
Hari sudah malam saat duo sejoli Reva dan Erin bersiap mengakhiri cakap cengkerama mereka dalam keadaan perut buncit. Bagaimana tidak, sehabis melenyapkan seloyang lasagna, mereka memesan satu set dimsum dengan berbagai macam kudapan di dalamnya. Tak terkecuali salad buah dan es kopi berebut tempat dalam lambung. Bagi Reva, itu adalah salah satu hari terbaiknya setelah bertahun-tahun ia menanti teman yang benar-benar sanggup mengerti.
Perhatian Kris bukannya tak cukup bagi Reva. Hanya saja, dua mahkluk berbeda tabiat itu terlalu sering berselisih. Sementara Kris adalah seseorang yang sangat sensitif, Reva lebih banyak membuat keputusan berdasarkan logika. Menurut Reva, prioritas Kris juga sangat berantakan. Dengan pendapatan Kris saat itu, seharusnya ia juga sudah mampu memiliki tempat tinggal sendiri. Namun, Kris yang hidup dengan mind-set ‘You Only Live Once’ itu lebih suka berkelana entah kemana dengan club motor scrambler-nya, dan juga membeli benda-benda mahal untuk hobi fotografi.
Tak salah memang, asalkan Kris bisa dengan cermat mengatur pendapatan-pengeluarannya. Masalahnya, terkadang pria itu tak sadar jika saldo di rekeningnya sudah terlampau tipis kala terus saja memboyong sebotol gin atau vodka.
Setiap Reva menegur, alasan Kris selalu ‘kapan lagi?’ atau ‘hidup itu perlu dinikmati’ atau ‘uang bisa dicari lagi’. Ya, memang, sih, tetapi bagi Reva yang peduli terhadap keamanan finansial, rasanya filosofi hidup Kris itu tak cocok dengannya. Namun biar bagaimanapun, Reva tak mau ikut campur lebih jauh tentang bagaimana seseorang menghabiskan pendapatannya, karena itu berpotensi menimbulkan pertikaian. Reva yang sudah pusing dengan dunia tulis-menulisnya enggan sekali kalau harus melulu berdebat dengan Kris.
Kembalinya Erin ke kehidupan Reva membuat kekhawatirannya terhadap Kris berkurang. Hilang sudah rasa hampanya berjalan tanpa teman. Ternyata, Reva tidak se-anti sosial yang ia pikir. Ketika koneksi dan chemistry bersama Erin itu kembali, ia merasa hari-harinya lebih baik.
Erin yang bekerja freelance sebagai konsultan finansial juga hampir dapat berkerja di mana pun secare remote, sambil mengasuh Ayesha. Kecuali jika memang sedang ada meeting yang perlu bertatap muka. Puncak kesibukannya paling hanya di awal tahun saat ia menerima job untuk membuat laporan SPT Tahunan dari beberapa client-nya. Sehingga, kala itu Erin dan Reva sepakat untuk selalu saling berkunjung.
Perjumpaan dengan Reva sendiri masih disembunyikan oleh Erin dari suaminya, Adji. Sebabnya, Reva tak ingin jika keberadaannya segera diketahui oleh banyak orang. Reva yang sering kali mengalami gangguan kecemasan agaknya lebih damai hidup dengan interaksi sosial yang terbatas. Namun, dengan persetujuan Reva, hari itu Erin akan membuat kejutan untuk suaminya. Erin sengaja meminta dijemput malam itu, agar Adji dapat bertemu dengan Reva.
Adji yang tengah berada di rumah Rafael masih harus berkutat di depan laptop bersama dengan sobatnya itu. Saat itu terlintas di benaknya bahwa hari sudah larut, dan ia segera menelepon istrinya untuk menanyakan keberadaannya. Namun, belum sempat sambungannya terhubung, telepon dari Erin masuk terlebih dahulu.
“Di jemput di mana?”
__ADS_1
“Coba keluar dari situ.”
“Hah? Keluar ke mana?”
“Dari rumah El, aku di depan.”
Adji memicingkan kedua matanya dan berkerut heran, meski ia lantas bergerak juga untuk melongok Erin ke luar. Pikirnya, awas saja jika istri jailnya itu hanya sedang mengerjainya!
“Beb!” seru Erin ketika melihat Adji keluar dari pintu Rafael. “Ikut aku, yuk.”
Tanpa banyak basa-basi, Erin menggandeng lengan Adji dan menariknya ke kamar di sebelahnya, yang tentu saja hal itu menuai protes dari suaminya. “Mau kemana, sih, Sayang?”
“Halo, Dji.”
Sedetik kemudian mereka bersenda gurau meskipun bagi Adji, rasanya terlalu banyak pertanyaan di benaknya untuk lepas bercakap-cakap dengan Reva. Sembari mengobrol ia berusaha memecahkan teka-teki menghilangnya Reva, karena untuk bertanya sendiri mengenai hal itu ia sangat sungkan. Dahulu pun ketika setiap hari bertemu, Reva sulit diajak berkomunikasi, apalagi saat sudah terpisah selama sembilan tahun.
Analisa Adji dimulai dari kencan pertama Reva dan Rafael. Saat itu Rafael bercerita kepadanya bahwa ia tak akan pernah melepaskan Reva. Reva adalah wanita terbaik yang pernah ditemui oleh Rafael, dan pria itu yakin sekali bahwa ia tak akan pernah menemukan wanita seperti itu lagi. Kemudian, tak lama setelah itu, mereka berpisah. Ada apa?
__ADS_1
“Kita nggak ajak El ke sini?” tanya Adji di sela-sela perbincangan itu.
Erin dengan sigap langsung mendelik dan memasang wajah gemasnya. Ia memberikan kode dengan gelengan kecil dan kertakan gigi. Jangan. Jangan dibahas. Adji langsung mengerti, tetapi bertambah sudahlah rasa penasarannya terhadap akhir dari hubungan Rafael dan Reva. Masa kecilnya yang ia habiskan membaca kisah Shinichi Kudo yang banyak memecahkan berbagai kasus kriminal dalam tubuh Conan Edogawa membuat jiwa detektif dalam dirinya meronta-ronta. *Ada apa? Mengapa tak boleh di*bahas?
Sejujurnya, Adji tak enak tatkala harus meninggalkan Rafael sendirian dalam obrolan seru mereka saat itu. Dahulu mereka ber-empat, mengapa harus menjadi tiga? Tidak bisakah semua kembali utuh seperti sedia kala? Namun, kemudian Adji melayangkan pandangan ke seluruh sudut kamar Reva. Banyak sekali foto Reva bersama dengan Kris yang terpajang di sana-sini. Apakah itu alasannya? Apakah kekasihnya Reva sangat posesif? Rasanya bukan.
Gelak tawa masih terdengar di antara Reva dan Erin, dan Adji masih hadir di tengah-tengah mereka dengan fokus yang terbagi dua. Sambil menopang dagu dan menyipitkan mata, setengah kesadarannya berusaha mengingat-ingat apa yang pernah diceritakan Rafael kepadanya selama sembilan tahun terakhir, terutama dalam hal-hal yang menyangkut Reva.
Tunggu dulu. Tak lama setelah Reva pergi tanpa berkabar, Rafael menikah dengan Nadia. Saat itu kabar pernikahannya sangat menggemparkan di kalangan alumni. Dua mahkluk super populer di sekolah akan menjadi satu, masalahnya, mereka baru berusia dua puluh tahun! Baru dua tahun setelah lulus SMA! Gosip miring sudah tentu beredar dari telinga ke telinga, dan dugaan orang-orang saat itu terbukti benar. Nadia sedang hamil.
Setelah itu Rafael bercerita kepada Adji bahwa keluarganya sedang benar-benar terpuruk. Tidak. Rafael tak sampai mengumbar aib penipuan yang telah dilakukan ayah Reva, ia hanya berkata bahwa ayahnya yang tergabung dalam jajaran direktur pada sebuah perusahaan besar telah dipecat secara tak hormat. Dan sejak saat itu, Pak Pram mulai mengalami banyak gangguan kesehatan.
Keluarga Rafael sempat bertopang kepada Wina yang memiliki bisnis kuliner. Wina—ibu dari Rafael yang memiliki usaha catering—selama belasan tahun menyisihkan sebagian gaji miliknya dan suaminya untuk membuka sebuah restoran. Baru berjalan selama dua tahun, tempat tersebut terpaksa tutup. Faktornya ada beberapa, di antaranya adalah kesibukan Wina mengurus Pram yang sakit, manajemen dan supply bahan baku yang tak matang, serta konsep restoran yang tak sesuai pasar. Ditambah lagi, saat itu Wina tak sendiri, tetapi bekerja sama dengan dua orang rekannya dan mereka kerap berselisih paham.
'Vien's Tea Time & Garden Party', popularitasnya kalah telak kala bersaing dengan warung seblak dan bakso beranak. Sayangnya, saat itu juga belum terlalu semarak sosmed, sehingga untuk promosi masih banyak mengandalkan iklan reklame dan itu cukup mahal, meski jangkauannya tak luas. Selain itu, daftar harga menu di sana juga tergolong tinggi. Memang, sih, sesuai dengan kualitas dan vibe-nya, tetapi bagi wargi Bandung ternyata itu tidak worth it. Akhirnya, keluarga Rafael hanya bisa mengandalkan pendapatan dari catering yang pemainnya pun sudah sangat menumpuk!
Rafael sempat cuti kuliah dan mulai mencari pekerjaan, hingga akhirnya ayah Nadia yang kaya raya itu memutuskan untuk membiayai kuliahnya sampai selesai. Nadia yang sudah membayar sangat mahal untuk satu slot di jurusan Manajemen Bisnis pun terpaksa hengkang dari kampusnya karena Kaia. Namun, dirinya yang sudah disiapkan untuk meneruskan usaha orangtuanya di bidang fashion tak khawatir. Perusahaan besar itu akan tetap jatuh ke tangannya.
__ADS_1
Adji mengetahui sebagian besar kisah Rafael karena mereka berteman dekat. Selain kepada Reva, Rafael juga banyak berbagi kepada Adji. Selama sembilan tahun terakhir, tak banyak kisah indah yang diceritakan oleh Rafael, hanya masalah demi masalah yang datang silih berganti menimpanya.
Ketika dipikir-pikir, Rafael juga tak banyak membahas tentang Reva. Bahkan, ia selalu saja menghindar kala Adji bertanya tentang keberadaan wanita itu. Rafael menolak setiap kali diajak bertandang ke kediaman Reva, serta raut wajahnya akan berubah menjadi sendu kala nama itu disebut. Tubuhnya akan mulai menegang dan gerak-geriknya menjadi aneh. Rafael selalu berpaling dan menunduk, dengan suara getir meminta topik lain untuk dibahas. Ada apa?