Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 30


__ADS_3

Menanti hingga Luna berhenti makan, Aldo masih setia dengan tangan melipat di depan dada memperhatikan perempuan tetap saja terisak dengan makanan terus dimasukkan. "Udah puas?" tanya Aldo begitu Luna berhenti makan.


"Habis," jawabnya menunjukkan piring kosong.


"Enak? lahap banget," godanya seraya mengambilkan air putih.


"Campur ingus," jawab Luna. Bergidik lelaki disampingnya, menunjukkan ekspresi jijik. "Jorok banget!" tutur Aldo.


Luna meneguk air putih setengah, perutnya tak sanggup untuk terisi lagi. "Udah makan pulang, ini udah dibayar kan?" ucap Luna dengan wajah terpasang bodoh.


"Udah di makan baru nanya udah dibayar apa belum, kalau belum?" sahut Aldo.


"Kasbon dulu, nanti potong gaji." Luna melengkungkan bibir.


Aldo menggaruk bagian samping hidungnya yang tak gatal, menoleh ke arah lain. Ingin tertawa, namun di tahan karena Luna baru saja menangis. Tak tertawa, rasanya sayang karena wajah disampingnya terpasang begitu polos menyebalkan. 


Memanggil pelayan untuk membayar, ternyata semua telah di bayar lebih dulu oleh Dimas. Mereka berdiri dan keluar dari tempat sudah membuat perut Luna penuh sekarang. Menuju ke mobil dan masuk ke dalam. "Jangan pakai AC, perutku kenyang banget. Aku mual," pinta Luna.


"Lah kan udah di buka juga jendelanya," sahut Aldo menghapal.


"Hehehe," cengengesan Luna.


Kaca jendela memang sudah di buka lebih dulu usai mesin dinyalakan dan siap melaju. Luna tak bisa untuk terkena AC ketika perut sedang penuh, ia akan memuntahkan semuanya. Itu sudah menjadi bagian dari hidup Luna semenjak kecil, di hapal oleh Aldo karena pernah perempuan itu meminta sewaktu hamil dulu.

__ADS_1


"Lepasin cincinnya," kata Aldo seraya menatap lurus ke jalanan.


"Ah, maaf. Aku gak izin dulu tadi," sesal Luna tapi enggan melepaskan.


"Sini," tangan Aldo diulurkan untuk mengambil cincin. Luna menyingkirkan kedua tangan ke arah lain, dia menggelengkan kepala. "Gak mau!" ucapnya.


"Luna, itu bukan buat kamu. Aku cuma minta kamu simpan aja," terang Aldo.


"Itu bukan cincin yang bisa kamu pakai jadi alasan ngejauhin Dimas," tambahnya.


"Aku gak pakai buat itu, tapi aku pakai buat kasih jawaban ke kamu." Luna memegang cincin di jarinya.


"Maksudnya? mau jalani aja sama aku?" tanya Aldo santai.


"Pelarian?" tanyanya kembali.


"Masa depan," sahut Luna.


Aldo menoleh, dia menatap perempuan yang ternyata menatapnya itu. "Ah, nyebelin banget!" kata Aldo.


Luna menyunggingkan senyum dengan kedua bahu terangkat ke atas. Jawaban asal yang terdengar seperti rayuan, harusnya sudah mulai di hapal oleh telinga Aldo dari perempuan yang entah seperti apa keinginannya. Benar-benar tak mudah untuk membaca ekspresi wajah Luna, sekarang dia tengah berbicara apa dan ekspresi seperti apa ditunjukkan, begitu juga mata yang berbeda.


Sudahlah, biarkan saja mengalir layaknya air. Usaha telah dilakukan bersama doa, kini serahkan pada Tuhan. Siapa yang akan bisa mengerti Luna, senyum tetap ada walau tadi sudah terisak semacam itu. Masih sanggup membuat orang tertawa, meski jelas terlihat kesedihan di matanya. 

__ADS_1


"Langsung pulang?" tanya Aldo.


"Kenapa? mau kencan dulu?" balas tanya Luna.


"Enggak ada cita-cita," sahut Aldo lalu menambah kecepatan untuk pulang ke rumah. Luna tertawa, tapi itulah diri Aldo yang membuatnya justru nyaman dan dijadikan idola oleh beberapa perempuan.


Kata-kata yang selalu membuat orang lain terbang, lalu menjatuhkan dengan sangat kencang. Itu tak pernah lepas dari diri seorang lelaki berwajah tampan tersebut. Baginya santai tanpa ada maksud apa-apa, namun terkadang ada saja perempuan yang salah paham dengan caranya berbicara. 


Aldo mengemudi di tengah kegelapan, sedangkan Luna diam menemani disampingnya. Kata-kata dari Dimas tentang sebuah pilihan, masih belum bisa untuk dipercaya. Bagaimana bisa hal-hal yang tak bisa dipilih, justru dijadikannya pilihan. 


Pembicaraan Rena pun, pada akhirnya tak jadi diutarakan. Melihat kedekatan Aldo, cincin yang melingkar, dan juga sikap Dimas tadi, ia sudah bisa untuk menyimpulkan beberapa hal. Awalnya, Rena hanya ingin untuk Luna tak memberi harapan, melepaskan Dimas jika memang tak bisa menjadi yang terbaik untuknya.


Ada orang lain yang siap untuk membuat Dimas bahagia, tanpa ada lagi tekanan seperti apa dilaluinya. Orang itu pastilah diri Rena sendiri, perempuan yang tak akan pernah melepaskan Dimas sampai kapanpun. Perempuan sama yang telah begitu salah arti akan biaya yang diberikan oleh Dimas padanya.


Ya, Luna pernah untuk meminta Dimas agar tak melepaskan kepedulian dari seseorang yang pernah menjadi istrinya itu. Dimas pun mengiyakan, ia menuruti saran dari Luna untuk memenuhi kebutuhan Rena dari banyak hal. Kapan pun dia membutuhkan, tak perlu untuk menjadi sungkan. 


Namun rupanya, hal itu membuat Rena salah paham dan menganggap jika Dimas tak pernah ingin melepaskan dirinya. Entahlah, hati dan pikiran manusia seperti apa juga tak akan pernah ada yang tahu, selain dirinya juga Tuhan. Luna tak pernah masalah jika memang Rena dan Dimas harus kembali, toh hidup pun ia tak meminta satu sen pun dari Dimas.


Permintaan tentang diri Rena itu pun mencuat, tatkala Dimas memaksa untuk Luna menerima uang darinya. Tapi bukan Luna jika akan menerima begitu saja, baginya menerima uang dari Dimas berarti siap tunduk padanya, dan itu tak akan pernah terjadi dari seseorang yang memang tak suka dikendalikan.


Bukan karena sombong, tapi dia memang orang yang memegang sebuah prinsip. Selama dirinya mampu untuk bergerak, maka ia akan berusaha sekuat tenaga. Ketika kaki tak sanggup melangkah, ada tangan untuk bekerja, ketika tangan tak bisa, ada mulut yang sanggup untuk bekerja, semua akan dilakukan tanpa bermimpi untuk berpangku tangan.


Hal itu pula yang mendasari Aldo untuk memberikan pekerjaan lebih pada Luna, seperti itulah caranya membantu keuangan dari perempuan yang kerap menolak halus semua bantuan dari keluarga. Entah itu Dony, Olivia, Bobby, bahkan keluarga Dimas harus mencari alasan ketika ingin memberikan sesuatu pada Luna atau anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2