
"astagfirullah!"
Ola memekik sembari mendorong tubuh Esa lalu bergegas turun dari kasur
"sayang, ada apa?" Esa menahan pergelangan tangan istrinya, sorot matanya kebingungan melihat ekspresi Ola yang tampak kalut, padahal mereka baru saja berbaikan dengan cara berpelukan untuk saling memaafkan sekaligus pelukan rasa syukur karna masih bersama setelah nyaris bercerai.
Esa yang pernah menjadi penjahat pada pernikahan mereka tentu merasa waspada, jangan-jangan Ola masih tak mempercayainya sehingga sekarang wanita itu seolah ingin segera berlalu dari hadapannya
"mas aku telat, lepasin"
"telat? kamu hamil?" tanya Esa dengan mata berbinar penuh harap
belum sempat Ola menjawab, getaran pada ponselnya membuatnya mengabaikan pertanyaan Esa dan segera mengangkat panggilan masuk setelah melepas paksa tangannya dari genggaman Esa
"ibu baik-baik saja?"
pertanyaan bernada khawatir itu langsung menyerbu telinga Ola
"hm aku baik. maaf Freya aku kesiangan. aku akan ke kantor sekarang"
"oh syukurlah kalau ibu baik-baik aja. santai saja bu. Pak Masdar sudah menyetujui kontrak kerja sama, beliau baru saja pergi dari kantor kita"
"hah?"
"beliau datang lebih awal dari perjanjian, untungnya ibu udah kirim tadi subuh desain finalnya ke saya, jadinya pas beliau lihat langsung tertarik dan tanpa pikir panjang langsung mengiyakan" jelas Freya tetap sopan menggunakan kalimat formal dengan atasannya walau Ola tak formal padanya
ah, jadi keputusannya yang langsung mengirim ke email Freya hasil desain yang ia selesaikan semalam menolongnya kali ini. untung saja, pasalnya pak Masdar salah satu pemilik perusahaan besar dari Bali yang Ola dan tim incar selama ini
"oh syukurlah Frey. aku udah getar-getir ini pas lihat jam udah pukul 8 aja, takut banget kalau desain yang aku bela-belain kerja sampe larut bakalan sia-sia"
"saya nelpon ibu beberapa kali tapi ibu nggak angkat"
Ola meringis merasa bersalah karna tidur begitu nyenyak sampai tidak merasakan getaran ponselnya, jangankan getaran ponsel, bibir Esa yang menggetarkan pucuk dadanya pun tak Ola rasa sama sekali. bagaimana tidak, rumah sekaligus kamar juga ranjang yang sempat ia tinggalkan sebulan lebih kembali ia pijak membuat rindunya pada seisi rumah ini terobati sehingga ia merasa aman dan tentram dalam lelapnya, ataukah mungkin alasannya karna ia tidur dalam pelukan sang suami? entahlah...
setelah membahas sedikit jadwal Ola pada sang asisten, akhirnya panggilan terputus.
"ternyata telat ke kantor, mas pikir telat datang bulan" gumam Esa lalu merobohkan punggungnya dengan lemas ke kasur
__ADS_1
Ola tak menanggapinya serius. perempuan itu memerintah suaminya agar mandi lebih dulu sebab jadwal yang Freya sampaikan tadi, dalam sejam mendatang tak ada hal urgent, berbeda dengan sang suami yang menjabat sebagai direktur keuangan di perusahaan orang tuanya yang tenaganya nyaris di butuhkan dari waktu ke waktu.
bukannya patuh pada perintah sang istri, Esa yang semula berbaring telentang mengubah posisinya jadi telungkup dengan dua tangan dan dua kaki terbuka seolah menguasai tempat tidur, sebuah reaksi yang menunjukkan rasa malas
"mas bangun, ih. mandi sana, aku mau rapi in seprai dulu" terpaksa Ola menggunakan tenaga, perempuan itu naik keranjang dan berusaha menarik bangun suaminya
"mas nggak ada tenaga sayang, mandiin ya?" gumam Esa tak terlalu jelas sebab wajah lelaki itu menyatu dengan kasur
"jadi mayat dulu kalau mau di mandiin" celutuk Ola bercanda meladeni suaminya
"astagfirullah!" kali ini Esa yang memekik, lalu menoleh ke arah sang istri dengan tatapan tajam "mulutmu sayang, mau jadi janda kamu"
"jadi janda kaya sih nggak papa, orang harta suamiku semua udah aku miliki"
"sayang mulutmu. nyebut Yang nyebut" geram Esa setelah mengubah posisi menjadi duduk
melihat ekspresi kesal juga nelangsa Esa, Ola malah gemas dan tertawa. demi apapun ia hanya bercanda, sejujurnya Ola tak butuh harta sang suami asalkan lelakinya itu tetap disisinya dan menemaninya berkomitmen dengan pernikahan mereka hingga maut memisahkan.
melihat tawa istrinya, ekspresi keki Esa perlahan luntur berganti rasa syukur atas kehadiran perempuan cantik ini di sisinya
"kamu jangan tertawa begini di hadapan pria lain ya, Yang" pintanya setelah membawa Ola dalam pangkuannya
"mas"
"hm?"
"geli"
"bentar aja" gumam Esa di sela-sela kegiatannya menyesap leher Ola
"jangan di hisap nanti berbekas" Ola berusaha menjauhkan kepala Esa tapi kalah oleh pertahanan lelaki itu
"ini ciuman tanda cinta, sayang"
"cih, mas pikir aku percaya. lama-lama berakhir bercinta kita kalau begini" ujar Ola sebab lidah sang suami sudah menjalar kemana-mana
"boleh?" tanya Esa setelah menjauhkan kepalanya dari leher putih bersih sang istri demi menatap kedua bola mata istrinya
__ADS_1
demi apapun Esa sungguh merindukan sumber kehangatan lain dari istrinya, sudah sebulan lebih si jagoan puasa.
"tapi aku belum kb, mas"
"kok kb sih Yang, kamu nggak mau punya anak? bukannya dulu kamu pengen?" Esa tampak tak suka mendengar kalimat sang istri. perasaan dan harapannya terluka, apa Ola tak mau punya anak dengannya?
"aku sih iya. tapi kamu nya selalu buang di luar kalau rahim aku tak ada racun untuk membunuh sperm*mu. nggak enak tau buang di luar, aku merasa lepas tapi nggak maksimal" jelas Ola dengan sindiran keras yang berhasil memukul telak rasa bersalah Esa. dulu ia memang se-brengsek itu. hanya mementingkan egonya tanpa berpikir bagaimana perasaan sang istri.
"Esa di masalalu itu memang benar-benar bodoh, sayang. sekarang Esa yang ada di hadapanmu saat ini adalah Esa yang pintar. suamimu yang sungguh-sungguh mencintaimu. maafin mas yang dulu ya?"
Melihat kesungguhan dari sorot mata Esa, Ola tersenyum lalu mengangguk kemudian mendekap suaminya. tangan lentiknya mengelus kepala lelaki yang memangku bokongnya.
Esa mengambil kesempatan dengan menenggelamkan wajahnya di dada montok sang istri, mendusel lalu menghirup dalam-dalam aroma memabukkan sang istri yang alami
"mas udah" Ola segera menjauhkan wajah Esa ketika menyadari tangan lelaki itu nyaris melepas kancing piyamanya
"ini udah siang, mas harus siap-siap ke kantor" peringat Ola ketika Esa menampakan ekspresi tak terima kegiatannya diganggu
"mas mau datang telat nggak papa juga, nggak ada yang berani marahin calon pewaris"
"calon pewarisnya sudah berpindah tangan loh" sindir Ola yang sukses membuat Esa tersadar akan posisinya
bahwasanya, Ola adalah bos dari segala bos bagi Esa.
"iya-iya bu bos. tapi sebelum mandi beri bawahanmu ini vitamin semangat dulu ya, setelah itu janji akan langsung bekerja dengan giat di kantor" pinta Esa memelas
"ah, mas mandi aja pake nego, aku duluan aja yang mandi" Ola segera beranjak dari pangkuan Esa lalu ngacir menuju ke kamar mandi
"Yang, satu ronde aja" seru Esa frustasi
"nggak, aku mau kb dulu supaya enak bisa buang di dalam!" Ola balas berteriak sebelum tubuhnya hilang di balik pintu kamar mandi
dasar perempuan, satu kesalahan yang dibuat prianya akan ia ingat sampai kapanpun walau hati sudah berdamai sekalipun!
"Arg!! Aku bersumpah akan membuatmu hamil tiap tahun, Yang!"
biar saja, perempuan itu harus repot agar kesalahan Esa yang satu itu bisa melebur dalam ingatan dan terganti dengan bisingnya suara bayi di rumah mereka.
__ADS_1
Bersambung