
bagaikan bocah yang takut ditinggal ibunya ke pasar, Esa mengekor di belakang Ola mengikuti kemana pun sang istri melangkah. dan begitu langkah Ola terhenti tiba-tiba, tubuh ramping yang hanya selisih 5 cm lebih pendek dari tinggi tubuhnya itu reflek tertubruk olehnya.
"aw"
untung saja Esa langsung memegang pundak sang istri
"sayang, kamu nggak papa?" Esa bertanya khawatir sembari menelisik tubuh sang istri
"nggak usah lebay ya" dingin Ola berujar. kesal dengan sikap Esa yang berlebihan
adalah sebuah buku gambar sketsa yang menjadi alasan Ola mendatangi rumah itu. setelah mendapatkannya, perempuan itu lantas beranjak yang tentunya di susul Esa dengan ketakutan yang kentara
"sayang, kamu mau pergi lagi?"
"La, bukannya kamu bilang rumah ini rumah kamu? kenapa pergi lagi?"
masih tak direspon, lelaki dengan tinggi 177 cm itu lantas menghalau langkah sang istri ketika sudah tiba di lantai bawah
"La..."
"apaan sih! berisik tau nggak;" meski kesal tapi Ola masih bisa mengontrol intonasi bicaranya, tegas namun masih terdengar ramah
"jangan pergi sayang" Esa memelas layaknya anak kecil yang meminta es krim pada sang ibu
"terus menurut kamu, aku harus leha-leha disini, sementara aku punya tanggung jawab besar di kantor ku sendiri? btw, aku bukan perempuan itu yang mengharap jatah bulanan dari suami orang"
dan tanpa terduga, balasan menohok sang istri berhasil membuatnya bungkam seribu bahasa.
* * *
"katanya bapak nggak ke kantor hari ini, kok tiba-tiba datang sih?" Han bersuara begitu memasuki ruangan direktur Operasional, lalu ia menyodorkan tab di hadapan Esa
__ADS_1
"emangnya kamu nggak bersyukur saya datang untuk meringankan sebagian kerjaan kamu?" sahut Esa tanpa menoleh, matanya fokus membaca jadwal yang tadinya sudah ia limpahkan ke Han
mata sipit Han mendelik mendengar kalimat yang meluncur tanpa dosa dari mulut sang atasan. apa katanya? meringankan kerjaan nya? apa telinganya masih berfungsi baik atau sebenarnya otak bosnya yang sudah gesrek? hei, yang membantu siapa yang dibantu siapa.
"bersiaplah untuk meeting" ujar Esa lalu beranjak dari kursi kebesarannya
belum sempat Han bertanya meeting yang di maksud Esa mengingat jadwal meeting dengan divisi operasional harusnya baru akan diadakan kurang dari 30 menit lagi, Han terpaksa menelan pertanyaan begitu melihat bosnya malah duduk di sofa tunggal, lalu memerintah dengan kode kepala menyuruh Han duduk di sofa lainnya
"kita meeting berdua sekarang" ujarnya tak menerima bantahan
sebagai bawahan, Han tentu hanya menurut meski otaknya kebingungan mereka hendak membahas apa karna tak ada clue dari sang bos
"sebagai sekertaris pribadi, saya meminta pendapat kamu yang paling logis dan tidak berpihak pada siapapun..." Esa mulai membuka suara begitu Han sudah duduk sesuai perintah. calon duda itu menghela napas sejenak sebelum melanjutkan inti pembahasannya "menurut kamu, apa perlu saya menghentikan uang bulanan untuk Dewi?"
Han yang tadinya menebak-nebak bosnya hendak membahas masalah internal divisi operasional yang memang belakangan diduga ada main curang seketika melongo begitu mendengar kalimat terakhir Esa
"tutup mulutmu Han" Han langsung merapatkan bibirnya mendapat teguran itu
"silahkan jawab" titah Esa lagi
"sejak kapan kamu pernah menjadi lawan candaan saya?"
oke. sepertinya si pewaris takhta perusahaan tengah meminta diskusi mengenai masalah pribadi dengan dalih meeting dadakan. tapi pertanyaan bosnya benar-benar menggelitik tangan Han ingin menabok kepala itu. tahan Han, tahan, kamu cuma bawahan. rintih Han dalam hati
"maaf ni pak bos, maaf kalau saya lancang mengajukan pertanyaan dari pada menjawab pertanyaan bapak. bapak serius ingin mempertahankan pernikahan dengan bu Ola?"
"ya serius lah. pertanyaanmu kok bodoh sekali" jawab Esa cepat, mencibir dengan aura kekesalan yang kentara. bisa-bisanya Han mengajukan pertanyaan yang seolah meragukan perjuangannya
"terus untuk apa bapak masih membiayai perempuan lain yang pernah menjadi duri dalam pernikahan, bapak?"
mendengar pertanyaan Han, Esa terdiam teringat sesuatu
__ADS_1
"malam dimana saya memutuskan hubungan kami, saya berjanji padanya tak akan mengambil apa yang telah saya beri dan juga tak menghentikan uang bulanan sampai dia menemukan pria lain" jawab Esa yang sukses membuat Han berdecak. tak tahan lagi dengan arah pikiran Esa. hampir dicerai gara-gara perempuan simpanan kenapa Esa masih menaruh simpati sama perempuan itu sih? jika saja dia jadi Ola, sudah pasti Han tidak akan memudahkan langkah laki-laki bodoh dihadapannya ini, kalau bisa lanjut cerai aja udah.
"waktu saya putus sama dia, saya belum sadar kalau istriku sudah tahu perselingkuhan ku bahkan sudah menyiapkan gugatan. saya pikir dengan masih menjanjikan dia uang bulanan dapat membayar waktu dia yang habis sia-sia menunggu saya selama dua tahun ini" lanjut Esa menjelaskan niat awalnya
"menurut bapak, siapa yang paling penting dalam hidup, bapak? ibu Ola atau si mantan simpanan bapak?"
"ya jelas istriku lah" jawab Esa cepat
"terus menurut bapak, ibu Ola akan terima kalau bapak masih membiayai hidup mantan simpanan? yang ada ibu malah makin benci sama bapak. percuma bapak sogok mahal-mahal orang pengadilan kalau bapak masih belum lepas sepenuhnya dengan simpanan bapak"
perbincangan itu harus berakhir setelah Esa memilih merenung dan kemudian harus menghadiri meeting. Han sebenarnya penasaran dengan keputusan sang atasan, tapi hingga mereka keluar ruangan direktur Operasional, Esa tak mengeluarkan sepatah kata pun. meski misuh-misuh dalam hati karna ketidak tegasan bosnya mengakhiri hubungan dengan Dewi, Han tetap berjalan di belakang Esa, mendampingi sang bos menuju ruang meeting
"tidak usah temani saya meeting. kamu saya tugaskan ke bank untuk memblokir rekening atas nama Dewi Asmara. saya sudah mengirimkan no rekeningnya di WhatsApp mu" titah Esa sebelum memasuki ruang meeting
Han sedikit terkejut mendengar perintah itu. tidak salah dengarkan dia? keputusan yang sedari tadi Han tunggu-tunggu. namun diluar ekspektasinya, bukan hanya menghentikan kiriman, tapi Esa sampai menyuruhnya memblokir rekening pemberian sang bos pada si perempuan simpanan. sebenarnya Han ingin sekaligus meminta sang atasan untuk menarik semua aset-aset yang dipegang si mantan simpanan, hanya saja Han merasa tak perlu ikut campur sedalam itu. biarlah itu urusan ibu bos kalau toh sudi memberi kesempatan pada Esa
sama halnya dengan Han yang tersenyum mendapati perintah yang dengan senang hati ia laksanakan demi kembalinya keutuhan sebuah pernikahan yang sah di mata hukum dan agama, Esa juga memasuki ruang meeting dengan perasaan lega. demi memperjuangkan dan meyakinkan sang istri, Esa tak lagi memikirkan janji-janjinya pada Dewi. ia sudah yakin akan memutus semua hubungan dengan Dewi. tak ada lagi rasa kasihan atau semacamnya. Esa hanya ingin memikirkan dirinya dan istrinya untuk saat ini dan waktu kedepannya
* * *
Sementara di gedung lain, Ola termenung di ruang kerjanya sembari menatap langit siang melalui jendela ruangannya. sejak kepergian Esa dari kantornya, Ola belum melakukan apa-apa selain bermalas-malasan.
sewaktu pergi dari rumah mereka, tahu-tahu Esa menyusulnya dengan mengunakan mobil pria itu sendiri. Ola mengabaikan kehadiran Esa yang bahkan tanpa diundang laki-laki itu dengan tak tahu malu memasuki ruang kerja pribadinya.
mungkin tak tahan terus dicueki dan terus mendapat pengusiran, laki-laki yang tadi pagi menjadi lawannya di pengadilan itu akhirnya pamit padanya, katanya mau ke kantor juga. Ola baru percaya setelah Esa mengirimkan dirinya pesan foto yang memperlihatkan laki-laki itu telah sampai di perusahaan real estate milik keluarga nugraha.
lagi-lagi perempuan cantik dengan postur tubuh proporsional itu menghela napas panjang dan menghembuskannya kasar
bimbang. hati dan pikirannya tak sejalan.
sebenarnya niat kepulangannya ke rumah mereka tadinya ingin memberi penawaran pada sang suami. melihat Esa yang sampai rela berlutut untuk ketiga kalinya dan memohon-mohon pada orangtuanya membuat nurani Ola terenyuh. hanya saja moodnya tiba-tiba hancur begitu mendapati dua orang yang belakangan menjadi sumber rasa sakit hatinya ada di halaman rumah dan berpelukan. meski melihat pelukan itu terjadi hanya dari satu arah tapi tetap saja menciptakan perih di hatinya.
__ADS_1
akan tetapi rasa ingin membuktikan bahwa dirinya bukan lawan setimpal bagi seorang Dewi Asmara semakin kuat. Ola ingin menunjukkan pada Dewi tempat dimana harusnya perempuan gundik itu berada.
Bersambung...