
bukan tender, bukan laba, juga bukan karna kontrak kerjasama baru, bukan hal itu yang membuat mata tajam lelaki dengan stelan jas abu-abu itu berbinar memandangi layar ponselnya.
adalah chat dari seorang perempuan yang belakangan tidak pernah lagi muncul di notifikasi ponselnya, perempuan yang sering sekali hanya membaca chatnya tanpa ada balasan itu tiba-tiba mengirimkan pesan ajakan makan siang?
"aku mau makan siang di Cafe Colombia"
meski pesan itu bersifat abu-abu entah ajakan atau perempuan itu hanya memberitahu kegiatannya, tapi Esa yang sudah melatih diri untuk peka akan perasaan sang istri berinisiatif menganggap bahwa itu sebuah ajakan. jika menyangkut Ola, Esa akan memanfaatkan moment kecil sekalipun untuk dirinya mendapat peluang.
"mas jemput?" dibalasnya cepat detik itu juga
"tidak. kita ketemu di resto saja, kebetulan aku ada meeting di seberang restonya jadinya kalau selesai aku langsung ke sana"
kan, Istri cantiknya mengajaknya!
siapa yang tidak kegirangan? moment itu bagaikan mendapat durian runtuh
"baik istriku sayang. mas kesana sekarang"
tak peduli bagaimana tanggapan orang, Esa tak peduli sekalipun ia dicap lebay. yang jelas chat dari perempuan yang sangat ia cintai membuatnya lupa di mana ia berada, bahkan ia tersenyum layaknya orang tolol.
mengabaikan tatapan aneh dari para peserta rapat, Esa kemudian yang paling pertama beranjak, memohon undur diri terlebih dahulu lalu pergi dari ruangan yang sudah memenjarakannya hampir dua jam lamanya. untung saja Ola mengirimkan pesan disaat rapat baru saja ditutup. tinggal acara basa-basi para peserta, memanfaatkan waktu untuk saling bertegur sapa sebab jika sudah kembali ke rutinitas harian akan sangat jarang mereka bertemu.
Barack yang melihat ekspresi putranya hanya menggeleng kecil dengan wajah datarnya. apalagi saat Esa ikut menyeret Han dari ruangan padahal salah satu dari mereka harus memberinya laporan bulanan sebagai perwakilan divisi Operasional.
'untung anak sendiri' batin pria paruh baya itu mencoba memaklumi. jika saja dia tak tahu kalau sang putra memiliki misi penting demi mempertahankan pernikahan, Barack tidak akan mentolerir kelakuan calon pewarisnya itu.
__ADS_1
masalahnya disini bukan cuman Esa yang menginginkan perempuan keturunan ningrat bugis Makassar itu kembali menyandang gelar nyonya muda Nugroho, baik Barack apalagi Ratu juga sangat menginginkannya.
* * *
jika ada makhluk Tuhan yang mengatakan bahwa cinta bisa mengalihkan dunia seseorang, mungkin memang benar itu adanya. seperti yang sedang terjadi pada sang Arjuna. untuk beberapa saat ia tak mampu mengalihkan tatapannya dari wajah cantik sang istri.
apalagi Ola yang tersenyum sangat manis membuatnya seolah terhipnotis. senyum manis yang sudah lama hilang dari bibir madu sang istri membuat hati Esa yang berbunga-bunga seperti tengah di hinggapi ribuan kupu-kupu indah disana. Esa berlama-lama memandang wajah cantik Ola tanpa peduli pada sekitarnya. Esa bahkan sempat menyelipkan rambut Ola yang menghalangi pandangannya ke belakang telinga ketika perempuan itu terkekeh sendiri, mungkin malu dipandangi olehnya. Esa tak tahan untuk tak menangkup pipi mulus istrinya dan mencubitnya gemas.
dua menit diabaikan membuat Dewi tak tahan. dirinya dan Esa hanya terpisah selebar meja, tapi kenapa seolah seluas samudera? Esa hanya butuh satu lirikan untuk melihatnya, bukan terpaku pada satu titik di depan mata
"mas..." panggil Dewi lirih
merasa sumber suara itu tidak berasal dari bibir yang dari tadi ditatapnya, Esa menyadari bila tadi sang istri tidak duduk sendirian, ada perempuan dengan rambut lurus panjang menemani Ola.
"dia bilang ada yang mau dibicarain sama kamu. jadi aku pertemukan kalian. aku baik, kan?" kata Ola pada Esa tanpa melepas pandangannya dari perempuan yang sekarang berani menatapnya tajam.
"ya, aku pikir kita memang harus bicara, Wi" Esa menautkan jemari tangan kirinya pada jemari kanan sang istri, yang perempuan itu taruh di atas pangkuan. "katakan apa yang ingin kamu katakan" lanjut Wira dengan nada dan ekspresi datar
Dewi kebingungan, bagaimana ia bisa mengutarakan maksudnya jika ada Ola di sana.
"bukannya kamu yang minta waktu untuk ketemu, kenapa sekarang diam? anggaplah kalian cuman berdua" Ola geram menonton Dewi yang bungkam
menunduk dan menutup matanya sejenak, Dewi memunculkan semua keberaniannya ke permukaan. selama ini Esa tak pernah mau mengangkat telepon darinya. juga pesan-pesan yang dikirimnya tak berbalas, bahkan nomor pribadi sudah diblokir oleh lelaki itu. jadi mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki.
"mas... kembalilah... jangan lagi mengatasnamakan rasa bersalah pada Mbak Ola untuk meninggalkan aku" ujarnya dengan nada memelas
__ADS_1
rasa bersalah, alasan itu yang Dewi yakini menjadi satu-satunya penyebab Esa meninggalkannya. Dewi menutup mata pada apa yang disaksikannya saat laki-laki itu datang. menutup telinga pada lembut suara Esa menyapa istrinya. membutakan mata hati pada apa yang ia rasakan terhadap tulus sikap Esa untuk Ola. Dewi masih tetap pada pendiriannya bahwa cinta Esa masih untuknya.
Ola melirik Esa tajam, tapi suaminya itu justru terlihat sangat tenang. Pelan, ia merasakan ibu jari Esa mengusap punggung tangannya.
"kamu salah. ini bukan rasa bersalah. aku memang mencintai Ola" Elsa menanggapi tanpa keraguan sedikit pun atas pertanyaan mantan kekasihnya.
Dewi menggeleng berulang-ulang "kamu bohong..." desisnya pelan.
"Maaf... aku salah pernah ngasih kamu harapan yang terlalu besar" nada suara Esa melembut "bukan maksud aku menyakiti kamu, tapi perasaan nggak bisa diatur, kan?!"
"jangan gini, Mas..." mohon Dewi dengan mata berkaca-kaca "kamu masih cinta sama aku" lanjutnya dengan suara lirih nyaris tak terdengar
giliran Esa yang menggeleng tegas "aku cuma cinta istriku, Wi"
Ola berdecih menyaksikan drama murahan sepasang mantan kekasih tersebut secara langsung. tak habis pikir, bagaimana mungkin ada perempuan seperti Dewi yang mau menjatuhkan harga dirinya sendiri serendah itu. Ia yang berstatus sebagai istri saja, langsung memutus pergi begitu tahu Esa berencana menceraikannya. tidak ada sedikitpun keinginan untuk memohon agar mereka tetap bersama bagaimanapun cinta dalam hatinya yang telah mengakar untuk pria itu.
Dewi tak menyerah, kembali ia mencoba melayangkan harapannya "tapi kalian dalam proses perceraian, kan?"
"ya, tapi itu hanya sekedar status. istriku atau bukan, Ola akan menjadi satu-satunya perempuan yang aku cintai"
bersamaan dengan jawaban yang Esa lontarkan, Ola mengangkat tautan tangannya dengan sang suami ke atas meja.
Dewi terperangah, bahunya lunglai. sambil menunduk ia berkata "aku butuh kamu Mas, aku mencintai kamu tulus, aku tidak mau kehilangan kamu" kalimat dengan suara yang nyaris seperti bisikan itu keluar beriringan dengan air mata yang jatuh dari kedua matanya
Bersambung...
__ADS_1