
Dari pada kembali ke perusahaan dengan hati dan perasaan tengah melanglang buana kepada sang istri, Esa memilih pulang ke rumah mereka dan menyusun rencana untuk mempertahankan rumah tangganya.
bukannya mendapat ketenangan, Esa malah disambut tamu tak diundang. dari mana perempuan itu tahu alamat rumahnya? selama ini baik rumah kedua orangtuanya maupun rumah pribadinya tak pernah Esa beritahu pada mantan simpanannya itu.
Melihat Dewi berani datang ke rumahnya membuat Esa makin muak. jika ditanya sekarang, hal yang paling ia sesali dalam hidupnya, Esa akan menjawab lantang, bahwa ia menyesal bertemu perempuan itu. entahlah rasa kasihan yang ia kira adalah cinta yang dulunya ia agungkan melayang begitu saja ketika mendapati sikap cuek Ola terhadapnya beberapa waktu lalu. lebih dari apapun Esa lebih sengsara tak mendapat perhatian dan kasih sayang istrinya dari pada kehilangan seorang Dewi Asmara. dan bodohnya ia baru menyadari setelah semua sudah hancur berantakan.
begitu Esa keluar mobil, Dewi yang sedari tadi berdiri di pelataran rumah lantas mendekati lelaki yang masih dianggapnya sebagai kekasihnya
"mas Arjuna baru pulang? pantas saja sejak tadi aku tekan bel nggak ada yang bukain pintu" ujar Dewi dengan suara mendayu-dayunya
"dari mana kamu dapat alamat rumah saya?"
Dewi menyadari nada dingin itu, hanya saja ia memilih tuli. ia bertekad akan meluluhkan kembali Arjunanya
"mas, Dewi rindu sekali sama mas Arjuna. maafkan Dewi karna beberapa hari yang lalu Dewi tak sengaja bertemu mbak Ola di jalan. mobilnya macet, karna kasihan, Dewi berinisiatif mengantarnya balik ke sini" dusta Dewi penuh siasat. kekasihnya tidak mungkin menanyakan hal itu langsung kepada Ola sebab sang Arjuna terlalu baik hatinya menjaga perasaan Ola juga dirinya. lelaki itu selalu percaya padanya apapun yang ia katakan.
Esa melongo takjub mendengar itu. jika saja yang dihadapannya adalah seorang lelaki, sudah pasti ia akan menghajarnya sampai mampus. bagaimana mungkin wanita yang selalu ia percaya apapun yang keluar dari mulutnya ternyata hanya seorang pendusta. kenapa matanya baru terbuka sekarang setelah 4 tahun mengenal perempuan itu? atau karna perasaannya yang terlalu lemah lembut sehingga bertahun-tahun mempercayai rubah berwujud manusia itu? semua yang sudah ia korbankan untuk Dewi malah berbalik menjadi duri mematikan dalam hidupnya
"apa yang kamu katakan pada istri saya?"
mengingat pernyataan istrinya di pengadilan bahwa Dewi beberapa kali meneror sang istri pergi dari hidupnya melalui chat, beberapa kali menguntit sang istri, hingga puncaknya Dewi berani mendatangi Ola secara langsung dan meminta istrinya mundur setelah chatnya hanya diabaikan oleh Ola membuat Esa bahkan siap mendorong Dewi ke jurang paling mengerikan di dunia
"nggak ada"
__ADS_1
lebih dari siapapun, Esa lebih percaya dengan serentetan kalimat Ola dari pada omong kosong Dewi.
melihat tak ada perubahan, Dewi mengeluarkan jurus terakhirnya. menangis layaknya orang paling lemah dan tersakiti, biasanya Esa akan langsung memeluknya sembari menenangkannya
"maafkan Dewi mas, Dewi sangat mencintai mas Arjuna, Dewi butuh mas, hanya mas satu-satunya" ujarnya sembari terisak dengan linangan air mata, lalu ia melangkah semakin dekat dan langsung memeluk Esa
mendapat serangan tiba-tiba itu, wajah Esa detik itu juga langsung merah padam, ia gegas memegang pundak Dewi hendak menjauhkan perempuan itu dari tubuhnya, namun lagi-lagi nasib sial menghampiri kala di detik yang sama, mobil yang ia kenali sebagai milik istrinya memasuki pekarangan. Ola melihat adegan itu
setelah melepas paksa pelukan Dewi hingga membuat tubuh mantan kekasihnya nyaris jatuh ke tanah, Esa langsung menghampiri mobil istrinya
"sayang, kamu pulang?" Esa membukakan pintu mobil Ola, ada binar bahagia di bola mata lelaki tampan itu mendapati istrinya masih mengingat rumah mereka
"ya, dan sepertinya aku mengganggu?" tanya balik Ola sembari menatap Dewi yang berjarak beberapa langkah di belakang tubuh Esa
"jadi, kamu sudah mengundangnya datang ke rumah? sudah tidak sabar memperlihatkan bekas kamarku yang akan menjadi kamar kalian nantinya?" tanya Ola dengan nada dingin berintonasi rendah, sengaja agar perempuan pendek di belakang sana tak besar kepala mendengar kalimatnya
"La, kasih mas kesempatan berbicara, mas nggak tahu dia dapat alamat rumah kita dari mana, mas nggak pernah sekalipun kasih tau dia alamat rumah kita, sayang"
"benarkah begitu?"
"sumpah"
"demi apa?"
__ADS_1
"demi cintaku padamu"
"cih lemah sekali" bola mata Ola berputar sebagai tanggapan geli mendengar bualan Esa
"kenyataannya memang cintaku padamu lebih besar dari apapun di dunia ini. tapi kalau kamu mau sumpah lain, aku bersumpah demi Tuhan, demi orang tuaku, demi ketampanan ku, demi masa depanku, demi si adik gagah kesayangan kita di balik cel..."
ucapan Esa terpotong begitu Ola membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan perempuan itu. jengah dengan otak Esa yang mulai melantur jorok
"aku mau masuk. kalau kalian mau bicara silahkan bicara di luar. rumah ini masih rumahku" setelahnya Ola melangkah pergi, begitu melewati tubuh kaku Dewi, Ola hanya melirik sekilas tanpa emosi apa-apa
apa yang Esa lihat dari perempuan ini sih? dilihat dari sudut manapun jelas Ola bisa menang tanpa membuat para pria berpikir lama. tapi sepertinya itu berlaku untuk pria lain yang jelas bukan pria bodoh seperti Esa
"tentu, rumah ini akan selalu menjadi rumah kamu, sayang" Esa menyusul langkah istrinya, mengabaikan kehadiran Dewi juga panggilan perempuan itu yang terus memanggil namanya
"pergilah, jangan temui saya lagi. kamu dan saya sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi sejak malam itu" usirnya kesal saat Dewi begitu lancang menahan lengannya
lalu pintu kembar bercat putih itu tertutup rapat tepat di depan wajah Dewi
"kamu tega mas sama aku" bukan drama, nyatanya hatinya sakit diabaikan oleh lelaki yang dicintainya demi perempuan lain
"lihat saja, kamu akan tetap menjadi milik aku satu-satunya" tanpa menghapus air matanya, Dewi pergi dari rumah yang tadinya sudah ia bayangkan akan menjadi istananya membina rumah tangga bersama Esa dan anak-anak mereka kelak
Bersambung...
__ADS_1