
Pembicaraan Dimas dan Tyo terhenti, bahkan belum sampai lelaki yang berdiri di hadapan kakaknya itu menjawab. Luna sudah keluar, meski sejujurnya ia tak mau. Dony memintanya untuk menemui Dimas, karena juga mendengar apa dikatakan oleh Siska.
Bobby dengan malasnya menatap sang adik, ingin untuk mencegah tapi ia tahan. Aldo duduk di ruang TV bersama lainnya, terlihat Luna seakan meminta izin padanya namun tak dihiraukan. Aldo sudah nyaman duduk bersama ponselnya, kebiasaan sama kala ia tak ingin bicara.
Melihat Luna keluar, Tyo pun masuk ke dala!m untuk membiarkan keduanya bicara. Tapi Luna meminta untuk lelaki itu berada di ruang tamu saja, menemani dirinya walau dari kejauhan. Diajak untuk menjauh dari rumah agar tak ada yang mendengar, tapi Luna gak mau dan memilih duduk di kursi teras rumah.
"Apa lagi, Mas?" tanya Luna bernada dingin, wajahnya menatap ke arah depan.
"Maaf soal yang terjadi di rumah kakek, aku cemburu kamu dekat sama Aldo. Lun, aku mau kita jalani lagi semuanya dan rawat anak-anak bareng. Kasih aku kesempatan sekali lagi," kata Dimas tulus.
"Aku udah maafin kok, aku juga udah maafin semuanya. Tapi kalau buat kita ... aku gak bisa lagi," jawab Luna.
"Kenapa, Luna? Apa karena kamu ada rencana lain sama Aldo? Kalian mau nikah? Apa karena itu?" cecar Dimas.
"Mau aku nikah sama kak Aldo atau enggak, itu semua gak ada urusannya sama kamu. Lanjutin hidup kamu, biarin yang udah jadi masa lalu. Jangan terus kayak gini, karena hidup kita ya emang harus tetap berjalan, bukan jalan di tempat. Sekeras apa pun kamu minta, aku gak mau. Dan aku harap, kamu gak pernah jadiin anak-anak sebagai alasan." Luna menoleh, sanggup ia lihat kecewa dari sorot mata Dimas sekarang.
"Tapi aku gak rela kamu nikah sama Aldo," lirih Dimas.
"Aku emang udah ngelakuin salah, karena semua aku pikir buat kebahagiaan kamu. Dan untuk malam itu, kamu juga udah tau gimana kenyataannya kan? Pernikahan aku sama Rena juga kamu tahu alasannya," tambahnya pilu.
"Kita bisa bahagia kok biarpun gak sama-sama. Anak-anak tetap jadi anak kamu," ucap Luna menyuguhkan senyuman.
Dimas terdiam, hatinya bagai tertusuk ratusan pisau akan penolakan begitu tegas. Sikap Luna tak berbeda dari awal ia bertemu, acuh dan seperti orang yang tak memiliki perasaan.
__ADS_1
Entah apa yang ditakutkan olehnya selama ini telah terjadi atau tidak, namun Dimas tak merasakan diri Luna yang sama. Kehilangan dua anak dalam waktu bersamaan, masalah yang datang bertubi-tubi, cukup membuat Dimas cemas akan hilangnya sebuah perasaan dari Luna sendiri.
Sikapnya memang dingin, tapi dulu masih bisa dirasakan kehangatan dari tatapan juga nada bicara. Namun sekarang, tak lagi dirasakan semua itu oleh Dimas. Ia tertunduk, air mata ingin sekali untuk jatuh tapi ditahan sekuat tenaga.
Luna meninggalkannya, dirasa cukup untuk pembicaraan kali ini. Ucapannya pun telah sangat jelas dan tegas, berharap jika Dimas akan sanggup memahami. Tyo melihat Luna yang berjalan, dia menghampiri kakaknya di luar.
Duduk di kursi yang ditempati oleh Luna, ia memegang pundak sang kakak dan seketika menyadarkan Dimas. Senyum ia tunjukkan, bukan untuk mengolok-olok, tapi untuk menguatkan. Dimas tak bisa untuk tersenyum, kedua matanya berkaca-kaca.
"Luna tau semuanya kan, Dek? Dia tau soal Rena kan?" sendu Dimas, dijawab anggukan kepala.
"Tapi kenapa dia gak mau kasih kesempatan lagi?" tambah Dimas.
"Kasih dia waktu, Mas." Tyo tak tahu harus berkata apa lagi.
Namun yang membuat Luna tak ingin kembali, bukan karena pernikahan antara Dimas dan Rena. Tapi semua karena penghinaan pada orang-orang yang ia sayangi. Luna tak ingin menjadi egois, dan membiarkan semua orang kembali tersakiti.
Nyatanya, Rena pun tak henti untuk menghubungi dirinya walau tak pernah dihiraukan. Semua bukan untuk saling sapa dan bertanya kabar, tapi meminta untuk Luna tak pernah bersama Dimas lagi.
Ya, Luna memang tahu semanya. Dia tahu jik atak pernah terjadi hubungan tubuh antara Dimasdan Rena pada malam itu. Semua kebearan itu tengkap seiring berjalannya waktu, a izin dari Tuhan.
Dimas tak bisa untuk mmmium, dia tumbang usai di antarkan ke kamar. Semua yang terjadi hanya karaan belaka, yang benar adalah Dimas tertidur dan pakaian dilepaskan karena dirsa tak nyaman.
Rena sendiri tidur di bawah selimut sama, tapi mereka tidak melakukannya. Cinta mengharuskan seorang Rena mengatakanbanyak cerita yang dikarang dengan bebas, menekan Dimas untu bertanggungjawab.
__ADS_1
Tapi keberadaan Tuhan bukanlah sebuah dogeng semata, Tuhan itu ada dan Maha Segalnya. Fakta-fakta pun terbongkar bersama apa saja yang diakukan oleh Rena terhadap Dedrick, Dony dan sikap apa yang ia berikan pada Brian, sampai bocah itu tak pernah ingin tinggal bersamanya.
Bocah malang yang selalu bungkam itu, akhirnya membuka suara dan bercerita tentang alasannya. Mengapa ia memilih bersama Dimas, dan menganggap Luna seperti ibu kandungnya sendiri. Perlakuan yang diberikan oleh ibu kandungnya, diceritakan dan membuat semua orang bersedih ketika mendengar. Luna tak membiarkan Brian untuk melanjutkan ceritanya, berkata jika semua orang menyayangi dirinya termasuk Rena.
Mungkin kala itu ia sedang berada di titik paling tak berdaya akan sebuah rasa takut kehilangan, melampiaskan pada Brian sebagai anak kandungnya. Luna sendiri tak menyalahkan diri Rena, ia turut andil dalam sikap tak seharusnya itu. Jika saja, Luna tak membuat Rena kesal dan tak tenang hati, mungkin keadaan akan berbeda.
Kini, Luna tak ingin lagi kembali dan mempertaruhkan banyak orang hanya demi sebuah hubungan. Bukan tak mungkin jika semua akan kembali terulang, entah penghinaan atau bahkan cerita karangan. Tak banyak yang diharapkan dalam hidupnya, hanya sebuah kedamaian semata.
Dony melihat putrinya duduk dan mengambil camilan di atas meja, meraih pundaknya dan memeluk. Tak bertanya, tapi itu cara Dony untuk sekedar menguatkan sang putri tercinta. Aldo melirik sejenak, dia ingin keluar dan kembali pulang, tapi sepertinya tidak mungkin untuk sekarang, atau orang akan berpikiran macam-macam.
"Anak-anak mana? Kok gak ada?" tanya Luna, tak mendapati satupun dari keempatnya.
"Di kamar, lagi digantiin baju sama mama dibantuin Siska. Brian sama Aulia ikut," jawab Dony.
"Buat kamu!" ucap Bobby menyodorkan bungkus camilan kosong.
"Udah kosong," kata Luna mengambil bungkus camilan berwarna hijau dan kuning berukuran besar.
"Ya emang udah kosong, kali aja mau muntah gitu habis ngobrol sama orang di depan. Kan disitu lebih enak," santai Bobby.
"Bobby ...." Dony melirik putranya, cengengesan lelaki suka berkata sesuka hati itu.
"Jorok banget!" gerutu Aldo melirik malas.
__ADS_1