborsi yang sebelumnya terlontar. Reva bahkan sampai tak bisa berkata-kata saat direndahkan seperti itu.
Janin siapa? Reva lemas sekali mendengarnya. Mengapa pertanyaan seperti itu ditujukkan kepadanya? Reva bahkan tak pernah memandang pria lain karena di pelupuk matanya hanya ada Rafael. Ia sangat sakit hati.
Masalah Reva tidak berhenti sampai di situ. Di saat akhirnya ia berhasil mendapatkan hati Rafael, ayahnya malah terkena kasus yang sangat memalukan. Adi, ayahnya, melakukan penipuan dan memanipulasi data yang menyebabkan kerugian besar di perusahaan Pram, ayah Rafael. Padahal, Adi sudah belasan tahun bekerja kepadanya, tetapi itu tak menghentikannya melakukan tindak kecurangan dan penggelapan yang mengakhiri hubungan kerjanya dengan Pram.
Hubungan dua rekan itu merenggang, bahkan Adi sampai hampir dilaporkan ke polisi, meskipun akhirnya ia hanya harus membayar denda ratusan juta dengan perjanjian hitam di atas putih.
Alasan pertikaian itulah yang menyebabkan Reva tak berani berbicara tentang kehamilannya kepada ayah dan ibunya, karena keluarganya sendiri pun sedang dirundung berbagai masalah. Ia juga tak berani mengadukan sikap Rafael kepada orangtuanya, karena Reva merasa sangat malu terhadap apa yang sudah dilakukan oleh ayahnya. Pram mungkin sudah membenci keluarga Reva saat itu. Dan Reva yang merasa sudah sangat direndahkan oleh Rafael tak mau jika harus direndahkan oleh seluruh keluarganya juga. Oleh karena itu, ia lebih memilih diam dan tak melawan.
Sakit Reva bukan hanya sebatas fisiknya yang semakin memprihatinkan, kondisi mentalnya juga sangat berantakan. Akhirnya, belaian menyesakkan dari depresi mulai datang menggerayanginya, hingga perlahan-lahan menguasai seluruh pikirannya.
Adalah Krisna, pria yang dikirim oleh semesta untuk membantu Reva saat ia tidak memiliki siapa pun untuk membelanya. Kris merupakan teman kerja Reva, juga seorang senior di kampusnya dua tingkat lebih tua. Sama seperti Reva, kondisi finansial Kris memaksanya untuk kuliah sambil bekerja. Kris dan Reva seringkali mengambil pekerjaan yang sama, seperti menjadi guru les, cook helper dan berkecimpung di dunia event organizer.
__ADS_1
Kris menyadari ada sesuatu yang salah saat Reva mulai sering meminta cuti karena sakit, sehingga dengan giat ia mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi kepadanya. Reva yang akhirnya merasa bahwa Kris sangat tulus membantunya mulai tergugah menerima uluran tangan tersebut, dan bersedia menceritakan masalah-masalahnya kepada pria itu.
Saat memasuki trimester dua, Reva memutuskan untuk pergi dari rumah karena perutnya semakin membesar. Kedua orangtuanya yang sama-sama berperangai keras setiap hari berseteru. Hal-hal sepele pun menjadi sangat besar, dan mereka selalu saling berteriak dan membentak. Reva yang merasa stress berat dalam kondisi seperti itu akhirnya meminta izin untuk keluar rumah dengan alasan hendak bekerja ke luar kota.
Pada kenyataannya, Kris menyewa sebuah kamar kost untuk Reva, yang terletak di dekat rumahnya. Setiap hari Kris memasak untuk Reva, dan memberinya berbagai jenis job yang bisa dikerjakan di rumah. Pria itu benar-benar mengerahkan segala yang ia miliki untuk menyelamatkan hidup Reva. Dan tanpa Reva sadari, Kris telah jatuh cinta kepadanya.
Kehamilan Reva sejak awal memiliki banyak komplikasi, tetapi ia sungguh tak memiliki uang untuk sering-sering berkonsultasi ke dokter spesialis. Ia benar-benar pasrah saat harus melahirkan dengan dibantu oleh seorang bidan yang bahkan tak memiliki reputasi yang baik. Lalu, tragedi mengenaskan itu terjadi.
Saat itu, tali pusar bayi keluar terlebih dahulu, sehingga menghalangi pasokan oksigen bagi bayi yang masih terjepit di dalam. Ujung tali pusar tersebut melilit lehernya sampai ia tak mampu bernapas, yang akhirnya menyebabkan kematian di jalan lahir. Plasenta yang memisah terlalu dini dari dinding rahim juga menyebabkannya mengalami kekurangan nutrisi. Sehingga, ketika akhirnya bayi tersebut berhasil dikeluarkan, ia berukuran sangat kecil.
Reva menangis sejadi-jadinya saat menggendong bayinya yang telah tiada yang masih berlumuran darah. Kali pertama bagi dirinya terisak sampai menjerit-jerit histeris seperti itu. Reva bukan wanita cengeng yang mudah sakit hati. Ia sangat kuat dan tegar. Namun kali itu, duka mendalam saat mendekap putranya yang sudah tak bernyawa membuatnya sangat terguncang. Putra pertamanya yang sangat tampan meski tubuhnya sangat mungil. Reva menangis. Reva menangis sangat lama. Ia tak bisa berhenti meski ia sangat lelah karena terus menangis. Jiwanya benar-benar tercabik-cabik saat itu.
Selamat tinggal, Sayang, tolong maafkan Mama. Kata-kata terakhir Reva kepada putra sulungnya saat tanah pemakaman mulai mengubur tubuh kecilnya yang sudah terbalut kain kafan. Setelah kewajiban ritual keagamaan dilakukan di tempat ibadah setempat, Reva membaringkan jenazah mungil itu ke liang lahat dengan kedua tangannya sendiri, menciuminya dan memeluknya dengan erat sebelum ia melepaskannya pergi untuk selamanya. Untuk beristirahat dengan kekal di alam sana tanpa sempat mengenal siapa ibu yang telah melahirkannya. Tentu saja ia melakukan itu sembari diawasi oleh petugas pemakaman setempat. Kris juga berada di sampingnya saat itu, karena jika tidak, Reva tidak akan sanggup berdiri menghadapi prosesi pemakaman itu sampai akhir.
Reva kembali ke kamar kostnya dengan perasaan hampa. Sesuatu yang sangat besar seolah telah direnggut darinya dan menyisakan lubang besar yang menganga di dalam jiwanya. Selama berhari-hari, ia hanya bisa berbaring lemas tanpa benar-benar tertidur, dan ia juga hampir tak memakan apa pun. Darah nifas masih mengalir dan ia masih berjalan dengan terpogoh-pogoh selepas melahirkan. Reva juga mengalami pendarahan hebat pasca persalinan yang membuatnya harus menjalani bed-rest.
__ADS_1
Saat itu Reva membuka ponselnya. Berita pertama yang ia terima setelah berhari-hari tak menyentuh benda itu adalah desas-desus kabar pernikahan Rafael dengan Nadia. Reva tak tahu harus menanggapi berita itu seperti apa. Dirinya sudah sangat hancur. Rafael tak pernah tahu anak sulungnya baru saja meninggal. Baik orangtuanya maupun orangtua Rafael juga tak pernah tahu bahwa cucu pertama mereka telah lahir, meski segera berpulang lagi di waktu yang sama. Reva benar-benar bertekad untuk menyegel hal itu rapat-rapat di relung hatinya yang terdalam.
Usia Reva masih delapan belas tahun saat itu. Saat ia meninggalkan kehidupan masa lalunya dan menjauh dari semua orang untuk menenangkan dirinya. Ia tak pernah kembali. Tak pernah kembali ke kampusnya atau bahkan ke keluarganya sekalipun. Depresi yang menggerogotinya selama bertahun-tahun membuat Reva menarik diri dari lingkungannya, dan membawanya pergi bersama angin di musim hujan.