Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 24


__ADS_3

Setibanya di rumah, Dimas menggendong Brian lalu menempatkannya di atas ranjang dalam kamarnya. Tertidur saat di perjalanan, mungkin ia juga kelelahan seperti kedua adiknya. Dimas duduk di sofa, menyandarkan punggung dan juga kepala. 


Lelah rasanya hidup dalam kesepian macam ini, tapi mungkin itu adalah hukuman yang pantas untuk di dapatkan olehnya. Terkadang ingin untuk kembali bekerja dan disambut oleh sang istri, seperti dahulu kala. Mengurut kening dengan kedua mata terpejam, Dimas terngiang lagi akan ucapan dari Brian.


Tidak bertanya pada siapa-siapa, lebih memilih untuk langsung menghubungi Luna. Ponsel dalam saku celana kerja kanan, ia ambil dan menekan nomor Luna untuk tersambung panggilan. Tak langsung ada jawaban, dia harus mengulang sampai dua kali, baru panggilan itu terjawab oleh perempuan yang sudah bersama laptop dari selesai memeriksa tas juga seragam Aulia.


"Kamu lagi ngapain? aku boleh nanya?" tanya Dimas begitu terdengar suara Luna di ujung panggilan.


"Lagi duduk aja, mau tanya apa?" sahut Luna tanpa mengatakan tentang pekerjaan di depan mata.


"Aldo ngelamar kamu? jawaban kamu apa?" langsung Dimas bertanya pada intinya.


"Enggak ... enggak ada," sahut Luna.


"Aku tau, kalau kamu gak akan pernah cerita soal pribadi. Tapi aku butuh kamu jujur sekarang," kata Dimas.


"Mas, apa pun yang terjadi dalam hidup aku sekarang, itu urusan aku. Kalau kamu mau tanya soal anak-anak, aku bakal jawab. Tapi enggak buat hidupku," jawab Luna.


Dimas menelan saliva, dia tahu hal itu dan menghapal dengan sangat. Seseorang yang memang tak akan pernah menjawab pertanyaan tentang dirinya, membiarkan semua menjadi rahasia bersama Tuhan. Dimas tahu akan semua itu, tapi ia juga ingin tahu seperti apa keadaan sebenarnya.


"Aku gak mau mikir yang enggak-enggak, aku gak mau denger semua dari orang lain. Makanya aku langsung hubungi kamu, aku gak mau salah paham lagi. Aku juga gak mau buat berharap sesuatu yang gak pasti," kata Dimas usai menarik sangat dalam napasnya.


"Iya," singkat Luna.

__ADS_1


"Iya?" tanya Dimas tanpa memahami jawaban yang diberikan.


"Iya, aku ngerti. Mas istirahat aja, gak usah banyak pikiran. Jangan terlalu berharap ke manusia, kalau mas gak mau kecewa. Aku juga gak ngerasa kasih harapan apa-apa kok, jadi jangan berharap juga. Aku tutup dulu," pungkas Luna seketika mematikan tanpa mendengar jawaban.


Tak ingin untuk di cerca lebih banyak pertanyaan, dimana ia tak ingin untuk menjawab atau bahkan menjelaskan. Lebih baik untuk diakhiri saja, melanjutkan pekerjaan  kembali. Dimas terpejam lagi kedua matanya, menurunkan tangan ke atas pangkuan bersama ponsel di pegang lemas.


Ingin menghubungi sang adik, tapi ia lebih dulu mengirimkan pesan dan minta izin. Tyo yang memang sedang menatap layar ponsel sembari berbaring dengan istrinya, membalas dengan langsung menghubungi. Tentu ia bertanya dulu pada Siska, bukan karena takut, tapi karena ia menghargai istrinya.


"Kamu belum tidur, Dek?" tanya Dimas menjawab panggilan.


"Belum, Mas. Ini baru aja masuk kamar," sahut Tyo.


"Dek, mama ada ngomong sesuatu gak? maksudnya, soal Luna sama Aldo. Apa mama ada ngomongin soal mereka?" tanya Dimas.


"Luna sama Aldo? enggak tuh, Mas. Tadi mama pulang juga cuma cerita si kembar aja, emang kenapa? ada apa sih?" jawab Tyo seraya menatap istrinya dan mengernyitkan alis.


"Apa?! Aldo lamar Luna?! terus gimana?! dia mau?!" terkejut Tyo sampai bangun dari posisi bersandar. Siska pun tak kalah terkejut, karena tingkah dan nada tinggi suaminya.


"Kencengin aja tuh suara, emang dikira gak sakit apa telinga?!" protes Dimas mengusap telinganya. Tyo cengengesan, meminta maaf pada kakak juga istrinya. Kembali duduk lalu merangkul Siska.


"Ya udahlah, tidur sana udah malam. Mas mau mandi," kata Dimas lagi.


"Lah, kan ngomongnya belum selesai. Kenapa main tutup aja sih, Mas? udah penasaran ini," sahut Tyo.

__ADS_1


"Bentar deh, aku telfon Bobby apa Aldo dulu. Habis itu aku hubungi lagi, Mas!" semangat Tyo.


"Makasih, Dek." Pungkas sang kakak.


Dari keterkejutan adiknya, jelas sekali kalau Tyo pun tak mengetahui apa-apa. Awalnya dinas mengira jika kedekatan yang ada antara adiknya juga Aldo serta yang lain, akan memberikan jawaban pasti tersendiri. Ya, tapi apa pun itu juga Dimas berharap kalau memang semua tak ada.


Jika memang ada kabar semacam itu, pasti Natalie sudah paling heboh. Kali ini dia begitu tenang, bahkan Tyo yang sering diajak bercerita juga tidak mengetahui apa-apa. Entahlah, Dimas hanya bisa untuk berharap kalau Brian salah dan Aldo masih berada pada pendiriannya sendiri.


Tyo langsung menghubungi Aldo begitu panggilan berakhir dengan kakaknya. Belum sampai diangkat, ia mengurungkan panggilan dan beralih untuk menghubungi Bobby. Tak ada gunanya juga bertanya pada Aldo, selain membuatnya darah tinggi sendiri. Kalau tidak dijawab singkat dan sekenanya, pasti jawaban sangat jauh diberikan dari topik pertanyaan.


"Emang beneran, Sayang?" tanya Siska kala suaminya menunggu panggilan terjawab.


"Kayaknya emang bener deh," jawab Tyo.


Siska pun mengangguk dalam ekspresi berpikir, sepertinya memang benar untuk hal itu. Apa lagi, perkataan Bobby kapan hari yang menyatakan jika Aldo sepertinya berubah pikiran. Kalau benar, tentu akan sangat bahagia. Namun juga bingung, bagaimana cara mengambil sikap terhadap Dimas.


Ah, semua ini membingungkan. Tak ada bedanya dengan berdiri di ujung tebing dengan jurang yang curam. Bahagia salah, karena sama halnya berbahagia di atas penderitaan Dimas. Tak bahagia, namun memang sangat bahagia karena akhirnya mereka bisa bersatu.


Sering membicarakan tentang keduanya, doa pun terselip tanpa sengaja. Terlihat saling membutuhkan, dan bergantung satu sama lain. Kala satunya tak ada, maka satunya akan mencari dan cemas sendiri. Pertengkaran yang sering terjadi diantara mereka, juga tak layak disebut pertengkaran. Lebih pantas disebut ungkapan sebuah perasaan, karena semua punya cara tersendiri.


Tyo mengomel sendiri, panggilan tidak dijawab oleh Bobby. Siska meminta untuk besok saja, mungkin sahabat baiknya itu sedang tidur atau melakukan pekerjaan lain. "Apa nanya mama langsung ya?!" ucap Tyo.


"Udah malam loh, Sayang. Udah besok aja," sahut istrinya.

__ADS_1


"Iya juga sih. Tapi gak enak kalau penasaran gini," jawab Tyo.


Siska menggelengkan kepala, itulah lelaki yang sudah menikahinya. Tak akan nyaman saat penasaran. Tidur pun mata tak akan terpejam, makan dan minum hanya sampai di tenggorokan ketika dia sudah penasaran dan belum mendapat jawaban. Tapi bagaimana lagi, memang haru sudah malam dan Siska harus membantu untuk suaminya menunda rasa penasaran besarnya.


__ADS_2