Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
"mas pilih kamu"


__ADS_3

di depan pintu kamar mandi Esa mondar-mandir dengan perasaan cemas. hampir dua jam Ola di dalam sana dan perempuan itu tak bereaksi apa-apa saat Esa mengetuk pintu


ada dua kemungkinan yang terpikirkan oleh Esa penyebab Ola betah di dalam sana. yang pertama, Ola sengaja berlama-lama karna benar-benar sudah muak padanya sehingga memilih menghindarinya, atau kemungkinan lainnya di dalam sana sedang terjadi apa-apa dengan perempuan itu


"La? kamu belum selesai?"


kesabaran Esa mulai menipis, gedoran yang awalnya pelan kini berubah keras, handel pintu juga tak lupa ia goyangkan. pintu kamar mandi ternyata terkunci


Esa tak peduli akan dikenakan biaya perbaikan, segera saja ia menyiapkan tubuh atletisnya untuk mendobrak pintu kamar mandi


setelah percobaan kesekian kali, akhirnya engsel pintu mulai goyah, menghirup napas panjang, Esa layangkan tendangannya yang kemudian berhasil mendedahkan pintu


belum reda debaran jantungnya yang baru saja bertarung dengan pintu, kini jantung Esa rasanya jatuh ke dasar perutnya melihat pemandangan di hadapannya


"astaga, Ola!"


gegas Esa menghampiri bathup dengan sekali langkah, tangannya gemetar mengangkat tubuh keriput Ola dari dalam air


Air mata lelaki itu tahu-tahu sudah mengalir saja melihat sang istri yang tak membuka mata. sembari memakaikan jubah pada tubuh sang istri, Esa terus berusaha membangun kan sang perempuan yang berada di pangkuannya


"La, bangun sayang" Esa mulai frustasi karna tubuh itu tak bereaksi apa-apa


baru ketika ia mendekatkan bibir hendak memberikan napas buatan, mata berbulu lentik itu terbuka. menatapnya bingung lalu beralih memindai ruangan


"Alhamdulillah kamu sudah sadar, sayang" Esa lekas membawa Ola kedalam dekapannya, berharap Ola mendapatkan kehangatan darinya


"berapa lama aku tertidur?" tanya Ola datar, mengabaikan suaminya yang bahkan terisak di pundaknya. drama sekali


"kamu pingsan, La. kamu hampir membuat mas gila" beritahu Esa yang memancing Ola merotasikan matanya


pingsan bagaimana? Ola hanya tertidur kok. toh tadinya ia memang berencana berendam untuk mendinginkan hati dan pikirannya, hanya saja kantuk menyerangnya membuatnya tidak tahan. Ola bahkan menyetel alarm di ponsel yang memang ia bawa masuk ke dalam kamar mandi karna menerima telpon dari sang ayah yang Ola rahasiakan dari Esa. setelah hampir sejam bertukar kabar dengan keluarganya di Makassar, barulah Ola berendam.


"jangan seperti ini lagi sayang, mas mohon. hukum mas saja, jangan lagi-lagi mengorbankan dirimu" pinta Esa mengiba nyaris putus asa


"ponsel ku mana?" tanya Ola berusaha lepas dari pelukan Esa, namun sepertinya tubuhnya tak sekuat itu bahkan untuk mendorong tubuh Esa


"ponsel?" beo Esa melerai pelukan guna melihat wajah pucat istrinya


"tadi aku membawanya masuk" beritahu Ola, melihat tatapan teduh Esa berubah memicing dan mulut yang siap melayangkan tanya membuat Ola menyela duluan "tolong carikan"

__ADS_1


dengan pelan, Esa membantu Ola berdiri


"kamu baik-baik saja?" pertanyaan dengan nada khawatir yang kentara Esa lontarkan begitu melihat Ola sempoyongan. sedikit kecewa karna Ola lebih memilih berpegangan dengan wastafel dari pada ke tubuhnya


"he'em. ponselku?" tanya Ola mengingatkan Esa pada permintaannya


"kamu taruh di mana tadi?"


"coba di samping bathup sebelah sana" tunjuk Ola dengan dagunya, mengira bahwa ponselnya jatuh di samping bathup


"ponselmu di sini" Esa mengangkat ponsel Ola yang ternyata ikut berendam di dalam bathup


"yah" keluh Ola kasihan melihat ponselnya yang sudah di pastikan akan mogok pakai


"ya udah kamu keluar gih. aku mau pakaian" lanjut Ola mengusir


Esa menurut saja setelah memastikan kalau Ola akan baik-baik saja ditinggal. Esa berpesan untuk tak mengunci pintu, bahkan ia berjanji untuk tidak macam-macam saat istrinya menatapnya curiga


baru saja pintu tertutup dari luar, teriakan menggema dari dalam membuat Esa tanpa pikir panjang kembali masuk


"ada apa, sayang?" tanyanya khawatir


"tubuhku... tubuhku kenapa mengerikan begini" ujar Ola histeris menyaksikan tubuhnya, mulai dari dada, sebagian lengan atasnya hingga ujung kaki semua keriput pucat. begitu menjijikan dipandang mata


"nggak papa, itu efek kulitmu terlalu lama di dalam air, nanti juga kembali seperti semula kok" Esa yang masih berdiri di dekat pintu mencoba menenangkan sang istri melalui kata-katanya


"tapi ini begitu menjijikan" keluh Ola yang tanpa sadar berbalik menghadap suaminya dengan tubuh polosnya


"siapa bilang menjijikan? tidak kok. tubuh kamu selalu seksi dan menggairahkan, sayang"


"beneran?"


"he'em"


jawaban Esa dengan mata yang tertuju pada buah dada dan gunung segitiganya yang polos secara bergantian membuat Ola menunduk mengikuti arah pandang Esa.


'si4l!' rutuk Ola untuk dirinya sendiri. segera ia meraih jubahnya yang teronggok di lantai dan memakainya serampangan


"aku mau pakaian" ujarnya dengan maksud mengusir

__ADS_1


Esa yang sadar kalau dirinya masih belum mampu meluluhkan tembok sang istri mengalah dan keluar dengan pasrah


"kok panas sih?" tanya Ola begitu keluar kamar mandi dengan pakaian tidurnya merasa hawa kamar cukup gerah


"mas matikan AC nya supaya kulit kamu bisa pulih segera" jawab Esa seadanya


netra Ola menatap jari Esa menepuk kasur di sisi lelaki itu, mengundangnya untuk bergabung, namun alih-alih menurut Ola malah berjalan ke arah sofa yang kemudian disusul Esa yang membawa beberapa tablet obat dan segelas air


"ini vitamin. kamu minum ya supaya kamu tidak masuk angin" jelas Esa melihat tatapan curiga Ola saat ia menyodorkan obat itu ke hadapan sang istri. melihat tak ada respon, Esa segera mengetikan sesuatu di ponselnya, lalu menunjukkan satu persatu manfaat obat hasil pencarian omgoogle pada Ola.


meski sakit hati karna Ola seolah mencurigainya tapi Esa tak peduli yang penting istrinya tak sakit. segera ia membuka bungkus obat dan menyodorkannya di depan mulut sang istri


setelah tiga butir obat juga vitamin diminum Ola, Esa membawa tubuh sang istri kedalam pelukannya "biar tubuhmu cepat hangat"


awalnya Ola menolak, ia tidak ingin ada harapan sekecil apapun tumbuh di hatinya. karna sakit yang ia rasa akan menjadi lebih parah kalau saja Ola membiarkan perasaannya larut dalam sikap Esa yang seolah-olah mencintainya. tapi tenaga Esa yang jauh lebih besar membuatnya hanya bisa menurut lalu diam merasakan debaran jantung Esa yang memompa lebih cepat juga membaui keringat Esa yang bercucuran karna menahan kegerahan demi membuat kulitnya segera pulih.


"apa kamu selalu memperhatikannya seistimewa ini?"


diam menunggu Ola menyelesaikan kata-katanya, tangan Esa justru sibuk menggosok sebelah telapak tangan Ola untuk menciptakan panas. ia tahu kemana arah pembicaraan sang istri, tapi Esa tak mau membicarakan itu sekarang


"perempuan itu... apa selalu mendapatkan perhatianmu sebesar ini?" ulang Ola sebab belum mendapatkan jawaban


sungguh Esa sangat ingin mendengar Ola memanggilnya "mas" lagi seperti yang dulu selalu didengarnya dari mulut manis istrinya itu, namun semenjak Ola meninggalkan rumah mereka, tidak ada lagi panggilan itu untuknya


Esa setia mengunci mulutnya rapat-rapat. pasalnya bagaimana mungkin ia akan menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah pasti dapat melukai hati istrinya.


pertanyaan Ola benar-benar berhasil membuat perasaannya semakin memburuk. membagi kasih sayangnya kepada perempuan lain yang harusnya semua itu ia limpahi untuk istrinya. apa ada perbuatan yang lebih buruk dari itu? dan Esa melakukannya sepanjang pernikahan mereka.


Ola menyesali pertanyaannya sendiri, sebab ketika membayangkan perempuan itu mendapatkan perhatian dan kasih sayang Esa, menjadikan lukanya seperti ditetesi air jeruk nipis. perih.


apalagi keterdiaman Esa yang seolah membenarkan pertanyaannya, membuatnya nyaris tidak sanggup membendung gelombang air mata yang kembali berdesakan ingin keluar.


memejamkan mata sebentar, ola berhasil menguasai dirinya dengan baik. "terimakasih. aku mengantuk" ujarnya menahan getir


Ola menjauhkan tubuhnya begitu Esa melerai pelukannya. Esa mengikuti langkah Ola ke ranjang. berdiri di tepi ranjang dan memperbaiki selimut istrinya


"jangan berpikiran yang macam-macam. mas pilih kamu, sayang. selamat tidur" ujarnya lalu mendaratkan kecupan di dahi sang istri


Ola mulai memejamkan mata, efek obat yang ia minum membuatnya benar-benar mengantuk. lagi pula ia butuh tidur untuk meredakan perih yang masih merepih hatinya

__ADS_1


Esa lantas beranjak setelah berdiam cukup lama memandangi wajah tenang istrinya. ia butuh mandi lagi untuk meringankan tubuhnya dari keringat


Bersambung...


__ADS_2