
bukannya bersimpati melihat air mata Dewi, Esa malah semakin mengeratkan tautan tangannya dengan Ola. tanpa kata-kata, melalui bahasa tubuh menjelaskan bahwa air mata Dewi tak akan bisa lagi menggoyahkan rasa iba Esa
"percayalah... masih banyak laki-laki di luar sana yang bisa mencintai kamu. lupain aku. karena meskipun aku dan Ola bercerai, aku akan tetap nunggu sampai dia mau kembali" Ucap Esa tegas, diakhir kalimat ia menolehkan pandangan pada sang istri
titik-titik air mata yang jatuh di pipi Dewi semakin deras, Dewi bahkan tak malu mengeluarkan isakannya yang cukup keras. membuat istri sang Arjuna merotasikan kedua bola matanya ke atas. Untung saja Ola memilih restoran yang cukup sepi. apalagi sudah lewat jam makan siang, jadilah hanya beberapa kursi yang berpenghuni.
"apa pembicaraan kalian sudah selesai?" Ola menginstrupsi di tengah-tengah isakan yang masih terdengar.
dua kali Esa menganggukkan kepala, tanda bahwa Ia setuju mengakhiri pertemuan itu. merasa apa yang dikatakannya sudah cukup jelas mempertegas bahwa hubungannya dengan Dewi sudah tidak ada apa-apa lagi.
"oke, sekarang giliran aku yang berbicara" melepaskan tangan Esa, Ola lalu mengambil ponselnya di dalam tas. "Masuk!" perintahnya pada seseorang yang menjawab panggilan teleponnya
tak lama, seorang laki-laki berjalan mendekat dan menempati kursi kosong di depan Esa
sampai laki-laki itu memberi senyum tipis pada Esa, suami Ola itu masih melongo mendapati sekertaris pribadinya yang ia seret tadi untuk mengambil alih kemudi karna Esa harus menyiapkan diri di mobil agar terlihat memesona di hadapan sang istri. ia tak punya banyak waktu menyiapkan diri di kantor sebab tak ingin membuat istrinya menunggu lebih lama.
yang membuat Esa tak percaya adalah dari mana Ola memiliki kontak pribadi Han? lalu perintah Ola tadi menggambarkan seolah sekertaris pribadinya dan sang istri seperti ada kerjasama yang terjalin tanpa sepengetahuan dirinya
Esa mendesah, firasatnya secara otomatis langsung mengatakan kalau ada sesuatu yang buruk yang telah direncanakan keduanya
"begini..." Ola buka suara setelah pemuda yang dipanggilnya sudah menyamankan diri "saya tahu kalau mobil, apartemen dan butik yang sekarang kamu tempati adalah pemberian suami saya"
jantung Dewi sontak memompa darah dengan sangat cepat. kenapa pembahasan jadi melenceng ke arah sana?
pasca melirik sebentar ke arah sang suami, Ola melengkapi kalimatnya "jadi... saya akan memintanya kembali"
"nggak bisa gitu dong, Mbak!" buru-buru Dewi menyahuti perkataan si istri sah. mau tinggal di mana dan makan apa jika apartemen dan butik direbut darinya?
__ADS_1
"kenapa nggak bisa? saya hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak saya, yang sudah kamu curi" cemooh Ola diakhir kalimatnya
"Tapi..." Dewi kehabisan stok sanggahan
"Bukankah... harta suami adalah hak istri?" tanya Ola dengan senyum mengejek.
sebenarnya Ola tidak mau melakukan hal ini. mengingat semua yang telah diterima Dewi adalah bukti nyata kecurangan suaminya selama ini, hal itu akan mengingatkannya akan sakit hatinya pada penghianatan mereka. tapi ketika teringat kalimat seseorang yang pernah bercerita padanya tentang masa lalu Dewi, Ola merasa harus memberikan sedikit pelajaran pada perempuan itu
"sebelum berhasil menjebak mantan suaminya, dia pernah menjadi simpanan ayah dari mantan suaminya juga"
sesadis itu sifat Dewi. tidak hanya sekali Dewi mencoba menghancurkan pernikahan orang lain, Ola pikir sedikit efek jera mungkin bisa membuat perempuan itu berubah.
"tapi mas Arjuna bilang itu buat aku" balas Dewi sengit. Ia harus bisa mempertahankan sesuatu yang sudah diberikan padanya.
Ola menyentuh punggung tangan Esa di atas meja, lalu mer*masnya lembut "itu dulu, iya kan, mas?"
"Wi, itu memang hak Ola" membela istrinya, Esa mencoba meyakinkan sang mantan selingkuhan
"Han, mana surat-suratnya?" Ola mengulurkan tangan kanannya ke arah Han
pemuda yang kemarin mengabarinya dan meminta nomor rekeningnya yang kemudian dalam hitungan menit ada notif transfer ke rekeningnya sebesar 1.302.057.821 rupiah. tentu Ola tak menerima begitu saja, namun ketika Han menjelaskan bahwa uang itu adalah haknya yang selama ini tercecer membuat Ola pasrah menerima. begitu juga ketika lelaki yang memperkenalkan diri sebagai sekertaris pribadi Esa itu menawarkan diri untuk membantunya memberantas si pelakor, Ola dengan tangan terbuka menerima tawaran itu. dari kerja sama dadakan itulah sehingga pertemuan hari ini bisa terlaksana
mendengar permintaan istri bosnya, buru-buru Han mengambil tiga benda di dalam tas ransel yang ia bawa, lantas menyerahkannya pada Ola
melihat itu, Esa hanya mendengus, mengutuk cara Han yang tak memberitahunya apa-apa. padahal jika Ola ingin melibatkannya, Esa akan menuruti semua kemauan sang istri, apapun!
membuka beberapa halaman sampai menemukan yang dicari, Ola juga melakukan hal yang sama pada benda kedua dan ketiga. selanjutnya ia menaruh ketiganya di meja, persis di hadapan Dewi "di situ jelas tertera bahwa mobil, apartemen dan ruko berlantai dua yang sekarang menjadi butik, semua atas nama Arjuna Reksa Nugraha. Artinya itu adalah hak saya, istrinya" Ola mengucapkan kata istri dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Dewi tidak tahu lagi mesti berbuat apa "mba.. tolong--"
Ola memotong cepat ucapan Dewi "saya beri kamu waktu satu minggu untuk keluar dari apartemen dan butik saya. kalau mobil, Han akan mengambilnya setelah ini"
"Mas..." Dewi beralih menatap Esa bermaksud meminta pertolongan. Namun, hanya gelengan kepala yang laki-laki itu berikan
"kamu tenang saja, saya tidak akan mengambil barang-barang butik itu, jadi silahkan jual semua dan ambillah sebagai pegangan kamu bertahan hidup, meski saya tahu bahwa dana dari barang-barang itu berasal dari rekening suami saya" kembali Ola memberikan serangan yang membuat lawannya tak sanggup berkutik.
wajah Dewi merah padam. sedih, marah, malu dan kecewa bercampur jadi satu.
sementara Esa hanya mampu terdiam. ia menyadari jika semua yang diberikannya pada Dewi memang harusnya ia berikan pada sang istri
"saya rasa semua sudah jelas" Ola menyerongkan tatap ke arah Han kemudian memberikan sebuah perintah "tolong antar dia pulang" bahkan sampai detik ini, Ola sama sekali tidak pernah mau menyebut nama Dewi
Dewi berdiri dengan gerakan yang sangat kasar. tanpa permisi, perempuan yang tingginya cuma sebahu Ola itu meninggalkan meja begitu saja.
selepas mantan selingkuhan suaminya melangkah menjauh diikuti oleh Han di belakangnya, Ola menelisik raut wajah Esa.
"apa mas terlalu ganteng hari ini?" tanya Esa yang menyadari kalau sang istri memperhatikannya
"isshh..." Ola membuang muka, lalu secara tak sengaja matanya menangkap sosok perempuan yang melirik ke arahnya di balik jendela kaca
"Mas..." panggil Ola pada Esa yang sedang meneguk jus mangga miliknya
Esa menoleh dan matanya terbelalak seketika saat ia merasakan jus mangga yang tertinggal di bibirnya bercampur dengan rasa mint yang berasal dari lip balm milik Ola
sebuah kecupan singkat yang mampu meleburkan segala ketegangan dalam tubuh Esa.
__ADS_1
ketika wajah keduanya kemudian berjarak, Ola mengedipkan sebelah matanya pada sosok perempuan berwajah sendu yang masih mengamatinya dengan mata berkaca-kaca
Bersambung...