Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 19


__ADS_3

Di tempat lain, ada Natalie yang sengaja mendatangi kediaman Dony dan bertemu cucunya. Membawakan beberapa pakaian dan mainan, tak lupa juga makanan kesukaan dari Aulia juga si kembar. Dia sudah disana cukup lama, usai menjemput Brian dari sekolah. Tentu saja cucunya itu juga ikut, dan sudah mendapat izin dari Dimas ataupun suami tercinta.


Duduk nyaman di atas karpet, menemani cucu-cucunya bermain. Sengaja karpet itu di gelar oleh Olivia di dekat pintu, agar udara bisa menyejukkan mereka. Luna turut berada disana, memegang es krim untuk disuapi pada keempatnya bergantian. Natalie memperhatikan seseorang pernah menjadi menantunya itu, lebih tertuju pada mata panda yang dimiliki oleh Luna.


Setiap kali bertemu, ada saja yang diperhatikan oleh Natalie. Entah kaos oblong super besar yang dipadukan dengan celana sampai lutut, atau rambut yang terkesan berantakan, juga tubuh semakin kurus dari ibu muda tersebut. Sering ia berbincang dengan Teddy mengenai hal itu, tidak jarang membandingkan dengan Luna sebelum menikah.


"Kamu gak pernah istirahat, Nak?" tanya Natalie.


"Istirahat kok, Ma. Emangnya kenapa?" sahut Luna santai, Natalie mengamati sekali lagi perempuan tengah duduk melipat kedua kaki di depannya.


"Ya karena kamu tambah kurus, mata kamu lingkar hitam kayak gitu. Orang yang lihat juga bakal ngira kamu gak pernah istirahat," celetuk Olivia.


"Iya, muka kamu capek banget kelihatannya. Kamu juga gak makan teratur? atau emang sengaja diet?" timpal Natalie.


Luna menyunggingkan senyum, melihat ke tubuhnya sendiri. "Istirahat kok, Ma. Beneran deh," kata Luna. "Aku juga enggak diet, cuma lagi hemat dari pada beli baju. Kasihan baju lama gak pernah dipakai," tambahnya.


"Udah, gak usah nanya ke dia. Jawabannya gak pernah bener," ucap Olivia pada sahabat baiknya.

__ADS_1


Luna kembali tersenyum lebar, Natalie bergeming menatap. Ya, itulah alasan yang kerap diberikan, jawaban yang kerap dianggap Olivia sangat menyebalkan. Kalau saja Luna mau untuk dibantu mengenai biaya dan lainnya, mungkin semua akan lebih mudah bagi keluarga Dony juga Natalie.


Tapi sayang, dia terus saja menolak dengan ucapan sama. Bukan ingin merendahkan Luna dan menganggapnya tak mampu, tapi siapa yang akan tega melihatnya terus bekerja semacam itu. Coba untuk memahami tentang diri perempuan yang tak ingin merepotkan siapa-siapa, mereka juga tahu sifat mandiri itu telah dimiliki dari lama.


"Kamu gak mau nikah lagi?" tanya Natalie langsung menembak pada intinya.


"Hahaha, mama apaan sih kalau nanya?" tawa Luna.


"Kamu butuh laki-laki buat hidup kamu, buat anak-anak juga. Paling gak, waktu kamu tua nanti, ada yang nemenin. Kamu gak bisa selamanya hidup kayak gini," ucap Natalie lagi.


"Mama gak bilang kalau kamu harus nikah sama Dimas, ada banyak laki-laki di dunia ini yang mau jadi pendamping kamu. Contohnya Aldo," tambahnya.


"Doanya aja, Ma. Semoga Luna sehat," jawab Luna.


Tak akan menjawab lebih tentang pernikahan, tak akan menjelaskan apa pun tentang kehidupan juga perasaan. Baginya, semua tak perlu untuk diungkapkan, meski hanya tentang apa yang dirasakan saja. Hanya ingin fokus lebih dulu pada pertumbuhan anak-anaknya, pendidikan Aulia dan juga menabung demi masa depan bersama. Luna tak ingin membebani tentang pernikahan untuk saat ini.


Kalau disinggung apakah ia tidak merasa berat atau kesepian? bohong jika berkata tidak. Sama dengan perempuan lain pada umumnya, butuh tempat untuk bersandar dan berbagi banyak hal. Namun untuk sebuah pernikahan, tidak dulu untuk saat ini. Kesepian yang ia rasakan pun, masih sanggup diatasi dengan bermain bersama anak-anak atau menyibukkan diri dengan pekerjaan.

__ADS_1


Apa yang terjadi memang sudah tak ingin di kenang, tapi munafik sekali kalau dia harus bilang telah melupakan segalanya. Ada ingatan, ada rasa trauma yang membuatnya tak ingin mengulang hal sama. Seseorang yang pernah kandas dalam hubungan pernikahan, pasti memiliki ketakutan sendiri untuk memulai lagi.


Meski banyak yang bilang, siapa yang akan tahu sama atau tidak, kalau tidak pernah berusaha memulai. Tapi memulai itu juga bukan semudah apa dikatakan, butuh sebuah persiapan dalam hati lebih dulu. Luna belum mempersiapkan hal itu sama sekali, dia hanya coba untuk menjalani sebagaimana air mengalir.


Natalie menghentikan pembahasannya, walau ia masih ingin bertanya lagi. Jawaban Luna seakan meminta untuk dirinya berhenti, Olivia mengajak wanita berbalut celana kulot hitam panjang itu ke dapur untuk membuatkan camilan bagi keempat cucu mereka. 


"Luna sama Aldo itu gimana sih?" tanya Natalie begitu sampai di dapur.


"Tau lah, kalau mereka ditanya jawabannya gimana? Aldo sendiri udah bilang gak mau nikah, tapi kalau Luna suka sama dia, beda lagi ceritanya." Olivia menjawab sembari mengeluarkan beberapa bahan dari kabinet gantung dapur.


"Maksudnya?!" tersentak Natalie.


"Ya, kalau Luna suka sama Aldo, dia mau buat maju. Tapi sekarang, Luna aja gak ada jawaban. Udah gitu, kamu tau sendiri gimana Dimas kan? jadi ya udah, biarin aja mereka bertiga yang atasi, kita doain yang terbaik aja." Olivia berbicara panjang.


"Aldo udah ngomong ke kamu?" tanya kembali Natalie, wajahnya terpasang penasaran. Olivia mengangguk, isyarat membenarkan.


Natalie menarik dalam napasnya, membuang panjang. Sepertinya memang benar-benar harus ikhlas untuk tak pernah berharap akan hubungan Luna dan Dimas. Tak masalah dengan siapa pun ia menjalani hidup kelak, tetap dia adalah anak untuk Natalie tanpa berubah.

__ADS_1


Aldo sendiri pernah dipertanyakan oleh Dony juga Olivia, jawaban sama diberikan seperti apa diceritakan oleh Bobby. Tak ingin untuk melanjutkan jika hanya ada dirinya saja yang memiliki rasa, karena pernikahan itu dijalani oleh dua orang yang harus bisa merasakan hal sama.


Entah sebuah kenyamanan, kebahagiaan, rasa cinta dan apa pun itu, harus dirasakan oleh keduanya. Tak bisa hanya dengan satu orang saja yang bahagia, memaksa lainnya untuk bahagia. Semua dari hati, tak bisa untuk dipaksa dan dikendalikan olehnya. Lagi pula, Aldo memiliki beberapa kesiapan dalam hidupnya, tak hanya mengisi semua dengan harapan yang membuat kecewa.


__ADS_2