Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Boleh


__ADS_3

Mercedes benz E-class hitam pekat yang membawa suami istri itu merayap di jalan raya dengan ribuan kendaraan lainnya. di tengah-tengah fokusnya di balik kemudi, Esa sesekali melirik sang istri yang mendadak seperti seorang introvert


"mau makan dulu nggak di resto depan?" tanya Esa memecah keheningan yang kemudian dijawab "boleh" oleh sang istri tanpa menoleh ke arahnya


mereka sudah lebih dari sejam terpenjara di jalan padahal jarak tempuh si kuda besi kesayangan Esa baru menempuh sekitar lima kilometer. sekitar pukul lewat angka lima mereka meninggalkan rumah sakit, kini waktu hampir memasuki angka 7 malam. Esa tentu takut asam lambung istrinya kambuh kalau telat makan


"pesan apa, Yang? samain aja sama punyaku?" Esa yang telah menyebutkan pesanannya pada pelayan beralih menatap Ola yang belum juga menemukan menu yang diinginkan


"boleh" jawab perempuan itu lalu menyerahkan buku menu pada pelayan


* * *


"mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang?" tanya Esa begitu mereka sudah menghabiskan isi dalam piring. menawarkan kali aja sang istri ada tempat yang ingin di kunjungi, mall misalnya.


"pulang"


Esa mengangguk, setelah membayar tagihan ia mengajak Ola keluar dari restoran. lalu kembali melajukan mercinya di jalan yang mulai sedikit renggang


"Yang?"

__ADS_1


"mas ada salah, ya?" tanya Esa akhirnya setelah panggilannya tak digubris sang istri


"kamu tidur, La?" tanyanya dengan suara rendah yang kini memfokuskan atensi seutuhnya pada sang istri begitu mobilnya terjebak macet di lampu merah jalan persimpangan empat.


Esa memajukan badannya lalu mengecup pelipis sang istri begitu menyadari ada kesempatan bisa mengecup perempuan itu "aku mencintaimu" bisiknya penuh kesungguhan


sedang dibalik matanya yang terpejam, Ola merasakan kecupan basah dari Esa, dari pada mengantuk dan tidur, otak Ola malah memutar memori dari berbagai situasi bak kaset rusak


"mba Ola pasti mau nerima aku jadi madunya, mas" ucap perempuan tidak tahu malu dan tak beretika. bagaimana mungkin perempuan itu mengatakan hal demikian pada Esa sementara disamping Esa ada istri sahnya yang terang-terangan lelaki itu genggam tangannya "kita bisa bicarain ini bertiga baik-baik, kan?" bola mata si janda beralih menatap mengiba pada Ola


"kita bisa bahagia bersama tanpa ada yang tersakiti" pintanya dengan air mata yang sudah merembes deras. berharap mendapatkan simpati, atau paling tidak Esa tidak terang-terangan menyakiti perasaannya di depan mata dengan tak melepas genggaman tangan pada Ola


sungguh, Ola rasanya ingin sekali mengumpat kasar dan memaki-maki seandainya saja ia adalah orang yang suka mengumbar emosi. Akan tetapi, lagi-lagi logikanya muncul di waktu yang tepat. mengingatkan bahwa seorang perempuan terhormat tidak akan kalah dengan kemarahan yang meledak-ledak.


Untung saja kali ini Esa peka. lelaki itu menolak tegas bahkan terlihat tak peduli bagaimana histerisnya Dewi mendengar pengakuannya.


"maaf. seumur hidup cukup sekali saya melakukan kesalahan fatal dengan menduakan istri saja" jawab Esa. lelaki itu lalu menoleh sesaat ke arah istrinya kemudian kembali melanjutkan kalimatnya yang berasal dari hati "saya mencintai istri saya sebagai perempuan pertama dalam hidup saya"


"malam dimana saya pamit sama kamu waktu itu, pengakuan saya adalah sebuah kejujuran. tapi kalau kamu lupa, saya akan tegaskan sekali lagi bahwa rasa yang saya punya sama kamu berbeda dengan rasa yang saya miliki untuk istriku. saya mencintai istriku lebih dari cinta untuk diri saya sendiri. namun saya tidak pernah merasakan hal demikian di dua tahun kebersamaan saya dan kamu, yang ada hanya rasa kasihan dan merasa tertantang untuk bisa melihat hidup kamu lepas dari penderitaan yang sejak kecil kamu alami" panjang lebar Esa berucap demi mempertegas bahwa Dewi tak perlu lagi membuat drama konyol seperti ini.

__ADS_1


"saya harap ini terakhir kali kamu dan ibumu merepotkan saya dan istriku. dikemudikan hari, saya tidak akan segan-segan bertindak kriminal kalau istriku masih kamu gangguin juga" rasa empati yang begitu besar pada sesama makhluk Tuhan seolah hilang dari sosok Esa, sepertinya lelaki itu sudah terlalu muak menghadapi Dewi dan ketidakwarasan perempuan itu. bagaimana bisa perempuan dewasa masih bersikap kekanakan dengan mencoba bunuh diri hanya demi menarik perhatian seorang lelaki beristri seperti Esa


lepas dari ingatan di bilik brangkar Dewi, ingatan Ola terbang ke Bali ketika salah satu kerabat Naya datang menjenguk keponakannya yang dimana Ola berserta sahabatnyanya yang lain masih di dalam ruang rawat Naya.


seorang perempuan dengan usia sekitar akhir kepala 4 datang tidak hanya sekedar menjenguk tapi juga memberi kekuatan batin pada Naya yang secara tak langsung juga pada Ola, dia adalah sepupu dari ibunya Naya.


Tante Naya yang bernama Sekar itu menceritakan kisah rumah tangganya yang berhasil melewati badai meski harus melewatinya dengan luka berdarah-darah tak nampak. dimana suaminya menghamili karyawannya, namun karna suaminya bertobat dan terus meyakinkan Sekar kalau dia menyesal akhirnya Sekar membuka kesempatan kedua untuk suaminya yang telah memiliki anak dari wanita lain itu. tak banyak perempuan bisa sepemaaf dirinya, hanya saja jika Sekar mundur, Sekar takut malah bertemu lelaki lebih parah, jadi dia mencoba peruntungan membuka pintu maaf. dan terbukti, suaminya betul-betul berubah sehingga membuat Sekar justru bersyukur telah legowo menghadapi cobaan pernikahannya belasan tahun lalu.


"yakin dengan orang baru akan setia? hati manusia tidak ada yang tau. daripada susah payah membangun hubungan dengan orang baru kenapa tidak melihat bagaimana perjuangan suamimu yang telah banyak berubah?" tanya Sekar pada Naya. memang sejak Naya di rawat, katanya si Dimas memang tak pernah absen ke rumah sakit meminta maaf pada Naya yang keukeh menutup pintu maaf. meski Naya menutup semua jalur, tapi Dimas tetap datang meski hanya sampai di luar kamar rawat, bahkan suami Naya itu baru pulang esok pagi setelah menghabiskan malam di kursi tunggu depan kamar rawat Naya


"tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua, dengan catatan waspada dengan perasaan mu. sebab cobaan setiap pernikahan berbeda-beda" pesan Sekar pada Naya yang justru membuat kebimbangan Ola pada pilihan antara bertahan atau lanjut bercerai sedikit menemukan titik terang.


"Yang, bangun kita udah sampai" suara lembut Esa mengudara setelah mesin mobil di matikan.


berhubung Ola memang tidak tidur, perempuan itu membuka mata lalu menegakan tubuh, begitu tangannya hendak meraih tasnya di samping tubuhnya gerakannya terhenti mendengar ucapan Esa


"mas boleh singgah sebentar nggak di unit kamu?" Esa tahu kalau ia hanya akan mendapat penolakan meski begitu ia hanya ingin bersuara agar bisa mendengar suara istrinya sebelum mereka berpisah.


"boleh" bersamaan dengan jawaban yang nyaris seperti bisikan itu Ola membuka pintu mobil dan keluar dari sana, sementara Esa masih tercengang, tidak salah dengarkan indra pendengarnya?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2