
Tiba di rumah Dedrick, keluar seorang wanita yang langsung menghampiri ke mobil dan membukakan pintu. Aulia turun mencium tangan neneknya dan di peluk, sementara Bobby enggan untuk turun dan menoleh ke arah Luna. Perempuan itu tersenyum, dia mengikuti Aulia turun karena Natalie sudah melihatnya. Tampak senang wanita itu, mengulurkan tangan pada cucunya. Namun, baik Dinda atau Rendi justru semakin mendekat ke mami mereka, tak ingin di gendong.
"Sama neneknya sendiri gak pernah mau!" gerutu Natalie.
Luna tersenyum, membuka pintu satunya dan turun. Aldo mengikuti, dia meraih tubuh salah satu dan tentu saja Dinda yang lebih cepat mengulurkan tangan agar bisa di gendong. Mau tidak mau, Bobby juga harus turun dan memasuki rumah Dedrick, rumah yang pernah membuatnya berjanji tak akan datang jika Dimas ada disana. Nyatanya, Dimas memang berada disana dan Bobby tahu akan hal itu.
Menapaki dua anak tangga di teras rumah, masuk ke rumah dengan Natalie yang masih saja berusaha untuk menggendong cucunya tapi tetap di tolak. Rendi menyusup ke leher sang mami, dan Dinda memeluk erat Aldo layaknya anak yang ketakutan. "Papa, ada Luna sama anak-anak nih!" teriak Natalie begitu memasuki rumah, suaminya ada di ruang tengah bersama Dedrick.
Bukan suaminya yang keluar, tapi Tyo yang berlari sangat cepat bersama Siska begitu mendengar Luna dan anak-anak keluar, pasti yang dimaksud adalah si kembar. "Anak Daddy!" teriak Tyo sembari berlari, langsung menciumi punggung si kembar bergantian. "Gendong Daddy, ada es krim di belakang!" ajaknya merayu Dinda yang begitu menyukai es krim.
Dinda menoleh, tangannya terarah ke Tyo dan bersedia di gendong. Natalie mengomel sendiri, dia yang bersusah payah tapi tetap di tolak. Giliran Tyo, justru sangat mudah untuk membawa bocah bertubuh gemuk dengan pakaian pink membalut tubuh. "Kamu sama mommy dong," ucap Siska pada Rendi, tapi bocah laki-laki itu tidak goyah dan masih nyaman di gendongan maminya.
"Hehehe, kalau sama dia jangan es krim gak bakalan mau. Duit aja, apa sertifikat rumah gitu. Pasti langsung mau," kata Luna menggoda.
"Emaknya itu," jawab Siska lalu tertawa.
"Ngajarin anak matre banget," gerutu Aldo lirih.
__ADS_1
"Hehehe, hidup butuh semua itu loh." Luna menoleh dan menunjukkan senyumnya.
Teddy menghampiri, Luna mencium tangannya. Bertanya dimana Dedrick, lalu Luna pun pergi untuk menyapa. Siska pergi ke dapur bersama Natalie, untuk membuatkan minum dan menyiapkan camilan, lainnya duduk di ruang tamu dengan Teddy yang mengajak. Luna tiba di ruang tamu, melihat seorang laki-laki duduk di samping Dedrick, dia tersenyum lalu membungkuk dan mencium tangan Dedrick.
"Sehat, Kek?" tanya Luna.
"Sehat, Nak. Ada angin apa sampai kesini?" goda pria yang sudah asyik membaca buku dari beberapa waktu lalu.
"Sama Aldo?" tambah Dedrick.
"Iya, Kek. Itu ada di depan, tadi habis dari main soalnya. Mama sama papa pulang duluan," jawab Luna.
Dimas mengangguk, diperhatikan oleh kakeknya dari perubahan ekspresi usai mendengar kedatangan Luna tadi. Luna diminta untuk duduk, tak lama Brian datang menyapa dan Rendi pun baru mau untuk turun, karena sudah mengenal siapa Brian. Ke ruang makan untuk sama-sama makan es krim, Aulia sudah disana lebih dulu.
"Kakek lihat ke depan sebentar, kalian ngobrol aja dulu." Dedrick berdiri, meninggalkan dua orang yang tampak canggung.
Luna mengangguk, senyumnya terpasang dengan keterpaksaan. Menggerutu dalam hati, kenapa tadi harus duduk dan terjebak disini. Menoleh kesana-kemari, coba berpikir untuk mencari alasan pergi. "Aku lihat anak-anak ke belakang," kata Luna seketika, hanya itu alasan yang bisa ditemukan.
__ADS_1
"Kamu sama Aldo?!" tanya Dimas bernada tak enak.
"Iya, sama kak Bobby juga." Luna menjawab dengan santainya.
"Aku gak suka kamu sama laki-laki lain!" tegas Dimas, menatap tajam. Luna tersenyum ke arahnya, wajah terpasang datar. "Kita udah cerai," santai Luna dan berdiri.
Hendak pergi ke belakang, Dimas berdiri secepat kilat dan menahan Luna. Wajahnya terlihat ingin marah, kecemburuan pun terlihat sangat jelas dari kedua binar matanya. Luna membenci ekspresi itu, seperti ingin menelan orang saja. Tiap kali Dimas berwajah seperti itu, sebisa mungkin Luna menghindar agar tak ada keributan dari lelaki yang tetap belum bisa mengendalikan emosinya ketika cemburu. "Aku gak suka!" geram Dimas.
"Jangan pernah kamu berani dekat sama laki-laki manapun!" tambah Dimas, mencengkeram lengan dengan tenaganya.
"Tapi kita udah cerai, hak aku buat dekat sama siapa aja. Kamu gak bisa kayak gini," jawab perempuan berambut pendek tersebut, berusaha melepaskan genggaman tangan Dimas.
"Tapi kamu ibu dari anak-anakku, Luna! aku gak akan pernah biarin kamu sama yang lain!" kata Dimas penuh penekanan.
Luna tak lagi menjawab, semakin ia melawan juga pasti semakin Dimas bersungut-sungut. Tangan coba ia lepaskan sekuat tenaga, Luna bergegas ke belakang sembari memegangi lengannya. Dimas masih saja cemburu, bahkan itu lebih besar dari sebelumnya. Apalagi pengakuan Aldo yang pernah di dengar, semua tak akan mudah diterima.
Walau hubungan sudah tak bisa dikatakan baik-baik saja, Dimas tak membiarkan Luna untuk dekat dengan siapa pun. Itu pernah diucapkan pada Aldo, dimana ia juga mengatakan jika akan mengejar Luna sekali lagi. Jika harus dipertanyakan tentang perasaan, dia masih berharap untuk cinta pertamanya itu menjadi istrinya lagi. Walau Dimas juga tahu, itu bukan hal mudah karena keluarga Luna juga menunjukkan rasa tak suka padanya.
__ADS_1
Dimas merasakan hal itu dengan sangat jelas, apalagi dari Bobby sendiri. Lelaki yang tak pernah menyembunyikan apa dirasakan, jika tak suka maka akan ditunjukkan sama tanpa kepura-puraan. Watak sama yang juga dimiliki Luna dan Dony, sifat keras mereka juga tak jauh berbeda. Tapi bagaimana lagi, Dimas masih berharap banyak akan hubungannya dengan Luna dan bisa merawat anak-anak bersama. Meski si kembar menunjukkan rasa takut padanya.
Dimas menelan salivanya kuat, terasa perih di tenggorokan. Dia menatap kearah ruang makan yang masih sanggup dijangkau kedua matanya, semua tampak mengukur senyum dan menikmati apa yang ada di meja makan. "Aku gak rela kalau dia sama yang lain, Tuhan. Engkau tahu seperti apa perasaanku, seperti apa tersiksanya aku selama ini. Persatukanlah kami lagi," tulus Dimas dalam hati.