Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Han dan Esa


__ADS_3

pagi-pagi buta, Han sudah mengantarkan pakaian kerja Esa ke apartemen Ola


"kenapa cuma bawa sepasang?" todong Esa begitu membuka pintu dan mendapati sekertarisnya hanya membawa satu buah paper bag


"bapak nggak kasih perintah" jawab Han seadanya


"harusnya kamu bisa memahami apa keinginan saya tanpa saya beritahu. untuk apa saya angkat kamu jadi sekertaris pribadi kalau apa-apa harus saya kasih tau" celutuk Esa setelah terang-terangan berdecak. ada rasa kesal terhadap sekertarisnya yang tak bisa seperti sekertaris rekan-rekan bisnisnya yang terlihat sangat paham suasana hati atasan mereka.


"saya bukan cenayan pak" Han yang memang merasa tak bersalah memberikan jawaban. lagian ia baru diangkat jadi sekertaris pribadi belum lama ini.


memang sudah dua tahun ia bekerja di bawah Esa, tapi itu hanya sebatas di kantor saja yang sama sekali tak ada pekerjaan menyangkut masalah pribadi putra bapak Barack itu. secara proposional ia masih sangat baru dan tentunya ia masih tahap belajar memahami bosnya yang nyaris jadi duda itu


"eh eh, mau kemana kau" cegat Esa menghentikan langkah Han yang hendak mengikuti memasuki unit apartemen

__ADS_1


"mau nyapa ibu bos pak"


"ck! nggak ada. kamu pulang ke rumah, siapkan beberapa pakaian saya" ujar Esa sembari menyeret tubuh Han keluar "jangan banyak tanya. sehabis rapat nanti, kita akan terbang ke Makassar" setelahnya Esa langsung menutup pintu apartemen


sementara Han masih terdiam melongo mendengar kalimat terakhir bosnya. sebab setahunya Esa dalam waktu dekat tak memiliki agenda di Makassar. kata 'kita' semakin membuatnya kebingungan, itu berarti ia juga harus ke sana. yang membuatnya bingung adalah, mereka hendak ngapain ke sana? Han sama sekali tak memiliki bekal jika kunjungan mereka mengenai bisnis.


kecuali...


* * *


jika Baso bisa melakukan apapun dengan uangnya, Esa juga bisa bermain dengan uangnya. sehingga ia bisa menyelinap memasuki kota Makassar setelah membayar agar pihak pesawat tak membocorkan identitasnya. beruntungnya Baso hanya memblacklist namanya tidak dengan wajahnya.


"Han, saya boleh minta tolong?" tanya Esa dengan suara yang tak seperti biasanya. suaranya seperti canggung dan memelas?

__ADS_1


Han langsung menoleh ke sampingnya di mana bosnya sedang menatap kaca mobil yang melaju membelah jalan tol. bos yang memaksanya terbang ke Makassar demi urusan pribadi.


"minta tolong apa pak?"


"khem!" Esa berdehem keras, lalu menyerongkan tubuhnya, tatapannya berangsur berubah tajam "uang saya baru saja terkuras habis demi meloloskan kita, jadi... kamu saya perintahkan untuk menelpon pak Barack atau istrinya, minta untuk mentransfer uang pada putranya. bilang saja pada mereka kalau putranya yang sudah lama tidak mereka jajani tiba-tiba pengen jajan dengan uang orang tuanya" tutur Esa tanpa rasa malu atau lebih tepatnya sengaja menghilangkan rasa malu demi menebalkan kembali saldo rekeningnya yang habis ia kuras demi membayar tiga kali lipat para orang-orang suruhan Andi Baso


"pak?" Han tak bisa berkata-kata lagi mendengar kalimat sarkas sang bos "bapak serius? bapak mau lihat saya mati sekali kunyah?" lanjut Han dengan nada memelas.


meminta uang pada bos tertinggi perusahaan? oh tidak, Han masih sayang nyawanya!!


"oh jadi begini kerjaan yang katanya siap bekerja dibawah tekanan?" sindir Esa sukses membuat Han mengumpat dalam hati


Bersambung...

__ADS_1


Maaf yah pendek.. belakangan nggak bisa fokus ke sini karna ada kegiatan penting lain 🙏🙏


__ADS_2