
"akhirnya sampai juga" celutuk Ola begitu mobil yang di kemudikan Freya memasuki area halaman kantor
"ibu mau saya pesankan minum atau cemilan?"
pertanyaan Freya yang baru saja mematikan mesin mobil membuat gerakan tangan Ola yang hendak membuka pintu terhenti sejenak lalu menatap Freya "nggak. kamu saja yang pesan, sekalian juga pesan buat anak-anak yang lain. saya mau langsung istirahat sebentar di ruang kerja. tolong handel sementara pekerjaan yang berkaitan dengan saya" tolaknya sopan lalu memberikan perintah.
Ola butuh istirahat. dari pagi perempuan itu berada di luar dengan jadwal padat yang menguras banyak tenaga dan pikiran. bukan hanya tubuh yang lelah tapi juga kepalanya terasa berat. meski begitu, kabar baiknya semua agenda yang Ola lakukan bersama sang sekertaris berjalan lancar dan sesuai harapan.
"baik bu" jawab Freya memaklumi wajah letih atasannya
begitu sampai di ruangannya, Ola langsung menghempaskan bokongnya di sofa panjang. kedua mata berbulu lentiknya hampir saja tertutup rapat namun sekelebat bayangan lelaki menyebalkan membuat matanya kembali terbuka lebar
laki-laki itu tadi malam tidur di apartemennya.
tapi, Ola sudah tak melihatnya ketika terbangun tadi pagi. meski begitu ia masih sempat membaca note kecil di samping mangkuk bubur hangat yang tersaji di meja makan yang lelaki itu siapkan untuknya.
'selamat pagi istri tercintanya mas Esa yang paling cantik mempesona sedunia. jangan lupa sarapannya dihabisin ya istriku. mas cinta kamu'
mengingat pesan itu Ola merasa bersalah karna tak menyentuh bubur itu, bukan karna tak menghargai usaha Esa sebab Ola diburu waktu
Ola lekas beranjak duduk lalu merogoh ponsel di tasnya. ada beberapa chat dan beberapa panggilan tak terjawab, hanya saja yang membuat ekspresi Ola tiba-tiba masam karna dari pesan-pesan baru yang masuk tak ada dari Esa, bahkan panggilan pun tak ada sama sekali dari lelaki yang katanya sudah tobat menduakan dirinya itu.
'dimana?'
pesan itu akhirnya terkirim yang kemudian tanpa menunggu 5 detik langsung terbaca lalu muncul keterangan mengetik... di bawa nama si penerima
"ternyata pegang hp tapi tidak berkabar" dumel Ola kesal kini melupakan kantuknya
'mas lagi ada kerjaan di luar kota sayang'
'kenapa chat? rindu ya? mas juga kok'
__ADS_1
'doain mas mu ini ya, semoga urusan mas cepat selesai supaya bisa pulang dan ketemu ayang'
^^^'oh. yaudah'^^^
'serius sayang cuma itu balasanmu'?
'Sayang?'
'La'
'yah kok nggak aktif lagi sih'
sebenarnya sejak pagi pun tangan Esa gatal ingin menghubungi sang istri hanya saja setiap kali ia memegang ponsel selalu saja ada sindiran-sindiran tak beralamat yang di tujukan padanya. setiap gerakannya diawasi oleh para manusia-manusia yang pernah tak sengaja Esa kecewakan
"chatingan sama si Dewi?"
kan! mulut perempuan dengan kalung emas besar di lehernya itu bercelatuk sesuka hati yang sialnya malah memancing beberapa pasang mata menatap curiga pada Esa
"Esa lagi balas chat Ola, tante" Esa kemudian menunjukkan room chat nya ke hadapan tante kandung Ola yang berprofesi sebagai pengusaha emas itu
rasa-rasanya Esa ingin mendengus keras sebagai bentuk rasa jengah melihat kelakuan para om dan Tante sang istri yang begitu kepo pada ponselnya, mata-mata yang awalnya curiga kini menampakkan tatapan lega setelah mengintip room chat nya bersama sang istri
setelahnya mereka melanjutkan makan berupa makanan penutup setelah makanan pembuka dan makanan berat telah mengisi lambung-lambung keluarga bangsawan bugis itu.
berbeda dengan para tante, om dan para sepupu sang istri yang nampak menikmati setiap hidangan, Esa tak se-berselera mereka... bukan karna makanannya tak enak, tapi karna sang istri tak ada di sisinya... tapi sebenarnya itu hanyalah alasan yang kesekian sebab yang menjadi alasan utamanya adalah...
"maaf, saya terima telpon dulu" suara Han menyahut di keheningan suara manusia
tanpa ada yang menyadari bahwa Han sebenarnya memberi kode pada sang atasan agar menyusulnya
tak berselang lama, Esa berpamitan ke toilet yang lagi-lagi mendapat tuduhan menyebalkan
__ADS_1
"nggak kabur, kan?" si tukang emas memang paling tidak bisa diam
"nggak tan. nih hp Esa sebagai jaminan" demi meyakinkan, Esa meletakan ponsel di meja yang sengaja diatur memanjang agar muat keluarga besar si marga Andi itu
dengan langkah pura-pura tak memiliki beban Esa menuju toilet, di sana sudah ada Han yang menunggunya
"bagaimana? kamu bisa mencairkan tabungan mu kan? kamu tenang saja bakal saya ganti tiga kali lipat" meski nada suaranya terdengar datar tapi Han tahu ada makna memelas disana, yang sialnya Han tidak bisa mewujudkan perintah wujud permintaan dari calon pewaris tunggal perusahaan real estate tempat Han mengais rejeki itu.
"maaf pak bos..."
"jadi nggak bisa ya?" potong Esa dengan ekspresi kesal tapi hanya bisa pasrah
ya, alasan utama kenapa ia tak menikmati acara makan keluarga itu karna ia kesulitan keuangan, yang dimana ia yang diwajibkan membayar semua tagihan tersebut.
"saya tidak mau menuduh... tapi orang yang punya power besar membekukan semua kartu debit dan kredit saya" Han dengan tak enak hati memberitahu
"bilang saja kalau itu mertua istri gue" celutuk Esa sinis. jika saja seorang anak bisa mengutuk, Esa sudah mengutuk Barack menjadi bucin padanya bukan hanya pada sang Ratu.
Lelaki yang membuatnya hadir di dunia ini benar-benar tak main-main memberinya hukuman atas kelakuannya yang pernah salah jalan. tapi kan dia sudah tobat dan sedang berjuang mempertahankan pernikahannya, harusnya Barack memberinya dukungan bukan malah menyusahkannya dengan membekukan secara ilegal semua akses duitnya, bahkan keuangan Han juga ikut terjerat.
"tak ada jalan lain, kamu pinjam ke bank saja jangan di aplikasi pinjol pinjol penipu" titah Esa
"saya akan mencoba, pak bos"
"ingat pinjam pakai nama kamu, saya tidak mau nama saya menjadi catatan di bank sebagai tukang pinjam" titahnya lagi lalu beranjak pergi setelah menepuk pundak Han sebagai bentuk semangat. sedang Han yang ditinggalkan hanya mampu menghela napas panjang.
lalu Han segera mengotak atik ponselnya, mencoba peruntungan mendapatkan pinjaman untuk melunasi biaya tagihan restoran mahal yang tengah Esa sewa demi menuruti keinginan keluarga besar bu Ola. tapi lagi-lagi Barack memang semangat sekali menyusahkannya. jaminan berupa kontrak kerjanya di perusahaan juga ikut dibekukan alias ditolak oleh bank sebagai jaminan. dan harta satu-satunya yang Han punya hanya itu, sebab surat-surat lainnya berupa sertifikat apartemen masih terpantau menyicil.
sembari menatap arah kepergian Esa, Han merapalkan doa, tak ada cara lain, mengeluarkan kartu penduduknya, memotret dirinya yang tengah memegang identitas diri sebagai jaminan yang berpeluang bisa mendapatkan uang pinjaman, meski limit pinjamannya tak bisa menutupi biaya tagihan setidaknya bisa membayar sebagian dan nanti Han akan berusaha menebalkan muka bernegosiasi dengan pihak restoran agar diberi waktu untuk membayar sisanya. semua demi harga diri bosnya. semoga saja bisa.
Bersambung...
__ADS_1