
Esa mendesah pasrah. menerima lapang dada sikap kedua orang tuanya yang memperlakukannya layaknya makhluk gaib, tak dianggap.
"terimakasih atas makan malamnya. mm... boleh Esa minta waktu kalian sebentar" sahut Esa begitu melihat kedua orang tuanya bersiap meninggalkan meja makan
Ratu dan Barack saling melirik
"15 menit" sahut Barack acuh
tak punya waktu banyak hanya sekedar meratapi sakit hati atas sikap dingin kedua orang tuanya, Esa lekas beranjak mengikuti langkah kepergian tuan dan nyonya rumah yang kemudian berhenti di ruang keluarga
Esa mendudukkan bokongnya di sofa dengan kaku, sedikit segan karna tak dipersilahkan, walau rumah ini rumah kedua orangtuanya tapi Esa rasanya tak bisa bersikap seenaknya apalagi melihat sikap tertutup Barack dan Ratu terhadapnya.
"ma.."
"langsung intinya saja" sahut Ratu datar membuat kalimat yang sudah Esa susun untuk meminta maaf pada perempuan yang telah melahirkannya itu tertelan kembali
Orang tuanya saja bisa sekecewa itu padanya, lebih-lebih perasaan kedua mertuanya yang putri kesayangan mereka ia curangi dengan sengaja. Esa lagi-lagi hanya bisa merutuk diri dalam hati
* * *
Tak ada yang bisa Esa lakukan selain memaksa matanya terpejam. sudah 4 jam ia bak cacing kepanasan diatas ranjangnya. hati dan pikirannya berkecamuk. dilanda rasa sesal dan sesak secara bersamaan. sekarang hanya ada ribuan kata 'andai' yang membisiki relungnya
jika semua andai itu adalah kenyataan, pasti ia tak akan melewati hari sengsara ini
"La, mas rindu sayang" gumamnya dengan mata terpejam dibalik lengannya
tak kunjung mendapatkan ketenangan, Esa beranjak duduk bersandar di dashboard ranjang. meraih ponselnya lalu menggulir aplikasi yang membawanya pada room chat bersama ISTRINYA MAS ESA 👩❤️💋👨💦
__ADS_1
'lagi apa sayang?' ketiknya namun langsung dihapusnya lagi
pesan yang ia kirim 3 jam yang lalu saja masih centang satu. istrinya pasti sudah tidur nyenyak mengingat jam kini sudah memasuki waktu dini hari, 02:37
Hendak mengobati kerinduan, jempol tangan kanannya menscrol room chat bersama sang istri. ada ratusan chatnya yang tak mendapat respon dua minggu belakangan terhitung sejak gugatan cerai Ola masuk ke pengadilan. bukannya mendapatkan kedamaian, malah hatinya makin teremas begitu semakin menggulir ke atas ia menemukan beberapa chatnya yang penuh dusta kepada sang istri yang dibalas sang perempuan dengan penuh percaya padanya.
jadilah malam itu Esa menangis hingga pagi menjelang. menangisi penyesalannya yang sudah sangat terlambat. lalu dengan langkah gontai ia menuntut kakinya menuju kamar mandi untuk mengejar waktu subuh, bukannya langsung mengambil wudhu, Esa malah terdiam dengan kepala yang terisi penuh dengan bayangan sang istri.
masih sangat segar di ingatannya kejadian pertama kali Ola menginap di kamarnya ketika mereka masih pengantin baru. waktu itu mereka bangun kesiangan sehingga membuat mereka berebutan mengambil wudhu yang mau tak mau membuat Esa mengalah, namun kemudian Ola malah mempersilahkannya lebih dulu "mas aja dulu, mas kan yang akan menjadi imam shalatku" ucap Ola kala itu
mereka bangun kesiangan bukan karna begadang melakukan ritual malam pertama, bukan, sebab mereka baru melakukannya setelah pernikahan jalan dua bulan ketika Ratu memberikan mereka tiket liburan yang ketiga kalinya. pada akhirnya Esa kalah dengan janjinya pada seorang wanita rahasia karna tak kuat lagi menahan godaan pesona sang istri sah.
"mas rindu pengen jadi imam sholat kamu lagi, La" gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
setelah melakukan kewajibannya sebagai umat muslim, Esa gegas keluar kamar dengan pakaian tidur yang memang masih terdapat beberapa potong di lemari kamarnya. begitu sampai di ruang tengah, ia mendapati sang papa tengah duduk menikmati secangkir teh sembari membaca majalah
"pagi, pa" sapanya yang hanya direspon deheman oleh Barack
"ini buahnya, pa" Ratu dari arah dapur membawa piring dengan beberapa jenis potongan buah
"pa, ma, Esa pamit pulang dulu" ujar Esa ketika Ratu telah meletakan piring di meja
"tunggu bentar"
netra Esa mengikuti punggung perempuan yang pernah mengandungnya menjauh. ia masih berdiri diam menunggu sang mama ketika Barack menawarkan buah padanya
"makasih pa" jawabnya lalu mencomot potongan buah apel
__ADS_1
tak lama Ratu datang dengan kain tebal yang Esa kenali adalah miliknya sendiri
"bawa ini, nggak ada gunanya juga disini" ratu melempar jaket dan Esa sigap menangkapnya
"Esa pamit dulu. jangan lupa bantu Esa merayu Tuhan supaya menantu kalian cepat luluh sama perjuangan Esa" setelahnya Esa beranjak sembari memakai jaketnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang kini fokus menatap kepergiannya
"sepertinya dia tidak tidur, pa" ucap Ratu dengan mata berkaca-kaca. walau semarah apapun pada Esa, ia tak bisa membenci putranya. mereka hanya benci sama kelakuan Esa bukan pada darah daging mereka
"seperti katanya tadi malam, biarlah dia berjuang sendiri. kita hanya support dengan doa kita"
sama seperti sang istri, walau mereka kompak bersikap dingin pada putra mereka, tapi Barack tetap melangitkan doa agar perjuangan putranya untuk mendapatkan kesempatan memperbaiki pernikahan dengan sang menantu diberi kelancaran.
Barack tahu sudah semaju apa perjuangan Esa memperbaiki kesalahannya, ditambah semalam putranya yang tengil sampai berlutut di hadapannya dan sang istri demi memohon pengampunan dan meminta ridhonya agar sang putra bisa mendapatkan ridho dari Allah untuk memperjuangkan sang menantu.
"pa, mama mau ketemu perempuan itu" ujar Ratu tiba-tiba
"jangan buang-buang waktu berharga mama hanya untuk ketemu dia" Barack menyeruput tehnya lalu kembali memfokuskan netra ke halaman majalah.
"dia sudah kurang ajar sekali sama menantu kita, pa"
Sebenarnya dari kemarin Ratu ingin melabrak mantan gundik putranya yang rupa-rupanya tak memiliki urat malu itu. bisa-bisanya dia yang hanya seorang wanita simpanan meminta menantunya mundur bahkan berani menemui langsung sang menantu. andai saja kemarin Barack tak melarangnya, sudah Ratu labrak perempuan laknat itu
Barack pun sebenarnya sangat marah begitu mengetahui aksi gila Dewi Asmara kepada Ola dari paparan bukti-bukti pak Fajar, pengacara sang menantu di pengadilan kemarin. hanya saja Barack masih mengedepankan logika dan harga diri. buat apa membuang-buang waktu hanya untuk melabrak seorang yang tak penting seperti itu, toh dia punya banyak cara untuk membalas perbuatan gila si gundik.
salah satunya, perampokan sopan yang dilakukan oleh mantan suami dan mantan mertua Dewi kemarin siang di butik perempuan itu.
ya, semua berkat campur tangan seorang Barack Putra Nugraha. sejak kejadian dimana Esa mengakui memiliki wanita simpanan di ruang rapat hari itu, Barack tak tinggal diam saja. Ia bergerak cepat namun tenang, dengan bantuan beberapa orang suruhan untuk mencari tahu seluk beluk seorang Dewi Asmara sehingga kini semua sudah Barack kantongi.
__ADS_1
buat apa memiliki banyak uang kalau masih harus capek-capek memberantas hama kecil yang sialnya adalah mantan simpanan putra satu-satunya itu.
Bersambung...