Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
kunjungan


__ADS_3

mobil Rush keluaran terbaru berwarna putih itu baru saja memarkir di halaman depan sebuah butik yang berlokasi di pusat kota Semarang, tak lama setelahnya seorang lelaki dan perempuan dewasa turun lalu saling bergandengan tangan melangkah menuju pintu masuk.


"teman-teman ku udah pernah coba kesini, tapi aku tidak pernah tertarik sebelum kamu ngajak aku kesini"


"iya sayang. kamu boleh belanja sesukamu disini. pilih semua yang kamu mau" ujar si pria lalu kemudian membawa punggung tangan istrinya untuk dikecup


"bentar, aku telpon mama dulu" perempuan itu menghentikan langkah hendak merogoh ponsel di dalam tasnya, namun gerakannya terhenti begitu mendengar kalimat suaminya


"mama udah di dalam kok. tadi ngabarin lewat chat"


"astaga kok kamu baru bilang" perempuan itu melangkah lebar membuat suaminya berdecak gemas


"baru lima menit yang lalu mama sampai Yang, kamu kenapa sepanik ini sih. lagian kamu telat sejam pun mama tidak bakalan marah, toh kamu itu menantu kesayangannya"


"maka dari itu, karna disayang aku harusnya nggak ngelunjak dan buat mama kamu kecewa" gerutu sang perempuan


dan ketika kedua pasangan suami istri itu memasuki pintu masuk, mereka langsung menangkap aura mencekam di dalam sana, beberapa pengunjung tampak menaruh kembali potongan pakaian ke display lalu satu persatu meninggalkan butik tanpa melakukan transaksi.


dua pasang netra suami istri itu terpaku pada sosok perempuan paru baya dan seorang perempuan dewasa yang saling berhadap-hadapan


"puas ibu membuat semua pelangganku pergi?!" ada aura kemarahan yang kentara dari raut wajah si pemilik butik, Dewi Asmara.


"berani-beraninya perempuan rendahan sepertimu memelototi mamaku!!" teriakan menggema dari arah pintu masuk membuat Dewi seketika menoleh dan detik itu juga keringat tiba-tiba membasahi dahinya


"ma...mas Fadil" gumam Dewi terbata


"iya ini saya" lelaki itu lalu melangkah tak lupa menarik tangan istrinya "udah lama banget saya biarin kamu bebas sehingga membuat kamu lupa daratan, heh?" lanjutnya berdesis begitu tiba di samping Dewi


"mas, mau apa lagi?" tanya Dewi nyaris berbisik


Fadli terkekeh, pertanyaan mantan istrinya benar-benar menggelitik indra pendengarnya

__ADS_1


"kamu tentu tidak lupa bukan kisah kelam masa laluku yang kamu hancurkan?"


"mas, itu sudah berlalu lama" Dewi beranikan diri menatap netra hitam milik mantan suaminya, tak lama, ia kembali menunduk takut


"terus kalau sudah lama, kamu pikir saya bisa melupakan bagaimana kamu menjebak ku seolah-olah meniduri mu demi ku nikahi, heh?"


"tapi... tapi kamu sudah menyiksaku selama pernikahan kita dulu, aku sudah mendapatkan balasannya"


"oh ya? kamu pikir perempuan picik sepertimu bisa bebas setelah itu? jangan karna 3 tahun ini saya berhenti berurusan denganmu kamu sudah merasa bebas dari ulah menjijikan yang kamu lakukan demi merebut ku dari tunanganku waktu itu. tidak Dewi! saya datang untuk membalas mu. karna perbuatan kamu, anak dan tunangan ku sampai meninggal karna bunuh diri, kamu pasti masih ingatkan?"


Dewi spontan melangkah mundur, tangannya langsung merogoh ponsel namun benda canggih itu harus berakhir terpental ke lantai akibat ulah tangan Fadli


"kenapa? mau mengadu sama lelaki kaya itu?" tanya Fadli sinis


Dewi tak peduli, ia memilih memungut ponselnya, akan tetapi belum sempat ia raih, ponsel itu sudah berpindah tempat karna kaki mantan mertua Dewi


"saya akui kehebatan mu dalam menggoda lelaki kaya" Ujar mama Fadli meremehkan, matanya memindai penampilan Dewi dari ujung kaki hingga ujung kepala


"apa yang kamu berikan? ************ seperti yang ibumu lakukan untuk mendapatkan uang" kata-kata penuh cibiran itu meluncur bebas dari bibir tipis berwarna merah kecoklatan. tatapan mencemooh juga secara terang-terangan ia layangkan pada perempuan yang pernah membuat keluarganya menanggung malu, bahkan ada beberapa orang-orang di sekeliling mereka masih sering menyinggung kisah masalalu Fadli akibat perbuatan Dewi di masalalu


plak


"jangan membentak ibu mertuaku, ja-lang!" istri Fadli menunjuk tepat di depan wajah Dewi setelah memberikan cap telapak tangan di pipi putih itu


"sudahlah. kita jangan buang-buang waktu dan tenaga. nak, silahkan ambil sesukamu pakaian yang kamu inginkan, jangan lupa pilihkan mama juga, mama sama Fadli yang urus ja-lang ini" ujar Lisna pada menantunya yang langsung diindahkan sang menantu


setelah istri Fadli pergi, Lisna mengeluarkan sesuatu dari tas brand lokal seharga cicilan mobil, lanjut melemparkan ke dada Dewi


"tanda tangani segera. saya muak berlama-lama berada di dekat perempuan jahat"


Dewi membatu begitu membaca isi selebaran kertas itu.

__ADS_1


kesal lantaran ucapan sang ibu tak di acuhkan oleh perempuan yang dianggapnya sudah merusak nama baiknya, Fadli lantas mengancam dengan nada tajamnya


"kamu cuma punya dua pilihan, Ja-lang! transfer 1 m atau kamu akan kami penjarakan atas penjebakan, pembunuhan dan pencemaran nama baik. pasti lelaki kaya bodoh itu tak bisa lagi menolong mu setelah mengetahui tabiat aslimu"


"kami tunggu 1x24 jam. kalau kamu belum transfer kami akan memasukan tuntutan ke pangadilan"


setelah mereka puas, mereka beranjak pergi dengan puluhan paper bag yang berisikan pakaian-pakaian baru. meninggalkan sang pemilik butik yang menahan geram


"dasar manusia-manusia licik! iblis! pencuri!" maki Dewi dengan suara tertahan. ia lalu menjatuhkan diri ke lantai


"sa... satu m? dari mana aku dapat sebanyak itu? kalau aku berikan, semua isi tabunganku akan habis"


meski rasanya sangat tidak rela, tapi Dewi takut kalau mantan suaminya benar-benar melaporkannya. ia tidak mau dipenjara. bagaimana jika Arjuna tahu? laki-laki itu pasti akan membuangnya.


ya, ia punya Arjuna, bukan? tak mengapa ia kehilangan uang tabungan hasil jatah bulanan dari mas Arjunanya, toh ia akan mendapatkan ganti dari kekasihnya itu lagi.


'mas kamu dimana? aku mau ketemu, penting. aku butuh kamu, mas'


ketiknya dan langsung mengirimkannya pada room chat bersama Arjunaku ♥️


sementara itu, di pengadilan agama, lelaki yang masih dianggap Dewi sebagai kekasih sekaligus ladang sumber uangnya tengah di telanjangi akan kebrengsekannya di hadapan para hakim, pengacara, keluarga Ola, orang tuanya sendiri dan para tamu yang ikut hadir di dalam ruang sidang


bukti-bukti perselingkuhan Esa semua di keluarkan. tentang Ola yang mendengar pertengkaran Esa dan Barack di kantor waktu itu, tentang nafkah yang Esa berikan pada Dewi, tentang hadiah-hadiah lainnya yang harusnya adalah hak Ola, tentang kebohongan Esa mengenai lembur, termasuk Chat Dewi pada Ola yang menyuruhnya mundur dari pernikahan mereka.


jika tadinya Esa masih punya nyali untuk memohon kesempatan, kali ini bahkan untuk sekedar berharap pernikahannya bisa terselamatkan tidak ada lagi. ia hanya mengangguk membenarkan semua bukti-bukti itu. bahkan sekedar untuk menanyakan kebenaran mengenai chat kurang ajar Dewi pada sang istri, Esa tak sanggup mengeluarkan suara.


satu hal yang bersarang di otaknya yang sukses memukulnya mundur adalah ternyata Ola mendengar dari mulutnya sendiri bahwa ia akan menceraikan sang istri demi menikahi wanita simpanannya. pantas saja istrinya tak memberinya kesempatan bagaimana pun ia memohon. sang istri pasti merasa direndahkan olehnya karna pilihan bodoh itu, Esa telah menginjak harga dirinya serendah itu meski dari lubuk hati Esa tak ada niat untuk merendahkan kekasih halalnya.


sumpah. Esa berani bersumpah tak pernah menganggap Ola seperti itu. Alasan Esa berani mendebat ayahnya hari itu semata-mata supaya orang tuanya bisa merestui hubungannya dengan Dewi agar janjinya pada perempuan malang itu bisa ia tepati. Esa tak bisa lepas karna terlanjur berjanji, dan Dewi terus menuntut kapan Esa bisa menepati janjinya.


pantas saja sejak kedatangan Ola ke kantor hari itu, sikap perempuannya itu berubah nyaris 180 derajat.

__ADS_1


dan pantas sang istri menceraikannya karna kebodohannya yang tega mengingkari janji suci yang terucap di hadapan Tuhan, para kedua orang tua dan para saksi demi menepati janji terdahulunya pada Dewi yang notabenenya semata-mata hanya ingin membayar rasa bersalahnya


Bersambung...


__ADS_2