Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 29


__ADS_3

"Bukannya kamu alergi sama cincin?" tanya Dimas memperhatikan jari Luna.


"Dan, itu ... bukannya itu milik Aldo?" tambahnya lagi.


Luna hanya menunjukkan senyum, melirik ke arah Aldo. Dimas tahu itu cincin yang kerap menghiasi kalung di leher Aldo, ia beberapa kali melihat ketika lelaki itu tak mengenakan kaos sewaktu di rumah dan menemui dirinya. Dimas memang datang, tapi tak ada yang tahu selain Aldo dan juga Tuhan.


"Mba mau ngomong apa?" tanya Luna pada Rena.


"Kayaknya gak perlu, aku udah lihat semuanya. Semoga kamu bahagia," jawab Rena untuk pertama kalinya tersenyum pada Luna.


"Makasih," singkat Luna.


"Aku makan ya? sayang udah di pesan juga," tambahnya menyeret piring mendekat ke arahnya.


Mungkin tak ada pembahasan yang berarti, cincin itu sudah menunjukkan segalanya dan ucapan Dimas yang seolah memberitahukan perihal cincin yang melingkar. Luna menyantap apa sudah dihidangkan, tak peduli akan tatapan ke arahnya.


Begitu lahap ia menikmati, agar segera bisa pergi. Rasanya begitu aneh berada satu meja dengan kedua orang di hadapannya, tak nyaman untuk lebih lama duduk bersama. Dimas menatap ke Aldo, lelaki itu menunjukkan pandangan pada cincin tanpa berubah sekalipun. "Bisa kita ngobrol di depan, Do?" tanya Dimas.


Aldo menggelengkan kepala. "Enggak, ngomong aja disini." Santainya.

__ADS_1


Dimas menarik dalam napas, menelan saliva yang menyakitkan tenggorokan. Perih, namun tak lebih perih dari hatinya saat ini. "Kamu serius mau nikahin Luna? bukannya kamu bilang kalau gak akan pernah nikahin dia, dan cukup dengan hubungan yang ada?" tanya Dimas, bibirnya bergetar seakan ia tengah menahan amarah juga kesakitan luar biasa.


"Ya," singkatnya tanpa penjelasan.


"Aldo!" teriak Dimas, mengundang perhatian semua orang.


"Mas, kita lagi di tempat umum. Jaga emosi kamu," ucap Rena mengusap lembut lengan Dimas.


"Oke! kalau emang kalian mau nikah, anak-anak sama aku! itu pilihannya!" tegas Dimas menahan geram.


"Dan kamu, Luna! silakan kamu pilih anak-anak atau Aldo! tapi yang jelas, kamu gak akan pernah bisa dapatin semuanya!" tambah Dimas.


Menoleh ke arah Aldo, tersenyum dengan mulut terisi makanan. Luna melahap lagi apa yang tersisa di piring, tapi ia mengurai air mata dan terus memasukkan makanan. Aldo diam memperhatikan, membiarkan untuk Luna menangis dan melegakan hatinya. 


Di luar, Dimas hendak menuju ke ke mobilnya tapi Rena mencegah. Dia tak memberikan izin untuknya mengemudi dalam kondisi marah, Rena menahan langkah Dimas. "Minggir!" tegasnya membulatkan kedua mata sempurna, tampak merah dalam amarah tertahan.


"Gak! aku gak mau kamu bawa kendaraan sama marah!" tak kalah tegas Rena.


"Kamu mau celakain diri kamu sendiri? kamu pikir Luna bakalan peduli kalau ada apa-apa sama kamu? gak! dia udah gak peduli sama kamu, dan kamu harus sadar hal itu! dia udah milih Aldo, dan semua yang aku omongin emang bener soal mereka kan?! kamu harus terima kenyataannya!" tegas kembali Rena.

__ADS_1


"Aku capek, Rena! tolong! aku mohon sama kamu, sangat mohon ke kamu, Rena! tolong jangan ganggu hidup aku lagi, apa pun akan aku kasih ke kamu, tapi tolong biarin aku tenang sama hidupku! tolong, aku mohon banget sama kamu!" ucap Dimas menyatukan telapak tangan memohon.


Dimas menggeser tubuh Rena, ia membuka pintu mobil dan masuk. Lelah, bahkan sangat lelah dengan permasalahan yang sama. Lagi dan lagi, perempuan sama dan akhir yang sama. Sampai kapan ini harus berlanjut? sampai kapan semua harus seperti ini? Dimas pergi melajukan kendaraannya, sopir menghampiri Rena untuk mengantarnya kembali.


Umpatan demi umpatan keluar dari bibirnya, sekali lagi ia menyebut Dimas tak lebih dari lelaki bodoh yang seolah tak ada perempuan lain di dunia selain Luna. Ya, perempuan memang banyak, tapi Dimas tak berharap untuk memiliki hubungan dengan siapa pun selain ibu dari anak-anaknya, perempuan yang sudah berhasil mengusik hatinya untuk pertama kali.


"Sakit, Tuhan. Ini benar-benar sakit," ucap Dimas berurai air mata, memegang dada dengan tangan kanan dan tetap mengemudikan kendaraan.


Itu menyakitkan, memang lebih sakit melihat orang yang dicintai justru ingin bersanding dengan orang lain. Dunia seolah runtuh di atas kepala, jutaan pisau menghujam tanpa pengampunan, keadaan membantingnya begitu kuat tanpa peduli seberapa remuk dirinya selama ini.


Ya, dia sudah bodoh untuk menganggap jika melepaskan Luna saat itu adalah keputusan tepat. Dia begitu bodoh, karena membiarkan Luna hamil tanpa hadirnya dan lebih memilih bersama Rena demi kedamaian dan semua orang. Dia teramat bodoh, telah mengabaikan Luna bahkan Aulia juga keluarganya.


Dimas tahu semua kebodohannya, dia menerima semua hukuman selama ini. Tapi sepertinya itu belum cukup, Tuhan seakan ingin untuk melihatnya berjuang lagi dan lagi. Belum, belum saatnya untuk bahagia seperti kisah novel romantis yang ada. Belum, Tuhan belum mengizinkan hal itu untuk terjadi.


Kehidupan memang bukan sebuah kisah novel yang hanya terisi kemanisan belaka, dimana konflik akan terselesaikan hanya dalam satu atau dua bab saja. Tidak! hidup ini tidak seperti itu. Banyak masalah-masalah dalam kenyataan yang tak bisa untuk terselesaikan dengan begitu mudahnya.


Jika hidup ini disamakan dengan novel, maka semua pasti akan lebih indah. Namun tidak seperti itu, ada Tuhan yang menuliskan segalanya dan manusia menjalani dengan kesabaran serta keikhlasan. Tapi rupanya, itu sangatlah sulit untuk bisa diterapkan dalam kehidupan. Dimas telah mencoba, namun ia gagal berulang kali untuk mengikhlaskan hubungannya bersama Luna.


Dimas berhenti sejenak di pinggir jalan, menenangkan dirinya sebelum melanjutkan perjalanan. Tak akan baik untuknya mengemudi dalam keadaan seperti ini, entah apa yang akan terjadi nanti jika harus memaksakan. Mengatur napasnya berulang kali, Dimas menekan dada sangat kuat.

__ADS_1


__ADS_2