Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 15


__ADS_3

Olivia keluar bersama Siska, tapi keempat bocah itu tetap di kamar dan bersenda gurau. Melihat semuanya di ruang TV, Olivia mengintip ke depan tapi tak terjangkau oleh kedua matanya. "Dimas udah pulang?" tanya Olivia pada putrinya.


"Belum, Ma. Masih di depan," jawab Luna.


"Gak sopan banget sih? ke depan sana, temuin!" kata sang mama.


"Masa Luna sih, Ma?" memelas perempuan yang tak ingin untuk pergi.


"Ya masa mama? kan itu mantan suami kamu," sahut wanita masih berdiri di samping putrinya duduk.


Melihat ke semua orang yang ada di ruang TV, satupun tak ada yang beranjak. Luna berdiri walau dengan kemalasan tingkat tinggi, berjalan ke depan untuk menemui kembali Dimas dan Tyo yang masih ada disana. Dony melirik Bobby agar menemani sang adik, tapi putranya berpura-pura memijat kaki segera. 


Bukan tak ingin menemui, tapi Dony sendiri bingung harus mengatakan apa lagi jika Dimas menyinggung soal hubungan bersama Luna. "Mama temenin Luna sana," katanya pada sang istri.


"Masa mama sih? mau ngobrol apa nanti?" sahut Olivia, malah duduk disamping suaminya.


"Siska aja, Om. Disana juga ada mas Tyo," ucap Siska menawarkan diri.


"Ide bagus," kata Olivia menatap wajah cantik menantu sahabatnya.


Siska pergi ke depan, sejujurnya ia juga tak enak dengan kedatangan Dimas ke rumah Dony yang pasti tidak diketahui oleh lainnya. Aldo mengikuti dari belakang, atas isyarat yang diberikan oleh Olivia. Dia sendiri malas untuk ke depan, pertanyaan Dimas selalu membuatnya enggan menjawab. Belum lagi perkataan sesuka hati atas pemikiran sendiri, itu memuakkan bagi Aldo.


Bukan tak ada yang menghormati Dimas lagi, semuanya tak menyukai jika harus di desak. Padahal jelas dikatakan kalau semua terserah pada Luna, jangan menggunakan nama anak. Mereka juga tak ingin kalau jawaban yang diberikan, justru membuat Dimas berpikir hal lain. Seperti apa pernah diutarakan pada Tyo, jika semua lebih mendukung Luna bersama Aldo daripada dirinya, walau segalanya telah ditunjukkan dengan jelas.


Di depan, hanya ada dua kursi teras. Luna meminta Tyo untuk masuk saja bersama Dimas, agar bisa duduk sama-sama. Siska berada di dekat suaminya, Dimas pun bersebelahan dengan sang adik. Luna dan Aldo duduk bersebelahan tapi berbeda sofa, lelaki itu kembali bermain dengan ponsel. Tyo, Siska dan Luna menghapal kebiasaan itu, tidak ada yang menegur Aldo dan membiarkan suasana hening.

__ADS_1


"Panggilan Brian, Dek. Udah malam," pinta Dimas.


"Masih main sama anak-anak di kamar, Mas. Nanti biar pulang sama kita aja," sahut Siska.


"Iya, Mas. Nanti biar tidur di rumah aja," timpal Tyo.


"Seragam sama pelajarannya di rumah," kata Dimas.


"Ya udah, nanti aja kita antar ke rumah. Kalau mas mau duluan gak apa-apa," ucap Tyo.


Dimas menghela napas, dia memang sangat ingin pergi dari pada harus melihat kedekatan Luna dan Aldo lagi. Bibirnya ingin bertanya tentang apa yang ada di benaknya, tapi rasanya semua itu tertahan di tenggorokan ketika ingat kembali perkataan dari Luna tadi. Namun ia sangat ingin mencari tahu hal itu, selagi Aldo juga ada disana. Berulang kali ingin bicara berdua, Aldo menolak karena kesibukannya.


Menatap ke arah Aldo lekat, sampai seorang gadis kecil berlari menghampiri laki-laki itu dan langsung menyusupkan wajah di atas pangkuan. Luna tersenyum membelai kepala belakang putrinya. "Ngantuk ya?" tanyanya pada Dinda.


"Haus? mami ambilin minum sebentar," kata Luna, tahu apa yang hendak diraih oleh putrinya.


"Ini nih, punya Daddy belum di minum!" ucap Tyo segera, menyodorkan secangkir teh miliknya.


Siska berdiri, memberikan teh itu pada Dinda. Luna meletakkan telapak tangan dibawah dagu putrinya, agar baju yang baru saja diganti tak basah karena teh yang menetes. "Anas!" kata Dinda, baru meminum sedikit saja.


"Masa panas sih?" tanya Aldo yang mengerti bahasanya sedikit-sedikit.


"Enggak kok," ucap Siska memegang cangkir bagian luar.


"Iya, enggak panas. Hati kamu kali yang panas," kata Luna asal.

__ADS_1


"Nyindir?" celetuk Tyo.


"Hehehe, enggak nyindir siapa-siapa. Asal ngomong aja," cengengesan Luna.


Memang tak menyindir, asal saja berbicara seperti biasa. Teh itu memang tak panas, entah mengapa Dinda berkata panas. Bocah itu menoleh ke arah Aldo, berkata panas dan menarik agar lelaki itu menundukkan kepala dan meniup. Cangkir di pegang oleh Aldo, tapi ia tak meniup teh yang ada dan langsung memberikan pada Dinda. 


"Modus banget!" protes Tyo, karena Dinda tak lagi berucap panas seperti ketika Siska yang memegang cangkir.


"Ih, genit banget! giliran mommy yang pegang panas kamu ya?!" turut protes Siska, berdiri di depan Aldo dan Dinda.


"Bikin malu aja!" kata Luna memalingkan wajah.


Tapi Dinda seolah tak mendengar protes dari ketiganya, terus menyeruput teh lalu berkata enak. Tinggal sedikit saja, tapi tak ia habiskan. Aldo memberikan cangkir itu pada Luna agar diletakkan di atas meja, karena tak mungkin untuk meletakan sendiri dengan adanya Dinda di atas pangkuan. 


Luna meraih tisu di atas meja, membersihkan mulut dinda. Dia terlihat manja, menyandarkan kepala pada dada Aldo lalu memejamkan mata yang sangat terlihat jika itu dipaksakan. "Anaknya siapa sih?!" protes Luna, geli sendiri dengan tingkah putrinya.


"Hehehe, kayak emaknya kalau lagi manja ya?" tawa Siska sembari berjalan duduk, terbelalak Dimas mendengarkan hal itu.


"Lebih sih! emaknya kalau ke om Dony udah kayak ada lem aja," celetuk Tyo meluruskan, agar tidak ada salah paham yang berkembang dalam pikiran kakaknya.


"Tapi kayaknya emang anak perempuan semuanya gitu ya, lebih dekat sama papanya. Kamu juga kan, Sayang? kalau ketemu papa bawaannya nempel aja," tambah Tyo, mengingat kebiasaan istrinya. Siska memberikan isyarat dengan melirik Dimas, Tyo pun menjulurkan lidah dalam wajah terpasang bersalah.


Luna tertawa paksa, menoleh ke Dinda dan menepuk lirih kaki putrinya untuk sekedar mengalihkan. Entah seperti apa perasaan dari Dimas sekarang, wajahnya terkadang kaget juga tersimpan kemarahan tersendiri dalam binar matanya. 


Aldo tak bersuara, lelaki itu membiarkan Dinda terpejam di dada walau tahu itu tak benar-benar tidur. Mengusap poni rambutnya ke arah belakang, siapa tahu Dinda akan segera tidur dan dia bisa pulang.

__ADS_1


__ADS_2