
Esa makin mengeratkan tautan tangan mereka begitu perempuan cantik disampingnya berusaha melepaskan tangan dari genggamannya
"shs.. sakit"
mendengar ringisan sang istri, Esa lekas mengendurkan kekuatan tangannya "makanya jangan dilepas. mau mas peluk di sini?" ancam Esa sukses membuat Ola mendengus. tak mau ancaman Esa menjadi kenyataan, Ola menurut saja mengikuti langkah Esa yang memasuki lobi rumah sakit
"malu dilihat orang, lepas ya?" pinta Ola tak nyaman dengan tatapan beberapa orang yang duduk di kursi tunggu menjadikan ia dan Esa pusat perhatian
"kenapa malu, toh kita suami istri. ini namanya mesra sayang. tatapan mereka itu pada iri tau nggak" balas Esa berbisik dengan nada pongahnya
***
"mas tampan kan?" goda Esa dengan alis naik turun sembari melirik sang istri. mereka sedang berdiri di depan meja resepsionis menunggu info mengenai kamar rawat setelah Esa menyebutkan nama lengkap pasien yang hendak mereka jenguk.
Ola merotasikan bola matanya lalu membuang muka. entah apa yang ingin ia lihat atau mungkin ia buktikan sehingga memaksa Esa ke rumah sakit menjenguk si mantan gundik meski lelaki itu sudah menolak berkali-kali. dan sialnya, belum bertemu si gundik saja perasaan Ola sudah terganggu hanya melihat dan mendengar bagaimana Esa menanyakan keberadaan kamar rawat si mantan gundik pada resepsionis.
hatinya terasa tertusuk juga telinganya tiba-tiba berdengung mendengar mulut suaminya menyebut nama Dewi Asmara
* * *
"kalau nggak nyaman jangan cari perkara deh, Yang. pulang aja yuk" Esa menghentikan langkah membuat langkah Ola juga otomatis terhenti
"siapa yang cari perkara sih, udah lanjut aja" balas Ola menyembunyikan perasaannya. lalu perempuan itu menarik diri kepinggir saat ada perawat mendorong pasien di kursi roda melewati mereka
Esa mendesah, memandangi ekspresi wajah sang istri lalu ke arah tautan tangan mereka, saat ini Ola lebih bertenaga menggenggam tangannya bahkan sampai tubuh Esa ikut terseret begitu sang perempuan menepi tadi. bukannya melepas, Ola makin mengeratkan genggaman sembari menghela napas panjang
"ayo lanjut. calon mertua dan kekasihmu pasti sudah menunggu kedatangan mu"
"tutup mulut mu sayang, atau kalau tidak aku cium sekarang juga" sela Esa dengan ekspresi muaknya
__ADS_1
setelahnya, Esa lanjut memimpin jalan. menuruti sikap kekanakan sang istri. jam 4 sore tadi, Ola tiba-tiba menelponnya dan meminta di jemput, tentu Esa tidak memiliki jawaban selain mengiyakan. permintaan sang istri yang tiba-tiba membutuhkan dirinya membuat dadanya berbunga-bunga. setelah urusan meninjau lahan proyek, Esa tak memerlukan waktu istirahat, lelaki itu langsung mengambil alih kemudi dan menyuruh Han balik ke perusahaan seorang diri.
Esa sudah membayangkan sang istri akan meminta untuk diantar pulang ke rumah mereka atau paling tidak istrinya mengajaknya ke apartemen. akan tetapi begitu mobil melaju meninggalkan pekarangan kantor Ola, istri Esa itu malah menyebut nama rumah sakit sebagai tujuan mereka.
nama rumah sakit yang spontan membuat rahang Esa mengetat. 3 hari belakangan ini, puluhan nomor asing juga mengirimkan nama rumah sakit yang sama, memintanya untuk datang karna ada perempuan kritis yang katanya butuh kehadirannya. tapi meski begitu, bahkan Esa menutup nuraninya menyaksikan pesan gambar yang menunjukkan sesosok perempuan lemah terbaring di brangkar dengan pergelangan tangan di perban. walau tak menutup kenyataan bahwa ada rasa kasihan yang bercokol dalam relungnya, hanya saja begitu mengingat sang istri, Esa mengenyahkan perasaan kasihannya dan memilih menutup mata dan telinga, ia blokir semua nomor asing itu. tak ada yang pantas ia kasihani selain perasaan Andi Tenri Ola
"La..."
"perempuan tua tadi datang meminta tolong, anaknya hampir setiap hari histeris menyebut nama kekasihnya..." sela Ola begitu Esa menatapnya setelah sengaja menepikan mobil di pinggir jalan
"sayang..."
"kalau kamu merasa bahwa hubungan kalian sudah berakhir, kamu tidak mungkin sepanik ini" potong Ola menyindir
sedang Esa hanya mampu menghela napas, panik apanya sih? ia hanya tak ingin lagi berurusan dengan si perempuan manipulatif seperti Dewi
"jangankan hubungan, rasa kasihan saja mas sudah tidak punya lagi sama dia. mas nggak panik, sayang, mas hanya tidak menyangka kalau tante Murni malah mendatangimu setelah tidak berhasil membujuk ku" beritahu Esa penuh kejujuran "mas sungguh-sungguh tidak tertarik menjenguknya. yang ada dia malah semakin menjadi-jadi cari perhatian sama mas. jadi kita nggak usah ke sana, ya?" lanjut Esa mencoba bernegoisasi. sebab apapun keputusan Ola, Esa akan menurutinya asalkan perempuannya itu percaya padanya
"tidak ada salahnya juga kita jenguk orang sakit yang udah ngemis minta dijenguk, bukan?" tanya Ola sarkastik "setidaknya sebagai rasa kemanusiaan" lanjutnya keukeh
Esa tahu Ola sedang mengujinya, untuk itu Esa bertekad akan melawati ujian ini dengan nilai 100.
"baiklah. sesuai maumu sayang" balas Esa mengalah
"mau beli apa sebagai buah tangan? pastel buah, bunga..."
"terserah!" potong Ola dengan suara yang terdengar kesal
apa Esa salah lagi?
__ADS_1
* * *
dua pasang tungkai milik suami istri itu sudah berada di depan salah satu pintu ruangan. sang lelaki menoleh sejenak ke arah sang istri sebelum membuka pintu
"ada apa?" tanya Esa melihat kepala istrinya menoleh seolah mencari pintu lain
"benar ini ruangannya?" tanya balik Ola seperti tak yakin
"resepsionis tidak mungkin bohong, sayang" balas Esa yang tak peduli ekspresi muak Ola ketika ia memanggil sang istri dengan sebutan sayang
'sepertinya dia tidak suka menghambur-hamburkan uangnya' kata Ola dalam hati menebak alasan kenapa si gundik dirawat di ruang perawatan umum
"kita masuk?" tanya Esa memastikan kesiapan sang istri
melihat kepala perempuan cantik berdarah bugis itu mengangguk dua kali, Esa membuka pintu. mata mereka langsung di suguhkan sebuah kamar rawat yang terdiri dari empat brangkar yang masing-masing memiliki tirai pemisah.
satu tirai menjuntai menutupi 1 brangkar, dua lainnya dibiarkan terbuka dengan pasien di atas brangkar dengan ditemani keluarga masing-masing, sedang satunya memang tidak berpenghuni.
Esa sekali lagi menoleh, melihat anggukan sang istri ia menuntun langkah memasuki ruangan tanpa melepas tangan sang istri
"mau bertemu siapa, pak, bu?" tanya bidan yang baru saja keluar dari bilik tirai
"pasien atas nama Dewi Asmara" jawab Esa datar
"dengan bapak ibu..?"
"saya Arjuna Reksa sama istri saya Ibu Tenri" ujar Esa memperkenalkan diri. tampak ekspresi bidan sedikit terkejut menatap laki-laki yang sering di sebut-sebut pasiennya sebagai kekasih ternyata sudah memiliki istri seorang perempuan cantik dengan postur tubuh yang diidamkan semua perempuan, tinggi, sedikit berisi, kulit mulus, rambut panjang yang sehat mana penampilannya tampak seperti wanita karier.
"bentar ya pak, saya beritahu ibu Dewi dulu, beliau baru saja selesai makan" ujar bidan sambil mempersilahkan. bidan lebih dulu masuk lalu keluar lagi dan membuka sedikit celah tirai
__ADS_1
"ibu Dewinya siap ditemui" beritahu bidan dengan senyum ramahnya, tidak hanya pada Esa tapi pada Ola juga
Bersambung...