
Melewati sore hari bersama, hingga malam pun tiba. Dimas bersama Teddy langsung menuju kediaman Dony, membawakan pakaian untuk bocah laki-laki yang terpaksa menggunakan kaos serta celana dari kakaknya. Tak ada pilihan, dari pada harus gatal-gatal.
Itupun, Brian menolak dengan sangat keras. Baginya, tak baik kalau pakaian harus bergantian, apa lagi laki-laki dan perempuan. Ya, Natalie pernah berucap semacam itu, tapi dia bilang kalau mendesak tak mengapa. Pasrah dengan neneknya yang tak bisa di lawan, Brian pun bersedia memakai.
Namun tetap, dia berdiam diri tanpa mau menunjukkan batang hidungnya karena malu. Sampai di saat papinya datang, Brian pun tak ingin keluar dan mengharuskan Aulia mengambil pakaian untuk adiknya lalu mengantar ke kamar. Tingkahnya menggemaskan, dibicarakan oleh keluarga yang berkumpul di ruang tamu sekarang.
Brian keluar, langsung mengambil posisi di pangkuan papinya. Memeluk dengan wajah ia sembunyikan pada pundak, Brian tampak malu-malu usai pakaian yang ia kenakan tadi. "Kenapa sih?" tanya Dimas lirih, melebarkan kaki untuk putranya bisa berdiri nyaman dan memeluk dirinya
"Malu, tadi pakai baju kakak." Brian menjawab dengan nada super lirih, tersenyum Dimas dibuatnya.
Mengusap punggung putranya, meminta untuk duduk saja. Tapi Brian tidak ingin, Aulia pun menggodanya dengan sengaja meledek. Luna menghentikan putrinya, agar Brian tak semakin dibuat lebih malu lagi. Si kembar tertidur dari sore, baru mandi langsung pulas setelah minum susu satu botol.
Ya, tentu saja. Mereka pasti kelelahan bermain seharian. Melewatkan jam tidur siang, dan tetap seru dengan dunia bermain mereka. Wajar kalau langsung terpejam setelah badan terasa segar, perut pun cukup kenyang dengan camilan yang tak henti dinikmati bersama sedari siang.
Teddy begitu ingin istirahat, dia mengajak istri dan putranya pulang. Tak mengantar Dimas, karena lelaki itu mengambil kendaraannya sendiri. Mereka pergi untuk ke rumah masing-masing, dengan Brian yang jelas ikut papinya. Sejenak ke kamar untuk melihat buah hatinya, Dimas diberikan izin untuk mencium keduanya sebelum pergi.
"Aku pulang," pamitnya pada seseorang yang menunggu di luar kamar.
"Hm," mengangguk Luna.
__ADS_1
Terasa aneh memang, dan juga membuatnya sangat tidak nyaman. Sampai kapan sikap itu terus dingin, sampai kapan jawaban pendek yang diberikan tanpa ingin untuk saling bertemu mata. Seolah Luna memang sengaja menghindari kontak langsung, ia berpaling dan kadang menunduk.
Mengantar sampai teras rumah sebelum memeriksa jadwal pelajaran, PR juga seragam Aulia. Luna berdiri menantikan kedua mobil itu pergi, tersenyum sembari merangkul Aulia yang ada di depannya. Tinggi hampir sama, tapi Aulia suka untuk di peluk semacam itu. "Luna ke kamar atas bentar ya, Ma, Pa." Pamitnya.
Kedua orangtuanya mengangguk, Luna berjalan masuk dengan Aulia. Apa yang tadi diketahui, belum sampai ke telinga Dony. Berpikir jika lebih baik untuk tahu langsung dari yang bersangkutan, Olivia sengaja tak memberitahu apa-apa walau hati pun ingin segera bercerita.
Dimas bersama Brian di jalanan, bocah itu duduk mendampingi papinya membelah jalanan. Meletakkan telapak tangan kiri di ujung kepala Brian, senyum terlukis di wajah lelah Dimas. Bocah itu menoleh, menyuguhkan senyum dalam ketulusan. "Papi capek?" tanya Brian dengan polosnya.
"Sedikit," jawab Dimas.
"Pi, mami mau nikah sama saudaranya ya? tadi Brian dengar, katanya om Aldo lamar mami. Emang papi gak—" terpotong Dimas.
"Tadi nenek ngobrol, Brian gak sengaja dengar. Katanya mami mau nikah sama om Aldo," jawab bocah yang memang telah mendengarkan percakapan itu seusai mandi tadi.
"Mami mau?" tanya Dimas berubah sendu.
"Iya, Pi. Nenek mau bantu cari cincin sama gaunnya," polos Brian, menceritakan apa yang ia dengar tanpa sengaja.
"Tadi sore juga om Aldo sama mami terus. Om Aldo gini ke mami," tambahnya, meletakkan tangan di atas kepala mempraktekkan apa yang dilakukan oleh Aldo sewaktu di teras.
__ADS_1
Dimas melihatnya, hatinya teriris. Kabar yang dikatakan oleh putranya, terasa layaknya petir yang menyambar. Bibirnya tak sanggup berkata-kata, hanya senyum paksa ditunjukkan pada putranya. "Papi nyetir dulu ya? bahaya kalau sama ngobrol," kata Dimas.
"Oh, iya! maafin Brian, Pi." Sesalnya.
Senyum paksa itu kembali terlihat, hatinya kacau balau. Apa benar jika Luna telah menerima pinangan Aldo? semudah itu kah? apa sudah tak ada kesempatan lain untuk dirinya? kenapa begitu mudah? pikiran-pikiran Dimas melambung tanpa bisa dikendalikan, bersama hati yang terus saja tercabik-cabik.
Brian sendiri tak mengerti apa arti dari kata lamar, bertanya pada Luna sendiri apa kata lamar yang dimaksud. Sembari Luna menidurkan kedua anaknya, Brian pun bertanya tanpa henti sampai dirinya paham betul. Mempertanyakan pada Dimas akan kebenaran hal itu, namun justru mengejutkan bagi lelaki yang tetap berusaha fokus ke jalanan sekarang.
Ya, siapa yang taka akan terkejut mendengar kabar semacam itu. Apalagi itu datang dari seorang anak kecil polos, yang bisa saja tanpa kebohongan. Namun mengambil mentah-mentah tanpa untuk mencari tahu lebih dulu, sama saja dengan kebodohan. Dimas harus mencari tahu tentang kebenaran ucapan Brian padanya.
Melukai, disadari betul olehnya. Bahkan telah memberikan penderitaan, itu juga sadari utuh. Tapi bukankah Dimas sendiri juga terluka dan menderita, akan perpisahan yang terjadi dulu? pernikahan memang bukan negeri dongeng yang indah, pada dasarnya terlalu banyak permasalahan di dalamnya.
Pernikahan yang semula diharapkan untuk bahagia dan hanya sekali dalam seumur hidup, nyatanya tak sama dengan kenyataan yang ada. Hadirnya orang ketiga, permasalahan-permasalahan kecil yang berkembang dan menjadi bumbu pelengkap di dalamnya.
Jika dihitung lagi, tak sampai dua tahun pernikahan itu berjalan. Tentu Dimas dan Luna pun tidak berharap untuk terjadi hal semacam itu. Namun kembali lagi, semua bukanlah manusia yang mengatur dan kehidupan bukanlah kisah novel atau bahkan negeri dongeng.
Merelakan, bukan semudah bagaimana orang berbicara. Ikhlas, dia pernah melakukan dan merasakan betapa berat hal itu ketika kedua anaknya tiada. Haruskah ia melakukannya lagi? sanggupkah? mungkin dia akan gila untuk sekarang ini, harapannya terlalu besar untuk sebuah hubungan terajut sekali lagi.
Ya, memang tak seharusnya manusia berharap pada selain Tuhan. Kecewa mungkin akan di telan, dan harus berbesar hati menerima. Manusia bukanlah Tuhan, mereka akan bisa mengecewakan dan menyakiti lebih dalam. Dimas pun tahu akan semua itu, tapi ia membuat harapan tentang kesempatan itu ada dari Luna.
__ADS_1